Monday, April 5, 2010

Cerita di balik ILGA


Usai ILGA dibubarkan, aku mempercepat jadwal kepulangan ke kampung halaman ibu dua hari dari yang direncanakan. Sabtu pagi, teman-teman peserta konferensi perwakilan dari Jogja memutuskan kembali ke Jogja dengan kereta pagi. Sedang aku yang saat itu agak sedikit tidak fit, meski sejak keberangkatan dari Jogja hari Kamis memang batuk dan flu sudah menyerang, ditambah kurang tidur dan pikiran serta jempol yang tak henti-henti bekerja akibat kekuatiran terhadap teman-teman yang masih tertahan di hotel Oval dengan kabar simpang siur yang kadang aman kadang mencekam dan juga koordinasi dengan teman-teman jaringan di Jogja serta mengumpulkan berbagai informasi, bantuan dan segala upaya yang bisa kulakukan, bahkan sampai tak membuat mataku ingin dipejamkan walau sesaat. Walhasil paginya, tenggorokanku seolah digelitik biji kedondong hingga terbatuk-batuk di seberang jalan kota yang hanya pernah kusinggahi sebentar tanpa kutinggali. Bahkan untuk menuju terminal, aku tak tahu jalan. Seorang teman memang telah memberi petunjuk, tapi tetap saja berpetualang sendiri di kota agak ruwet ini butuh kewaspadaan lebih.

Sampai rumah, hal yang pertama ditanyakan oleh seluruh anggota keluargaku adalah "Tempatmu jauh nggak dari kejadian di Surabaya yang diberitain di tivi itu?". Pertanyaan yang mengejutkanku karena kupikir orang rumah "tak tertarik" dengan isu semacam itu. Aku mengelak dengan dalih aku tak tahu kejadian apa di Surabaya yang mereka maksudkan dan mereka mulai bercerita tentang pemberitaan di tivi yang sudah kuketahui itu. Ditambah seharian itu aku banyak menerima telepon dari wartawan yang hendak mewawancarai perihal ILGA dan anehnya aku bahkan tak tahu darimana mereka dapat nomer hp dan ngawurnya salah satu wartawan harian terbesar di Indonesia berkata aku adalah ketua panitia acara tsb. Busyet, ngawur kok kebangetan! Jadinya, aku harus mengunci mulut tak bercerita apapun dan sabar menjelaskan bahwa aku bukanlah orang yang berwenang memberi informasi namun juga harus pintar memilih kata-kata yang tak bersentuhan atau mengarah pada acara tsb agar orang rumah tak curiga. Karena kuping orang rumahku sensitif dengan kata polisi, fpi, hotel Oval, dan homoseksual.

Sempet kesel juga sih, ketika seorang teman mengabarkan ada yang mencantumkan nama dan nomer hp ku di facebook tanpa ijin sebagai sumber informasi kejadian di hotel Oval itu. Setelah kutelusur, ternyata orang tsb juga copy paste dari status fb orang lain, dan begitu seterusnya. Beruntung, hanya menjadi artis sehari, karena bagiku julukan sumber informasi sungguh rentan, mengingat ada resiko orang lain akan beranggapan aku yang ngoceh ke media, sedang aku bahkan dibuat sibuk mencari akar pelaku pencantuman namaku itu.

Selang beberapa hari, kondisi tenang, meski tetap berkoordinasi dengan teman-teman jaringan di Jogja yang sedang merapatkan barisan memperkuat diri. Energi positif akibat serangan di Oval itu muncul di diri kami masing-masing untuk bahu-membahu memperjuangkan hak LGBT dan kelompok marginal lain yang kerap menjadi korban premanisme atau kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Go fight, YES, WE CAN!

No comments: