
Ada kisah yang membuatku tersenyum, cerita dua orang perempuan. Adalah permintaanku untuk mampir ke warnet usai "berkeliling" kota seharian ini. Bagaimana tidak, mulai dari ke kantor, lalu agak siangan kembali ke kost untuk urusan perbankan. Lalu ke bank yang kumaksud, setelah janjian dengan customer service-nya yang masih mengingatku karena identitas genderku. Ia masih ingat ketika aku membuka rekening beberapa lalu ia menatapku dari ujung rambut ke kaki dan begitu sebaliknya ia meragukan "keperempuananku", ditambah jenis kelamin yang tertera di KTP waktu itu masih LAKI-LAKI. Praktis ia kian ragu dan memintaku mengganti kartu identitas terlebih dahulu sebelum membuka rekening. Dan hal itu rupanya yang menautkan ingatannya terhadapku. Ketika aku menelepon customer service bank tanpa administrasi bulanan itu dan ia memperdengarkan namanya serta kemudian menanyakan identitasku, ia lalu kubawa pada kejadian keraguan gender itu, ia langsung teringat sekaligus terbahak, lalu ia mendengarkan keluhanku tentang permasalahan transfer antar bank dan menyuruhku menemuinya saja untuk mendapatkan kejelasan. Dan aku benar menemuinya, masih dengan senyum tertahan dan wajah khas jawanya ia menjelaskan dengan gamblang serta detil.
Perjalanan berikutnya adalah UNY. Menemani seorang straight yang cukup dekat denganku. Lalu FoodCourt UGM. Bertemankan wi-fi aku tertarik pada ucapan selamat ultah seseorang yang tak aku "kenal". Dan bicara soal ucapan ultah, bagiku ada satu ucapan yang menggelitikku. Entah ge-er atau hanya spekulasi atau memang benar adanya, ada seorang yang ingin mengucapkan selamat ultah, namun karena pertimbangan yang menyangkut relasinya dengan seseorang akhirnya ia memilih mengirimkannya lewat aku pihak lain. Semoga aku hanya kegeeran dengan halusinasi konyolku itu hehehehe...
Usai melahap semangkuk soup buah dan pem-mpek, aku meminta diturunkan di warnet untuk "panen", hal yang tak sempat kulakukan seharian karena pikiranku sudah lebih dulu dikacaukan dengan urusan perbankan. Si penjaga warnet adalah perempuan yang selalu "ramah" padaku. Aku bisa mengatakan ramah karena hanya ia satu-satunya penjaga warnet dari sekian banyak operator yang paling sumringah menyambutku.
Awal perkenalanku dengannya dulu adalah ketika ia mengajariku menggunakan gugle translate saat aku menerima job translate yang membutuhkan interview via online. Sejak awal mengenalnya aku merasa keramahan yang tak biasa hehe mungkin ge-er. Namun pertemuan-pertemuan berikutnya itulah yang memperjelas bahwa ia berbeda dengan operator lain. Namun untuk jangka waktu lumayan lama aku tak menemukan sosoknya ketika aku menyambangi warnet. Kukira ia tak bekerja disana lagi. Aku malah hendak menanyakan keberadaannya, namun kemudian kewenanganku tak sejauh itu. Hingga kemudian aku tertegun mendapati perubahan pada dirinya. Ia kini berjilbab. Asal tahu saja, awalnya kukira ia nonmuslim karena saat aku pagi-pagi ke warnet ia menyetel lagu-lagu pujian umat kristiani.
Dan aku dibuat takjub atau tepatnya tak mengenali perempuan berjilbab dengan softlense senada bolamata itu. Perbincangan pendek membawaku semakin mengenalnya. Ia tak muncul karena harus kuliah. Ia kemudian bercerita tentang kekasih yang tak lain tetangganya di kampung. Namun aku tetap bisa merasakan gerak-gerik "aneh"nya dan sikap "istimewa" itu terhadapku.
Begitu juga malam ini. Awalnya aku menemukan wajahnya tampak tak menyenangkan, namun usai aku menyudahi pemakaian internet dan hendak membayar, aku melihatnya sedang bersiap pulang. Ia sudah duduk diatas motor. Aku berhalusinasi lagi, tapi kukira ini memang benar apa yang ia lakukan. Mungkin ia melihat dari spion, karena posisiku berdiri tampak dari spion motornya. Dan entah kenapa, aku juga begitu terburu-buru untuk menyelesaikan pembayaran. Ada sesuatu dalam diriku yang membuat aku harus cepat-cepat keluar sebelum motornya melaju. Dan doaku terkabul. Dan sepertinya aku bukan tengah berhalusinasi, ia jelas menunggu. Senyumnya merekah ketika melihatku.
"Bonceng dong, bonceng!" godaku seraya mengambil posisi hendak duduk di belakangnya.
Ia menghidupkan skuter matik dan mempersilahkanku.
"Ayo," ujarnya. Ada yang beda dari matanya. Dari cara ia menatap.
"Nggak, ah!" sahutku.
"Lho, ayo, tenanan ki! (Beneran ini!)" sergahnya.
"Mang kamu mau ke kanan atau kiri?" tanyaku menanyakan arah kepulangannya.
"Kiri. Kamu?"
"Sama sih, tapi nggak, deh!"
"Halah, wong sama-sama ke kiri aja lho, ayo tak antar!" ajaknya.
Aku tetap menolak dan melajukan kaki seraya memberinya lambaian perpisahan. Namun ada yang aneh, ya aku menunggunya untuk melewatiku tapi ia tak kunjung melintas. Jadi tidaklah benar kalau ia belok kiri sejalur denganku. Lalu kenapa ia ngotot ingin mengantar?
No comments:
Post a Comment