Tuesday, April 13, 2010

A M A R A H


Ada amarah yang tak selesai dalam diriku. Mungkin ini tak untuk ditiru, namun kembali pada sisi lemah manusia yang boleh dikatakan pendendam, aku menyimpan amarah pada sosok yang mengurai ketidakadilan. Sosok yang selalu menuntut aku harus bersikap hormat sedang ia memperlakukan orang seenaknya. Bahkan ibu, kerap menyuruhku menunduk padanya, padahal ia nyata-nyata menjadi korban keangkuhan orang itu. Sedang aku, jika seseorang tak bisa menghormati manusia lain terlebih dahulu, maka jangan harap aku akan respek. Semua berawal dari diri, jika tak menyebar kebaikan maka jangan mimpi untuk menuai penghargaan dan penghormatan orang lain.

Kadang ibu menyuruh untuk menghilangkan amarahku. Bagaimana bisa jika orang itu turut andil menghilangkan nyawa ayah secara tak langsung. Maaf ibu, amarah itu belum ingin dan akan kuhentikan.

Saturday, April 10, 2010

Testimoni ILGA: Fight Against The “Legal” Terrorist, YES WE CAN !!!


Ketika membaca bahwa Konferensi ILGA akan diadakan di Indonesia, tepatnya di Surabaya, yang pertama muncul di benak saya adalah "ini pasti akan hebat!". Bagaimana tidak hebat, event sekelas konferensi Internasional LGBTIQ Association dapat diselenggarakan di negara yang masih kental dengan heteronormativitas sungguh sangatlah luar biasa buat saya, disamping kemasan acara yang membahas topik atau isu strategis yang penting untuk diketahui dan dibagikan ke berbagai negara. Oleh karenanya, menjadi salah seorang yang beruntung terpilih sebagai peserta tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya terutama mengingat ketidak-percaya-dirian saya saat mengirimkan aplikasi.

Namun sehari sebelum keberangkatan, kemantapan saya tergoyahkan oleh kabar bahwa konferensi itu akan dibubarkan aksi anarkis FPI dan HTI. Rombongan dari Jogja memutuskan Kamis pagi (24/03) tetap berangkat sesuai rencana. Koordinasi ditingkatkan, bahkan antisipasi untuk berjalan terpisah tak satu rombongan ketika menginjakkan kaki di Surabaya pun akan dilakukan jika melihat situasi tak memungkinkan alias genting.

Semua masih berjalan wajar, meski registrasi peserta agak "tak wajar" karena dilakukan di basement hotel. Larangan panitia agar peserta tak memakai atribut konferensi mulai mengindikasikan "ketidakberesan". Jam menunjuk angka sepuluh malam ketika dering telepon panitia sedikit mengagetkan saya. Intonasi nada dari kalimat yang menyuruh kami berkumpul di tempat registrasi peserta membuat saya -dan ternyata juga beberapa teman lain-, gusar. Dan kian jelaslah kondisi yang saya dan teman-teman gambarkan "genting" ini. Konferensi ini tak mengantongi ijin yang berwajib, dan yang ter"genting", adanya "kebenaran" kabar bahwa massa islam radikal akan menyerang sehingga panitia menyiapkan strategi mulai dari intelijen hingga evakuasi, namun juga menambah pro kontra diantara para peserta sendiri.

Tim Jogja mengadakan rapat kecil. Kian dibahas, kian kuatir. Kegelisahan yang campur aduk antara apa yang akan terjadi esok, mengingat si radikal ini tak segan melenyapkan nyawa orang, dan keberanian untuk bersatu menghadapi preman yang dilegalkan di negara ini membuat di satu sisi ingin menghindar, namun di sisi lain keingintahuan menyelinap.

Dan Jumat pun tiba. Teman-teman memutuskan mengikuti jadwal yang direncanakan ulang oleh panitia. Tak disangka, meski diadakan sembunyi-sembunyi dan lirih, peringatan akan adanya serangan tak menciutkan nyali para peserta, bahkan boleh dibilang membangkitkan semangat tersendiri. Workshop yang diadakan di kamar-kamar hotel dengan tiga topik berbeda, walau saling berdesakan tetapi tetap lancar dan disambut antusiasme peserta.

