Sunday, October 12, 2008

Lebaran in Jogjaa... (7)

Melongok ke kamar, Ani tak di tempat. "Ia pamit pergi ke depan tadi!" ujar ibu Butet.
Aku menelepon Ani. "Kamu dimana?"
"Nggak tau ini dimana? Habis kalian nggak dateng-dateng, jadi aku keluar cari rokok ama pulsa. Tadi aku nurutin jalan aja sampai ke jalan besar dan aku nggak tau jalan pulang..." Ani merengek minta jemput. Perempuan satu itu memang selalu berulah dan memang kerap bikin repot! Tak berapa lama batang hidungnya nongol sambil nyengir. Semprul!

Agak siangan aku dan Butet ke Malioboro, membelikan pesanan orang rumah yang makin bejibun aja permintaannya. Kami naik motor. Jarang sekali kami ada waktu berdua, kecuali ke seperti tadi ke pasar. Di tengah jalan Kupu-Kupu Kecil menelepon, hanya untuk bilang: "Jangan macem-macem lho ya!"

Usai berbelanja oleh-oleh, Butet membawaku mencicipi batagor dan sup buah di salah satu belokan daerah UGM. "Kata temenku enak!" Begitu promosi Butet. Cukup banyak waktu untuk kami bicara tentang semuanya. Berbicara dari hati ke hati. Meski tanpa solusi. Ani menelepon.
"Kalian lama amat sih, kapan pulangnya? Itu dua keponakan kakak udah dateng dari Salatiga..." Ani kasi info. "Buruan pulang ya, aku sendirian nih!" rajuk Ani.

Hampir Maghrib kami tiba. Dua keponakan Butet langsung menyambut Budhe-nya dengan pelukan erat. Aku masuk kamar, tak ingin mengganggu acara kangen-kangenan tante dan keponakannya itu.

Lupa apa penyebabnya, tiba-tiba acara makan malam bersama kami bertiga berakhir dingin. Hatiku sedang tak enak, pada keduanya. Sehabis makan, aku segera meninggalkan meja. Butet kemudian menyusul.
"Tolong balik ke meja makan!" tukasnya padaku. Aku mengekor.
"Ada apa?" tanyaku bernada sengak.

"Nggak ada apa-apa. Kalo kamu mau di kamar, ya nggak pa-pa!" sahut Butet nggak kalah sengak. Aku buru-buru angkat kaki.

Selebihnya aku diam di kamar. Juga tak banyak bicara dengan Ani. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang tak enak saja.
"Alvi sudah tidur ya..." Aku mendengar seruan Butet, tapi tak beringsut dari posisiku yang menghadap tembok. Entahlah, males banget mau noleh! Butet berlalu. Kurang lebih tiga jam kemudian, entah darimana, ia muncul sudah dengan pakaian tinju, eh salah, tidurnya.

Menepi di dinding pucat pasi. Tepis tangan-tangan yang hinggap. Hingar bingar lagu cinta. Buatku sontak naik darah. Tak bisa pejam mata. Sudah itu hening. Tenggelam bersama ocehan nyamuk. Derap kaki keluar. Bantingan pintu ditemani dahak menahun. Entah berapa lama bercengkrama dengan makhluk penghisap darah. Ia masuk. Dalam prasangka. Akan hal yang hanya ada dalam benaknya. Terlelap bersama praduga.

Dinding menyempit. Tak ada sekat. Hanya rongga bernyawa. Berirama. Dibalik sponge tak bercelah. Karang es mencair. Meluap. Membebaskan akhir tak berujung. Fajar telah mengintip. Dalam senyumku.

ITS TIME 2 SAY GOODBYE!

Alarm hapeku berdering tepat pukul 4 dini hari. Aku sebenarnya telah terbangun sejak tadi. Tapi ketika kutengok yang lain masih pada ngorok dan diluar masih sunyi senyap alias tak ada tanda-tanda aktivitas mudik seperti yang dijadwalkan adik Butet yang ikut pula rombongan ke Surabaya, yaitu jam setengah lima semua sudah harus siap, aku kembali rebahan dan sedikit banyak terbawa kantukku yang belum tertuntaskan.

Barulah pukul setengah lima tepat kudengar suara gaduh diluar. Tepatnya suara adik perempuan Butet yang membangunkan kami semua.
"Ayo, cepetan, sudah jam berapa ini!" omelnya. "Kemarin kan sudah dibilangin keretanya jam enam, jadi setengah lima semua harus siap berangkat, lha ini kok nggak ada yang bangun satupun!"
"Tadi jam empat udah bangun, berhubung masih sepi aku tidur lagi!" kilahku. "Tapi kata temanku, keretanya berangkat jam delapan kok?" Aku dikasi info oleh Rie yang terbiasa memakai jasa transportasi tersebut.

Sembari mengecek jadwal keberangkatan, kami bersiap. Masuk ke kamar mandi, air di bak tersisa sedikit lagi. Cukup buat cuci muka saja.

Butuh waktu tak berapa lama aku sudah selesai berkemas. Tak seperti Ani yang masih tampak tenang-tenang saja. Walhasil, ia orang paling bontot siap sementara yang lain telah menunggu.

TO BE CONTINUED...

No comments: