Pohon itu tumbang, namun syukurlah tak mengenai pejalan kaki yang lewat atau kendaraan yang tengah melaju.
Pohon itu luluhlantak, namun syukurlah akarnya masih melekat meski tak utuh.
Batang yang kokoh itu ternyata rapuh, terlihat rongga-rongga basah seperti baru teraliri cairan. Air darimana kah? Dari daun-daun yang menengadah ketika disiram, kah? Tidak, rongga itu basah oleh tangis akar yang kokoh hingga membusuk tak kuat menyanggah.
Pohon itu telah bertahun-tahun tampak mati suri, sekalinya bersemi ia gugur lagi.
Pohon itu ternyata menangis sebelum akan mati, namun syukurlah ia tak melukai, hanya ia sendiri.
Bulir air yang baru sempat meretas, setelah sekian hentakan waktu tertahan, menahan.
Langit Kamar Tamsis, 18:49 Wed 24 Aug 2011
Wednesday, August 24, 2011
Memutus Pusaran
Namun bila waktuku telah habis dengannya, biar cinta hidup skali ini saja...
Menarik diri, daripada saya menarik perempuan itu ke dalam pusaran yang saya buat. Pusaran yang bahkan saya tak bisa keluar, menunggu untuk terlempar ketika arus sudah lelah mempermainkan saya di dalamnya. Saya bukan menyerah untuk meraihnya, saya hanya tak mau menariknya ke celah yang bahkan untuk diri sendiri pun belum bisa menaklukkan. Ego saya!
Menilik kembali roda percakapan dunia maya sekitar tak sampai sebulan lalu, pelangi bibirku kerap muncul. Jujur, aku merindu kita yang dulu. Kita yang terpisah jarak namun bukan waktu. Aneh, kenapa aku tak bisa sesederhana seperti ketika di awal dan malah ribet dibelit prasangka dan posesif nggak jelas, sementara ia dengan sangat jelas tak memantulkan hal yang kurasakan?
Hati kok malah heboh sendiri. Ego saya pun perang sendiri. Apakah saya butuh pengakuan perasaannya terhadap saya? Pengakuan yang bagaimana lagi, hati saya yang lain bilang begitu. Toh sudah jelas alur gamblangnya.
Tersiksa untuk menjadi tak sederhana. Tapi daripada saya membuat satu orang lagi merasa tersiksa dengan hati dan pikiran2 aneh saya, mending memutus pusaran agar ia tak terkena getah. Kalau sakit, biar saya aja yang sakit karena sakit itu saya yang buat sendiri.
Tuhan bila masihku diberi kesempatan, ijinkan aku untuk mencintainya...
(Tak sanggup bila harus jujur hidup tanpa hembusan nafasnya...)
Tuesday, August 23, 2011
Sedang Kecewa
Saya memang sedang kecewa, kecewa dengan diri sendiri. Hmm tanpa bermaksud menghujat!
Memutar ulang perbincangan dengan seorang teman berbagi pikiran yang jauh dimata semalam, ada sebuah pola yang kami amini untuk men-trackrecord kisah asmara saya. Pengulangan pola, kata perempuan itu, dan aku sudah sadar hal tsb namun anehnya tetap dilakukan berulang.
Aku bukan tak belajar, tapi entah apa namanya kok bisa terulang. Internal error yang tak bisa dibenahi mungkin haha. Sementara sparepartnya juga tidak dijual di toko2 terdekat. Sifatnya mendestruktif hati sendiri. Ternyata, sekali lagi, bukan orang lain si pencuri hati yang tak siap, tapi lagi2 saya dan permasalahan internal antara otak dengan hati.
Fluktuatif, bukan labil. Dan itu sangat destruktif. Di satu sisi negatif yang melanda pun dibarengi kekuatan positif. Pernah merasa seolah-olah neuron anda yang positif dan negatif pada saat yang sama bertabrakan hebat? Dijamin, cairan sekret otak dibalik batok kepala ini bahkan bisa saya rasakan dentingnya di telinga mirip air yang mengucur, hingga suhu tubuh tinggi di dalam, kedinginan tak berpenyebab. Bahkan aku tak bisa lagi merasa, ibarat dulu melaju motor dalam hujan deras tetapi badan tak merasa basah, tahu-tahu sampai rumah kuyup pasi, mati rasa!
Tiga hari yang melelahkan! Saya tak menyesal perputaran waktu menyuguhkan irisan takdir untuk aku dan perempuan itu, hanya saja semoga kali ini destruksi internal ini tak berakhir senada dengan cerita2 sebelumnya.
