
Banyak hal kadang dikategorikan sepele, meski terkadang berlaku kebalikannya, sepele tapi dibuat gede. Entah cerita yang kutuliskan ini masuk dalam kategori mana.
Bagiku, hanya persoalan sederhana, -kalau tak mau dibilang sepele-. Pasalnya, hanya soal merindu. Sesimpel namanya, bahkan sesepele hal yang kurindukan. Merindu waktu menyusuri sepanjang malioboro, merindu memandangi orang-orang dengan beragam aktivitas dalam bus trans Jogja yang kadang sesak kadang sepi, bahkan kadang bertemu dengan orang yang sama.
Sepele bukan? Tapi hal sepele itu kini hanya tertambat dalam ingatan. Bukan karena kesibukan hingga tak bisa mencuri sepenggal waktu untuk menggenapi kerinduan itu. Entahlah, bagiku takkan sama rasanya.
Aku kadang bertanya, apakah aku model orang yang sungguh teramat susah untuk tak menengok ke belakang. Bukan hanya masalah hati, kalau boleh jujur, tiap detil hal yang pernah kulewati. Aku bukan juga tengah menyesali, apalagi terpatung atau bahkan hanyut dalam putaran masa lalu, hanya saja... Entah aku ingin menyebutnya apa, asal bukan dalih pembenaran bahwa aku memang tak pernah bisa melepas prototipe berlabel masa lalu dari sistem otak di kepalaku.
Pertanyaannya lantas, kenapa hal sepele itu tak pernah bisa kusepelekan? Mengayunkan kaki ke depan, oh itu tentu kulakukan. Tiap detakan langkah tempatku berpijak membekaskan harapan. Hmm, menyepelekan hal sepele yang tak bisa terlalu sepele untuk disepelekan. Sepele, bukan?
No comments:
Post a Comment