
Ada yang menarik ketika aku menonton Take a celebrity out semalam. Aku baru menyetel tivi di tengah acara, tak tahu depannya, yang kulihat adalah ketika seorang lelaki -entah berprofesi sebagai apa- tengah bercerita tentang kehidupan rumah tangganya yang kandas. Penyebabnya, karena si lelaki tak punya uang. Ia bahkan diusir dari rumah. Prinsip istrinya No money, no love. No money, no sex. Si lelaki tak diperbolehkan bertemu sang anak kalau tak bawa uang. Bukan itu yang membuatku terharu. Bukan juga ketika tak satu pun lampu menyala untuk si lelaki tak berduit itu. Tapi cara ia bertutur, mengisahkan dan opini yang keluar dari bibirnya. Pencerminan seseorang yang bijak yang sayangnya mungkin belum beruntung. Terlepas dari ia tengah berakting atau tidak, tapi sungguh ketulusan itu kudengar dengan mataku. Lalu janda Pasha Ungu meminta lampunya dinyalakan. Perempuan ini juga tak pintar berdiplomasi, namun alasan penerimaannya untuk si lelaki bukan pengibaan. Dan si lelaki menerima. Ada kejadian ketika kondisi si lelaki tiba-tiba melemah. Ia minta jeda waktu bahkan rebahan di panggung.
"Ketika aku bercerita tadi sebenarnya ada dua kekuatan yang saling tarik menarik, antara cerita atau tidak." Laki-laki itu merasa berat ketika menceritakan kisah hidupnya. Seperti menguras semua energinya hingga lemas.
Baru kali ini aku melihat begitu berat beban hati tuk diungkap. Dan itu sebuah ketulusan. Ketulusan yang meluncur dari bibir seorang laki-laki. Dan Okie memilihnya. Ini bukan tentang latar belakang dan status sosial, bukan profesi artis dan non artis, selebriti atau bukan, aku hanya melihat ketulusan seorang manusia.
Yah, mungkin ketulusan adalah kata yang kupelajari malam itu. Banyak ketulusan. Ketulusan ketika laki-laki itu merespon kenapa tak ada satu lampu pun menyala untuknya. Ketulusannya mencintai. Laki-laki itu tak banyak bicara memang, tapi apa yang terucap dari bibirnya murni ketulusan. Dan ada ketulusan yang tidak kuduga sama sekali, yaitu ketika si lelaki terkapar, orang pertama yang mendekat adalah seorang selebriti yang notabene punya track record yang lumayan jelek. Bukan tengah berpura-pura, aku yakin banget ia teramat pintar bermain peran, namun yang terpancar dari mata ketika ia mendekat dan memberi perhatian kepada lelaki itu, aku membaca ketulusan disana. Aku percaya mata bisa berbicara, meski hendak ditutupi silat lidah atau gestur tubuh seindah apapun.
Belum usai "keherananku" mendapati ketulusan, sebuah ketulusan lagi disuguhkan. Ceritanya si janda Pasha Ungu telah digaet oleh si lelaki. Saat terakhir, perpisahan terjadi. Yang selalu kulihat dari tayangan ini adalah ngeliat cowok dari sisi materi dan tampang, atau kalo nggak ya cuma acara rekayasa untuk mendongkrak rating, tapi satu hal yang luput adalah kebersamaan 30 perempuan di panggung ini memunculkan rasa persahabatan demikian mendalam. Yang disajikan di mataku adalah glamour dan materialistis mereka, namun malam itu aku agak terharu, ya mungkin lagi mellow dan sentimental pada sebuah persahabatan yang terjalin akibat terlalu lama berada di panggung.
Enough soal take me out, aku memang tengah terobsesi dengan ketulusan. Pengalaman hidup membuatku harus dengan susah mempercayai kata itu. Bukan karena negatif thinking, aku sepertinya lelah ketika aku percaya jika apa yang kutabur itulah yang aku tuai tak manjur. Pertanyaan kenapa orang lain tak menabur apa yang kutabur, hingga pertanya pikiran dan perilaku orang tak bisa disamakan dengan pikiran dan perilakuku sungguh kadang bikin aku kelelahan untuk menjelaskan bukan begitu maksudku tapi begini. Pemahaman, ketulusan, sesuatu yang bagiku langka untuk dipercaya.
No comments:
Post a Comment