Konferensi ILGA memang telah "sukses" digagalkan oleh premanisme atas nama agama yang entah kenapa nyata-nyata "dilegalkan" dan tak tersentuh oleh hukum di negara ini. Namun setiap hal selalu mempunyai dua sisi layaknya mata uang. Pembatalan ILGA adalah pengibaran bendera setengah tiang bagi penegakan HAM di Indonesia selain berdampak negatif untuk dunia internasional serta mungkin trauma, baik fisik maupun psikologis, namun bagi saya ada nilai positif yang kemudian timbul, yaitu rasa persatuan dan semangat yang berkobar untuk bersama-sama dengan teman-teman LGBT dan semua pihak yang mendukung kami untuk semakin merapatkan barisan, melepaskan ego-ego pribadi dan ekslusivitas di internal kita demi memperjuangkan pengakuan hak dan kewajiban yang sama sebagai manusia dan warganegara.

Monday, April 5, 2010

Cerita di balik ILGA


Usai ILGA dibubarkan, aku mempercepat jadwal kepulangan ke kampung halaman ibu dua hari dari yang direncanakan. Sabtu pagi, teman-teman peserta konferensi perwakilan dari Jogja memutuskan kembali ke Jogja dengan kereta pagi. Sedang aku yang saat itu agak sedikit tidak fit, meski sejak keberangkatan dari Jogja hari Kamis memang batuk dan flu sudah menyerang, ditambah kurang tidur dan pikiran serta jempol yang tak henti-henti bekerja akibat kekuatiran terhadap teman-teman yang masih tertahan di hotel Oval dengan kabar simpang siur yang kadang aman kadang mencekam dan juga koordinasi dengan teman-teman jaringan di Jogja serta mengumpulkan berbagai informasi, bantuan dan segala upaya yang bisa kulakukan, bahkan sampai tak membuat mataku ingin dipejamkan walau sesaat. Walhasil paginya, tenggorokanku seolah digelitik biji kedondong hingga terbatuk-batuk di seberang jalan kota yang hanya pernah kusinggahi sebentar tanpa kutinggali. Bahkan untuk menuju terminal, aku tak tahu jalan. Seorang teman memang telah memberi petunjuk, tapi tetap saja berpetualang sendiri di kota agak ruwet ini butuh kewaspadaan lebih.

Sampai rumah, hal yang pertama ditanyakan oleh seluruh anggota keluargaku adalah "Tempatmu jauh nggak dari kejadian di Surabaya yang diberitain di tivi itu?". Pertanyaan yang mengejutkanku karena kupikir orang rumah "tak tertarik" dengan isu semacam itu. Aku mengelak dengan dalih aku tak tahu kejadian apa di Surabaya yang mereka maksudkan dan mereka mulai bercerita tentang pemberitaan di tivi yang sudah kuketahui itu. Ditambah seharian itu aku banyak menerima telepon dari wartawan yang hendak mewawancarai perihal ILGA dan anehnya aku bahkan tak tahu darimana mereka dapat nomer hp dan ngawurnya salah satu wartawan harian terbesar di Indonesia berkata aku adalah ketua panitia acara tsb. Busyet, ngawur kok kebangetan! Jadinya, aku harus mengunci mulut tak bercerita apapun dan sabar menjelaskan bahwa aku bukanlah orang yang berwenang memberi informasi namun juga harus pintar memilih kata-kata yang tak bersentuhan atau mengarah pada acara tsb agar orang rumah tak curiga. Karena kuping orang rumahku sensitif dengan kata polisi, fpi, hotel Oval, dan homoseksual.

Sempet kesel juga sih, ketika seorang teman mengabarkan ada yang mencantumkan nama dan nomer hp ku di facebook tanpa ijin sebagai sumber informasi kejadian di hotel Oval itu. Setelah kutelusur, ternyata orang tsb juga copy paste dari status fb orang lain, dan begitu seterusnya. Beruntung, hanya menjadi artis sehari, karena bagiku julukan sumber informasi sungguh rentan, mengingat ada resiko orang lain akan beranggapan aku yang ngoceh ke media, sedang aku bahkan dibuat sibuk mencari akar pelaku pencantuman namaku itu.

Selang beberapa hari, kondisi tenang, meski tetap berkoordinasi dengan teman-teman jaringan di Jogja yang sedang merapatkan barisan memperkuat diri. Energi positif akibat serangan di Oval itu muncul di diri kami masing-masing untuk bahu-membahu memperjuangkan hak LGBT dan kelompok marginal lain yang kerap menjadi korban premanisme atau kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Go fight, YES, WE CAN!

