Sunday, May 23, 2010

Pengalaman IDAHO 2010



IDAHO. International Day Against Homophobia atau Hari Internasional Melawan Homophobia. Yogyakarta mempersembahkan tiga acara, aksi damai bagi 1000 nasi bungkus, diskusi publik keberagaman orientasi seksual dan terakhir panggung keberagaman menyuarakan kebisuan dengan kearifan lokal. Aksi damai di pasar bering harjo dan diskusi publik sukses, dalam artian tak tersentuh milisi sipil yang lebih dulu bergerilya di Surabaya, Depok dan Bandung. Apalagi ketika diskusi publik yang turut mengundang pihak pemerintah, berlangsung seru dan padat peserta. Namun kendala mulai tampak di kegiatan terakhir. Rapat technical meeting telah digelar, bahkan rundown dan pengisi acara telah siap. Kebetulan salah satu pengisi acara adalah teater ibu2 PRT dari KOY yang sungguh antusias latihan, tak terkendala hujan sekali pun, demi menyuguhkan SAYUR LODEH dalam panggung keberagaman tsb. Tapi rencana tinggal rencana, ijin tempat di Sasono Hinggil Alkid dicabut satu hari sebelum hari H dengan alasan keamanan, akan ada milisi sipil yang siap menggagalkan acara tsb. Dan kejadian ILGA pun terulang saat polisi tak memberi jaminan keselamatan jika acara panggung keberagaman tetap digelar.

Semua berkumpul, menyiapkan langkah-langkah selanjutnya. Press conference diadakan di LBH Jogja menyikapi pembatalan dan pembiaran tsb. Dan aksi lain dihembuskan, di tempat yang sama, yaitu alun-alun kidul, akan digelar aksi bersepeda berantai selama 18 putaran pada pukul 18.00 WIB. Yang membuat aku agak bergidik adalah ketika seorang teman memforward sms aksi dengan dibawahnya tertulis footnote tidak ada jaminan keselamatan, aksi ini adalah panggilan kemanusiaan.

Teman kantor tak mau ikut serta. Otomatis gak ada bareng, agak malas juga. Apalagi sepeda sudah lama kuanggurkan. Bahkan aku sudah sms teman panitia bahwa saya positif tidak ikut. Namun entah kekuatan darimana, tiba-tiba sepeda yang masih bagus tetapi usang berdebu karena berbulan-bulan gak kupakai itu aku mandikan dan kubawa ke bengkel sepeda untuk dilumasi rantainya. Dan tepat pukul 5 sore, sepeda sudah siap pakai. Berganti kaos putih sesuai dengan dresscode aksi yang sengaja aku dobelin pakai kemeja kotak-kotak, headset di kuping dan helm, aku mengayuh sepeda cukup kencang. Maklum, pemberitahuan jam ngumpul setengah 6. Sampai di alun-alun aku malah kayak anak hilang. Dengan menajamkan mata pada satu persatu pengunjung alkid tak kutemukan orang yang kukenal atau paling tidak berdresscode sama denganku. Terus terang aku mulai panik. Kumpul dimana mereka, batinku.

Sampai di sasono hinggil, ada satu panitia dan peserta rapat tadi pagi. Dan rupanya ia juga agak kebingungan sampai kami yang tak saling kenal jadi agak akrab. Lalu satu persatu datang. Aku bisa menangkap wajah-wajah agak ketakutan disana. Setelah satu persatu datang, aku merasa bergerombol bukan ide yang baik. Apalagi sejak datang tadi sudah ada dua lelaki pelontos yang memperhatikan gerak gerik kami.

