Sunday, January 25, 2009

Anak Ibu Kos Juga Belok!

Minggu pagi. Cerah.
Kuayunkan kaki menuju dapur. Disana sudah ada Ulfa yang sedang memetik kangkung.
"Masak apa, Fa?"
"Kangkung ama ayam goreng. Mbak nggak masak nih?"
"Tauk, kayaknya mau rebus telor aja!"
Sebenarnya hari ini aku malas memasak. Selain malas, juga bingung apa yang ingin kubuat. Kemarin kepikiran masak semur tahu, kentang ama telor. Tapi kok rame amat acaranya, mana nggak tau bumbunya lagi hehe maklum aku kalo masak emang nggak pake kaidah dasar memasak alias bumbunya asal-asalan saja, secara emang nggak bisa masak. Karena ngekos aja jadi bereksperimen sendiri, yang penting menghargai hasil masakan sendiri, meski notabene mayoritas keasinan hehe.

Back to the topic, melihat aktivitas si Ulfa masak, aku jadi tergerak menindas kemalasanku. Rencana awal, mau bikin semur kentang+telur. Setelah mikir-mikir, lagi males makan pake kuah. Rencana ganti, bikin sambal goreng kentang+tahu, tapi telornya dikemanain? Walhasil, sembari proses berjalan, akhirnya dipilih satu masakan, semur telor+kentang tapi kuah dibikin kental kayak capcay. And the process begin..

Datang si Afit, pengurus kos-kosan. Kebetulan, ia ahli dalam mengentalkan kuah. Sebenarnya sederhana saja, tinggal mencampur terigu dengan air ditambahi penyedap rasa secukupnya dan dituangkan ketika bumbu telah meresap ke bahan.
"Mbak, mbak, itu ada anaknya ibu!" celetuk Afit.
Aku kontan menoleh arah yang ditunjuk tapi orang yang dimaksud telah menghilang dibalik pintu.
"Yah, telat kamu ngasi taunya!" ujarku sedikit "kecewa".
Sekilas info, sejak Afit memberi info bahwa anaknya ibu kos itu kayak cowok banget, aku jadi penasaran. Bayangkan, tamu si ibu saja sampai-sampai memanggil perempuan itu "OM". Makanya aku jadi penasaran banget, meski hampir tiga bulan aku di kos ini aku belum pernah melihat batang hidungnya langsung.
"Tuh, tuh, mbak, orangnya keluar, masuk mobil!"
Reaksi spontanku adalah mengambil kresek bekas kulit bawang dll, pura-pura buang sampah. Namun sayang, rasa penasaranku belum terobati. Perempuan itu sudah duduk di kursi kemudi dan aku hanya mendapati potongan rambut cepaknya.
"Hai, cewek, lagi ngrumpiin apa nih!" ujar Ulfa muncul dari kamarnya, penasaran mungkin mendengar aku dan Afit cekikikan.
"Ini lho, mbak Alvi penasaran banget ama anaknya ibu sampai-sampai lagi numis bawang kompor langsung dimatiin lalu pura-pura buang sampah, tapi cuma dapat ngeliat potongan rambutnya aja hehe!" jelas Afit komplit-plit.
"Hahaha mbak Alvi ada-ada aja, tapi tau nggak mbak, semalem waktu si Ida pulang kerja, dia lihat anak ibu itu lagi nonton tivi ama bojo(baca:pasangan)nya!"
Aku terperangah. Bojo? Aku baru tahu ini perempuan yang wujudnya masih mengundang rasa penasaranku itu ternyata juga sudah punya bojo, dan berani dibawa ke rumah ortunya ini? Hah... Makin penasaran aja aku!
"Bojo?" sahutku menautkan alis pura-pura nggak ngerti.
"Iya, bojo, tapi bojonya itu cewek juga, mbak!" sahut Ulfa antusias.
"Ya, mungkin temennya tapi kita nyebutnya bojo gitu!" Afit sedikit mengoreksi dengan agak kikuk. Aku tersenyum dalam hati. "Temen kosnya, tapi udah deket banget gitu!"
"Iya, mbak, trus pas Ida markir motor, eh langsung dimatiin tivi dan lampunya!" imbuh Ulfa.
"Emang ibunya nggak tau apa?" tanyaku masih pura-pura bloon.
"Ya, mungkin dikira temennya kali!"
"Iya, cuma temenan aja kok!" Afit masih berusaha menutupi, meski kekikukannya jelas menggambarkan kondisi yang mungkin ia temukan. Maklum, ia pengurus rumah, tentulah cukup banyak tahu. "Nanti juga mereka mau pijit!"
"Siapa?"
"Ibu kos ama anaknya itu!"
"Ama menantunya juga kan?" ledekku.
Afit mengangguk-anggu "aneh".
"Gitu kok dibilang cuma temen!"

