Saturday, April 17, 2010

GUD NEWS 4 MY MOM


Baru setengah jam aku merebahkan tubuh di pembaringan sembari menatap layar monitor di depanku. Sebuah panggilan masuk yang membuat alisku mengkerut. Nomor yang tertera di layar monitor adalah milik kakak lelakiku yang tinggal di Palembang. Ada apa gerangan ia menelpon, tak biasanya menghubungiku apalagi malam-malam. Tak ingin lama-lama terbalut pertanyaan tanpa jawaban aku menekan tombol hijau ponselku.
"Halo," ucapku dengan nada "aneh".
Sebuah suara perempuan menyahuti. Suara yang sepertinya tak asing di telingaku, yaitu suara ibuku, tapi asing jika mengingat siapa pemilik ponsel yang meneleponku ini adalah kakakku yang tinggal di seberang pulau.
"Siapa ya?" tanyaku.
"Aku!" sahut suara di seberang.
Hampir tiga kali aku mengulang pertanyaan yang sama, aku tak percaya, apa yang bisa kusambungkan, ibuku yang tinggal di Jatim dan kakakku di Palembang.
"Ini aku, masa lupa ama ibu sendiri!" hardiknya tak terima.
Ya, aku kenal suara ibu, tapi bagaimana bisa?
"Kakakmu datang, ini lagi disini sekarang!"
"Kakak? Datang? Dalam rangka apa?"
Dan cerita pun bergulir dari bibirnya...

Kakak datang dua hari kemarin, langsung menuju tempat kerjanya dulu sebelum hijrah ke Palembang. Bukan tanpa alasan ia tak langsung ketemu ibu, bos di tempat kerjanya dulu ternyata memanggilnya kembali bekerja di sana. Dan ia kemudian datang tanpa pemberitahuan, memberi kejutan pada ibu yang langsung mengharu biru antara tangis tak percaya dan tawa bahagia.

Bagaimana tak bahagia, setahun lebih ini, perempuan tua ini tak henti-hentinya menguatirkan kakak, apalagi ditambah komunikasi yang teramat jarang. Praktis menambah beban pikiran perempuan itu. Namun kini, anak yang sejak kecil menjadi kesayangannya itu pindah dan tinggal di dekatnya lagi, memang tak seatap namun paling tidak hanya terpisah beberapa jam saja dan yang terpenting adalah tak menjadi beban pikirannya seperti dulu.

Ada yang berbeda dalam nada suaranya. Ada kebahagiaan disana. Ada keriangan dibalik ketakjubannya akan kejutan ini. Namun yang utama, tak akan ada lagi kekuatiran berlebih untuk kakak. Dan bagiku, kedatangan kakak adalah berkah. Sedikit mengurangi beban pikiranku yang selama ini mendera akibat menguatirkan kelangsungan hidup ibu yang harus sendirian kupikul sementara hidupku sendiri masih tertatih.

Sebuah rangkaian berkah yang tak terduga. Aku bahkan punya spekulasi awal yang cukup menggelitikku. Kenapa tiba-tiba bos kakakku yang dulu itu, yang notabene juga bos almarhum ayahku, menjaring kakak beserta istrinya untuk kembali bekerja sementara dulu keduanya "seolah" dibuat tak kerasan di tempat kerjanya. Ada spekulasi ghaib yang agak-agak nggak nyambung yang berkembang di otakku. Mungkin saja arwah ayah yang selama ini diperlakukan tak adil oleh bosnya itu membayangi si bos sehingga kemudian ia memutuskan menarik kembali kakak untuk bekerja sebagai penebus rasa bersalah yang hinggap.

Aku bukannya terlalu berpikiran negatif, tapi berdasar fakta, ayah memang mengalami ketidakadilan. Bayangkan, ia bekerja di salah satu orang terkaya di Probolinggo yang mempunyai usaha di bidang kesehatan itu sejak usianya menginjak dua belas tahun. Tenaganya terperas, hingga di usia empat puluhan ia mulai sakit-sakitan dan kemudian menghembuskan nafas terakhir di usia tak sampai enam puluh tahun. Parahnya, ketika secara fisik ia tak lagi mumpuni ia didepak, tanpa pesangon karena terhitung masih saudara dengan si bos tsb. Tak ada upaya ayah menuntut haknya. Dan hanya kobaran kemarahan yang menyala di dada serta harapan bahwa aku bisa hidup diluar ketiak kekuasaan si bos yang bersaudara dengan bos yang mempekerjakanku di Jakarta. Aku memilih berhenti karena tak mau ketidakadilan ayah terulang padaku. Untuk alasan kekerabatan aku diharuskan menyembah di bawah kaki orang yang sedikit pun tak pernah menghargai cucuran keringatku dengan rupiah yang sesuai, cuih, aku tak sudi! Cukup ayah, jangan lagi aku!

Kita tak pernah tau kapan keghaiban akan muncul. Yang kita tau adalah kita mungkin percaya dengan makhluk halus yang berdampingan hidupnya dengan kita. Mungkin rasa bersalah si bos yang membawa kakakku memijakkan kaki di kota kelahiran kami itu.

Aku bukan tengah menyumpahi, namun adalah fakta kehidupan si bos memang tak pernah berselimut bahagia meski bergelimang rupiah karena mereka selalu memakai cara-cara tak adil dan tak lazim memperlakukan orang lain, termasuk ayah.

Namun aku memandang positif kepindahan kakak ini. Ibu kini bisa tersenyum lepas meski aku hanya merasakan dan mendengarnya dari telinga hatiku di ujung telepon. Memberi tambahan semangat diantara masa renta yang kadang dibalut penyakit yang berganti-ganti. Dan semoga menjadi penceria hatinya dalam kesendirian yang seringkali hinggap akibat ketidakhadiran kami, anak-anaknya.

Gud news for my mom, akhirnya tawa renyah itu kembali kudengar. Tangan Tuhan memang unik dalam mengabulkan permohonan hambaNYA. RencanaNYA tak pernah terduga. Tapi aku meyakini satu hal, doa perempuan yang setiap pagi hingga malam yang tak pernah berhenti menengadahkan tangan melantunkan lafazh memujaNYA dan Tuhan menghadiahinya hal yang tak terduga, serta indah pada waktunya.

No comments: