Dipanggil Mas.
Mungkin sudah ga keitung berapa kali orang-orang memanggilku demikian, mulai dari tukang parkir, ibu-ibu sampe narasumber diskusi yang aku ikuti dan semua orang dari ragam profesi juga situasi dan kondisi tempatku berpijak. Aku tak sedang akan membahas ini, karena orang-orang cenderung bertanya kamu nyaman gak dipanggil mas? Kalau gak nyaman, segera klarifikasi. Begitu saran seorang teman ketika diskusi di Solo tempo hari. Bahkan masih banyak variasi respon yang kadang juga bikin jengkel. Seperti ketika petugas kereta api prameks mengusirku dari gerbong perempuan, pun ketika kejadian di toilet perempuan UIN tidak terlalu lama ini dimana para perempuan di toilet tsb berteriak histeris melihatku lalu memandangi setiap gerakku di sana hingga sukses membuatku batal kencing gara-gara tak nyaman dengan tatapan mereka. Padahal kalau boleh jujur, ketika mereka berteriak, justru lututku yang gemeteran. Bayangkan kalau ada yang langsung anarkis ngelempar sepatu atau apapun ke arahku.
Konstruksi masyarakat yang masih stereotyping bahwa yang berambut pendek pasti cowok dan perempuan berambut panjang, sebenarnya gak bisa nyalahin juga. Makanya kalau ditanya nyaman gak dikira cowok? Hmm, aku hanya senang ketika mereka bingung sementara aku tenang-tenang saja. Pun ketika naik prameks lagi, aku sengaja menunggu ada gak yang berani "ngusir". Buntutnya, si petugas malah tunggang langgang karena kata teman-teman aku memelototinya. Bagiku Mas atau Mbak, adalah hanya pelabelan masyarakat. Tapi lebih suka dipanggil Om sih, bukan karena itu lumrah dipakai untuk laki-laki diatas umur Mas-Mas, cuma cocok aja kayaknya untuk panggilan awal sebelum namaku, jadi bukan karena itu digunakan untuk cowok atau cewek.
Transgender
Sebenarnya identitas seksual ini yang hendak ku bahas. Aku tertarik karena teringat pertanyaan seorang teman sekitar seminggu lalu. Waktu itu kami sedang rapat persiapan diskusi LBTIQ yang memang setiap bulan kami adakan dengan membahas tema yang berbeda-beda. Bulan ini kami hendak mendiskusikan tentang identitas seksual. Ketika beralih dari narasumber lesbian, dan biseksual, seorang teman menoleh padaku dan bertanya, "Untuk narasumber transgender, identitas seksualmu apa? Bisa kah menjadi narsum?". Waktu itu aku bilang bahwa aku bukan transgender, aku kemudian merekomendasikan padanya seorang teman yang sepertinya transgender.
Dan kukira si teman ini sudah clear dengan jawabanku, tapi ternyata beberapa hari kemudian saat ia bersama teman yang kukira transgender itu -dan ternyata bukan-, si teman ini kembali bertanya:"Kamu bukan transgender?". Entah karena ia sudah desperate karena tak menemukan narsum transgender atau ia memang keukeuh mengiraku transgender, yang jelas aku jadi tergelitik. Namun sekali lagi aku meyakinkan bahwa aku bukan transgender.
Sebenarnya pertanyaan si teman ini bukan yang pertama diajukan orang padaku. Meski tak sesering seperti saat dipanggil Mas, tapi identitas seksualku sepertinya cukup menarik bagi beberapa teman untuk dibahas. Sebagai salah satu responden penelitian, surveyorku pernah bertanya: secara fisik kamu sangat maskulin, rambut jabrik, pakaian dan perilaku tomboy abis, apakah kamu lesbian buci atau transgender?. Tidak semuanya, begitu jawabku. Memang bukan dua-duanya, karena aku bukan penganut pelabelan dan transgender juga bukan identitas seksualku. Aku tak pernah merasa terperangkap di tubuh perempuan yang kumiliki ini.