Obrolan tentang anak ibu kos itu berlanjut sore harinya. Tepat ketika ia muncul mengambil handuk sementara Afit mengobrol denganku di depan kamar. Aku sekilas melihat wujudnya, tapi wajahnya secara utuh belum. Hanya tampak samping.
"Mbak, mbak, tau nggak, tadi kan bojonya itu habis makan minta minum, trus diambilin, jangan2 mereka satu gelas ya!"

Aku terkekeh mendengar gosip yang digulirkan Afit.
"Oh ya, mbak, kalo mereka jalan, orang yang nggak tau pasti ngira bapak ibu kos jalan ama anak dan menantunya lho! Habis anaknya itu pake baju batik yang modelnya kayak punya bapaknya itu!"
Aku kian terkekeh.

Hah, ternyata nggak jauh-jauh anak ibu kosku juga belok hehehe...

Friday, January 23, 2009

Repotnya Ngurus Si Kecil

"Aku mau maem, kamu ajak main anakku dulu ya!"
Glekk. Aku menelan ludah sembari melemparkan pandang ke arah bocah perempuan berusia satu setengah tahun yang sedang bermain-main di depan pintu.
"Aku kan nggak pernah ngasuh anak kecil, say?"
"Pokoknya harus bisa! Masa' ngajak main anak kecil aja nggak bisa!"
Sebenarnya bukan nggak bisa. Hanya tidak terbiasa. Sejak dulu aku tidak menyukai anak kecil. Tapi bocah perempuan cantik itu memang telah memikatku sejak awal, meski aku tak terlalu pintar mengajaknya bercanda.
"Ayo, ikut Tante Alvi dulu lihat kakatua!" perintah sang ibu yang langsung dimengerti bocah perempuan itu. Bukan ingin melebihkan tapi untuk anak seusia dini seperti anak pasanganku, aku acungkan dua jempol baginya karena ia teramat pintar memahami perkataan orang dewasa.
"Bukan Tante, tapi Om Alvi!" selorohku.
Bocah perempuan itu merentangkan kedua lengannya.
Masa harus gendong, batinku. Seumur-umur aku belum pernah menggendong balita, bahkan adik kandungku sendiri.
"Ayo, gendong dia!"
"Masa' harus gendong?"
"Iya, nanti kakinya kotor!"
Aku meraih lengan bocah perempuan itu. Menggendongnya.
"Masa' gendongnya kayak gitu?" protes sang ibu melihat kekakuanku.
"Emang harus gimana lagi?"
Sang ibu tersenyum. "Sudah, lihat kakatua dulu ya..."
Aku membawa bocah perempuan itu melihat burung kakatua peliharaan ibu kost. Ia begitu antusias menirukan suara burung tersebut yang hanya bisa bersuara KAKAK... Namun tak bertahan lama, ia mulai mencari-cari keasyikan lain. Apalagi si burung kakatua tak juga berkicau.
Bocah perempuan itu menjelajah sekitar. Menemukan apapun yang menarik perhatiannya. Dan aku sungguh kembali dibuat kagum oleh balita satu ini. Ia ternyata hafal jalan pulang ke kamarku. Ia berlari-lari kecil, sementara aku mengekor di belakangnya sembari harap-harap cemas, takut kalau-kalau ia hilang keseimbangan dan jatuh. Sepanjang lorong ia menunjuk barang-barang yang harus kusebutkan namanya. Mulai dari payung, sepatu, bunga, sepeda, meja, kursi dan lain-lain. Ia bahkan tak mau ketika hendak kugendong.
