"Uffs..." Aku menghela nafas dalam-dalam. Berusaha meredam murka tertahan yang sejak beberapa hari lalu menguasai kepalaku. "Ini sudah tak bisa dibiarkan!" cetusku setelah kemarahan itu kutepis semalaman dengan masih mencoba untuk keep positive thinking.
Semalam aku memang sudah mendapat jawaban bahwa Kupu-Kupu Kecil sudah tak lagi ada kontak dengan perempuan yang bikin sarafku menegang beberapa hari ini. Aku memegang ucapan Kupu-Kupu Kecilku, tapi kegusaran tak bisa begitu saja hilang sampai aku berhadapan langsung dengan orang yang bersangkutan. Segera kuhubungi nomor telpon yang diam-diam kucuri dari hape Butet ketika di Jogja kemarin.
Tanpa banyak basa-basi aku mengungkapkan maksudku akan keengganan dan keberatanku jika perempuan ini selalu menyebut namaku dan bertanya-tanya tentang hubunganku dengan Kupu-Kupu Kecil ketika bertelepon dengan Butet. Karena bagiku dua orang bertelepon adalah untuk membicarakan tentang mereka sendiri, bukannya malah memperbincangkan orang lain, apalagi jika dilakukan pertelepon. Mending kalau yang diomongin bener, lha kalo masih KATA SI INI, KATA SI ITU, kan jadi gerah juga aku.
Obrolan yang tadinya datar, berubah meninggi. Ia tak terima kupersalahkan.
"Coba kamu tanya Butet apa saja yang aku obrolkan waktu nelpon dia!" tantangnya. Perempuan yang namanya barusan disebut kemudian bergabung di tengah-tengah kami.
Aku, yang tadinya cuma ingin menegur kelakuan perempuan yang belakangan kuketahui ada hati ama Butet itu agar tak menyebut namaku dalam obrolannya bersama Butet, malah mendapati pengakuan yang mencengangkan dari mulut Butet yang jauh diluar topik semula.
"Aku sayang ama kamu, Al. Dari awal kamu sudah tau hal itu," Pernyataan itu ditujukan padaku, namun perempuan itu mengumumkan di depan kami berempat (Entah berlima, karena ternyata aku salah pencet memasukkan nomor private number yang meneleponku yang tadinya kukira salah satu peserta conference (Aku, Butet, Kupu-Kupu Kecil, dan perempuan itu) namun ternyata adalah Sakura yang notabene tak tau apa-apa.) "Dan aku mau jalan dengan dirimu!"
Tiba-tiba hening. Kami bertiga seperti tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku tak tahu apa yang difikirkan kedua orang itu, yang jelas pengakuan mengejutkan itu sudah bikin fikiranku campur aduk. Berani amat perempuan ini berkoar di depan 2 perempuan yang salah satunya jelas-jelas menaruh hati padanya, dan perempuan satunya juga jelas-jelas jatuh hati padaku, batinku.
"Perlu keberanian buatku untuk bicara seperti ini di depan kalian, dan buat Al juga, aku tidak meminta kamu percaya aku tapi aku hanya ingin menjelaskan begitulah perasaanku padamu!"
Masih hening. Hanya perempuan yang di benakku masih unpredict inilah yang terus nyerocos.
"Tapi... Ketika aku kian memasuki hidupmu, aku mulai menemukan Kupu-Kupu Kecil dan semua ceritamu dengannya yang ternyata belum selesei... Juga ketika aku dihadapkan pada pilihan antara dirimu atau persahabatan, aku jadi mikir, kenapa kok kayaknya susah banget buat kita untuk bersama..."
Benakku memutar ulang konflik asmara vs persahabatan beberapa waktu lalu. Mengedepankan persahabatan, memilih kehilangan satu orang Alvi daripada tiga orang sekaligus, yang salah satunya adalah aku. Meski bagiku pilihan tersebut hanyalah kamuflase, pengalihan -disaat yang benar-benar tepat- atas kebebasan yang masih ingin direguk perempuan itu. Tapi entahlah, ada sesuatu yang tak bisa kudefinisikan apakah itu yang kemudian masih membawaku pada "KARISMA" perempuan itu hingga membawa ragaku ke hadapannya di kota Gudeg.
"Sebelum Al ke Jogja, kita pernah bertemu empat mata, kan?" Ucapan Butet kali ini mengarah pada Kupu-Kupu Kecil. "Saat itu kamu berjanji akan benar-benar serius untuk kembali pada Al dan aku akan menjauh dari Al dengan membuatnya berpikiran aku player dan semua yang buruk tentang aku, yang intinya aku memberi jalan padamu untuk mendapatkan hatinya kembali, tapi kenyataannya tak ada perubahan sedikitpun dari kamu!"
"Berubah itu kan tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu proses!" Kupu-Kupu Kecil angkat bicara.
"Iya memang, tapi kenapa kau masih saja mengirimiku sms-sms nggak mutu... Masih ingatkan apa yang kau tulis tentang pikiran kotormu dalam smsmu pagi hari setelah Al datang ke Jogja malamnya?"
Kupu-Kupu Kecil membisu.
"Iya, ke aku juga!" Perempuan yang ada hati dengan Butet menimpali. Perempuan ini dulu di awal-awal sebenarnya diniati oleh Kupu-Kupu Kecil untuk "diumpankan" pada Butet agar kami berdua jauh. Tak disangka jika kemudian perempuan ini benar-benar jatuh hati.
"Udah, topiknya sekarang bukan itu!" sergahku. Aku tau betul sumber masalahnya memang ada pada Kupu-Kupu Kecil, tapi kalau tak ditambahi aksi muka dua perempuan yang sudah lama kenal dengan Kupu-Kupu Kecil itu tentu aku tak akan semarah ini. Marah bukan karena ia sering bertelepon dengan Butet, tapi karena ia selalu menyebut namaku. Aku sendiri tak tau bagaimana perasaan Butet pada perempuan ini, dan memang aku nggak kepingin tau! Yang membuatku banyak berfikir justru ungkapan mencengangkan Butet tadi. Akan kemana ia bawa ujung dari pengakuan tersebut? Karena terus terang bagiku banyak sekali keganjilan antara pernyataan dan kenyataan di depan mataku tentangnya yang masih perlu dijabarkan bukan hanya dengan kata-kata, namun realita. Akankah?
TO BE CONTINUED...
2 comments:
wah..kk q ini lg complication y,,,kcian....met bpkr y...lanjutin dlu crtna ka,akhrna ky gmn y...
/jgn2 kk?????
hayoooo..... :P
Yee... Crita yg ini neh satu pabrik ama lebaran in jogjaa 1-8 dan kelanjutannya tuh yg jdulnya EPILOG itu, gmn seh!
Post a Comment