"Bisakah aku mempercayaimu?" Pertanyaan itu akhirnya kulontarkan juga setelah dua hari ini kami bersitegang untuk sebuah hal yang mungkin dikategorikan sepele, tapi bagiku tak bisa dipandang sebelah mata. Conference call.
Beberapa minggu ini mungkin kami adalah korban iklan sebuah provider seluler yang dibintangi Luna Maya. Nelpon Semaumu. Saking semaumunya sampai-sampai tak tahu waktu. Pas sahur, subuh, pagi, siang hingga sore sesuai slogannya Gratis Sepanjang Hari. Mulai dari teman yang satu digabung ke yang lain dan seterusnya dari pelosok daerah A sampai Z. (Kok gw jadi kayak ngiklanin gini ya hehehe) Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Awalnya, satu dua hari terasa seru, layaknya anak kecil mendapat mainan baru, namun setelah hampir dua minggu berturut-turut dengan penambahan orang-orang baru tiap harinya, aku jengah juga.
Pada dasarnya aku memang tak suka gaduh suara para perempuan bersahutan. Aku lebih banyak diam dan cenderung hanya mendengarkan ocehan mereka, hanya jika ditanya aku menjawab sambil sesekali nyeletuk iseng. Dan aku lebih mengenal perempuan ini juga gara-gara terbiasa ngobrol lama di ajang ini.
"Satu hal yang paling tidak kusukai darimu adalah kamu AHLI CONFERENCE!" Aku mengajukan keberatanku karena aku sedang berproses dengan perempuan yang usianya lumayan jauh diatasku ini menilik dari waktu yang dihabiskannya mencumbui handsfree. "Kalo diumpamakan ya kamu dapat julukan Prof DR Conference, MBA!" Perempuan itu terdiam. Helaan nafasnya jelas terdengar tersengal. "Kamu tau kan artinya... Kamu sudah benar-benar kelewatan!"
"Sms-smsmu juga kelewatan, nyadar gak sih!" Ia menyalak disela deru nafasnya yang turun naik seperti orang sakit flu. Sedari tadi aku memang mengiriminya sms bernada sindiran. Aku hanya ingin ia mengerti ketidaksukaanku dengan kebiasaan conference nya yang bagiku over itu. Tapi ia beranggapan berbeda.
"Kalau kau ingin mengingatkanku, jangan menulis sms yang tidak dewasa seperti itu!"
"Kalau kau merasa dewasa harusnya kau bisa mengerti arti sindiranku itu tanpa perlu kujelaskan lebih detil!" batinku.
Aku dan perempuan ini sedari awal memang sama-sama keras kepala dan tak ada yang mau mengalah. Namun entahlah kalau sudah tak ada yang meruntuhkan opini masing-masing, sedetik kemudian tawa kami akan meledak dan situasi tegang nan serius yang kami ciptakan sendiri tadi mendadak bisa berganti dengan permintaan manjanya.
"Pokoknya harus ML!" ujarnya dengan nada serius yang kontan membuatku terperanjat.
"Udah tau lagi puasa gini minta ML?" tanyaku dalam hati.
"ML Minta Lagu atau Minta Lagi?" godaku coba mengalihkan topik pembicaraan yang menjurus tersebut, sekaligus menghindarkan otakku dari ngelanjor(NGELAmuN JORok-red).
"Iya, Minta Lagu! Pokoknya kamu harus nyanyi yang menyejukkan!"
Dalam hati sebenarnya aku tertawa geli. Ia memang bilang kalau ia manja, tapi selama ini tak sekalipun ia menunjukkan perangai tersebut dalam cara bicara dan kedewasaan berpikirnya.
"Suaraku merdu ya, kok kamu seneng banget dengerin aku nyanyi? Padahal tadi pagi udah kan?"
"Pokoknya nyanyi! Cepetan..." rajuknya seperti anak kecil.
***
"Can I trust you?" Aku mengulang pertanyaanku. Kalimat yang terkesan rapuh untuk seorang yang nampak garang diluar.
"Yes I can!" sahutmu mantap. "Can I trust u too?" tanyanya balik yang kusambut dengan rekahan pelangi dari bibirku.
Friday, September 12, 2008
Wednesday, September 10, 2008
I Thought I Know You...
