Satu lagi pertemuan dengan perempuan yang selama ini hanya dihubungkan dengan handphone. CH.
Mobil Butet berhenti tak jauh dari gang tempat perempuan yang kami tunggu muncul. Ketika perempuan kurus dengan rambut dikuncir berdiri depan gang, kami nyamperin. Fotonya memang ada di FS ku. Tapi ternyata aslinya menurutku nggak sama dengan fotonya hehehe.
"Gimana, jadi jemput bojomu?" tanya CH padaku.
"Iya, susul bojomu ya?" timpal Ani.
CH, begitu juga Ani, memang selalu menyebut Kupu-Kupu Kecilku dengan sebutan BOJO.
Aku menggeleng dan balik menunjuk Butet yang pegang kemudi.
"Terserah sih, tapi aku nggak tau jalan!" sahut perempuan yang tampak cool dengan kaus sporty warna putih. Kaus yang akhirnya dipilihnya setelah padanan kaus biru dengan jeans kegombrongan mendapat komplain habis-habisan dari Ani sampai pede nya ancur lebur. Tak puas dengan penilaian Ani, ia masih bertanya pada dua keponakan laki-lakinya. Ketika mendapat jawaban serupa Ani, ia mengganti total pakaian yang dikenakannya. T-Shirt putih garis-garis dipadu celana bahan berwarna coklat gelap.
Berbeda dengan Ani, aku tipe orang yang tak pernah mau ikut campur dengan apa yang dikenakan orang lain karena aku sendiri juga tak mau orang lain komplain ini itu dengan apa yang kukenakan. Jujur, bagiku ia terlihat seperti butchie keren sehabis keramas. Seperti kemarin.
"Keren ya.. Coba lihat kalo begini.." Ia mengeluarkan dompet merah, mengambil bedak dan lipstik. Cukup membuatku melongo, meski awalnya sudah kukatakan "Jangan". "Whatss!?!" pekikku dalam hati. Perempuan yang gaya sehari-harinya bagai pinang dibelah dua denganku ini kemudian memoles wajahnya dengan bedak lalu lipstik merah. OMG!!
Kupu-Kupu Kecilku memandu kami ke rumahnya. CH meresapi tiap informasi dengan seksama karena hanya ia yang tau jalan. Dalam perjalanan ini aku kembali mewejangkan Butet tentang Maha Besar ALLAH yang menciptakan kuping dengan begitu sempurna, tapi tetap saja baginya hanya angin lalu.
Kupu-Kupu Kecilku telah menunggu. Mobil berputar arah, berhenti tepat di depan perempuan 29 tahun yang sedang mengayun-ayunkan kaki mirip bocah sepuluh tahunan saja. Di dalam mobil, Ani langsung ngakak melihat tingkahnya.
"Gitu bilangnya mau coba jadi buci!" kekeh Ani. "Tingkahnya saja masih kayak anak kecil!" Ani tak berhenti tertawa.
Aku bergerak turun. Kupu-Kupu Kecil mengajakku ke dalam untuk memintakan ijin keluar kepada suami dan mertuanya. Aku mewakilkannya pada Ani. Bukannya apa, aku nggak pandai basa-basi, kuatir kekikukanku nanti malah bikin runyam.
Sudah sekian menit Ani masuk dan tak kunjung keluar. Datang-datang keduanya tak membawa si kecil seperti rencana semula.
"Mana anakmu, katanya diajak?" tanyaku.
"Anaknya nggak enak badan, mertuanya ngelarang." sahut Ani. "Alasan klise tapi tepat!"
"Al, duduk di belakang, biar CH di depan!" perintah Butet padaku.
"Kenapa emang?" tanyaku tak mengerti.
"Pokoknya pindah saja ke belakang!" desak Butet tak mau tau.
Secara tak sengaja ekor mataku menangkap tatapan Kupu-Kupu Kecil yang menyiratkan kesinisan. Aku beranjak di jok paling belakang. Sendirian. Ani dan Kupu-Kupu Kecil duduk di tengah. Sedang CH dan Butet telah akrab layaknya lama kenal.
"Sekarang kita kemana?" tanya Butet. "Sebelum pergi, harus tau tujuannya kemana?" Mobil melaju.
Aku yang duduk paling belakang, jadi pemantau. Butet sudah sibuk menulari CH yang duduk di sebelahnya kebiasaan bertelepon dengan mengenalkan si penelepon pada CH yang nggak kusangka orangnya geblek juga. Di jok tengah, Ani sedang menginterview Kupu-Kupu Kecil tentang kondisi rumah tangganya. Dan mendadak, airmata Kupu-Kupu Kecil mengalir deras.
"Aku sudah nggak kuat, mbak!" curhatnya disela isakan. Airmata tak kunjung berhenti, malah makin membanjir.
Ani memegang tangan Kupu-Kupu Kecil, menegarkan. "Menangislah, kalau itu bisa membuatmu lega, keluarkan semuanya..." kata Ani penuh empati. Aku akui untuk soal seperti ini Ani jagonya, sedang aku paling tak bisa melihat perempuan menangis. Yang kulakukan hanya mengelus punggungnya, menguatkan, tanpa sepatah pun terlontar dari bibirku, membiarkannya melepas tangis batinnya. Jika bukan karena Ani, Kupu-Kupu Kecil takkan meleburkan beban rumah tangganya, karena di depanku ia hanya memberiku tawa tanpa pernah membawaku masuk dalam dukanya.
Mendengar gaduh di belakang, CH dan Butet sontak menoleh. Ekspresi Butet menyiratkan Kupu-Kupu Kecil menangis karenaku, sisa masalah kemarin. Langsung kutepis prasangka di wajahnya.
"Ia menangis karna masalah rumah tangganya, bukan karna aku, jadi jangan salah paham!"
"Nggak ikut-ikut deh!"
Keduanya membalikkan muka, asyik berceloteh kembali.
Malas ke Mall, atas usulan CH, kami mampir di Warung Goeboek yang katanya tempat nongkrongnya anak-anak belok. Begitu akan ke tempat tujuan selanjutnya, yaitu Alun-Alun Kidul, karena GF CH telah menunggu disana, Kupu-Kupu Kecil tak bisa ikut merasa telah kesorean. Sedang untuk mengantarnya kembali ke rumah juga tak mungkin.
Ia pulang naik taksi bersamaku. Takut jika pulang sendirian. Sikapnya berbeda ketika berdua. Tak sesinis ketika beramai-ramai tadi dan kemarin. Pancaran mata yang tak pernah sanggup ia bohongi.
TO BE CONTINUED...
No comments:
Post a Comment