Kalau ia bergelut dengan 1001 resiko membuka hati karena tak mau komitmen dan masa depan yang merupakan keharusan dibangun dengan laki-laki, God Knows that's not a big deal! Kontradiksi pemikiran mungkin, mengingat rangkaian cerita 2011 tak satupun dari para perempuan yang beririsan takdir denganku murni homoseksual, aku sudah lumayan fasih dengan uncommitment dan tuntutan lain. Kontradiksinya denganku adalah ia bermasalah eksternal, sedang aku perang internal.
Tuntutan yang kulakukan pada orang lain tak bisa kuungkap, jelas saja bagaimana mungkin kau menuntut orang yang belum menetapkan hati untukmu. Makanya ketika hati dan otak sibuk sendiri, maka aku harus menikmatinya sendiri, karena tak mungkin aku mengajukannya meski pada kenyataannya aku benar-benar mendestruksi perempuan pengisi hati ini dengan nalar tingkah laku yang tak bisa di nalar. Hal yang kemudian sungguh tersesali namun sudah tak bisa terhapus, selain mengubah diriku di dalam untuk tak lagi melibatkannya dalam wilayah hati dan otakku.
Memahami diri sendiri; bahwa dalam saat bersamaan aku (hati dan otak) bisa sekaligus merasakan negatif dan positif thinking, destruksi dan recovery, bangkit dan jatuh, serta semua hal kontradiktif berbarengan.
Kecewa dengan kerumitan diri sendiri. But, that's me, sampai detik ini still love my self completely complicated complex!
Monday, August 22, 2011
Oksitoksin, Hati dan Logika
Cinta ini tak akan mungkin memudar,
Kata hati tak akan mungkin berubah, jadinya, karenanya...
Potongan bait lagu yang sejak beberapa hari lalu kerap terngiang di telingaku. Tentang hati, lagi!
Awal bulan ini oksitoksinku sedang produksi berlebih. Ia menggenjot otak sampai ke aliran darah untuk mengecap fungsi hormon itu. Bukan pertama kalinya begini sih, tapi untuk sepanjang tahun 2011 bersama lika-liku asmaranya, ia paling dominan akhir-akhir ini. Biasanya, ia berproduksi tak sampai meluber, cukup pada porsi hati, lalu ketika ia akan merambah struktur otak tempat ia bernaung, ia sudah dieliminasi logika.
Untuk sekarang, sepertinya sedang lain cerita. Meski hati sendiri sudah lumayan hilang dari bius oksitoksin, ya hati saya tumben2an berlogika bahwa oksitoksin ini beracun. Eh kok malah otak membuat keajaiban; dalam membantu proses recoverynya hati, logika saya malah ganti menyuruh hati untuk tetap berfungsi selayak organ tsb, bukan merebut wilayah otak. Dan support otak yang mengejutkan ini diamini hati, meski tak dibarengi dengan oksitoksin. Memang, ada sisa oksitoksin, namun ia sedang mogok produksi. Semoga support logika mampu menyuplai apa yang tak diberikan komponen otak pembangkit dan pengelola taman bunga di hati saya agar tak memudar.
Kata hati tak akan mungkin berubah, jadinya, karenanya...
Potongan bait lagu yang sejak beberapa hari lalu kerap terngiang di telingaku. Tentang hati, lagi!
Awal bulan ini oksitoksinku sedang produksi berlebih. Ia menggenjot otak sampai ke aliran darah untuk mengecap fungsi hormon itu. Bukan pertama kalinya begini sih, tapi untuk sepanjang tahun 2011 bersama lika-liku asmaranya, ia paling dominan akhir-akhir ini. Biasanya, ia berproduksi tak sampai meluber, cukup pada porsi hati, lalu ketika ia akan merambah struktur otak tempat ia bernaung, ia sudah dieliminasi logika.
Untuk sekarang, sepertinya sedang lain cerita. Meski hati sendiri sudah lumayan hilang dari bius oksitoksin, ya hati saya tumben2an berlogika bahwa oksitoksin ini beracun. Eh kok malah otak membuat keajaiban; dalam membantu proses recoverynya hati, logika saya malah ganti menyuruh hati untuk tetap berfungsi selayak organ tsb, bukan merebut wilayah otak. Dan support otak yang mengejutkan ini diamini hati, meski tak dibarengi dengan oksitoksin. Memang, ada sisa oksitoksin, namun ia sedang mogok produksi. Semoga support logika mampu menyuplai apa yang tak diberikan komponen otak pembangkit dan pengelola taman bunga di hati saya agar tak memudar.
Wednesday, August 17, 2011
MULAI MENGUSIK HATI
Belum genap sebulan memang, tapi kau cukup mengobrak abrik tatanan otak, terlebih hati. Jeda usia lumayan jauh awalnya jujur saja aku sudah underestimate bahwa bentuk pertemanan ini hanya akan berlangsung sebagai sebuah basa basi saja. Basa basi orang muda kepada orang yang lebih tua. Dan aku salah total!