Hmm... Barangkali inilah puncaknya aku merasa teramat sangat letih sekali terhadap manis madu yang ditawarkan dan dituang mulut perempuan padaku. Dari awal, aku memang sudah skeptis, tak pernah mau percaya lagi pada mulut perempuan, tapi aku memberanikan diri mengintip sedikit demi sedikit dari bilik hatiku untuk kemudian nekat keluar, meski bertelanjang. Dan aku menuai hasilnya... Madu yang disuguhkan padaku tanpa sepengetahuanku tiba-tiba berganti racun hanya dalam hitungan hari, lalu meracuni otak dan hatiku serta membuatnya lumpuh dan sekarang mati. Menyesal sih tidak, hanya heran. Tapi bukan juga heran, apalah namanya yang pasti telah sukses membuatku meneriakkan "Damn!!"
Kau boleh bilang aku sedang menilai. Dan mungkin penilaianku atas dirimu adalah benar atau barangkali salah total. Tidak. Aku tidak sedang menilai. Aku menelaah satu persatu kata dan kalimat yang kau sajikan, lalu kuteguk hal yang berbeda dalam kerongkongan dan menjadi lain ketika dicerna hatiku. Damn!!
Semua memang hanya kucuran kata, tanpa sajian tiga dimensi. Tutur kata yang tadinya akan kurasakan bersemi menjadi makna, namun benih yang kutabur dalam ladang hati dan perasaan itu tumbuh menyerupai ilalang. Bukan sebagai buah yang akan kutuai dengan hati riang.
Baru kemarin rasanya aku di awang-awang. Tubuhku ringan seolah terbang. Yah, kau benar... mungkin aku hanya terhipnotis. Namun ketika aku kini tersadar, aku masih ingat semuanya. Ribuan kata yang hanyalah ribuan kata. Tanpa secuil arti dan memang tak berarti.
I Thought I Know You
But I Dont Know You At All
Damn!!
Tuesday, September 9, 2008
Kita... Unik!
Aku menyebutnya unik, bagaimana tidak, kenal aja ga genap 50 hari, pacaran juga nggak, tapi berantemnya kayak udah berumahtangga dua tahun.
Kita unik. Kau perempuan kedua yang berlaku begini padaku. Ia, perempuan yang sebelumnya, dari bidang studi yang sama denganmu. Perjalanan waktu yang hampir sama. Pesan pendek bersambung hampir setiap hari. Canda. Tawa. Kisruh kecil. Alur yang sama.
Oleh karenanya, aku kini terhenyak, akankah berakhir sama? Perempuan sebelumnya, kian hari kian bertingkah karena ia tahu perasaanku. Nada smsnya kian tak mengenakkan, semaunya... Sekali, dua kali, berkali2 pemakluman, dan akhirnya batas yang dibangun logika lebih tinggi. Bukan soal ego, tapi ketika ia tak bisa menghargai perasaan orang lain maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Kini, aku sudah tak lagi punya cerita dengannya. Mati rasa, tapi aku berterima kasih diatas segala yang pernah ia remehkan, ia sendiri yang kini merasa tak enak hati.
Merasa bangga ketika dicintai, aku bisa memaklumi ketika orang yang berada diposisi tsb baik secara sadar atau bahkan pingsan, berlaku seenaknya tapi tak merasa.
Aku pun sadar mungkin hal tsb hanya subyektivitasku saja. Belajar dari perempuan sebelumnya, aku kini hanya mendiamkan. Bagaimana pun aku tak berhak -dan tak mau lagi- menghakimi. Setiap orang bebas bersikap dan merespon. Yang menjadi koridor wilayahku adalah membenahi diriku sendiri. Aku sedang belajar untuk tak lagi justifikasi. Subyektivitas itu hanya menjadi milikku.
Aku memang terlarut buaian emosi ketika merasa bagaimana bisa hal tsb berulang dua kali padaku. Bersyukur, kadar emosi tak setinggi lalu karena sekali lagi aku sedang belajar dan membiarkan subyektivitas hanya menjadi milikku semata.
Kita unik. Kau perempuan kedua yang berlaku begini padaku. Ia, perempuan yang sebelumnya, dari bidang studi yang sama denganmu. Perjalanan waktu yang hampir sama. Pesan pendek bersambung hampir setiap hari. Canda. Tawa. Kisruh kecil. Alur yang sama.
