
Aku teringat kata itu ketika beberapa teman membincangkannya meski dalam konteks berbeda. Kata itu membuatku tergelitik mencari arti. Searching di mbah gugle tentang definisi eksistensi membawaku pada beberapa situs yang salah satunya adalah dibawah ini:
Eksistensi berasal dari kata eksis yang awal mulanya adalah kata dari bahasa Inggris exist yang berarti ada, berwujud. Eksistensi atau pengakuan, -suatu keadaan dimana orang lain mengakui dan menghargai diri kita-, bukan merupakan wujud abstrak atau materi namun selalu dicari dan dikejar oleh manusia.
Aku sebenarnya bukan ingin mencari definisi, hanya penasaran sebenarnya mereka yang berkoar tentang eksistensi melihat dari sudut pandang sebelah mana. Aku memang tak mendapat jawab, satu diantara mereka memang tak mau jawab, namun dua orang lain sengaja aku hanya mengamati ketika tempo hari keduanya perang status fesbuk mengangkat tema tsb.
Apakah ketika seseorang aktif dimana-mana, ia ingin eksis? Menunjukkan eksistensinya. Lalu apa bedanya dengan pamer? Bukankah juga menunjukkan keberadaannya dimana pun? Apa yang menjadi pembatas? Apakah ketika wajah seseorang terpampang dan kreatifitasnya berkibar dimana-mana adalah kepentingan demi eksistensi. Jikalau ya, apa maknanya akan negatif atau positif? Sebab yang terkesan dari cara orang lain mengumandangkan kata itu, terdengar negatif, eksistensi diibaratkan ajang pamer diri. Padahal mungkin tak semuanya seperti itu. Ah, lahir lagi kata baru, prediksi. Belum lagi prediksi dengan tendensi. Ternyata banyak juga buntut eksistensi.
Tapi menurutku eksistensi, terlepas dari negatif atau positif, akan bergantung pada niatan awal. Anggapan orang adalah nomor kesekian, ya aku meyakini itu, sebab apa yang kita akan, tengah, sedang dan ingin lakukan hanya kita yang berniat, menanggung dan menerima hasilnya.
Kalau orang lain menganggap kreatifitas Anda adalah bagian dari eksistensi dan mempunyai preseden buruk di mata mereka, maka pikirkan kembali apakah niatan awal dan tujuan akhir dari eksistensi tsb. Jikalau baik, maka silahkan teruskan! Selamat bereksistensi namun tak larut dalam eksistensialisme.
2 comments:
Sebetulnya gak harus berkoar kok. Cukup diri dan karyanya terus muncul, otomatis dirinya tetap eksis :)
Btw, lay out blog kamu makin oke :)
Yang berkoar bukan orang yang diri dan karyanya muncul, tapi orang lain lah yang mengkoarkan bahwa diri dan kreatifitas yang muncul itu hanyalah semua semata demi eksistensi, padahal belum tentu demikian. Intinya, orang lain (yang aku kenal) kadang memandang sebelah mata akan kreatifitas seseorang dengan menggarisbawahinya sebagai sebuah eksistensi semata.
Untuk lay out blog.... masih kalah jauhlah ama dirimu.... hanya ingin sedikit memberi warna aja biar gak monoton tulisan sajah.... aniwei terima kasih sudah mampir....
Post a Comment