Komunikasi jejaring sosial dengan perempuan itu menggelitikku. Tukang ngeyel, itu aset utama yang menarik perhatianku. Kalo asal ngeyel sih tak akan kugubris, argumennya memicu kerja otak yang kadang memburatkan secarik senyuman.
Hingga hari ke berapa aku belum juga tau namanya. Nomor ponselnya bertitelkan nama jejaring sosial yang -katanya- kini dimusnahkannya. Obrolan panjang lebar pun mengalir. Ia kian memikat. Tau sendiri, aku paling suka perempuan berotak. Memetakan isi pikirannya, menguras isi pikiran dan keterampilan argumentasiku. Namun tetap saja, relasi apapun tetap punya pasang surut. Bahkan aku gak nyangka hubungan ini masih hingga kini, pasalnya beberapa hari setelah saling kenal, kami beradu hebat. Kupikir aku tak akan mengenalnya lagi. Sampai2 aku mengutas doa yang kulafalkan di fesbuk, kalau memang untukku dekatkan, kalau bukan, tunjukkan. Esoknya, aku sumringah ketika pesan pendeknya mampir lagi di ponselku.
Siklus perkenalan yang bertahap; jejaring sosial, chat messenger, pesan pendek, obrolan by phone, dan penyebutan nama. Aku belum tau wajahnya! Meski begitu aku sudah cukup tau karakternya, meski ada juga beberapa ganjalan di otak. Dan bagian mengetahui bentuk fisiknya adalah satu lagi proses yang mengejutkan.
Setelah proses ulet dan penemuan beberapa fakta, ia kemudian membuka kedok wajahnya. Aku memang sengaja pura2 bego diantara sekian gambar tsb ia yang mana, meski aku sejak awal menduga ia yang berpakaian dan berparas cerah itu. Lalu apakah aku senang? Tidak! Aku bahkan berujar pada tetangga sebelah kost, diantara gemuruh hati yang mulai bersemi sepertinya aku harus memusnahkan rasa itu. Ia terlalu cantik untuk kudekati! Jadi jangan dikira wajah makin rupawan, aku kian senang, tidak, aku mundur saja kawan! Begitu ujarku yang dikecam tetangga sebelah.
Hari-hari hatiku terisi olehnya. Dering sahur. Pesan pendek penghilang kantuk pencipta kantung di bawah mata. Ejekan yang terus bersambung. Membagi benak untuk satu dan beberapa hal. Hmm, aku tak usah membunuh waktu sepanjang puasa, bahkan dua jam beradu eyel-eyelan dengannya seperti baru 10 menit saja, walhasil setelahnya kerongkongan macam habis karaokean berjam-jam.
Namun relasi apapun sepertinya tak akan mulus saja. Aku mengakui, fikiran negatifku tentangnya belum bisa hilang. Ada pertanyaan2 yang dilontarkan otak meski hati sudah setengah mati memangkas prasangka. Otak, kau mungkin benar tak ingin aku sakit lagi, ujar hati, tapi kalau kau terus mencari celah salahnya, aku tak akan menemukan belahanku untuk berbagi. Ya, hatiku kerap wanti2 untuk mengajari otak setulus seperti tawa dan senyuman yang dilakoni hati.
Ia telah tau hatiku, ya kemajuan yang menurut beberapa kawan patut diacungi jempol. Ia tak mengiyakan pun tak menolak. Aku bersepakat bahwa ya akan terlalu cepat untuk memutuskan ya atau tidak. Membiarkan semuanya mengalir the way it path! Menyilahkan sang waktu menyuguhkan diskusi panjang, adu pikiran dan pemahaman karakter masing2 sepanjang memberi manfaat positif bagi keduanya ke depan, aku tak akan mereka-reka apapun bentuk relasinya.
Wednesday, August 10, 2011
Cerita Gajah dan Simpanse
Gajah adalah kamu. Kamu yang tiba-tiba ada di list pengikutku di sebuah situs jejaring sosial. Perpaduan padi dan kopi, ID yang unik, filosofi padi padu padan kopi yang kau lontarkan masuk akal bagiku. Lalu kenapa Gajah? Karena kau bilang kau besar. Gajah besar, bukan?
Dan Simpanse adalah aku. Ia tak mau kalah dibilang Gajah, memanggilku Simpanse.
"Simpanse itu paling pintar lho diantara hewan lain, terutama untuk bangsa monyet!" elakku. "Daripada Gajah, cuma gede doang!"