Sunday, April 4, 2010

Do'a

Tuhan, tak sayangkah Kau padaku?
Padahal aku hanya ingin melihatnya tertawa
Menyungging sebaris senyuman diantara giginya yang sudah tak rata
Menghapus airmata yang teretas dari mata kuyunya

Tuhan, paling tidak jika Kau tak sayang padaku, maka sayangilah ia
Karena setiap waktu ia melafalkanMu dalam setiap hentakan nafasnya
Ia menengadah memohon kerelaanmu memberi yang ia minta
Tuhan, paling tidak jika aku tak mampu mengabulkan setitik tawa dalam hidupnya
Aku dengan segala hina meminta,
penuhi ketulusan jiwa yang tak mampu kupersembahkan,
menebus ketakmampuanku
Ijinkan aku menghadiahkan tawa
Untuknya, sebelum menutup mata

Dadaku selalu sesak ketika harus meninggalkan perempuan itu kembali bersendirian, meski ia dikerumuni para saudara. Aku merasa tak berguna, padahal segenap upaya telah aku coba. Mulut ini kadang berteriak, tak terima, aku kurang apa? Niatku cuma sederhana, tapi kenapa Yang Maha Agung itu seolah acuh. Ya ya ya, aku tak pernah bersyukur! Syukur seperti apalagi? Apakah ketika airmatanya telah mengering baru Ia akan "tersadar", oh ya aku lupa hambaku yang satu itu belum kukabulkan permintaannya. Seperti itukah? Ya ya ya, jangan hanya pintar mengeluh jika tak melakukan apa-apa. Pembelaan atau dakwaan itu lagi. Paling tidak, selama Kau menghadiahiku nafas ini, ridhoilah agar airmata yang membanjiri pipinya adalah buliran air pertanda bahagia. Aku percaya Kau akan dan telah menyiapkan saat itu untuk kulewati.

Saturday, March 13, 2010

STOP CRYING!


Judul diatas kupilih bukan karena aku sedang mencoba berhenti termehek-mehek atas persoalan yang menimpaku. Berhenti menangis adalah tema hari Sabtu ini yang kupilih setelah beberapa kali Sabtu kuhabiskan sepanjang siang menjelang sore hingga matahari menyisakan seperempat jalan menuju peraduannya dengan linangan airmata dan hidung memerah. Bukan karena kesepian di malam Minggu, ah kukira alis-alis telah mulai berkerut dengan ceritaku yang berkelok-kelok.

Idola Cilik 3. Waduh, apalagi ini? Apa hubungannya dengan tangis bombayku? Bukan karena setiap minggunya harus ada yang tereliminasi dan salah satunya adalah jagoanku, tetapi karena suguhan kalau tak boleh disebut selingan yang menginspirasiku banyak. Bertambah bingung? Pastinya, apalagi jika Anda belum pernah menonton ajang kompetesi nyanyi untuk anak-anak yang disiarkan RCTI itu. Di setiap penanyangannya selalu diselingi anak-anak kurang beruntung tetapi berprestasi, tegar dan selalu optimis dalam hidup yang selalu menginspirasiku untuk menghargai hidup dan kehidupan apapun bentuknya serta seberapapun sulitnya untuk dilakoni. Semangat, senyum ceria dan ketegaran yang meruntuhkan dinding hati dan keharuan.

Tapi, tidak Sabtu ini. Tak ada lagi tangis haru. Tangis yang bukan semu. Aku sengaja tak mengalihkan channel tivi ke acara itu. Aku hanya tak ingin pikiranku menjalar menapak tilas rute hidup dengan segala kesenangan, waktu yang terbuang, penyesalan, capaian yang campur aduk menjadi satu. Aku bersetuju ketika alunan Laskar Pelangi sampai ke telinga dan membuat otakku seakan diberi pelumas nomor satu di dunia, meski jujur dari dulu aku tak pernah suka lagu itu. Aku mengharu biru ketika bait demi bait Rindu Setengah Mati terucap lirih menggores kenangan ayah yang tak akan pernah kembali. Dan aku pun rela ketika lagu yang selalu membuatku berlinang untuk Jangan Menyerah dan mensyukuri hidup kemudian menggenapi banjir airmata namun mengokohkan pondasi semangat yang kadang terkoyak.

Ketiga lagu itu dan inspirasi idola cilik sungguh menohokku untuk selalu mengikis ego yang bersarang di kepalaku. Meredam pemikiran jahat untuk membalas apa yang telah orang lain lakukan pada kita, sungguh tak semudah seperti membalik telapak tangan. Kekuatan memaafkan, membangun kesadaran bahwa hidup terlalu singkat untuk dikotori dengan pemikiran bahkan perbuatan nista, adalah sesuatu hal yang sulit namun bukan tak mungkin untuk dilakukan.