Oleh karenanya, aku kini terhenyak, akankah berakhir sama? Perempuan sebelumnya, kian hari kian bertingkah karena ia tahu perasaanku. Nada smsnya kian tak mengenakkan, semaunya... Sekali, dua kali, berkali2 pemakluman, dan akhirnya batas yang dibangun logika lebih tinggi. Bukan soal ego, tapi ketika ia tak bisa menghargai perasaan orang lain maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Kini, aku sudah tak lagi punya cerita dengannya. Mati rasa, tapi aku berterima kasih diatas segala yang pernah ia remehkan, ia sendiri yang kini merasa tak enak hati.
Merasa bangga ketika dicintai, aku bisa memaklumi ketika orang yang berada diposisi tsb baik secara sadar atau bahkan pingsan, berlaku seenaknya tapi tak merasa.
Aku pun sadar mungkin hal tsb hanya subyektivitasku saja. Belajar dari perempuan sebelumnya, aku kini hanya mendiamkan. Bagaimana pun aku tak berhak -dan tak mau lagi- menghakimi. Setiap orang bebas bersikap dan merespon. Yang menjadi koridor wilayahku adalah membenahi diriku sendiri. Aku sedang belajar untuk tak lagi justifikasi. Subyektivitas itu hanya menjadi milikku.
Aku memang terlarut buaian emosi ketika merasa bagaimana bisa hal tsb berulang dua kali padaku. Bersyukur, kadar emosi tak setinggi lalu karena sekali lagi aku sedang belajar dan membiarkan subyektivitas hanya menjadi milikku semata.
Monday, September 8, 2008
Second Chance
"Setiap orang punya kesempatan kedua!"
Aku teringat aku pernah melemparkan saran diatas pada seseorang ketika ia tak mau lagi membuka pintu maaf bagi mantan kekasihnya yang menurutnya telah melakukan kesalahan paling fatal, yaitu melanggar prinsip yang baginya vital. Berbohong.
"Kau perlu mendengar alasannya dulu,"
"Sudah, tapi tetap tak bisa kutolerir meski ia bilang kebohongannya terpaksa ia lakukan demi untuk tetap bersamaku dan ia memang punya niatan akan mengaku disaat yang tepat kelak,"
"Nah, dia ada niat untuk jujur kan? Jadi kenapa kau tidak memberinya kesempatan kedua? Mungkin dia akan berubah."
"Ya, dia berjanji tidak akan mengulang kebohongan lagi, tapi bagiku, ketika hal yang menurutku paling prinsip sudah ia langgar, maka tak ada jalan bagi kami selain pisah!" Perempuan itu kukuh pada pendiriannya.
Dan ternyata memberi saran pada seseorang itu lebih gampang daripada melaksanakannya sendiri. Ketika kini aku disuguhi situasi yang sama, aku malah mengambil sikap nyaris tak jauh beda.
"Setiap orang bisa berubah, tapi secara perlahan asal diberi kesempatan untuk membuktikannya!" ujarmu.
Kesempatan kedua? Pantaskah kau mengajukan hal tersebut setelah berulang kali kesempatan telah kubuka tapi kau tak juga membuat sesuatu yang berbeda, berkubang pada kesalahan yang sama.
Ketika semua sudah tak lagi mungkin dipilin dalam benang-benang yang sama, aku harap serabutnya tetap bisa saling tersambung, meski tak membentuk kesatuan selaras penuh keindahan, namun utuh dalam makna yang berbeda.
Aku teringat aku pernah melemparkan saran diatas pada seseorang ketika ia tak mau lagi membuka pintu maaf bagi mantan kekasihnya yang menurutnya telah melakukan kesalahan paling fatal, yaitu melanggar prinsip yang baginya vital. Berbohong.
"Kau perlu mendengar alasannya dulu,"
"Sudah, tapi tetap tak bisa kutolerir meski ia bilang kebohongannya terpaksa ia lakukan demi untuk tetap bersamaku dan ia memang punya niatan akan mengaku disaat yang tepat kelak,"
"Nah, dia ada niat untuk jujur kan? Jadi kenapa kau tidak memberinya kesempatan kedua? Mungkin dia akan berubah."
"Ya, dia berjanji tidak akan mengulang kebohongan lagi, tapi bagiku, ketika hal yang menurutku paling prinsip sudah ia langgar, maka tak ada jalan bagi kami selain pisah!" Perempuan itu kukuh pada pendiriannya.
