Padahal aku hanya ingin melihatnya tertawa
Menyungging sebaris senyuman diantara giginya yang sudah tak rata
Menghapus airmata yang teretas dari mata kuyunya

Tuhan, paling tidak jika Kau tak sayang padaku, maka sayangilah ia
Karena setiap waktu ia melafalkanMu dalam setiap hentakan nafasnya
Ia menengadah memohon kerelaanmu memberi yang ia minta
Tuhan, paling tidak jika aku tak mampu mengabulkan setitik tawa dalam hidupnya
Aku dengan segala hina meminta,
penuhi ketulusan jiwa yang tak mampu kupersembahkan,
menebus ketakmampuanku
Ijinkan aku menghadiahkan tawa
Untuknya, sebelum menutup mata
Dadaku selalu sesak ketika harus meninggalkan perempuan itu kembali bersendirian, meski ia dikerumuni para saudara. Aku merasa tak berguna, padahal segenap upaya telah aku coba. Mulut ini kadang berteriak, tak terima, aku kurang apa? Niatku cuma sederhana, tapi kenapa Yang Maha Agung itu seolah acuh. Ya ya ya, aku tak pernah bersyukur! Syukur seperti apalagi? Apakah ketika airmatanya telah mengering baru Ia akan "tersadar", oh ya aku lupa hambaku yang satu itu belum kukabulkan permintaannya. Seperti itukah? Ya ya ya, jangan hanya pintar mengeluh jika tak melakukan apa-apa. Pembelaan atau dakwaan itu lagi. Paling tidak, selama Kau menghadiahiku nafas ini, ridhoilah agar airmata yang membanjiri pipinya adalah buliran air pertanda bahagia. Aku percaya Kau akan dan telah menyiapkan saat itu untuk kulewati.
No comments:
Post a Comment