Mencintai tubuh sendiri, pastinya! Bahkan mbah-nya LSM yang membidangi seksualitas menganggapku unik. Tubuh tak mau disentuh tapi bukan berarti aku tak suka dengan tubuh sendiri. Waktu itu aku pun tak dapat mendefinisi kenapa merasa risih disentuh. Namun sejalan pendalamanku tentang tubuh dan seksualitas, aku kini meyakini bahwa pada beberapa bagian tubuhku hanya berfungsi sebagai asesoris. Menyentuh atau tak mau disentuh hanya soal kesepakatan dan kenyamanan, ini bergantung bagaimana berkompromi dan mengubur ego.
Balik soal transgender, aku meyakini kenyamananku berpenampilan maskulin adalah gender ekspresiku. Bagiku setiap orang pasti punya sisi maskulin dan feminin, jadi apa yang nampak diluar maskulin, mungkin Anda tak pernah tau ada sisi feminin yang kadang maupun sering muncul. Bukan karena merasa laki-laki ketika lebih suka dipanggil Om. Bukan karena merasa laki-laki ketika lebih sering nampak maskulin. This is me, yang merasa nyaman dengan atribut maskulin dan pastinya mencintai tubuh sendiri.
Wednesday, June 6, 2012
Sunday, June 3, 2012
Mencocokkan Kelamin
Aku suka judul diatas! Terdengar saru bukan? Multitafsir sih, yang mendengar kata itu menginterpretasikan masing-masing. Banyak yang sepakat lebih condong mengartikan ke arah "saru".
Mencocokkan hati mungkin mudah, tapi mencocokkan kelamin, itu yang susah. Mungkin itu salah satu faktor penyebab #GagalMovedOn saya setelah memutuskan mundur dari perang kecamuk otak, batin dan perasaan saya sendiri akhir Desember lalu. Namun saya tak hendak mengulik cerita hati itu, hanya ingin berkesimpulan alias mengevaluasi dampak relasi tsb. Wuih bahasanya udah kayak proposal gini yak, bahkan soal hati perlu analisis dampak.
Prinsip soal sulitnya mencocokkan kelamin itu berawal ketika memulai membuka hati untuk orang baru. Setiap yang datang hanya membuai sesaat lalu lenyap, bukan orangnya tapi perasaannya. Hashtag GagalMovedOn yang jadi jargon itu lantas kutelisik penyebabnya. Mungkin sudah rahasia umum bahwa saya termasuk orang yang masuk dalam kategori mudah jatuh hati. Ya, bagiku mencocokkan hati itu mudah, apapun bentuk relasinya, baik pertemanan, jejaring, bisnis bahkan flirting. Bukti paling nyata adalah perempuan pengisi Agustus September lalu saya, betah 14 jam ngobrol ngalor ngidul, -saya merasa- klik berbincang apapun seolah baru 10 menit mendengar suaranya. Tapi untuk mencocokkan kelamin... Bagiku tak mudah!
Namun perlu dipahami bahwa mencocokkan kelamin itu bukan melulu urusan ranjang dan sekitarnya. Banyak yang menafsirkan mencocokkan kelamin adalah semata hubungan atau perilaku seks, keliru total! Aktivitas seksual, ya akan itu-itu dan begitu-begitu aja, tapi cocok secara kelamin adalah soal kenyamanan. Mungkin kenyamanan adalah kata yang paling tepat to describe.
Itulah kenapa dari dulu saya beranggapan seks bukan yang utama, karena mencocokkan kelamin buat saya sulit. Merasa nyaman adalah bagian tersulit dalam mencocokkan kelamin dalam arti sebenarnya. Butuh lebih dari sekedar hati dan birahi. Bahasa kelamin yang bukan hanya terejawantahkan oleh deru nafas.
Seperti yang kubilang, saya tergolong susah dalam hal tsb, makanya ketika sudah cocok secara kelamin lantas harus memulai relasi baru, aku tak kaget dengan hashtag GagalMovedOn yang masih menjadi jargon terkuat dalam pilkada hati yang baru.
Mencocokkan hati mungkin mudah, tapi mencocokkan kelamin, itu yang susah. Mungkin itu salah satu faktor penyebab #GagalMovedOn saya setelah memutuskan mundur dari perang kecamuk otak, batin dan perasaan saya sendiri akhir Desember lalu. Namun saya tak hendak mengulik cerita hati itu, hanya ingin berkesimpulan alias mengevaluasi dampak relasi tsb. Wuih bahasanya udah kayak proposal gini yak, bahkan soal hati perlu analisis dampak.