Dan ternyata memberi saran pada seseorang itu lebih gampang daripada melaksanakannya sendiri. Ketika kini aku disuguhi situasi yang sama, aku malah mengambil sikap nyaris tak jauh beda.
"Setiap orang bisa berubah, tapi secara perlahan asal diberi kesempatan untuk membuktikannya!" ujarmu.
Kesempatan kedua? Pantaskah kau mengajukan hal tersebut setelah berulang kali kesempatan telah kubuka tapi kau tak juga membuat sesuatu yang berbeda, berkubang pada kesalahan yang sama.
Ketika semua sudah tak lagi mungkin dipilin dalam benang-benang yang sama, aku harap serabutnya tetap bisa saling tersambung, meski tak membentuk kesatuan selaras penuh keindahan, namun utuh dalam makna yang berbeda.
Sunday, September 7, 2008
Kamu itu... Belok?!?
Teringat curhat seorang teman beberapa waktu lalu. Ia sedang bingung dengan jati dirinya, namun dari lisannya ia bersikukuh bahwa ia bukan LESBIAN. Sebuah kata yang tabu untuk ia ucapkan, apalagi untuk ia akui sebagai bentuk orientasi seksual.
"Jujur, Al, aku baru tau dunia kayak gini ini karna aku kenal si Jelek!" jelasnya sembari menyebut perempuan tomboy yang kurang lebih enam tahun mengisi hidupnya dengan nama si Jelek. "Dulu-dulu aku nggak seperti ini, aku pacaran juga dengan laki-laki..."
"Kalau sadar begitu kenapa kamu tidak antisipasi sejak awal, malah seperti membiarkannya memasuki hatimu?" potongku mengingat ia bisa saja meninggalkan perempuan itu dan menikah dengan laki-laki, tapi tak ia lakukan.
"Entahlah!" Jawaban yang sama tiap kutanyakan sesuatu yang menjurus kepada orientasi seksualnya. "Menurutmu aku harus gimana?" Pertanyaan yang juga sama yang ia ajukan bukan hanya sekali ini.
"Dari awal kan sudah kubilang, semua keputusan berada di tanganmu! Tinggal kamu pilih aja, kamu akan menuruti logika atau mendengar nuranimu sendiri! Mudah kan?"
"Kayaknya aku akan mengikuti logikaku karna sia-sia dong kakakku sudah segitunya belain aku untuk menjauhkanku dari dia dan sia-sia juga dong Jelek pernah dipenjara gara-gara itu, ya kan?"
"Itu kan secara logika, hatimu tidak berkata seperti itu, bukan?"
"Aku hanya tau jika aku mengikuti hati aku akan lebih hancur lagi!" Perempuan itu mendesah panjang. "Aniwei, aku pengen tau, pertanyaan ini sebenarnya sudah lama kusimpan tapi aku belum menemukan orang yang tepat sebagai tempatku memperoleh jawaban.." Aku mencerna tiap kalimatnya. "Sebenarnya kenapa sih perempuan bisa jadi lines?" Perempuan itu mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya dengan suara lirih. "Mereka kan tau bahwa agama manapun melarang? Dan apa mereka itu bisa "disembuhkan"?"
Sebenarnya aku agak sedikit terlonjak mendengar kata "disembuhkan" barusan, tapi kemudian sebaris senyuman tersembul dari bibirku dan aku juga tak lantas ingin menguliahinya tentang homoseksualitas yang telah dikeluarkan WHO dari penyakit kejiwaan bla..bla..bla.. Karena aku tau ia sedang berusaha meyakinkan hatinya tapi merasa takut, jadi ia mengingkarinya dengan menjadikan orang lain atau tepatnya si Jelek ini sebagai Subyek pertanyaan.
Seiring waktu, ketakutan-ketakutan yang merupakan unek-unek di benaknya selama ini perlahan ia lucuti satu persatu ketika kedekatannya dengan si Jelek yang pernah terenggut oleh jeruji besi kini terjalin kembali.
"Sebenarnya apa sih maksudnya mendekati aku lagi? Apa ada tujuan lain dibalik sikap baiknya itu? Dia hapal betul kelemahanku, aku jadi takut, Al!"
