Aku kemudian bergabung dengan yang lain di ALKID. Keroyokan di warung tenda. Tak lama dua teman CH datang. Satu butchie 17 tahunan, satunya lagi laki-laki, sahabatnya. Seru juga ngeliat tingkah butchie belasan tahun ini. Apalagi ternyata Ani cocok banget bercanda dengannya. Upps... Hampir saja terlewat, kuperhatikan wajah perempuan atletis di sebelahku ini sedari tadi lesu. Ia kemudian mengajakku ngobrol sambil menikmati langit penuh kembang api. Bahkan sampai rumah pun, tak ada gairah di wajah ala butchie nya itu. Kenapa gerangan dia?
"Temenmu itu kenapa Ani?" tanyaku ketika tiba di kamar. "Wajahnya kok sayu banget kelihatannya?"
"Nggak tau! Sejak kamu sama bojomu pergi tadi, ia mulai tak banyak bicara!"
Alisku mengernyit. "Maksudnya?" batinku. Benakku mulai mengembara. Sejak di warung tenda tadi sikap dan raut mukanya memang terkesan "aneh". Dibilang mellow iya, romantis juga nggak jelas, marah tapi karna apa, ngebingungin deh sama kayak hatinya yang unpredict! Aku juga nggak mau terlalu mikirin. Bagiku ia tetap saja unpredict, meski tatapan dan perlakuannya padaku boleh dikategorikan "istimewa" dibanding ke Ani. Aku hanya tak ingin jatuh ke lubang yang sama dua kali. Percaya pada tatapan, namun hati belumlah pasti.
Perempuan itu masuk kamar tampak habis mandi. Wangi sekali.
"Kak, wangi badan kakak akan bikin aku cepet tidur nih..." ujar Ani yang disambut senyuman perempuan yang malam ini tampak "gagah" mengenakan celana basket selutut dan singlet coklat. Ah, wajah itu... Tatapan itu... Tak terdefinisikan!
Silent Mode On
Hening
Tak berbunyi
Mulut mengatup rapat
Hanya suara-suara tak tentu
Nyanyian tokek
Tarian nyamuk
Hari berganti...
THE LAST DAY IN JOGJAA... I Thought...
Sejak kemarin aku dan Ani telah membahas akan pulang naik apa. Luput dari rencana semula yang tadinya aku akan pulang belakangan, tiba-tiba aku mengubah pulang bareng Ani. Tetap pada perdebatan yang sama. Soal transportasi. Aku kereta, dia bis. Akhirnya kami menemukan kesepakatan, naik kereta sore.
Namun rencana berubah lagi ketika ibu Butet memberi tahu tentang kepulangan tiga cucunya ke Surabaya besok pagi. Beliau menyuruh kami bareng mereka. Ani setuju. Butet girang. Wajah sendu itu mengguratkan binar keceriaan kembali.
Pagi-pagi ketika baru bangun tidur, ia tergopoh-gopoh datang menyodoriku sepiring kecil mie dan sebaris senyuman.
Dan cuma sepiring. Padahal dalam kamar itu ada dua orang. Aku dan Ani yang duduk dibawah menghisap batang nikotin serta segelas kopi menyanding.
"Apalagi ini, kemarin SilverQueen sekarang mie..." batinku agak tak enak juga pada Ani, meski Ani tak berkomentar sedikit pun.
Kukira ia mau menepati janjinya membuatkanku omelet seperti yang ia katakan kemarin. Ternyata mie untuk sarapan sekeluarga. Dan ia menungguiku.
"Makan sayurnya!" titahnya ketika melihat aku meminggirkan sayuran hijau yang membaur dengan mie. Ia tau betul aku nggak doyan sayur-sayuran. Aku nyengir sembari melahap habis mie hingga tak tersisa.
"Mau ikut?" tawarnya.
"Kemana?"
"Pasar!"
Aku mengangguk. Ini kedua kalinya aku dan dia ke pasar. Kali ini pasar yang berbeda.
"Dua butchie ke pasar!" kelakar Butet. Lucunya, ada seorang penjual berusia paruh baya yang memanggilnya Mas. Aku terkekeh. Dan lucunya lagi, para penjual di pasar itu memanggil Mbak padaku.
"Mereka kalo manggil Mbak ngeliat ke kamu..." ledek Butet. Hohoho maklum sih rambutku sudah gondrong. Sebelum kemari aku sudah punya planning potong rambut dahulu, berhubung rencananya dimajukan, keduluan nyampe Jogjanya daripada potong rambutnya.
"Kenapa wajahmu dari kemarin ditekuk?" Aku memberanikan diri bertanya setelah tak lagi ada mendung menggelanyuti si pemilik wajah serius itu.
"Mau tau?" Ia menatapku. Aku tidak tau kenapa, tapi ia suka sekali memandangiku hingga lama. Dan selalu aku yang kalah, memilih membuang muka ke arah lain. "Aku sebenarnya nggak rela kamu pergi!" Ia mengucapkan dengan jelas, cukup mampu membuatku terhenyak.
"Kayak nggak akan ketemu lagi aja!" ujarku sembari menepuk pundaknya, coba mencairkan suasana.
"Itu yang aku takutkan!" Mimik perempuan itu terlampau serius, aku sedikit bergidik bercampur bingung.
"Apa sebenarnya isi pikiran dan hati perempuan ini?" selidikku coba tuk mencerna arti tatapan nan meneduhkan perempuan di hadapanku.
Dering ponselnya membuyarkan obrolan kami. Dari perempuan yang dikenalkan Ani padanya, tapi tak dikenalkan Ani padaku. Entah karena apa, akhir-akhir ini Ani sedang giat-giatnya mengenalkan hampir seluruh temannya pada Butet, namun anehnya tak pernah barang sekalipun hal serupa dilakukannya padaku.
Butet kemudian membawaku berkeliling. Ia menunjukkan rumah laki-laki cinta monyetnya ketika SMP dulu. Kebetulan laki-laki itu sedang mengadakan pesta pertunangan putri sulungnya. Tak terduga. Bahkan mata istri laki-laki itu berkaca-kaca ketika menyalami Butet. Cerita masa lalu yang agak ribet.
Perjalanan dilanjut ke rumah nenek Butet. Sayangnya beliau sedang tidur. Setelah bercakap sebentar dengan laki-laki saudara Butet, kami pulang.
TO BE CONTINUED...
1 comment:
Vi ayo lanjut critanya di YK :)
Post a Comment