"Mending Gajah, dianggap suci di Thailand, daripada Simpanse, nggilani (menjijikkan)"
Dan serentetan olokan lain mengikuti. Ya, perkenalan yang berawal di jejaring sosmed kemudian beralih chat messenger dan pesan pendek itu kemudian tak berhenti untuk tiap waktu saling olok dan ngotot, bahkan untuk bahasan sepele.
Perkenalan ini tak lantas mulus saja. Sejak awal mengenalmu aku mencium gelagat ada yang kau sembunyikan di balikku, entahlah, sepertinya banyak yang janggal darimu, dari mulai nama yang tak kunjung kau sebutkan dan nomer hape yang kadang hidup kadang mati. Asal tau saja, aku paling preventif dengan orang-orang model begini. Kau bukan orang pertama yang kuragukan dalam sejarah perelasian usai buyarnya relasi terakhirku. Aku mungkin terlalu antipati, ya begitulah aku! Perjalanan cintaku adalah guru paling buruk yang kemudian membentuk karakter preventif otak terhadap hati.
Dan Simpanse adalah aku. Ia tak mau kalah dibilang Gajah, memanggilku Simpanse.
"Simpanse itu paling pintar lho diantara hewan lain, terutama untuk bangsa monyet!" elakku. "Daripada Gajah, cuma gede doang!"
"Mending Gajah, dianggap suci di Thailand, daripada Simpanse, nggilani (menjijikkan)"
Dan serentetan olokan lain mengikuti. Ya, perkenalan yang berawal di jejaring sosmed kemudian beralih chat messenger dan pesan pendek itu kemudian tak berhenti untuk tiap waktu saling olok dan ngotot, bahkan untuk bahasan sepele.
Perkenalan ini tak lantas mulus saja. Sejak awal mengenalmu aku mencium gelagat ada yang kau sembunyikan di balikku, entahlah, sepertinya banyak yang janggal darimu, dari mulai nama yang tak kunjung kau sebutkan dan nomer hape yang kadang hidup kadang mati. Asal tau saja, aku paling preventif dengan orang-orang model begini. Kau bukan orang pertama yang kuragukan dalam sejarah perelasian usai buyarnya relasi terakhirku. Aku mungkin terlalu antipati, ya begitulah aku! Perjalanan cintaku adalah guru paling buruk yang kemudian membentuk karakter preventif otak terhadap hati.
Monday, August 8, 2011
Introspeksi: Lagi-Lagi Soal Relasi!
Ya lagi2 soal relasi, ini yang juga lagi2 kurefleksi. Aku hafal betul karakterku. Memantulkannya dari seorang kekasih tetangga sebelah aku kerap men-share beginilah sifat kesamaan kami yang harus ia sadari. Pasalnya, perempuan ini kadang agak stres dengan karakter rumit pasangannya yang sama persis dengan karakterku. Dan lagi2, mewanti-wanti memang mudah diucap tapi ketika mempraktekkan pada diri sendiri, susahnya ampun deh!
Berelasi. Jauh2 hari aku sudah menegakkan diri untuk membuka hati. Meski tertatih, karena faktor penghambat utama aku sadari betul bukan eksternal. Internal perlu pembenahan, terkait ego. Ya, ego, harus diakui itu yang belum bisa ditaklukkan.
Sibuk dengan diri sendiri. Merasa nyaman seorang diri. Ya, rasanya aku memang harus mengakui, aku belum siap untuk berbagi dan membagi. Otakku masih terlalu sulit untuk dimengerti. Aku meyakini, this is not evil in my head, hanya kerumitan struktur otak yang sejak dahulu kala tak pernah mudah tercerna oleh orang lain selain diri sendiri.
Kata-kataku memang sepertinya melukai, tapi jauh didalam lubuk hati, aku hanya terlalu takut untuk tersakiti. Logika ini yang kemudian membentengi bertubi-tubi agar hati tak merasakan perih oleh dusta atau nista lainnya yang hendak meracuni raga.
Logikaku mungkin sekuat karang padahal jauh di palung terdalam hati teramat rapuh. Aku bersyukur logika setengah mati hendak melindungi hati dari perih, namun aku juga harus bersiap ketika ketegasan logika memusnahkan benih-benih hati yang mulai bersemi.
Aku rumit, MEMANG!!! Kadang aku merasa kasihan kelak siapa yang mendampingi hatiku di hari-hari sepanjang perjalanan waktu, atau ketika logika memberangus benih yang hampir tak pernah bisa disemai, melangkahkan hati bersendiri dengan logika yang siap melindungi a.k.a meracuni???
Karakter itu tak pernah bisa terubah. Aku hanya sedang belajar untuk hal-hal baru tapi tak menjadikanku sesuatu diluar diriku.
Subscribe to:
Posts (Atom)