Sunday, October 12, 2008

S0uLm4t3

Aku merenungi kata itu. Kata yang semalam diucapkan abang Arya tentang dedek femnya. Soulmate. Belahan Jiwa. Jika ditengok sekilas dari cerita abangku, pengertian yang cukup dalam dan istimewa tentang arti seseorang bagi abangku, meski tak untuk dimiliki selamanya namun bermakna indah dalam rentang jarak dan waktu. Kebersamaan yang untuk dinikmati tanpa perlu pusing soal status, cukup dengan saling memiliki hati, selebihnya tak perduli. Suci. Meski abang pernah berujar tak ada hati, tapi apakah mungkin menjalin hubungan bertahun-tahun tanpa melibatkan hati? Disitulah letak tanda tanya besar dariku.

Mungkin itu juga yang tengah coba dilakukan oleh seseorang yang kukenal akhir-akhir ini. Main hati tapi kebablasan. Bablasnya adalah melanggar batas yang digariskan abang Arya tentang TTM dan Dedek Fem. Membuat arti belahan jiwa tak lagi suci dengan mengatasnamakan rasa sayang untuk mengcover sesuatu hal yang aku sendiri tak faham.

Lebaran in Jogjaa... (8-end)

Kucium tangan perempuan tua yang ramah, yang diawal kusalami berkomentar modelku sama saja dengan Butet, anak sulungnya itu, hormat.

Semua masuk mobil. Ani duduk di belakang. Adik perempuan Butet sibuk mengatur tempat duduk. Maklum, banyak anak kecil yang ikut.
"Al, duduk depan!" lirih Butet padaku. Aku menggeleng. Kulihat ada yang lebih berhak daripada aku. Adik laki-laki Butet yang berambut gondrong dengan anak laki-lakinya menempati posisi yang ditawarkan Butet padaku, sementara aku duduk pas di belakang Butet, berbagi dengan keponakannya yang berusia belasan.

Beruntung, adik laki-laki Butet tau jalan tikus menuju Lempuyangan. Kalau tidak, jika memang kereta akan berangkat pukul enam, tentu kami sudah telat karena kami tiba hampir jam enam. Beruntung pula ternyata kereta mangkat pukul setengah delapan.
"Di mobil tadi aku selalu liat jam, kuatir juga kok nggak nyampe-nyampe stasiun.. Alhamdulillah, keretanya berangkat agak siang..." ujar adik perempuan Butet lepas dari kepanikan.

Tiket ditangan, kami langsung mencari tempat duduk, bercanda ria sembari menunggu keberangkatan kurang lebih sejam lagi.

Dua keponakan kecil Butet yang baru datang dari Salatiga, tiba-tiba minta ikut ke Surabaya. Rencana dadakan itu makin menambah jumlah rombongan yang tadinya tujuh menjadi sembilan. Praktis empat seat penuh oleh kami.

Pemberitahuan kereta akan berangkat memaksa Butet turun dari kereta.
"Ikut juga, yukk..." tawarku yang disambut tatapan Butet. Mungkin sebenarnya ia ingin ikut, tapi karena satu dan banyak hal mengharuskannya tertahan di Jogja. Keponakan dan adik Butet bergantian menyalaminya. Tak ketinggalan aku dan Ani.

Aku sedang menata posisi dudukku, ketika adik Butet memberitahukan kakaknya memanggilku di depan pintu. Kereta memang belum akan berangkat. Para penumpang mulai naik.

Aku berbincang dengan Butet dibawah. Ah, tatapan sayu itu muncul kembali. "Sudah, wajahmu jangan seperti itu, kayak nggak akan ketemu lagi aja!" sergahku.
"Itu yang aku takutkan! Aku nggak tau apa yang akan terjadi mengenai hubungan kita ketika nanti kau sudah berada di kotamu..."
"Maksudmu?" Alisku berkerut.
"Yah, nggak usah difikirkan! Semoga saja apa yang kuduga tak akan terjadi!"
Sikap Butet benar-benar tak bisa kucerna. Apalagi perlakuannya. Ekor mataku tak sengaja menangkap sosok keponakan Butet yang sedari tadi sepertinya "menyengajakan diri" berada diantara kami. Menurutku ia curiga melihat "kedekatan" kami serta cara bicara Budhe-nya yang sepertinya "tak biasa" untuk ukuran teman perempuan.

