
"Apa kamu benar2 tidak akan menikah?" tanyamu padaku di kebersamaan kita yang kesekian kalinya.
Aku menggeleng.
"Pasti? Bagaimana kalau ibumu nyuruh?" tanyamu lebih detil.
"Ya sedapat mungkin aku akan mengulur waktu, malahan kalau memang aku menemukan perempuan yang benar-benar melengkapi hidupku maka aku akan mengenalkannya pada ibu."
Kamu tersenyum. Tapi aku tau benakmu mengatakan sesuatu yang entah tak bisa kubaca.
***
"Tumben kamu nggak cari pacar?" tanyaku padamu di kebersamaan lain.
"Lho, katamu nggak boleh cepat2, nanti kisahnya kayak kemarin itu." jelasmu.
Rupanya kamu menurut ucapanku, tapi aku menangkap hal lain dengan seringnya kebersamaan2 ini muncul.
***
Entah berapa waktu kebersamaan2 ini mulai ada. Bahkan aku pernah membuat jarak karena kamu terlalu cepat mendekat. Aku masih terbiasa sendiri dan menikmati kesibukan pekerjaan. Namun aku akui kamu cukup telaten mendekat, memberikan pemahaman2 ketidakpercayaanku akan ketulusan, mencoba merajut hari dengan energi dan pikiran positif. Dan kamu sudah tak asing menceritakan "aib" keluargamu padaku. Meminta pendapatku, mencarikan solusi bersama atas masalah yang dihadapi.
Aku pernah kau kenalkan pada sepupu lelakimu. Dan kamu pun sudah tahu satu persatu teman dan lingkunganku. Ada kekuatiran sebenarnya, takut di kemudian hari aku menyesal telah mengenalkanmu ke duniaku. Kadang kau bertanya tentang dunia lesbian, memperkaya wacana. Dan satu hal, kamu begitu penasaran menelusur melihat teman2 di fesbukku.
Aku bukan tengah menawarkan dunia baru. Aku juga tidak memberi apa-apa untuk kau tahu. Tapi aku dan kamu sepertinya hanya berselancar, menikmati satu persatu kebersamaan yang tak terencana. Hanya mengalir.
Aku pernah berujar padamu ketika kamu di awal2 dulu setengah mati menutupi belahan dada atau selangkangan yang terbuka pada apa yang kau kenakan, "Perempuan telanjang di depanku sekali pun, kalau tak ada rasa tetap tak akan menarik birahiku". Sejak itu kamu mulai tak bingung bagaimana harus duduk ataupun menyembunyikan belahan. Tetapi kok aku jadi yang tidak bisa konsen ketika ia dengan enteng duduk menulis memiringkan tubuh di depanku. "Eh, eh, duduknya jangan di depanku!" tegurku membuatmu tergelak. "Lho katanya..." "Ah sudah, nggak usah dibahas!" Tawa kemenanganmu menggelegar usai sukses menggoda.
***
Di kebersamaan lain, ketika kamu sudah di depan kamarku sedang aku masih sibuk di dalam mematikan laptop.
"Vi, udah ditungguin pacarnya itu lho!" celetuk buci tetangga sebelah yang sedang menjemur pakaian.
Aku tak merespon secara ekstrim meski celetukan tetangga itu akan membuat asumsi yang tidak2 di benak tetangga lain. Maklum, aku belum open di kost, sedang kamu sudah tak terhitung dengan kebersamaan ini.
"Yo, ini mau keluar!" Tanpa respon lebih lanjut, apalagi kamu juga tak berekspresi nggak tau apa yang ada di pikiranmu saat itu, tapi aku tak sedikitpun memindahkan obrolan menyentuh hal tsb.
Aku memaknainya sebagai sebuah kebersamaan, untuk mencoba mempercayai persahabatan atau relasi antar manusia, ketulusan dan saling memahami sesama manusia. Hal-hal yang tak pernah kupercaya karena tak pernah kudapat yang kini tengah kau coba dengan telatenmu untuk kau tunjukkan padaku.
No comments:
Post a Comment