Sedetik setelah menginjakkan kaki di kamarku, ia berinisiatif kembali ke sangkar kakatua. Tak tanggung-tanggung, ia berlari tanpa mau lagi digendong. Aku mengekornya, memastikan ia menuruni lantai yang lebih rendah dengan "selamat". Hanya sebentar, ia berlari kembali ke kamar. Begitu terus hingga tiga kali.
"Sudah ya, nggak kakatua-kakatuaan lagi, aku capek!" ujarku sembari menutup pintu kamar.
Bocah perempuan itu mengerti keasyikannya dilarang. Ia marah. Menggedor-gedor pintu dan tembok sambil mendengus-dengus menatapku. Mendung kemudian menggelanyut di mata besarnya.
"Dia nangis lho ntar!" protes sang ibu.
"Habis aku kuatir dia jatuh, disana itu ada ubin yang menurun.."
"Dia kan bisa turun sendiri. Di rumahku aja di depan kan ada tangga yang mau masuk rumah itu, dia bisa kok naik turun,"
"Aku cuma takut pas dia lari kenceng nggak bisa ngerem..."
Hooaa...
Bocah hiperaktif itu meraung.
"Iya, iya, ini aku buka!" Aku membuka pintu. Ia langsung menyerobot keluar dengan muka berbinar. Aku tak kuasa untuk melepasnya sendiri. Entah kenapa aku jadi overprotektif terhadap anak kecil. Aku hanya tak ingin bocah itu kenapa-napa. Kali ini aku hanya mengawasi gerak-geriknya. Dan memang benar, ia sukses di ubin yang menumpuk kekuatiranku itu.
Bocah ajaib ini memang pintar, selain hiperaktif.
"Hah, capek!" ujarku sembari menyelonjorkan kaki.
"Baru ngajak main sebentar aja capek, apalagi aku yang sehari-harian bersamanya!"
"Iya deh. Salut aku ama kamu! Aku nyerah deh!"
"Aku aja kalo nggak ada pembantu, pasti capek banget. Makanya, kapan kamu punya anak?"
"Kayaknya enggak deh! Tapi nggak tau lagi ya! Sebab kalau keinginan sendiri sih nggak kepikiran, nggak tau kalau nanti ada sebab-akibat lain,"
"Nggak ngebayangin kalau kamu mengandung dan melahirkan,"
"Udah ah, jangan ngobrolin soal itu!"

Membayangkan aku punya anak... Hah, sama sekali tak ada dalam benakku! Apalagi kalau anaknya hiperaktif kayak bocah perempuan itu, bisa kurus tanpa diet aku ntar hehehe tapi bocah perempuan itu ngangenin banget. Meski sepulangnya aku harus mencuci perabot makan, menyapu, mengepel dan menata ulang kamar, namun membayangkan celoteh dan kepintarannya, aku dibuat tak sabar kapan ia akan datang kemari lagi.

Friday, January 9, 2009

2009: COMING OUT KECIL2AN

Seorang saudara datang dari kota kelahiranku. Beliau menginap di tempat keponakannya yang rumahnya tak jauh dari kosku. Sebelum-sebelumnya aku telah berulang kali diminta mampir ke rumah keponakannya itu, tapi aku masih pikir-pikir. Selain terhitung saudara jauh, aku juga tak terlalu pintar beramah tamah dengan "orang asing". Makanya ketika kini ada kesempatan, aku pun bertandang. Itung-itung satu kota di kota yang tak kupunya sanak saudara ini, selain kekasih yang juga tak tiap hari bertemu muka.