Ketakutan yang ia maksud disini bukan takut menghadapi si Jelek yang memang dulu kerap menghajarnya sampai jontor. Ia sebenarnya takut akan CLBK, tepatnya takut nurani yang setengah mati ia ingkari akan membawanya kepada kondisi sulit seperti di masa lalu. Karenanya ia mati-matian menutup pintu hatinya yang hanya terbuat dari spons rapuh, serapat apapun udara masih bisa menyelinap meski harus tersaring.
"Kamu jangan tertawa ya, Al, aku pengen nanya sesuatu?"
Aku penasaran.
"Sebenarnya dalam dunia lines itu, apakah ML merupakan hal yang wajib?"
Aku tercekat. Waduh, kenapa dia nanyanya soal ini? Pasalnya aku tak secanggih dokter Boyke, bahkan pengalamanku pun belum terlalu banyak.
"Yaa kalau urusan ranjang seperti itukan hanya masalah komunikasi, sebab ada dua tubuh, jadi kalau yang satu tak setuju atau tak siap, kan jadinya nggak nikmat juga, ya kan?"
"Nah, itu dia Al yang sejak awal sepertinya menghambat hubungan kami..." Aku masih nggak ngeh. "Jelek itu slalu maksain berhubungan sedangkan aku belum siap, bukan karna apa, aku merasa hubungan ini masih salah, tidak sesuai dengan kata hatiku, tapi Jelek nggak pernah mau ngerti. Makanya kami sering berantem dan aku tak mau kejadian seperti itu terulang,"
"Menurutku hal yang paling utama yang harus kau lakukan adalah berdamai terlebih dahulu dengan hatimu tentang orientasi seksualmu. Kalau kau bisa menerima apa kata nuranimu bahwa kau menyukai perempuan, baru kau akan merasakannya sebagai sebuah hubungan, bukan sebagai ketakutan. Setelah itu, kamu tinggal mengkomunikasikan apa dan bagaimana urusan ranjang itu. Kalau kamu tidak berdamai dengan nuranimu, selamanya kamu akan merasa bahwa perasaanmu itu salah!"
"Kayaknya aku tetap akan memakai logikaku!" cetusnya kemudian, seperti tanpa pikir panjang.
"Gini aja deh, jangan memberi harga mati untuk apa yang tidak kau ketahui di masa mendatang, just pick what you think is the best for you!"
"Sampai kapanpun rasa sayangku untuk Jelek akan tetap ada, tapi aku inginnya kami bisa berteman baik ataupun sodaraan ama dia daripada hubungan seperti dulu. Aku nggak mau disakiti lagi, Al!"
"Kalau seumpama ia tak menyakitimu lagi, bagaimana?"
Ia tak menjawab. Tapi aku telah mengerti arti kebisuan tersebut.
Mengakui orientasi seksual kadang memang hal yang sulit bagi sebagian orang. Namun hati takkan pernah menemukan ketenangan sebelum mencari titik temu terbaik antara logika dan perasaan, tentu saja dengan cara dan pemikiran serta pertimbangan terbaik pula.
"Jujur, Al, aku baru tau dunia kayak gini ini karna aku kenal si Jelek!" jelasnya sembari menyebut perempuan tomboy yang kurang lebih enam tahun mengisi hidupnya dengan nama si Jelek. "Dulu-dulu aku nggak seperti ini, aku pacaran juga dengan laki-laki..."
"Kalau sadar begitu kenapa kamu tidak antisipasi sejak awal, malah seperti membiarkannya memasuki hatimu?" potongku mengingat ia bisa saja meninggalkan perempuan itu dan menikah dengan laki-laki, tapi tak ia lakukan.
"Entahlah!" Jawaban yang sama tiap kutanyakan sesuatu yang menjurus kepada orientasi seksualnya. "Menurutmu aku harus gimana?" Pertanyaan yang juga sama yang ia ajukan bukan hanya sekali ini.
"Dari awal kan sudah kubilang, semua keputusan berada di tanganmu! Tinggal kamu pilih aja, kamu akan menuruti logika atau mendengar nuranimu sendiri! Mudah kan?"
"Kayaknya aku akan mengikuti logikaku karna sia-sia dong kakakku sudah segitunya belain aku untuk menjauhkanku dari dia dan sia-sia juga dong Jelek pernah dipenjara gara-gara itu, ya kan?"
"Itu kan secara logika, hatimu tidak berkata seperti itu, bukan?"