Prinsip soal sulitnya mencocokkan kelamin itu berawal ketika memulai membuka hati untuk orang baru. Setiap yang datang hanya membuai sesaat lalu lenyap, bukan orangnya tapi perasaannya. Hashtag GagalMovedOn yang jadi jargon itu lantas kutelisik penyebabnya. Mungkin sudah rahasia umum bahwa saya termasuk orang yang masuk dalam kategori mudah jatuh hati. Ya, bagiku mencocokkan hati itu mudah, apapun bentuk relasinya, baik pertemanan, jejaring, bisnis bahkan flirting. Bukti paling nyata adalah perempuan pengisi Agustus September lalu saya, betah 14 jam ngobrol ngalor ngidul, -saya merasa- klik berbincang apapun seolah baru 10 menit mendengar suaranya. Tapi untuk mencocokkan kelamin... Bagiku tak mudah!
Namun perlu dipahami bahwa mencocokkan kelamin itu bukan melulu urusan ranjang dan sekitarnya. Banyak yang menafsirkan mencocokkan kelamin adalah semata hubungan atau perilaku seks, keliru total! Aktivitas seksual, ya akan itu-itu dan begitu-begitu aja, tapi cocok secara kelamin adalah soal kenyamanan. Mungkin kenyamanan adalah kata yang paling tepat to describe.
Itulah kenapa dari dulu saya beranggapan seks bukan yang utama, karena mencocokkan kelamin buat saya sulit. Merasa nyaman adalah bagian tersulit dalam mencocokkan kelamin dalam arti sebenarnya. Butuh lebih dari sekedar hati dan birahi. Bahasa kelamin yang bukan hanya terejawantahkan oleh deru nafas.
Seperti yang kubilang, saya tergolong susah dalam hal tsb, makanya ketika sudah cocok secara kelamin lantas harus memulai relasi baru, aku tak kaget dengan hashtag GagalMovedOn yang masih menjadi jargon terkuat dalam pilkada hati yang baru.
Friday, June 1, 2012
Mari Mulai Menulis
Sudah lama kata-kata di otak tak tertumpahkan. Ada sesuatu yang sepertinya sengaja menyumbat. Bukan karena aktivitas kerja yang numpuk, hanya otak sedang diganjal untuk menderetkan barisan memori yang telah mengantri panjang di ingatan. Ya, empat bulan kukira cukup panjang dan entah kenapa otak seakan dibuat menurut saja untuk memerintah jemari agar tak bergerilya pagi sehabis membuka mata setiap pagi atau mendesak kata malas ke otak ketika sudah tak ada lagi aktivitas kerja yang dilakukan yang biasanya kemudian terisi dengan menuangkan hal-hal kecil siklus rutinitas maupun spontanitas hidupku melalui deretan kata.
Dan aku tak akan menyalahkan otak, sama ketika otak tak menyalahkan hati, namun menanamkan menulis adalah kebutuhan dan membaca adalah asupan, seberapa pun ketidak sukaan saya membaca, maka ada tak ada waktu, malas atau rajin yang meracun otak dan suka atau tak suka saya akan sesuatu, mari memulai lagi untuk giat menuang ide, membeber cerita hati dan jungkir balik hidup serta finish the unfinished.
Gadget sudah mumpuni. Ya, aku memang lebih suka mengejakan deretan kalimat di otakku hanya dengan satu jempol daripada sepuluh jari. Gadget yang dulu membatasiku hanya maksimal 3000 karakter dan kemudian memindahkannya di outlook laptop, kini sudah bisa nyaman mau sepanjang gerbong kereta pun, gadget ini sanggup meladeni. Dan yang terpenting dari gadget ini adalah bentuk candybar kayak nokia tapi fungsi smartphone. Bukan mau promosi, meski fungsi smartphonenya tak sehandal android namun fungsi organizernya diatas rata-rata. Jadi mari mulai mengejewantahkan antrian huruf-huruf di otak...
Dan aku tak akan menyalahkan otak, sama ketika otak tak menyalahkan hati, namun menanamkan menulis adalah kebutuhan dan membaca adalah asupan, seberapa pun ketidak sukaan saya membaca, maka ada tak ada waktu, malas atau rajin yang meracun otak dan suka atau tak suka saya akan sesuatu, mari memulai lagi untuk giat menuang ide, membeber cerita hati dan jungkir balik hidup serta finish the unfinished.
