
Ketika membaca bahwa Konferensi ILGA akan diadakan di Indonesia, tepatnya di Surabaya, yang pertama muncul di benak saya adalah "ini pasti akan hebat!". Bagaimana tidak hebat, event sekelas konferensi Internasional LGBTIQ Association dapat diselenggarakan di negara yang masih kental dengan heteronormativitas sungguh sangatlah luar biasa buat saya, disamping kemasan acara yang membahas topik atau isu strategis yang penting untuk diketahui dan dibagikan ke berbagai negara. Oleh karenanya, menjadi salah seorang yang beruntung terpilih sebagai peserta tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya terutama mengingat ketidak-percaya-dirian saya saat mengirimkan aplikasi.
Namun sehari sebelum keberangkatan, kemantapan saya tergoyahkan oleh kabar bahwa konferensi itu akan dibubarkan aksi anarkis FPI dan HTI. Rombongan dari Jogja memutuskan Kamis pagi (24/03) tetap berangkat sesuai rencana. Koordinasi ditingkatkan, bahkan antisipasi untuk berjalan terpisah tak satu rombongan ketika menginjakkan kaki di Surabaya pun akan dilakukan jika melihat situasi tak memungkinkan alias genting.
Semua masih berjalan wajar, meski registrasi peserta agak "tak wajar" karena dilakukan di basement hotel. Larangan panitia agar peserta tak memakai atribut konferensi mulai mengindikasikan "ketidakberesan". Jam menunjuk angka sepuluh malam ketika dering telepon panitia sedikit mengagetkan saya. Intonasi nada dari kalimat yang menyuruh kami berkumpul di tempat registrasi peserta membuat saya -dan ternyata juga beberapa teman lain-, gusar. Dan kian jelaslah kondisi yang saya dan teman-teman gambarkan "genting" ini. Konferensi ini tak mengantongi ijin yang berwajib, dan yang ter"genting", adanya "kebenaran" kabar bahwa massa islam radikal akan menyerang sehingga panitia menyiapkan strategi mulai dari intelijen hingga evakuasi, namun juga menambah pro kontra diantara para peserta sendiri.
Tim Jogja mengadakan rapat kecil. Kian dibahas, kian kuatir. Kegelisahan yang campur aduk antara apa yang akan terjadi esok, mengingat si radikal ini tak segan melenyapkan nyawa orang, dan keberanian untuk bersatu menghadapi preman yang dilegalkan di negara ini membuat di satu sisi ingin menghindar, namun di sisi lain keingintahuan menyelinap.
Dan Jumat pun tiba. Teman-teman memutuskan mengikuti jadwal yang direncanakan ulang oleh panitia. Tak disangka, meski diadakan sembunyi-sembunyi dan lirih, peringatan akan adanya serangan tak menciutkan nyali para peserta, bahkan boleh dibilang membangkitkan semangat tersendiri. Workshop yang diadakan di kamar-kamar hotel dengan tiga topik berbeda, walau saling berdesakan tetapi tetap lancar dan disambut antusiasme peserta.
Konferensi ILGA memang telah "sukses" digagalkan oleh premanisme atas nama agama yang entah kenapa nyata-nyata "dilegalkan" dan tak tersentuh oleh hukum di negara ini. Namun setiap hal selalu mempunyai dua sisi layaknya mata uang. Pembatalan ILGA adalah pengibaran bendera setengah tiang bagi penegakan HAM di Indonesia selain berdampak negatif untuk dunia internasional serta mungkin trauma, baik fisik maupun psikologis, namun bagi saya ada nilai positif yang kemudian timbul, yaitu rasa persatuan dan semangat yang berkobar untuk bersama-sama dengan teman-teman LGBT dan semua pihak yang mendukung kami untuk semakin merapatkan barisan, melepaskan ego-ego pribadi dan ekslusivitas di internal kita demi memperjuangkan pengakuan hak dan kewajiban yang sama sebagai manusia dan warganegara.
No comments:
Post a Comment