"Aku hanya tau jika aku mengikuti hati aku akan lebih hancur lagi!" Perempuan itu mendesah panjang. "Aniwei, aku pengen tau, pertanyaan ini sebenarnya sudah lama kusimpan tapi aku belum menemukan orang yang tepat sebagai tempatku memperoleh jawaban.." Aku mencerna tiap kalimatnya. "Sebenarnya kenapa sih perempuan bisa jadi lines?" Perempuan itu mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya dengan suara lirih. "Mereka kan tau bahwa agama manapun melarang? Dan apa mereka itu bisa "disembuhkan"?"
Sebenarnya aku agak sedikit terlonjak mendengar kata "disembuhkan" barusan, tapi kemudian sebaris senyuman tersembul dari bibirku dan aku juga tak lantas ingin menguliahinya tentang homoseksualitas yang telah dikeluarkan WHO dari penyakit kejiwaan bla..bla..bla.. Karena aku tau ia sedang berusaha meyakinkan hatinya tapi merasa takut, jadi ia mengingkarinya dengan menjadikan orang lain atau tepatnya si Jelek ini sebagai Subyek pertanyaan.
Seiring waktu, ketakutan-ketakutan yang merupakan unek-unek di benaknya selama ini perlahan ia lucuti satu persatu ketika kedekatannya dengan si Jelek yang pernah terenggut oleh jeruji besi kini terjalin kembali.
"Sebenarnya apa sih maksudnya mendekati aku lagi? Apa ada tujuan lain dibalik sikap baiknya itu? Dia hapal betul kelemahanku, aku jadi takut, Al!"
Ketakutan yang ia maksud disini bukan takut menghadapi si Jelek yang memang dulu kerap menghajarnya sampai jontor. Ia sebenarnya takut akan CLBK, tepatnya takut nurani yang setengah mati ia ingkari akan membawanya kepada kondisi sulit seperti di masa lalu. Karenanya ia mati-matian menutup pintu hatinya yang hanya terbuat dari spons rapuh, serapat apapun udara masih bisa menyelinap meski harus tersaring.
"Kamu jangan tertawa ya, Al, aku pengen nanya sesuatu?"
Aku penasaran.
"Sebenarnya dalam dunia lines itu, apakah ML merupakan hal yang wajib?"
Aku tercekat. Waduh, kenapa dia nanyanya soal ini? Pasalnya aku tak secanggih dokter Boyke, bahkan pengalamanku pun belum terlalu banyak.
"Yaa kalau urusan ranjang seperti itukan hanya masalah komunikasi, sebab ada dua tubuh, jadi kalau yang satu tak setuju atau tak siap, kan jadinya nggak nikmat juga, ya kan?"
"Nah, itu dia Al yang sejak awal sepertinya menghambat hubungan kami..." Aku masih nggak ngeh. "Jelek itu slalu maksain berhubungan sedangkan aku belum siap, bukan karna apa, aku merasa hubungan ini masih salah, tidak sesuai dengan kata hatiku, tapi Jelek nggak pernah mau ngerti. Makanya kami sering berantem dan aku tak mau kejadian seperti itu terulang,"
"Menurutku hal yang paling utama yang harus kau lakukan adalah berdamai terlebih dahulu dengan hatimu tentang orientasi seksualmu. Kalau kau bisa menerima apa kata nuranimu bahwa kau menyukai perempuan, baru kau akan merasakannya sebagai sebuah hubungan, bukan sebagai ketakutan. Setelah itu, kamu tinggal mengkomunikasikan apa dan bagaimana urusan ranjang itu. Kalau kamu tidak berdamai dengan nuranimu, selamanya kamu akan merasa bahwa perasaanmu itu salah!"
"Kayaknya aku tetap akan memakai logikaku!" cetusnya kemudian, seperti tanpa pikir panjang.
"Gini aja deh, jangan memberi harga mati untuk apa yang tidak kau ketahui di masa mendatang, just pick what you think is the best for you!"
"Sampai kapanpun rasa sayangku untuk Jelek akan tetap ada, tapi aku inginnya kami bisa berteman baik ataupun sodaraan ama dia daripada hubungan seperti dulu. Aku nggak mau disakiti lagi, Al!"
"Kalau seumpama ia tak menyakitimu lagi, bagaimana?"
Ia tak menjawab. Tapi aku telah mengerti arti kebisuan tersebut.