Gadget sudah mumpuni. Ya, aku memang lebih suka mengejakan deretan kalimat di otakku hanya dengan satu jempol daripada sepuluh jari. Gadget yang dulu membatasiku hanya maksimal 3000 karakter dan kemudian memindahkannya di outlook laptop, kini sudah bisa nyaman mau sepanjang gerbong kereta pun, gadget ini sanggup meladeni. Dan yang terpenting dari gadget ini adalah bentuk candybar kayak nokia tapi fungsi smartphone. Bukan mau promosi, meski fungsi smartphonenya tak sehandal android namun fungsi organizernya diatas rata-rata. Jadi mari mulai mengejewantahkan antrian huruf-huruf di otak...
Thursday, January 12, 2012
Fixing Not Only One Way, But Two Ways!
Kenapa saya bilang sebelumnya kalau cerita2 kesalahpahaman itu "terlambat" untuk diperbaiki... Karena kami sudah tak seperti dulu!
Adalah kata maaf yang ingin selalu kuucap pada perempuan itu, namun bukan karena merasa bersalah, tetapi lebih pada introspeksi pribadiku sendiri atas "perilaku"ku, terlebih usai kecelakaan ditabrak mobil akhir Desember lalu.
Malam itu, dengan bibir yang kadang meringis menahan sakit, perempuan pertama yang kutelfon dan kumintakan maaf adalah kamu. Padahal kalau "dihubungkan", penyebab kekosongan pikiran yang kemudian juga mengosongkan penglihatanku dan terlebih otak yang seharusnya melihat ke spion sebelum memotong jalan mendadak yang lalu beberapa detik kemudian membuatku sudah tersungkur di aspal adalah perempuan lain.
Namun percaya atau tidak, waktu kejadian itu yang kupikirkan bukan karena penyebab kecelakaanku akibat ngelamun, tapi perasaan dimana saya sudah pernah bersikap salah pada perempuan pengisi bulan Agustus dan September saya itu. Meski malam itu saya tak cerita konkrit, saya hanya berulang kali bilang maaf, sedang anda disana memandang maaf saya tak "diperlukan" karena saya tak melakoni kesalahan.
Tentang "salah" saya ini, sebenarnya saya sudah berusaha "memperbaiki" jauh2 hari. Tapi sepertinya tak membuahkan hasil. Dan memang bukan tentang hasil, karena saya hanya ingin pada koridor saya untuk memperbaiki "kesalahan manajemen komunikasi" terhadap perempuan itu. Dan perkara respon itu sepenuhnya koridor dia.
Namun seperti istilah menetesi karang dengan air, bahwa karang dan air adalah dua pihak, meski bersebrangan keduanya tetap akan mutual jika memang tujuannya sama, si karang mau ditetesi -meski susah- dan si air berkeinginan menetesi. Namun jika tak ada titik temu, entah karang terlalu kokoh atau air terlampau lelah menetesi, maka tujuan tak akan pernah tercapai. Begitu juga tentang fixing relationship... Tak akan pernah tercapai jika hanya satu pihak yang berkeinginan sementara pihak satunya tak menunjukkan gelagat sama.
23:31, Thu 12-Jan-2012
Adalah kata maaf yang ingin selalu kuucap pada perempuan itu, namun bukan karena merasa bersalah, tetapi lebih pada introspeksi pribadiku sendiri atas "perilaku"ku, terlebih usai kecelakaan ditabrak mobil akhir Desember lalu.
Malam itu, dengan bibir yang kadang meringis menahan sakit, perempuan pertama yang kutelfon dan kumintakan maaf adalah kamu. Padahal kalau "dihubungkan", penyebab kekosongan pikiran yang kemudian juga mengosongkan penglihatanku dan terlebih otak yang seharusnya melihat ke spion sebelum memotong jalan mendadak yang lalu beberapa detik kemudian membuatku sudah tersungkur di aspal adalah perempuan lain.