Friday, March 12, 2010

SEPELE


Banyak hal kadang dikategorikan sepele, meski terkadang berlaku kebalikannya, sepele tapi dibuat gede. Entah cerita yang kutuliskan ini masuk dalam kategori mana.

Bagiku, hanya persoalan sederhana, -kalau tak mau dibilang sepele-. Pasalnya, hanya soal merindu. Sesimpel namanya, bahkan sesepele hal yang kurindukan. Merindu waktu menyusuri sepanjang malioboro, merindu memandangi orang-orang dengan beragam aktivitas dalam bus trans Jogja yang kadang sesak kadang sepi, bahkan kadang bertemu dengan orang yang sama.

Sepele bukan? Tapi hal sepele itu kini hanya tertambat dalam ingatan. Bukan karena kesibukan hingga tak bisa mencuri sepenggal waktu untuk menggenapi kerinduan itu. Entahlah, bagiku takkan sama rasanya.

Aku kadang bertanya, apakah aku model orang yang sungguh teramat susah untuk tak menengok ke belakang. Bukan hanya masalah hati, kalau boleh jujur, tiap detil hal yang pernah kulewati. Aku bukan juga tengah menyesali, apalagi terpatung atau bahkan hanyut dalam putaran masa lalu, hanya saja... Entah aku ingin menyebutnya apa, asal bukan dalih pembenaran bahwa aku memang tak pernah bisa melepas prototipe berlabel masa lalu dari sistem otak di kepalaku.

Pertanyaannya lantas, kenapa hal sepele itu tak pernah bisa kusepelekan? Mengayunkan kaki ke depan, oh itu tentu kulakukan. Tiap detakan langkah tempatku berpijak membekaskan harapan. Hmm, menyepelekan hal sepele yang tak bisa terlalu sepele untuk disepelekan. Sepele, bukan?

Wednesday, March 10, 2010

MASA ITU SUDAH LEWAT...


Aku pernah berujar, sekuat apapun kau berniat bahkan memakai cara apapun untuk menghancurkanku, tetap aku akan berdiri dengan senyuman setegar karang dan kian kokoh menangkis deras ombak yang kau hantamkan.

Aku tak sedang pongah atau bahkan takabur. Bagiku, masa untuk meladeni cerita-cerita usang yang masih kau taburkan kepada dunia maya telah usai. Bagaimana melenggang ke depan mengisi lembaran putih yang tak pernah ku tahu kelak akan berwarna apa, telah siap kujajal.

Pagi itu, entah kenapa aku ingin sekali mengecek akun jejaring sosial yang hanya kugunakan untuk teman2 SMU, teman2 kost, saudara juga beberapa teman kerja selama di Jakarta dulu. Kurang lebih dua bulanan akun itu tak terjamah. Dan betapa dibuat terkejutnya aku ketika menyusuri status teman2 yang terpajang di sana. Komentar "sahabat" orang dari masa lalu yang selalu tiap saat "mempopulerkan" namaku di jejaring sosial dunia maya miliknya ternyata kini merambah wilayah teman kerjaku di Jakarta yang notabene seorang straight dan tak pernah tahu orientasi seksualku. Terus terang aku shock, bukan karena ketakutan orientasi seksualku akan terbongkar, tapi shock bagaimana bisa si pelaku kejahatan dunia maya itu punya nyali untuk mencekoki temanku yang lain setelah ia tak berhasil menebar racun fitnahnya pada teman2ku di jogja dan seluruh penghuni dunia maya yang ada di friendlistku.

Aku memang lantas mengkonfirmasi kepada teman di Jakarta itu. Seperti yang sudah2, aku tak pernah melarang bahkan mempersilahkan kalau teman straightku itu masih berakrab ria. Ia sebenarnya hanya ingin mengkritisi perempuan beranak satu yang mencekokinya itu.

Sekali lagi, setelah beratus-ratus kali, usaha pencekokan itu tak menuai hasil. Sekedar catatan, alangkah mulia seorang ibu jikalau memiliki hati untuk memaafkan daripada mengumbar benih kebencian yang tiada berujung. Kalau kau merasa aku mempunyai kesalahan besar padamu, maka berbesar hati lah untuk memaafkan dan menapaki hari baru yang telah sekian lama berganti. Masa itu sudah lewat...