Singkat cerita, aku berkenalan dengan si empunya rumah. Ada kakak dan adiknya dari Surabaya. Adiknya sebaya denganku. Kami tak banyak mengobrol karena ia ribet menjadi baby sitter anak kakaknya. Sepulang dari sana, kupikir semua juga akan berlalu menyisakan basa-basi bernama formalitas. Hingga sebuah sms di malam akhir tahun mampir ke ponselku.
Ada acara taon baru kemana neh?

Pengirimnya QQ, perempuan yang sebaya denganku itu. Aku kemudian mengajaknya gabung denganku dan anak2 di kos yang akan melewatkan pergantian tahun di Alun-Alun Kidul. Aku sebenarnya tak pernah merayakan, atau apalah namanya, taon baruan. Bagiku, pergantian tahun sama saja seperti pergantian hari pada umumnya. Tapi untuk sekedar iseng, yah tak apalah ikutan acara anak2 di kos. Dan ternyata acara kembang apinya tak seseru yang kubayangkan. Beberapa menit setelah meninggalkan 2008, kami semua sudah cepat-cepat ingin pulang.

Dan hari-hari selanjutnya adalah hari yang hampir tiap waktu kulalui dengan debaran jantung yang berdetak cepat. Pasalnya, aku agak2 parno jika ada saudara yang mengetahui keseharianku. Bukan karena apa, aku hanya tak ingin rahasia hidupku terketahui dan bom waktu itu meledak.

Dan perkiraanku benar. QQ mulai tanya ini-itu. Makin hari makin detil.
"Kamu tau gak, kamu itu persis kayak temanku di Mataram. Namanya bi' Roy. Perawakan dan potongan rambutnya sama denganmu." jelas QQ menjabarkan.
"Lalu?" Sebenarnya dalam hati kekhawatiran mencekamku, sekaligus tanda tanya pula mungkinkah perempuan ini juga "belok".
"Ya aku cuma keinget temenku itu. Habis persis banget ama kamu!"
Kian hari komentar dan pertanyaan QQ kian beragam. Kecurigaannya sedikit demi sedikit beralih menjadi pertanyaan-pertanyaan jebakan. Aku bahkan sempat menebak ia sama sepertiku, tapi buru-buru kutepis karena seiring kedekatan kami ia mulai terbuka menceritakan serba-serbi hidupnya.

Ia tengah dirundung dilema antara meraih kembali cinta yang telah cacat ataukah merelakan laki-laki yang dicintainya itu menyanding perempuan lain.

Jujur ketika mengenalnya di awal-awal, aku tak mengira ia model orang yang rapuh, menilik dari cablak ucapan dan pemikirannya. Aku dibuat terheran-heran.Namun bersinggungan dengan masalah hati, kebanyakan orang bisa bertindak diluar dari apa yang biasa ia lakukan. Begitu juga QQ. Kelugasannya sontak berubah isakan dan kebingungan mendalam. Kadang stabil, namun tak jarang labil kembali.
"Kapan targetmu menikah?"
Pertanyaan itu dilontarkan padaku ketika hatinya telah tenang.
"Aku..." Otakku berpikir cepat sembari mengulur waktu. "Aku nggak ada target menikah!"
"Kenapa?"
"Ya nggak apa-apa!"
"Pacar udah ada kan?"
Aku mengangguk.
"Lalu apa lagi? Kayaknya kamu juga sudah cukup umur, kan?"
Otakku benar-benar bekerja keras. "Ya emang belum kepikiran aja!"
"Nunggu apa lagi?" Perempuan berhidung bangir di depanku ini kian mencecarku.
"Ya, pokoknya masih ada masalah aja," kilahku sembari terbayang bahwa yang sedang kami perbincangkan adalah seorang perempuan.