Namun percaya atau tidak, waktu kejadian itu yang kupikirkan bukan karena penyebab kecelakaanku akibat ngelamun, tapi perasaan dimana saya sudah pernah bersikap salah pada perempuan pengisi bulan Agustus dan September saya itu. Meski malam itu saya tak cerita konkrit, saya hanya berulang kali bilang maaf, sedang anda disana memandang maaf saya tak "diperlukan" karena saya tak melakoni kesalahan.
Tentang "salah" saya ini, sebenarnya saya sudah berusaha "memperbaiki" jauh2 hari. Tapi sepertinya tak membuahkan hasil. Dan memang bukan tentang hasil, karena saya hanya ingin pada koridor saya untuk memperbaiki "kesalahan manajemen komunikasi" terhadap perempuan itu. Dan perkara respon itu sepenuhnya koridor dia.
Namun seperti istilah menetesi karang dengan air, bahwa karang dan air adalah dua pihak, meski bersebrangan keduanya tetap akan mutual jika memang tujuannya sama, si karang mau ditetesi -meski susah- dan si air berkeinginan menetesi. Namun jika tak ada titik temu, entah karang terlalu kokoh atau air terlampau lelah menetesi, maka tujuan tak akan pernah tercapai. Begitu juga tentang fixing relationship... Tak akan pernah tercapai jika hanya satu pihak yang berkeinginan sementara pihak satunya tak menunjukkan gelagat sama.
23:31, Thu 12-Jan-2012
Cerita Hati Yang Lain
Ini tentang perempuan yang juga pernah membuat logika saya tak bertaji....
Saya beberapa kali bertemu dengan teman mainnya dan setiap ketemu selalu membahas tentangnya. Awalnya saya tak menyangka si teman yang saya kenal ini ternyata cukup dekat dan mengenal baik perempuan itu, dan... ternyata juga diceritani soal aku.
Kaget juga sih, kok aku baru tau si teman ini dapat copian cerita kami tapi versi perempuan itu. Padahal kupikir saya tidak sedekat itu dengan si teman ini. Walhasil, saat itu akhirnya dia mendengar cerita tentang kami tapi versi saya, yang kemudian terdapat perbedaan sudut pandang dan ada beberapa cerita yang "sengaja" ia hilangkan demi "kepentingan" sudut pandang tadi. Aku sempat ngakak juga sih kenapa harus menghilangkan bagian cerita demi dipandang seolah2 saya lah yang "aktif". Ah, dia kadang lucu memang. Dan si teman ini bukan sedang kucekoki versiku, tapi aku bercerita sesuai struktur advokasi bernama kronologi. Kalau mau beralibi pun, maka harus konkrit tidak ada penghilangan cerita.
"Ternyata ada beberapa cerita yang tidak ia ceritakan ya..."ujar si teman.
Ditambah ternyata banyak juga kesalahpahaman diantara kami, apa yang menurutku biasa2 saja ternyata dianggap perilaku menjengkelkan dan mengekang buatnya, sedangkan apa yang menurutku nyebelin dari perilakunya, menurutnya itu hal biasa. Hmm, kembali soal point of view yang ketika hubungan kami terjalin tak pernah sedikit pun terkomunikasikan. Baru dari si teman ini yang kemudian membongkar, meski boleh dibilang "terlambat".
00:37, Thu 12-Jan-2012
Saya beberapa kali bertemu dengan teman mainnya dan setiap ketemu selalu membahas tentangnya. Awalnya saya tak menyangka si teman yang saya kenal ini ternyata cukup dekat dan mengenal baik perempuan itu, dan... ternyata juga diceritani soal aku.
Kaget juga sih, kok aku baru tau si teman ini dapat copian cerita kami tapi versi perempuan itu. Padahal kupikir saya tidak sedekat itu dengan si teman ini. Walhasil, saat itu akhirnya dia mendengar cerita tentang kami tapi versi saya, yang kemudian terdapat perbedaan sudut pandang dan ada beberapa cerita yang "sengaja" ia hilangkan demi "kepentingan" sudut pandang tadi. Aku sempat ngakak juga sih kenapa harus menghilangkan bagian cerita demi dipandang seolah2 saya lah yang "aktif". Ah, dia kadang lucu memang. Dan si teman ini bukan sedang kucekoki versiku, tapi aku bercerita sesuai struktur advokasi bernama kronologi. Kalau mau beralibi pun, maka harus konkrit tidak ada penghilangan cerita.
