Kereta memasuki stasiun tujuan akhir sekitar pukul setengah sembilan malam. Tepat waktu, meski di jalan tadi beberapa kali terhenti nggak jelas. Begitu turun, aku menelepon Butet, mencari tahu dimana ia menunggu. Ternyata ia sedang bertelepon. Panggilanku terabaikan. Kucoba menelepon kembali dan menemukan kenyataan yang sama. Darahku naik. Aku teringat tadi ia bilang menunggu diluar. Aku melangkah keluar, celingukan mungkin saja akan menemukan sosok yang pernah kulihat fotonya itu diantara orang-orang yang hilir mudik. Tak berhasil dan telponku pun tak juga diangkat. Emosiku benar-benar terpancing!
"Kamu itu dimana, telponku nggak diangkat! Kalo emang nggak niat jemput aku bisa urus diriku sendiri!"
Nada smsku meninggi. Aku kesal sungguhan. Satu... Dua... Tiga... Tak ada respon. Aku membawa langkahku keluar stasiun.
"Persetan!"
Hapeku berdering. Aku menolaknya. Sudah terlanjur kesal. Berdering lagi. Lagi. Dan lagi. Tetap kutolak.
"Kamu dimana? Kok telponku ditolak?" Butet SMS. Akhirnya aku menerima telponnya.
"Kamu dimana? Kenapa telponku dari tadi nggak diangkat?" cerocosnya.
"Suruh siapa orang udah nyampe ditelpon malah asik sendiri nelpon!" Nada suaraku masih tinggi.
"Ya suruh siapa juga nelpon pake private number, yo nggak tak reken tho!"
"Siapa yang pake private number?"
"Kamu!"
"Ngarang!"
"Eh, coba cek hapemu, barusan kamu nelpon pake private number nggak?"
Aku kemudian teringat, tadi siang aku memang menelponnya pake private number.
"Ya kan, gitu masih nggak mau kalah!" ujarnya makin memojokkanku.
"Ah, sudahlah, kamu sekarang dimana?"
"Kamu yang dimana?"
Aku menengok sekitar. "Aku sudah keluar stasiun!"
"Ngapain keluar, kan tadi kubilang aku nunggu di parkiran!"
"Ya suruh siapa nelpon nggak diangkat!" Aku tetap nggak mau kalah.
"Ya udah sekarang masuk lagi ke areal stasiun!"
Aku menurut dengan setengah kesal. "Kamu dimana, aku sudah masuk!" Kejengkelan menghinggapiku kembali karena sudah masuk ke dalam pun aku tetap belum menemukannya. Kegusaranku makin bertambah. "Pokoknya aku nunggu di wartel depan tempat informasi!" cetusku.
"Oh, udah, udah, aku udah lihat kamu!"
Aku terperanjat. Langsung kulihat sekeliling. Mencari sosok yang sedang bertelepon denganku ini. Keadaan sekitar memang agak remang hingga nyaris saja aku melewatkan perempuan dengan padanan T-Shirt dan celana ijo sedang tersenyum ke arahku sambil menenteng hape. Sosok yang membuatku tertegun beberapa saat sebelum akhirnya kuperintahkan kakiku menghampirinya dan ditenggelamkan dalam lengan kokohnya.
"Butchie..." desisku ketika kurasakan gaya bersalamannya sama seperti yang kulakukan saat bertemu teman-teman butch lain. Entah apa yang ada dalam benakku saat ini. Aku memang sudah pernah melihat fotonya, tapi kenapa ketika menemukannya dalam bentuk tiga dimensi aku masih saja "terkejut".
Sampai masuk ke dalam mobil pun bagiku kami masih canggung satu sama lain. Ia juga tak banyak berbicara dan aku lebih banyak menghabiskan waktuku "mengamatinya".
"Bagaimana kesanmu setelah ketemu aku?" Ia mengajukan pertanyaan itu dengan menyibukkan diri menyalakan mesin mobil. Ia bahkan tak berani menatapku. Grogi kah? Entah!
Dering ponselku menyelamatkanku dari pertanyaan klise pertemuan pertama tersebut. Dari Ani. Ia sedang terjebak di penyebrangan Surabaya-Madura yang macet total.
"Gimana kalo aku nggak nyampe Jogja? Kalo liat antriannya kayak gini sih males jadinya!" rengeknya disela gaduh background belakangnya.
"Pokoknya kamu harus ke Jogja, aku nggak mau tau!" tegasku membuat rengekan Ani kian panjang sebelum kututup telepon.
"Rencananya aku tidak ingin membawamu ke rumah malam ini!" Ide perempuan dibalik kemudi yang sejak bertemu tadi kuperhatikan tiap gerakannya itu. Aku menolehnya. Ia masih saja tak berani atau sepertinya sengaja menghindari bertemu mata denganku. "Trus kita mau kemana?" Sebenarnya aku agak lega karena jujur aku tipe orang yang agak kaku kalau bertemu dengan seseorang apalagi komplit sekeluarga. Maklum, agak nggak bisa dan nggak biasa basa-basi.
"Tadinya aku mau bawa kamu nongkrong aja semalaman di jalan, di Malioboro atau Alkid gitu..." Mata perempuan itu nanar ke depan. Sikapnya kurasa dingin sedingin AC yang menembus pori-pori tubuhku.
"Butchie banget..." desisku sekali lagi memperhatikan keseriusan wajah perempuan itu.
"Lapar kan? Kita makan dulu..."
Jalanan keluar dari stasiun Tugu agak macet, cukup untuk membuatku "puas" mengamati tiap senti lekuk wajahnya. Mobil berhenti di depan warung Suroboyoan. Aku memesan kwetiau, ia capcay kuah. Kami duduk berhadapan, obrolan yang jujur saja jauh dari konsentrasiku karena benakku entah memikirkan apa. Ia kemudian melajukan mobil cukup kencang memecah jalanan malam Jogja yang mulai senyap. Mobil menikung memasuki gang kecil.
"Jangan kaget ya... Kemaren kan sudah kubilang rumahku dekat sawah..."
Ternyata ia tak jadi membawaku nongkrong semalaman. Entah karena apa. Hmm.. Aku akan bertemu keluarganya.
TO BE CONTINUED...
4 comments:
Wah, ketemu Butchy ya, Al..? Jadi makin seru neh, cepetan lanjutannya...jadi penasaran...hehehehee...
What?!?...jeruk makan jeruk?!?...pedang lawan pedang?!?... Wow!... Seru...seru...seru... Lanjut!...
Weks.. Ga nyangka... Seru ya... Iya deh dilanjut... But be patient 2 wait hehehe... Sok bgt deh gw hohoho...
halu jojga
;D
Post a Comment