Kukira pertanyaan seputar pacar dan pernikahan telah berakhir, namun ternyata QQ mengorek lebih dalam. Bukan lagi pertanyaan, melainkan pernyataan menjurus.
"Kamu nggak usah bohong padaku, santai saja!"

Aku menolehnya. Ia tengah menanti jawabku dan entah mengapa ada dorongan hebat dari dalam diriku yang begitu ingin memuntahkan semua yang tertahan dan tersusun rapi dalam deck hatiku sekian lamanya.

Satu persatu pengakuan meluncur lepas dari bibirku. Dan juga entah mengapa dadaku terasa plong. Meski tak kupungkiri ada kekhawatiran mengiring. Seorang saudara, meski terhitung saudara jauh, telah mengetahui orientasi seksualku dan ada kemungkinan pengakuan itu akan sampai ke telinga orangtuaku.
"Jangan kuatir, I'm an open minded person, hidupmu adalah pilihanmu sendiri. Aku tak akan mencampuri." jelasnya menghapus kecemasanku.

Coming Out. Hal yang teramat kuingini untuk kulakukan, namun karena berbagai pertimbangan tak pernah terealisasikan. Pengakuanku pada QQ bisa jadi coming out kecil2an di awal tahun 2009 ini.

Wednesday, December 24, 2008

Eh, Eh, Kok Gitu Sih...

Ada satu hal yang tidak kusukai dari kamu dan paling sering kau ulangi,
Tiap hari kamu tiap hari terus hanya mendengar kau mengeluh dan mengeluh...
Apa kamu bisa lebih rileks saja daripada kamu mengeluh dan mengeluh,
Tenang, tenang, aku masih dengan kamu!
Eh, eh, kok gitu sih, loh kok -tiap hari- marah2, jangan gitu dunk sayank...
***

Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Berpasangan adalah saling melengkapi. Menutup kurangku dengan kelebihanku, begitu juga sebaliknya.

Namun jika kau hanya bisa menuntut karena kekuranganku, sedang aku dituntut untuk mengerti dan menerima kekuranganmu, adil kah?

Aku tak ingin merunut kekurangan orang yang kusayang, berkaca dari segala kekurangan yang melekat pada diriku sendiri. Seyogyianya, kau pun demikian.

Mencintai dan menyayangi adalah kesadaran pribadi. Bukan perintah dari diktator dengan jabatan kekasih yang mengatasnamakan cinta dan kasih sayang.

Memiliki seutuhnya tak selalu berarti mengungkung kebebasan seseorang dengan mengharuskan ia memilih antara pasangan ataukah teman-teman di sekelilingnya.

Kau berkata aku egois, tapi tak pernah merasakah bahwa justru kamu lah yang lebih egois dengan sifat-sifat Maha benarmu dan Maha salahku. Aku tak ingin saling menuding. Hanya, -tolong- buka matamu, mata yang berada dalam hati dan batinmu bahwa aku juga seorang manusia, dan hanya seorang manusia, yang juga bisa merasakan sakit hati, perih, tangis, dan semua yang tertoreh dalam sanubari. Bukan kau saja.

Kukira sudah terlampau sering aku menuliskan ini, hingga jemariku lelah tuk merangkai kata demi kata. Karena kau tak juga mengerti, paling tidak menyadari, apalagi berubah menjadi sesuatu yang lebih berarti.

Merasa selalu benar, sadarilah kau tak selamanya benar.
Mengalah, aku bukannya salah.

Jika aku selalu saja keliru di matamu, lalu apa yang benar menurutmu juga tentu benar bagiku? Sebegitu naif kah?

Renungan Di Titik Nol

Hidup. Menyajikan aneka senang, sedih, bahagia dan nestapa dalam mangkuk besar yang teraduk menjadi satu. Kadang terasa asin garam, tergigit bongkahan kecil asamnya dan tak jarang menelan rasa manis. Tak ada yang tahu kapan asin, manis atau asam itu akan dikecap oleh lidah. Karena disaat bersamaan dua bahkan tiga rasa itu dapat bersamaan terjadi.