Bukan hanya keponakannya, kukira adik perempuannya juga menyimpan praduga yang sama, hanya saja ia tak berkomentar pura-pura seperti tak melihat hal tersebut. Karenanya, aku lebih banyak mengelak jikalau ada perlakuan yang kelewat "intim".

Lucunya, adik perempuan Butet ini memanggilku Kak, padahal usiaku jauh lebih muda empat belas tahun dibanding dia. "Mungkin karena kau temanku, makanya ia panggil kamu Kakak!" jelas Butet.

Peringatan terakhir agar penumpang segera naik ke kereta, membuat perpisahan tak terelakkan. Ia memelukku. Erat. Lama. Seolah takkan pernah ketemu lagi. Dan tatapan itu... Apa arti tatapan mata itu?

Aku telah diatas kereta, masih di pintu melihat tatapan mata itu. Menuju tempat dudukku dibarengi iringan matanya di sepanjang kaca. Kereta perlahan beranjak. Kemudian melaju makin kencang membawa sebongkah tanya yang tak terjawabkan akan arti tatapan mata.

Jogja kali ini memberiku pe-er besar tentang hati. Hatiku sendiri.

Naik kereta ekonomi untuk pertama kalinya dalam hidup ternyata jauh dari kata SERU seperti yang kubayangkan. Penumpang penuh sesak. Belum lagi sering berhenti lama untuk alasan nggak jelas. Apalagi ketika harus sendirian sepanjang Surabaya hingga ke kotaku, benar-benar sangat tak menyenangkan. Kapok deh rasanya naik ekonomi! Bayangkan, Jogja sampai kotaku ditempuh dua belas jam, biasanya hanya delapan jam. Capek!

Turun dari kereta, ada beberapa sms dan miskol. Kupu-Kupu Kecil dan Butet. Serta Ani yang menanyakan apa aku sudah sampai rumah.

Baru saja menginjakkan kaki di kamar, ponselku berdering. Butet. Berbincang sebentar tentang pengalaman sepanjang perjalanan, lantas harus kuakhiri karena tanteku sudah menunggu pesanannya.
"I MISS U, MUACH..." Telepon buru-buru ditutup. Aku terpatung. Kalimat itu diucapkan Butet ketika mengakhiri pembicaraan yang terus terang makin memperdalam tanyaku tentang hatinya. Tatapan mata yang mengartikan sebentuk rasa sayang yang tak pernah sedikitpun terealisasi dari mulut dan perilaku. Entah bagaimana pula isi hatinya. Ah, aku tak mau dibuat pusing untuk sesuatu yang tak pasti!

Yang pasti, terima kasih Jogja telah mempertemukanku pada orang-orang yang mempunyai porsi masing-masing dalam hidup dan hatiku.

Lebaran in Jogjaa... (7)

Melongok ke kamar, Ani tak di tempat. "Ia pamit pergi ke depan tadi!" ujar ibu Butet.
Aku menelepon Ani. "Kamu dimana?"
"Nggak tau ini dimana? Habis kalian nggak dateng-dateng, jadi aku keluar cari rokok ama pulsa. Tadi aku nurutin jalan aja sampai ke jalan besar dan aku nggak tau jalan pulang..." Ani merengek minta jemput. Perempuan satu itu memang selalu berulah dan memang kerap bikin repot! Tak berapa lama batang hidungnya nongol sambil nyengir. Semprul!

Agak siangan aku dan Butet ke Malioboro, membelikan pesanan orang rumah yang makin bejibun aja permintaannya. Kami naik motor. Jarang sekali kami ada waktu berdua, kecuali ke seperti tadi ke pasar. Di tengah jalan Kupu-Kupu Kecil menelepon, hanya untuk bilang: "Jangan macem-macem lho ya!"

Usai berbelanja oleh-oleh, Butet membawaku mencicipi batagor dan sup buah di salah satu belokan daerah UGM. "Kata temenku enak!" Begitu promosi Butet. Cukup banyak waktu untuk kami bicara tentang semuanya. Berbicara dari hati ke hati. Meski tanpa solusi. Ani menelepon.
"Kalian lama amat sih, kapan pulangnya? Itu dua keponakan kakak udah dateng dari Salatiga..." Ani kasi info. "Buruan pulang ya, aku sendirian nih!" rajuk Ani.

