Sebenarnya ini adalah cerita lucu yang selalu membuatku terbahak jika mengingatnya. Beberapa waktu lalu mantanku, sebut saja E, itu tuh ibu-ibu yang -mungkin- "sukses" menjelekkan namaku di dunia maya lewat kepolosannya menjadi korban, menginformasikan padaku bahwa kini ia tahu orang yang pertama pernah ada dalam hidupku dulu, sebut saja D. (aku tak akan menyebut "mantan pacar", kuatir ada pihak yang tak mengakui -red).
Aku tak tahu makna "tahu" yang E kemukakan. Apakah bentuk "tahu" mereka telah kenal satu sama lain, entahlah! Karena bukan itu inti permasalahan yang ingin aku ceritakan. Balik soal "tahu" tadi, si E kemudian berkomentar bahwa ia lebih segala-galanya terutama soal fisik. Awalnya, aku tersenyum sinis dengan komentarnya. Picik nian jika merasa bangga karena lebih unggul soal fisik. Aku tergelitik untuk menyambut komentar si E dengan bilang bahwa mungkin si E bisa saja merasa lebih dalam soal fisik, namun secara otak si D jauh lebih tinggi daripadanya. Kontan, komentarku membuat nada smsnya meninggi. Aku pun menutup obrolan tak mutu itu dengan tak membalas komentar si E lagi.
Yang membuatku merasa lucu dan sedikit "penasaran" adalah apa sih sebenarnya yang ada di kepala si E itu, kok ia masih sempet-sempetnya ditengah kehamilan yang sudah memasuki 7 bulan itu tapi masih saja "sempet" mengurusi dan mencari-cari tau tentangku dan masa laluku. Apa tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan selain masih bermimpi untuk merusak "citraku" seantero dunia lesbian? Come on, just wake up, and do something worth!
Bayangin, betapa tidak pentingnya kan jika seorang mantan mencari-cari tau, atau apapun bentuknya, tentang masa lalu mantannya kemudian saling memperbandingkan diri. Apa yang ia cari? Toh keduanya tak akan menjadi seorang yang istimewa lagi sekarang? Masa lalu yang bagiku hanya akan menjadi cerita, kenangan dan pengalaman untuk tak melakukan kesalahan yang sama. Itu saja! Sehingga aku merasa lucu saja -dan bagiku, sekali lagi, kurang kerjaan dan nggak mutu banget- jikalau ada cerita dua orang dari masa lalu, apalagi salah satunya "berhasrat" atau dengan sengaja "ingin tahu" terhadap salah satu lainnya. Entah apa yang kemudian terjalin dan bentuk komunikasi serta cerita jenis apa yang tersaji, itu tak ingin kupersoalkan, tapi alangkah baiknya kalo masa lalu yang telah berakhir, cukuplah menjadi cerita tanpa perlu diungkit-ungkit apalagi dipermasalahkan. Kalau ingin berteman, aku tetap membuka tangan, tapi kalau tidak pun, aku tak akan berkeberatan. It's enough, life is just one short time, and I think its better doing something worth than waste it to make "war" with another!
1 comment:
"secara otak si D jauh lebih tinggi daripadanya".....like it.
Mantan lu kurang kerjaan bgt yee
Post a Comment