Kebanyakan orang bilang, syukurilah hidup, apapun yang tengah kau jalani. Dan sekali lagi, seperti yang terjadi pada kebanyakan orang pula, bahwa teori lebih mudah daripada prakteknya.

Berada di titik nol dalam hidup, siapapun (baca: mayoritas), pasti pernah mengalami. Dan antisipasinya pun beragam. Ada yang lari ke hal-hal negatif, juga ada yang bisa bangkit dari keterpurukan dengan sisa-sisa semangat yang terkumpulkan. Sekali lagi, hidup selalu menghidangkan pilihan dengan bermacam rasa menghampiri kerongkongan dan berimbas ke seluruh tubuh.

Aku. Berada di titik nol.

Monday, December 8, 2008

It's Enough!!!

Sudah cukup selama hampir satu setengah tahun aku tak pernah sedikitpun dianggap olehmu!" hardikmu via pesan singkat. "Blogmu hanya sedikit berisi tentang aku!" imbuh sms berikutnya. " Facebook dan Friendsterku nggak kamu add lagi!" Topik jadi agak melenceng:)
"Nggak seperti yang lain yang selalu kamu tulis, yang selalu kamu anggap penting! Nggak kayak aku! Percuma satu setengah tahun hubungan kita!"
Bla bla bla hujan makian tentu saja tak berakhir sampai disini. Masih banyak jenis pesan singkat yang intinya sih masih seputar itu-itu saja yang kamu kirimkan padaku. Aku terhenyak! Sungguh, terkadang aku dibuat merenung, namun seperti biasa aku tak pernah memahami jalan pikirannya. Di matamu, di kepalamu, di pikiranmu dan mungkin juga di hatimu, aku selalu saja salah dan kamu selalu benar. Jika diibaratkan ujian, kamu dapat nilai seratus dan aku nol.

Tapi benarkah nilai seratusmu adalah nilai sempurna, sedangkan nilai nolku adalah sebuah ketidaklulusan karena kebodohanku? Yaa, mungkin aku bodoh, karena aku hanya diam.
Tapi tak pernah kah terfikir olehmu., atau setidaknya sedikit saja pernah terlintas dibenakmu akan arti kehadiranku disini, di kotamu, di kota yang jujur saja sangat tak kusukai untuk kukunjungi, bahkan kini -terpaksa, mau tak mau, suka tak suka- harus kupijak untuk kucari tempat bertapak dalam secercah hidupku. Tak pernah sadarkah kau untuk siapa semua itu kulakukan?

Aku diam. Berkali-kali aku diam dan coba mengertimu sembari berharap engkau akan pernah terbersit untuk menjadi sepertiku, berada di posisiku sekarang. Apa kita harus bertukar tubuh terlebih dahulu untuk bisa bertukar peran dan bertukar perasaan agar engkau bisa merasakan, setidaknya mencicipi bagaimana rasanya diperlakukan layaknya kau memperlakukanku selama ini.

Aku bukan robot tanpa hati nurani. Aku hanya seorang perempuan yang juga bisa merasa, meski aku lebih banyak memilih diam atas cercaan, makian, ketidakpuasanmu akan kekuranganku. Robot pun bisa rusak, tak ubahnya hati jika selalu dikikis oleh ketidaksediaanmu untuk menyisihkan hati menjadi sepertiku.

Aku menghargai semua diantara kita. Jika ditinjau ulang, waktu satu setengah tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengecap sebuah hubungan dengan fikiran yang terlalu dangkal. Bagimu, lebih kah berarti intensitas tulisanku tentangmu di blog, FS dan FB yang tak lagi pernah kujamah, atau hal-hal lain diluar hal yang teramat penting dalam sebuah hubungan?

Kurasa bukan lagi waktunya berpikiran seperti remaja belasan. Namun aku juga tak akan -dan tak pernah memaksa untuk- memintamu mengerti pemikiranku, sudut pandangku, dan merasakan perasaanku. Jikalau memang ada aku di hatimu, semua kesadaran dan kedewasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu kuberlutut untuk meminta.

