Mobil berhenti di rumah bertembok rendah dengan sebuah pohon mangga besar. Halaman terlihat gelap, namun lampu teras menyala. Ada seorang perempuan berkerudung duduk bercengkrama dengan dua pemuda. Aku turun, namun menunggu Butet mensejajari langkahku. Seperti yang tadi kubilang, agak susah buatku beramah tamah.
Berbincang sebentar dengan si empunya rumah, kami memutuskan untuk pergi tidur karena besok pagi-pagi masih harus menjemput Ani di terminal. Namun entah kenapa mataku begitu sulit terpejam. Aku iseng menelepon Ani beberapa kali, juga yang lain. Perempuan yang sedari tadi tampak serius ketika awal berjumpa hingga dibalik kemudi memasuki kamar dengan mengenakan celana pendek jauh diatas dengkul dan singlet hijau. Makin menajamkan penglihatanku namun makin merancukan argumenku. Lagi-lagi soal label!!
"Gimana pendapatmu setelah bertemu denganku?" tanyamu dalam gelap. "Apakah benar yang dikatakan kedua orang yang pernah bertemu denganku dulu?" Bahkan kau sendiri pun bertanya tentang label. Sesuatu yang masih kusut di benakku.
"Jujur, aku sendiri bingung jika ditanya soal label karena hanya kamu yang bisa merasakannya, kan?"
"Aku hanya ingin tau penilaianmu saja!"
Perempuan berambut cepak itu menanti jawabku.
"Dari ujung rambut sampai leher kau butchie, tapi dada ke bawah... For me its still unpredict!"
"Ow begitu ya..."
Perempuan itu tersenyum dan lamaa sekali menatapku.
"Dont staring me like that!" sergahku karena aku memang tak suka dipandangi, apalagi dengan tatapan tak terdefinisikan.
Mataku ternyata benar-benar tak berkompromi. Mencoba tengkurap agar cepat tertidur juga tak manjur. Ditambah telepon-telepon Ani tentang kerisauannya dalam perjalanan. Juga berisiknya hape perempuan di sebelahku yang silih berganti berdering. Sebuah kebiasaan yang teramat sangat kubenci darinya sejak awal aku berproses dengannya hingga kini. Tak enak tidur dan terbangun berkali-kali. Walhasil paginya kepalaku pusing.
Ani sudah menunggu di terminal sementara perempuan itu masih asyik bertelepon. Dan sama ketika di stasiun semalam, tak gampang mencari sosok yang dimaksud. Maklum juga sih karena tak ada yang tau fisik atau wajah Ani, bahkan aku yang mengenalnya setahun lebih pun tak pernah dikiriminya foto.
"Tunggu saja di masjid dekat parkiran..." perintah Butet. Ia memarkir mobil agak jauh lalu kami berdua jalan kaki ke tempat yang dimaksud. Dari jarak seratus meteran Ani sudah melambaikan tangan. Baginya mudah menemukan kami. Ia sudah pernah melihat foto kami, lagian tak sulit menemukan dua perempuan bergaya laki-laki diantara kerumunan.
Akhirnya, ketemu juga dengan saudaraku satu ini. Padahal jarak Sumenep dengan kotaku jauh lebih dekat daripada Jogja. Tapi Jogja lah yang mempertemukan kami.
HARI PERTAMA DI JOGJA
Seakan urat nadi lelah kami telah terputus, setelah mandi dan beristirahat sebentar, kami bertiga menuju Galeria. Butet beralasan akan membeli sepatu, namun dibalik itu ia tengah merencanakan sesuatu dengan seseorang.
Memberi Ani kejutan maksudnya, tapi Ani sudah terlanjur mencium aroma persekongkolan tak sedap yang dirasakannya sebagai ketidakenakan mengingat Butet adalah temannya, sedangkan orang yang diajak Butet kongkalingkong adalah orang baru yang dikenal Butet dan orang lama dalam hidup Ani.
Sedang aku... Sejak tiba kemarin aku sudah membuat janji ketemuan dengan perempuan yang sekitar 8 bulan lalu kutemui di kota ini. Hanya bedanya status kami kini agak sedikit ribet kubilang. Ia sudah sampai duluan. Menunggu tak jauh dari pintu masuk. Seperti biasa ia tampak sedikit canggung bersikap. Apalagi aku datang bareng perempuan yang teramat sangat dicemburuinya. Kami berjabat tangan dan ia langsung tenggelam bersama Ani, acuh padaku malah menyuruhku menemani Butet saja.
Di food court lantai atas. Lima lesbian dengan benak masing-masing. Aku, Butet, Kupu-Kupu Kecilku, Ani dan Brekele-nya. Entah apa yang dirasakan Ani setelah sekian lama berteman baru sekali ini bertemu Brekele. Mengingat -sepengetahuanku dari cerita Ani- mereka telah "dekat". Sedang Brekelenya sendiri bagiku tampak sok cool dengan gaya ala butchienya. Ah, aku juga tak ingin banyak mengurusi keduanya.
Pandanganku secara bergantian beralih dari Butet kemudian Kupu-Kupu Kecilku. Butet tampak asyik menonton siaran bola di tivi. Entah apa yang ada di benaknya. Benar-benar nonton tivi atau hanya peralihan. Ia lebih banyak diam. Sedang Kupu-Kupu Kecilku lebih banyak guyon dengan Ani seperti sengaja mengacuhkan, namun tatapan cemburunya jelas terbaca ketika aku dan Butet terlibat obrolan. Aku sengaja pindah duduk dekat dengannya, makin menambah kecanggungannya. Jujur saja, penampilannya hari ini sangat pas. Dalam artian, riasan serta pakaiannya terkesan matching. (Hohoho awas jangan ada yang kegeeran lho ya!) Namun endingnya tak sebaik awal. Ani ama Brekele yang awalnya canggung, tiba-tiba memanas dalam kamuflase kata-kata. Walhasil ketika keduanya memisahkan diri dari barisan, berakhir dengan kepergian Brekele tanpa pamit, entah apa yang mereka perbincangkan sebelumnya.
Sedangkan Kupu-Kupu Kecilku, ketika melihat Ani pergi berdua, ia menarikku ke bawah.
"Aku mau ngomong sesuatu empat mata!" tukasnya. Mataku sejenak beralih pada Butet yang seperti biasa tengah asyik bertelepon entah dengan siapa, lalu aku mengekor langkah perempuan yang menggenapi hari-hariku setahun ini menuju eskalator turun.
TO BE CONTINUED...
No comments:
Post a Comment