"Ternyata ada beberapa cerita yang tidak ia ceritakan ya..."ujar si teman.
Ditambah ternyata banyak juga kesalahpahaman diantara kami, apa yang menurutku biasa2 saja ternyata dianggap perilaku menjengkelkan dan mengekang buatnya, sedangkan apa yang menurutku nyebelin dari perilakunya, menurutnya itu hal biasa. Hmm, kembali soal point of view yang ketika hubungan kami terjalin tak pernah sedikit pun terkomunikasikan. Baru dari si teman ini yang kemudian membongkar, meski boleh dibilang "terlambat".
00:37, Thu 12-Jan-2012
Wednesday, January 11, 2012
Tidak Sedang Mellow, Kok!
Kadang saya bertanya kepada diri sendiri, apa saya sedang mellow ya kok jadi muntah semua gini rangkaian hati yang dulu kayaknya kesumbat entah apa pokoknya gak pernah bisa terhempas keluar.
Kalau pengaruh hormonal ya menurutku sih bukan waktunya, apalagi jadwal bulanan emang gak pernah tepat waktu haha jadi pengaruh hormonal adalah reason sedikit gak wajar hehe.
Mellow karena terbawa perasaan. Ini juga gak deh kayaknya! Maklum deadline dari Desember baru bisa longgar dua hari lalu dan otomatis gak ada waktu buat bawa2 perasaan segala. Dan lagian neh, ketika fungsi otakku full akselerasi maksimal melototin layar laptop kayaknya udah ga sempet mikir perasaan.
Mmm, atau karena sibuk itu sehingga ketika agak longgar sekarang jadi ada waktu untuk buang sampah pikiran, perasaan maksudnya, hehe. Gak juga ya, awal2 saya kenal dia juga lagi longgar jadwal saya tapi kenapa ga ada hasrat pengen nulis?
Hayo, dari sekian alasan kok ga ada yang bisa dicerna dan dijadikan alasan untuk validitas kenapa saya kini berhasrat menuliskan kamu. Rindu? Dulu juga selalu rindu. Kehilangan? Kayaknya saya juga sudah sembuh, sudah bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda, baik secara logika dan perasaan. Atau karena sudah mati rasa? Sehingga kata-kata tak lagi dirasa, hanya terungkap sebagai barisan bahasa saja. Tidak juga, sesiangan tadi saya agak kelimpungan dengan rindu saya usai tak sengaja menemukan gambarnya di jejaring sosial si emak2 anak tiga itu.
Waduh, kok kompleks ya, haha serumit saya ya... Padahal kalau dicerna dari atas, apa sebenarnya ujung pangkal judul tulisan ini... Pastinya negesin satu hal; saya sedang tidak mellow kok! Bukan juga karena tadi pagi habis baca artikel di yahoo bahwa menulis minimal 15 menit sehari bisa menurunkan berat badan haha *terobsesi kurus? Tidak juga haha.
03:26, Wed 11-Jan-2012
Kalau pengaruh hormonal ya menurutku sih bukan waktunya, apalagi jadwal bulanan emang gak pernah tepat waktu haha jadi pengaruh hormonal adalah reason sedikit gak wajar hehe.
Mellow karena terbawa perasaan. Ini juga gak deh kayaknya! Maklum deadline dari Desember baru bisa longgar dua hari lalu dan otomatis gak ada waktu buat bawa2 perasaan segala. Dan lagian neh, ketika fungsi otakku full akselerasi maksimal melototin layar laptop kayaknya udah ga sempet mikir perasaan.
Mmm, atau karena sibuk itu sehingga ketika agak longgar sekarang jadi ada waktu untuk buang sampah pikiran, perasaan maksudnya, hehe. Gak juga ya, awal2 saya kenal dia juga lagi longgar jadwal saya tapi kenapa ga ada hasrat pengen nulis?
Hayo, dari sekian alasan kok ga ada yang bisa dicerna dan dijadikan alasan untuk validitas kenapa saya kini berhasrat menuliskan kamu. Rindu? Dulu juga selalu rindu. Kehilangan? Kayaknya saya juga sudah sembuh, sudah bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda, baik secara logika dan perasaan. Atau karena sudah mati rasa? Sehingga kata-kata tak lagi dirasa, hanya terungkap sebagai barisan bahasa saja. Tidak juga, sesiangan tadi saya agak kelimpungan dengan rindu saya usai tak sengaja menemukan gambarnya di jejaring sosial si emak2 anak tiga itu.