Satu setengah tahun tidaklah singkat, namun akan menjadi pendek jika tak kau pernah pelajari mencerna makna, bukan hanya menyerap keburukan dan kebobrokannya...

Love u

Tuesday, December 2, 2008

Urusan Ranjang: Ketawa, kok malah Ngambek?

"Aku pulang!" cetus perempuanku. Mimik mukanya telah ditekuk dalam-dalam. Dengan cekatan ia mengenakan satu persatu pakaiannya, padahal sekian menit yang lalu kami telah "siap tempur". Aku hanya duduk termangu di tepi tempat tidur. Mencoba mencerna dimana letak "kesalahan fatal" yang kulakukan hingga membuyarkan apa yang kami ingin nikmati sebelumnya. Aku tak mengantarnya ke bawah seperti biasa. Kudengar derum motor keluar. Aku masih terpaku di sudut yang sama.
Alasan kemarahannya -bagiku- terbilang sepele dan nggak penting.

Tertawa. Yaa... Karena ketika aku baru saja menaiki tubuhnya, aku tertawa. Bukan karena menertawakan lekuk tubuhnya. Bukan juga karena ada sesuatu hal yang lucu. Aku tertawa karena sedari awal ia melucuti pakaiannya, mulai dari kancing bajunya yang susah sekali untuk dilepaskan, larangan-larangannya untuk tidak begini dan begitu ketika bercinta, serta saat ia bilang "Lalu... Lalu..." yang memicu tawaku. Siapa yang tidak akan tertawa jika hendak bercinta, ia malah bilang: Lalu... Apalagi... Terus..., seperti program acara memasak di tivi saja, menjelaskan step by step hidangan yang akan dibuat. Tapi ia terlanjur ngambek, tak bisa dibendung dan ditahan untuk segera enyah dari hadapanku. Malah tak mau mendengarkanku dan keukeuh pergi. Aku melepasnya, menyerah.

Ini bukan pertama kali ia pulang dengan masih menyisakan marah. Malah hampir tiap ia kemari, ada saja pertengkaran-pertengkaran kecil yang kemudian merembet. Selama ini aku selalu diam, mengalah menurut versiku. Pertimbanganku hanya satu, aku memutuskan untuk tinggal satu kota dengannya adalah demi hubungan yang lebih baik. Bukannya malah keseringan bertengkar seperti saat kami jauh dulu. Jauh dekat jadi tak ada beda jika salah satu dari kami tak berusaha mengekang ego masing-masing. Aku sadar betul, kami berdua sama-sama keras kepala. Ia sulung yang tak mau diatur dan aku bungsu yang tak mau kalah. Jika tetap pada pendirian masing-masing, maka habis cerita. Tak heran, selama disini aku mencoba untuk lebih sabar dan mengalah -dalam versiku- dibanding ke-temperamental-anku ketika kami LDR dulu.

Salahkah ada rinai tawa diatas tubuh yang akan berpacu dalam gelora? Bagiku, wajar saja. Tapi mungkin tak untuk buatmu.
***

Aku memang bukan orang yang romantis
Tutur kataku hampir tak pernah puitis
Perilakuku kerap kali garing abis
Namun dibalik semua kekuranganku yang membuatmu miris
Aku disini telah mencoba dan semampuku beri yang termanis

Bukan hanya barang saja
Cinta pun ada kadaluarsa
Meski tak tertera secara kasat mata
Namun aku berharap semoga
Disaat kebersamaan kita
Yang mungkin tak sepanjang usia
Persembahan hati dan jiwa
Tetap utuh adanya
Hingga waktu itu tiba


PS: Maaf ya, tulisan ini aku pajang juga. Tapi kalo setelah baca ini kamu nggak setuju, nanti aku hapus deh! Aniwei, kapan nih ngelanjutin pertempuran yang tertunda?