Sunday, October 12, 2008

Lebaran in Jogjaa... (8-end)

Kucium tangan perempuan tua yang ramah, yang diawal kusalami berkomentar modelku sama saja dengan Butet, anak sulungnya itu, hormat.

Semua masuk mobil. Ani duduk di belakang. Adik perempuan Butet sibuk mengatur tempat duduk. Maklum, banyak anak kecil yang ikut.
"Al, duduk depan!" lirih Butet padaku. Aku menggeleng. Kulihat ada yang lebih berhak daripada aku. Adik laki-laki Butet yang berambut gondrong dengan anak laki-lakinya menempati posisi yang ditawarkan Butet padaku, sementara aku duduk pas di belakang Butet, berbagi dengan keponakannya yang berusia belasan.

Beruntung, adik laki-laki Butet tau jalan tikus menuju Lempuyangan. Kalau tidak, jika memang kereta akan berangkat pukul enam, tentu kami sudah telat karena kami tiba hampir jam enam. Beruntung pula ternyata kereta mangkat pukul setengah delapan.
"Di mobil tadi aku selalu liat jam, kuatir juga kok nggak nyampe-nyampe stasiun.. Alhamdulillah, keretanya berangkat agak siang..." ujar adik perempuan Butet lepas dari kepanikan.

Tiket ditangan, kami langsung mencari tempat duduk, bercanda ria sembari menunggu keberangkatan kurang lebih sejam lagi.

Dua keponakan kecil Butet yang baru datang dari Salatiga, tiba-tiba minta ikut ke Surabaya. Rencana dadakan itu makin menambah jumlah rombongan yang tadinya tujuh menjadi sembilan. Praktis empat seat penuh oleh kami.

Pemberitahuan kereta akan berangkat memaksa Butet turun dari kereta.
"Ikut juga, yukk..." tawarku yang disambut tatapan Butet. Mungkin sebenarnya ia ingin ikut, tapi karena satu dan banyak hal mengharuskannya tertahan di Jogja. Keponakan dan adik Butet bergantian menyalaminya. Tak ketinggalan aku dan Ani.

Aku sedang menata posisi dudukku, ketika adik Butet memberitahukan kakaknya memanggilku di depan pintu. Kereta memang belum akan berangkat. Para penumpang mulai naik.

Aku berbincang dengan Butet dibawah. Ah, tatapan sayu itu muncul kembali. "Sudah, wajahmu jangan seperti itu, kayak nggak akan ketemu lagi aja!" sergahku.
"Itu yang aku takutkan! Aku nggak tau apa yang akan terjadi mengenai hubungan kita ketika nanti kau sudah berada di kotamu..."
"Maksudmu?" Alisku berkerut.
"Yah, nggak usah difikirkan! Semoga saja apa yang kuduga tak akan terjadi!"
Sikap Butet benar-benar tak bisa kucerna. Apalagi perlakuannya. Ekor mataku tak sengaja menangkap sosok keponakan Butet yang sedari tadi sepertinya "menyengajakan diri" berada diantara kami. Menurutku ia curiga melihat "kedekatan" kami serta cara bicara Budhe-nya yang sepertinya "tak biasa" untuk ukuran teman perempuan.

Bukan hanya keponakannya, kukira adik perempuannya juga menyimpan praduga yang sama, hanya saja ia tak berkomentar pura-pura seperti tak melihat hal tersebut. Karenanya, aku lebih banyak mengelak jikalau ada perlakuan yang kelewat "intim".

Lucunya, adik perempuan Butet ini memanggilku Kak, padahal usiaku jauh lebih muda empat belas tahun dibanding dia. "Mungkin karena kau temanku, makanya ia panggil kamu Kakak!" jelas Butet.

Peringatan terakhir agar penumpang segera naik ke kereta, membuat perpisahan tak terelakkan. Ia memelukku. Erat. Lama. Seolah takkan pernah ketemu lagi. Dan tatapan itu... Apa arti tatapan mata itu?

Aku telah diatas kereta, masih di pintu melihat tatapan mata itu. Menuju tempat dudukku dibarengi iringan matanya di sepanjang kaca. Kereta perlahan beranjak. Kemudian melaju makin kencang membawa sebongkah tanya yang tak terjawabkan akan arti tatapan mata.

Jogja kali ini memberiku pe-er besar tentang hati. Hatiku sendiri.

Naik kereta ekonomi untuk pertama kalinya dalam hidup ternyata jauh dari kata SERU seperti yang kubayangkan. Penumpang penuh sesak. Belum lagi sering berhenti lama untuk alasan nggak jelas. Apalagi ketika harus sendirian sepanjang Surabaya hingga ke kotaku, benar-benar sangat tak menyenangkan. Kapok deh rasanya naik ekonomi! Bayangkan, Jogja sampai kotaku ditempuh dua belas jam, biasanya hanya delapan jam. Capek!

Turun dari kereta, ada beberapa sms dan miskol. Kupu-Kupu Kecil dan Butet. Serta Ani yang menanyakan apa aku sudah sampai rumah.

Baru saja menginjakkan kaki di kamar, ponselku berdering. Butet. Berbincang sebentar tentang pengalaman sepanjang perjalanan, lantas harus kuakhiri karena tanteku sudah menunggu pesanannya.
"I MISS U, MUACH..." Telepon buru-buru ditutup. Aku terpatung. Kalimat itu diucapkan Butet ketika mengakhiri pembicaraan yang terus terang makin memperdalam tanyaku tentang hatinya. Tatapan mata yang mengartikan sebentuk rasa sayang yang tak pernah sedikitpun terealisasi dari mulut dan perilaku. Entah bagaimana pula isi hatinya. Ah, aku tak mau dibuat pusing untuk sesuatu yang tak pasti!

Yang pasti, terima kasih Jogja telah mempertemukanku pada orang-orang yang mempunyai porsi masing-masing dalam hidup dan hatiku.

6 comments:

Anonymous said...

Hmmm...udahan ya, Al crita-nya.? :))
Trus kisah Butet-nya gimana sekarang.??
Idealnya siiish...jeruk jangan makan jeruk, tapi kalau yang satu jeruk sunkist dan yang satu lagi jeruk medan, nggak apa2 ngkaleee...hahahahaa...
Yang penting jgn mbohongi diri dan hati sendiri...ehem...ehem...:D
"Sayang bilang sayang...jangan kau ragu...diri ini, kini tak sabar, menunggu mu..."...heheheheee...

Cosmic Soulmate said...

@Affy: Cerita lebarannya emang dah slesei, tp msh ada satu tulisan lg ttg EPILOG hub ama Butet. Neh lg ditulis...

Anonymous said...

Weewww...berarti ada harapan dunk yaa to si Butet..heheheheee...

Cosmic Soulmate said...

Kita lihat saja kelanjutannya... Tunggu tanggal mainnya, ya... Huehehehe...

Anonymous said...

jeruk makan jeruk....boleh juga
jeruk sunkis dan jeruk medan beda tapi sejenis...tidak ada masalah..
apa si Butet tau mau kamu...????
Q sarankan kamu harus cari tau dia dg lebih baik dan dengarkan hatimu dari pada ucapan orang lain.
Goodluck...moga sukses...

Cosmic Soulmate said...

@Anonymous: Makasih sarannya... Ketika telah tau semuanya, tak perlu lagi kan mencari tau... Apalagi mendengar kata orang... Mataku bisa mendengar sendiri dan telingaku melihat semuanya... Kebalik ya, dudulz!