Waduh, kok kompleks ya, haha serumit saya ya... Padahal kalau dicerna dari atas, apa sebenarnya ujung pangkal judul tulisan ini... Pastinya negesin satu hal; saya sedang tidak mellow kok! Bukan juga karena tadi pagi habis baca artikel di yahoo bahwa menulis minimal 15 menit sehari bisa menurunkan berat badan haha *terobsesi kurus? Tidak juga haha.
03:26, Wed 11-Jan-2012
Tuesday, January 10, 2012
Rindu yang hanya bernama rindu
Jemariku yang kelu dulu saat hatiku luluh olehmu, kini mulai menari ketika kau sudah tak lagi di sisi menemani hari dan hati.
Aku pun tak pernah paham kenapa dulu ketika merajuti hampir tiap detik perjalanan waktu dengannya, tak satupun kata terjalin menjadi sebuah tulisan. Jangankan puisi, prosa hati cerita irisan takdir aku dengannya tak pernah bisa kusuguhkan lewat tarian jemari.
Dan jikalau kini berjudul-judul kisah terlontar, aku yakinkan itu bukan karena ingin bertutur buram perjalanan hati kemarin. Mungkin kala itu hatiku sedang ingin egois tak mau membagi senyum pun getirnya kepada jemari untuk diabadikan dalam rangkaian kata. Kini setelah logika juga ikut berbaur, hati pun sudah semangat berbagi.
Kini setiap benak merangkum sosokmu dalam kelebat ingatan, satu demi satu kata mengantri tuk diketikkan di ujung jempol. Semua tentangmu, bukan tentang fisikmu, so sweetmu, dan hal-hal sekecil apapun yang masih lekang di ingatanku, namun tentang rindu.
Dan sekali lagi, kau memang absurd. Aku bahkan tak bisa mendefinisi apa yang kurindukan? Kehadiranmu di sisi, kekanakanmu, pola pikirmu yang tak pernah sinkron denganku, tarian tubuhmu, atau apa? Atau kah semuanya?
Rindu itu hanya akan bernama rindu... Jemari ini terus menari, dibiarkan oleh logika yang berpola mirip ortu yang selalu ingin mengekang dan hati yang tak pernah kenal kata kapok dalam menyayangi. Menarilah jemari... Meski ia sudah tak disini, tak lagi mengiringi hati bernyanyi...
23:16, Tue 10-Jan-2012
Aku pun tak pernah paham kenapa dulu ketika merajuti hampir tiap detik perjalanan waktu dengannya, tak satupun kata terjalin menjadi sebuah tulisan. Jangankan puisi, prosa hati cerita irisan takdir aku dengannya tak pernah bisa kusuguhkan lewat tarian jemari.
Dan jikalau kini berjudul-judul kisah terlontar, aku yakinkan itu bukan karena ingin bertutur buram perjalanan hati kemarin. Mungkin kala itu hatiku sedang ingin egois tak mau membagi senyum pun getirnya kepada jemari untuk diabadikan dalam rangkaian kata. Kini setelah logika juga ikut berbaur, hati pun sudah semangat berbagi.
Kini setiap benak merangkum sosokmu dalam kelebat ingatan, satu demi satu kata mengantri tuk diketikkan di ujung jempol. Semua tentangmu, bukan tentang fisikmu, so sweetmu, dan hal-hal sekecil apapun yang masih lekang di ingatanku, namun tentang rindu.
Dan sekali lagi, kau memang absurd. Aku bahkan tak bisa mendefinisi apa yang kurindukan? Kehadiranmu di sisi, kekanakanmu, pola pikirmu yang tak pernah sinkron denganku, tarian tubuhmu, atau apa? Atau kah semuanya?
Rindu itu hanya akan bernama rindu... Jemari ini terus menari, dibiarkan oleh logika yang berpola mirip ortu yang selalu ingin mengekang dan hati yang tak pernah kenal kata kapok dalam menyayangi. Menarilah jemari... Meski ia sudah tak disini, tak lagi mengiringi hati bernyanyi...
23:16, Tue 10-Jan-2012
Subscribe to:
Posts (Atom)