Mengakui orientasi seksual kadang memang hal yang sulit bagi sebagian orang. Namun hati takkan pernah menemukan ketenangan sebelum mencari titik temu terbaik antara logika dan perasaan, tentu saja dengan cara dan pemikiran serta pertimbangan terbaik pula.
Saturday, September 6, 2008
PUYENK EUY!!!
Ku tlah biasa tersenyum tenang
Walau hatiku menangis
Kaulah cerita tertulis dengan pasti
Selamanya dalam fikiranku
Lupakan semua tinggalkan ini
Ku kan tenang dan kau kan pergi
Berjalanlah walau habis terang
Ambil cahaya cinta kuterangi jalanmu
Diantara beribu lainnya kau tetap benderang
***
Hanya satu kata yang sepertinya bisa mewakili seluruh pikiran dan perasaanku saat ini, yaitu PUYENK! Gimana nggak puyeng kalo ditekan dari berbagai sudut? Gimana nggak puyeng kalo dituntut untuk mengambil keputusan disaat aku perlu waktu mencari celah demi ketiadaan efek negatif bagi pihak-pihak yang berkaitan? Kalo pengambilan keputusan itu semudah seperti yang mereka desakkan padaku, tentu sudah sejak dulu aku lepas dari lilitan perasaan diantara ada dan tiada, dilema.
Tapi kenyataannya tak mudah menjadi aku. Berada di posisiku sekarang adalah sangat rentan. Bagai dua sisi mata uang, punya kedudukan sama kuat, aksi dan reaksi. Kalo tak segera ambil keputusan juga akan disalahartikan sebagai ketidaktegasanku. Waduh, tambah puyeng aja!
"Mana Markun kok nggak nelpon?" Pertanyaan tentang "laki-laki dalam benak ibuku" itu diajukan sudah untuk kesekian kalinya hari ini. Makin menambah kegalauanku sejak subuh tadi.
"Kamu kok bisa betah ama orang kayak gitu?" kata seorang temanku, bukan cuma hari ini tapi sejak dulu.
"Katanya dia sayang kamu, tapi kok bisa-bisanya dia berkata seperti itu tentang kamu?" sambung seorang sahabat, meledak-ledak. Tak terima.
"Setelah apa yang dia lakukan ini, apa kamu akan tetap berhubungan dengannya?" timpal satu orang lagi.
"Baik-baik ama Markun, meski kadang ia suka menjengkelkan!" kata perempuan paruh baya itu seolah ia benar-benar mengerti situasi sebenarnya.
Hahh, aku nggak tau kenapa lisanmu sebegitu dalam mengoyak tak tampak muka, menikam dari belakang. Hanya tak percaya saja, tapi jika ternyata lidah berjuntai bola api itu sanggup mewakili semua yang kau rasakan tentang hadirku dalam hidupmu selama ini, that's okey! -Tanpa pembelaan-
Mencoba tak menyakiti semua pihak adalah beban berat yang harus kupanggul sendiri ditengah kepungan pro kontra. Mencoba menyelesaikan dengan baik-baik adalah ketidakmungkinan yang berusaha untuk kujadikan mungkin.
When it's got to ended, let it's over, FINITO!!
@Thursday
Walau hatiku menangis
Kaulah cerita tertulis dengan pasti
Selamanya dalam fikiranku
Lupakan semua tinggalkan ini
Ku kan tenang dan kau kan pergi
Berjalanlah walau habis terang
Ambil cahaya cinta kuterangi jalanmu
Diantara beribu lainnya kau tetap benderang
***
Hanya satu kata yang sepertinya bisa mewakili seluruh pikiran dan perasaanku saat ini, yaitu PUYENK! Gimana nggak puyeng kalo ditekan dari berbagai sudut? Gimana nggak puyeng kalo dituntut untuk mengambil keputusan disaat aku perlu waktu mencari celah demi ketiadaan efek negatif bagi pihak-pihak yang berkaitan? Kalo pengambilan keputusan itu semudah seperti yang mereka desakkan padaku, tentu sudah sejak dulu aku lepas dari lilitan perasaan diantara ada dan tiada, dilema.