Akhirnya aku mencetuskan ide mengajak perempuan yang juga bawa sepeda gunung sendiri untuk keliling duluan. Ia setuju. Padahal kami tak saling kenal sebelumnya. Lalu ada beberapa orang yang ikut. Tepat jam 6 mungkin, leader sepeda yang telah ditunjuk dimana orang yang bonceng di belakang akan memetik gitar dan mulai bernyanyi memimpin koor panjang sepeda berantai. Berbaris satu ke belakang dengan tak putus aksi dimulai. Nyanyian mulai Indonesia Raya sampai Pelangi-Pelangi berkumandang mengundang tiap pasang mata melihat dan sesekali terdengar riuhan dari para pedagang di pinggir jalan. Entah berpuluh sepeda yang ikut serta bercampur para pengendara sepeda lainnya. Hingga kemudian...
"FPI datang, bubar!!!" seru si ketua panggung keberagaman dari arah belakang hingga ke depan usai ia melihat 2 mobil jeep dan bermotor2 penuh orang bersorban.
Disinilah kepanikan mulai terjadi. Barisan berkaos putih mulai kocar-kacir, cepat-cepat mengembalikan sepeda sewaan lalu mengambil motor masing-masing. Yang bawa sepeda sendiri juga tunggang langgang berbelok keluar alkid. Aku malah kebingungan. Ada apa dengan orang2? Padahal ketika rapat tadi siang mereka telah mantap akan bilang: "Kami hanya piknik bersama dan bersepeda?". Lalu mengapa lari?
"Kita cuek aja yuk, sewa sepedanya kan belum habis. Lagian juga gak ada yang akan tahu!" ujar seorang perempuan.
Aku mengamini rencananya. Kenapa kita harus berhenti? Toh kita juga sama dengan pengguna sepeda sewaan yang lain, kan? Namun teman perempuan itu yang juga panitia menyuruh mengembalikan sepeda yang ia tumpangi. Rona mukanya juga mencekam. Akhirnya, kami tak jadi melanjutkan sepeda ria.
"Lalu kita mau kemana nih? Apa bubar jalan?" tanyaku. Ya konyol saja kalau bubar jalan. Sebagian memilih bubar, sebagian ikut anjuran ke tempat minum salah satu teman. Meski tak tahu arah aku mengikut saja.

Usai melepas lelah, bercengkrama tentang aksi yang dilakukan barusan, aku hendak beranjak pulang. Namun satu hal, aku lupa jalan pulang. Maklum ingatanku teramat buruk jika menghapal jalan. Aku bertanya pada teman kantor yang rumahnya sekitaran tempat yang kusinggahi ini dan mengabarkan jalannya aksi hingga membawaku ke tempat melepas lelah ini. Namun tanggapan teman kantor sungguh diluar dugaan, aku sudah bilang kalau aku bawa sepeda tapi ia bersikukuh menjemputku. Sampai di depan, ia menyuruhku keluar.
"Kamu itu konyol banget, di sebelah ini malah justru tempat si milisi sipil itu nongkrong!" jelasnya. "Makanya, aku harus jemput bukan hanya kasi ancer2 pulang!"
Kebetulan ada teman dari Jaringan Perempuan yang mendengar. Aku segera masuk. Awalnya dikira aku hanya pamit pulang. Tapi aku mengambil kuping salah seorang teman.
"Aku pulang dulu. Kata teman kantor di sebelah tempat ini, fpi biasa nongkrong jadi jangan lama-lama disini. Dan kalaupun keluar, jangan melakukan pergerakan ekstrem."
Temanku mengangguk dan kemudian mengedarkannya ke kuping panitia. Aku beranjak pulang dan meyakinkan bahwa info untuk tidak berlama-lama di tempat ini sudah beredar. Kulihat satu sepeda motor keluar. Aku dituntun teman kantor melewati gang-gang yang tak pernah kulewati sebelumnya. Bahkan di satu jalan, kami harus benar-benar menuntun kendaraan karena kata temanku di wilayah keraton kendaraan harus dituntun kecuali mobil. Hingga kemudian aku berpisah di pertigaan menuju jalan besar yang telah kukenal.

Sampai di kamar barulah terasa kelunya kaki ketika kuselonjorkan. Entah berapa kali aku mengelilingi Alkid, ditambah aksi kebut2an "melarikan diri" dari Alkid lalu pulang ke kost, uffs mungkin gak keitung, tapi anehnya saat beberapa waktu lalu mengayuh sepeda setelah beberapa waktu absen bersepeda, nafasku dibuat tersengal padahal jarak tempat kerja dengan kos tak begitu jauh sama seperti perjalanan dari kos ke alkid, namun kali ini entah kenapa bahkan capek pun tidak. Kaki ini seakan tak ingin berhenti mengayuh. Baru aku tau kalo telapak tanganku memerah karna tadi sempat tabrakan berantai akibat pengendara depan berhenti mendadak.

Semangat. Aku meyakini hanya faktor tsb yang membuatku seperti memakai viagra saat bersepeda tadi. Semangat perjuangan kenapa kejadian ILGA harus terulang, kenapa milisi sipil itu kian berkuasa dan aparat seperti lemah syahwat tak berkutik. Kita akan selalu berjuang teman-teman, aku meyakini itu! Semoga semangat itu tak pernah surut sampai premanisme yang mengatasnamakan agama itu dimasukkan dalam kandang besar karena perilaku mereka tak ubahnya seperti hewan. Perbedaan manusia dengan hewan terletak pada akal dan pikiran. Hewan berakal tapi tak punya pikiran, sama seperti milisi sipil itu!

2 comments:

Wahyu said...

Salut buat kesungguh-sungguhan kawan satu ini. Semoga menginspirasi kawan yang lain untuk lebih berani berposisi. :)

Cosmic Soulmate said...

Bersama kita bisa....