
Judul diatas kupilih bukan karena aku sedang mencoba berhenti termehek-mehek atas persoalan yang menimpaku. Berhenti menangis adalah tema hari Sabtu ini yang kupilih setelah beberapa kali Sabtu kuhabiskan sepanjang siang menjelang sore hingga matahari menyisakan seperempat jalan menuju peraduannya dengan linangan airmata dan hidung memerah. Bukan karena kesepian di malam Minggu, ah kukira alis-alis telah mulai berkerut dengan ceritaku yang berkelok-kelok.
Idola Cilik 3. Waduh, apalagi ini? Apa hubungannya dengan tangis bombayku? Bukan karena setiap minggunya harus ada yang tereliminasi dan salah satunya adalah jagoanku, tetapi karena suguhan kalau tak boleh disebut selingan yang menginspirasiku banyak. Bertambah bingung? Pastinya, apalagi jika Anda belum pernah menonton ajang kompetesi nyanyi untuk anak-anak yang disiarkan RCTI itu. Di setiap penanyangannya selalu diselingi anak-anak kurang beruntung tetapi berprestasi, tegar dan selalu optimis dalam hidup yang selalu menginspirasiku untuk menghargai hidup dan kehidupan apapun bentuknya serta seberapapun sulitnya untuk dilakoni. Semangat, senyum ceria dan ketegaran yang meruntuhkan dinding hati dan keharuan.
Tapi, tidak Sabtu ini. Tak ada lagi tangis haru. Tangis yang bukan semu. Aku sengaja tak mengalihkan channel tivi ke acara itu. Aku hanya tak ingin pikiranku menjalar menapak tilas rute hidup dengan segala kesenangan, waktu yang terbuang, penyesalan, capaian yang campur aduk menjadi satu. Aku bersetuju ketika alunan Laskar Pelangi sampai ke telinga dan membuat otakku seakan diberi pelumas nomor satu di dunia, meski jujur dari dulu aku tak pernah suka lagu itu. Aku mengharu biru ketika bait demi bait Rindu Setengah Mati terucap lirih menggores kenangan ayah yang tak akan pernah kembali. Dan aku pun rela ketika lagu yang selalu membuatku berlinang untuk Jangan Menyerah dan mensyukuri hidup kemudian menggenapi banjir airmata namun mengokohkan pondasi semangat yang kadang terkoyak.
Ketiga lagu itu dan inspirasi idola cilik sungguh menohokku untuk selalu mengikis ego yang bersarang di kepalaku. Meredam pemikiran jahat untuk membalas apa yang telah orang lain lakukan pada kita, sungguh tak semudah seperti membalik telapak tangan. Kekuatan memaafkan, membangun kesadaran bahwa hidup terlalu singkat untuk dikotori dengan pemikiran bahkan perbuatan nista, adalah sesuatu hal yang sulit namun bukan tak mungkin untuk dilakukan.
No comments:
Post a Comment