Tapi kenyataannya tak mudah menjadi aku. Berada di posisiku sekarang adalah sangat rentan. Bagai dua sisi mata uang, punya kedudukan sama kuat, aksi dan reaksi. Kalo tak segera ambil keputusan juga akan disalahartikan sebagai ketidaktegasanku. Waduh, tambah puyeng aja!
"Mana Markun kok nggak nelpon?" Pertanyaan tentang "laki-laki dalam benak ibuku" itu diajukan sudah untuk kesekian kalinya hari ini. Makin menambah kegalauanku sejak subuh tadi.
"Kamu kok bisa betah ama orang kayak gitu?" kata seorang temanku, bukan cuma hari ini tapi sejak dulu.
"Katanya dia sayang kamu, tapi kok bisa-bisanya dia berkata seperti itu tentang kamu?" sambung seorang sahabat, meledak-ledak. Tak terima.
"Setelah apa yang dia lakukan ini, apa kamu akan tetap berhubungan dengannya?" timpal satu orang lagi.
"Baik-baik ama Markun, meski kadang ia suka menjengkelkan!" kata perempuan paruh baya itu seolah ia benar-benar mengerti situasi sebenarnya.
Hahh, aku nggak tau kenapa lisanmu sebegitu dalam mengoyak tak tampak muka, menikam dari belakang. Hanya tak percaya saja, tapi jika ternyata lidah berjuntai bola api itu sanggup mewakili semua yang kau rasakan tentang hadirku dalam hidupmu selama ini, that's okey! -Tanpa pembelaan-
Mencoba tak menyakiti semua pihak adalah beban berat yang harus kupanggul sendiri ditengah kepungan pro kontra. Mencoba menyelesaikan dengan baik-baik adalah ketidakmungkinan yang berusaha untuk kujadikan mungkin.
When it's got to ended, let it's over, FINITO!!
@Thursday
Wednesday, September 3, 2008
Kembang, Kumbang dan Kupu-Kupu Kecil
Huaaa... Kangeen banget nulis buat blogku tercinta ini! Maklum berapa hari sibuk ama urusan hati yang sampai hari ini belum kelar juga sih. Karena pusat pemerintahan diambil alih oleh hati, makanya masalah tak cepat tertuntaskan, berlarut-larut dan malah kian membelit otak yang semula memegang kendali.
***
Kembang yang hanya batang, tumbuh kuncup berdahan. Kupu-Kupu Kecil hinggap, temani kembang bermekaran dalam warna-warni musim berganti. Kupu-Kupu telah jatuh hati pada Kembang yang nyaris mati. Kupu-Kupu memberinya selaksa makna, namun Kembang hanya harus miliknya.
Suatu hari Kupu-Kupu memergoki Kumbang mencium Kembangnya, menawarkan keharuman berbeda. Dalam keperkasaan sengatan sang Kumbang, Kembang terhipnotis. Kupu-Kupu indah namun rapuh mengiba. Kembang hanya harus merasakan wanginya. Kembang terlalu letih menuai kenikmatan semu dari sang Kupu-Kupu, namun tak sampai hati menyaksikan Kupu-Kupu kehilangan sayap tuk terbang, bahkan tak merasakan godaan sang Kupu-Kupu dalam kelopak cintanya.
Kembang setaman dikitari Kupu-Kupu dan Kumbang tak saling berpadu dalam wewangian keabadian. Akankah?
***
Kembang yang hanya batang, tumbuh kuncup berdahan. Kupu-Kupu Kecil hinggap, temani kembang bermekaran dalam warna-warni musim berganti. Kupu-Kupu telah jatuh hati pada Kembang yang nyaris mati. Kupu-Kupu memberinya selaksa makna, namun Kembang hanya harus miliknya.
Suatu hari Kupu-Kupu memergoki Kumbang mencium Kembangnya, menawarkan keharuman berbeda. Dalam keperkasaan sengatan sang Kumbang, Kembang terhipnotis. Kupu-Kupu indah namun rapuh mengiba. Kembang hanya harus merasakan wanginya. Kembang terlalu letih menuai kenikmatan semu dari sang Kupu-Kupu, namun tak sampai hati menyaksikan Kupu-Kupu kehilangan sayap tuk terbang, bahkan tak merasakan godaan sang Kupu-Kupu dalam kelopak cintanya.
Kembang setaman dikitari Kupu-Kupu dan Kumbang tak saling berpadu dalam wewangian keabadian. Akankah?
Subscribe to:
Posts (Atom)