Hampir Maghrib kami tiba. Dua keponakan Butet langsung menyambut Budhe-nya dengan pelukan erat. Aku masuk kamar, tak ingin mengganggu acara kangen-kangenan tante dan keponakannya itu.

Lupa apa penyebabnya, tiba-tiba acara makan malam bersama kami bertiga berakhir dingin. Hatiku sedang tak enak, pada keduanya. Sehabis makan, aku segera meninggalkan meja. Butet kemudian menyusul.
"Tolong balik ke meja makan!" tukasnya padaku. Aku mengekor.
"Ada apa?" tanyaku bernada sengak.

"Nggak ada apa-apa. Kalo kamu mau di kamar, ya nggak pa-pa!" sahut Butet nggak kalah sengak. Aku buru-buru angkat kaki.

Selebihnya aku diam di kamar. Juga tak banyak bicara dengan Ani. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang tak enak saja.
"Alvi sudah tidur ya..." Aku mendengar seruan Butet, tapi tak beringsut dari posisiku yang menghadap tembok. Entahlah, males banget mau noleh! Butet berlalu. Kurang lebih tiga jam kemudian, entah darimana, ia muncul sudah dengan pakaian tinju, eh salah, tidurnya.

Menepi di dinding pucat pasi. Tepis tangan-tangan yang hinggap. Hingar bingar lagu cinta. Buatku sontak naik darah. Tak bisa pejam mata. Sudah itu hening. Tenggelam bersama ocehan nyamuk. Derap kaki keluar. Bantingan pintu ditemani dahak menahun. Entah berapa lama bercengkrama dengan makhluk penghisap darah. Ia masuk. Dalam prasangka. Akan hal yang hanya ada dalam benaknya. Terlelap bersama praduga.

Dinding menyempit. Tak ada sekat. Hanya rongga bernyawa. Berirama. Dibalik sponge tak bercelah. Karang es mencair. Meluap. Membebaskan akhir tak berujung. Fajar telah mengintip. Dalam senyumku.

ITS TIME 2 SAY GOODBYE!

Alarm hapeku berdering tepat pukul 4 dini hari. Aku sebenarnya telah terbangun sejak tadi. Tapi ketika kutengok yang lain masih pada ngorok dan diluar masih sunyi senyap alias tak ada tanda-tanda aktivitas mudik seperti yang dijadwalkan adik Butet yang ikut pula rombongan ke Surabaya, yaitu jam setengah lima semua sudah harus siap, aku kembali rebahan dan sedikit banyak terbawa kantukku yang belum tertuntaskan.

Barulah pukul setengah lima tepat kudengar suara gaduh diluar. Tepatnya suara adik perempuan Butet yang membangunkan kami semua.
"Ayo, cepetan, sudah jam berapa ini!" omelnya. "Kemarin kan sudah dibilangin keretanya jam enam, jadi setengah lima semua harus siap berangkat, lha ini kok nggak ada yang bangun satupun!"
"Tadi jam empat udah bangun, berhubung masih sepi aku tidur lagi!" kilahku. "Tapi kata temanku, keretanya berangkat jam delapan kok?" Aku dikasi info oleh Rie yang terbiasa memakai jasa transportasi tersebut.

Sembari mengecek jadwal keberangkatan, kami bersiap. Masuk ke kamar mandi, air di bak tersisa sedikit lagi. Cukup buat cuci muka saja.

Butuh waktu tak berapa lama aku sudah selesai berkemas. Tak seperti Ani yang masih tampak tenang-tenang saja. Walhasil, ia orang paling bontot siap sementara yang lain telah menunggu.

TO BE CONTINUED...

Saturday, October 11, 2008

Lebaran in Jogjaa... (6)

Aku kemudian bergabung dengan yang lain di ALKID. Keroyokan di warung tenda. Tak lama dua teman CH datang. Satu butchie 17 tahunan, satunya lagi laki-laki, sahabatnya. Seru juga ngeliat tingkah butchie belasan tahun ini. Apalagi ternyata Ani cocok banget bercanda dengannya. Upps... Hampir saja terlewat, kuperhatikan wajah perempuan atletis di sebelahku ini sedari tadi lesu. Ia kemudian mengajakku ngobrol sambil menikmati langit penuh kembang api. Bahkan sampai rumah pun, tak ada gairah di wajah ala butchie nya itu. Kenapa gerangan dia?
"Temenmu itu kenapa Ani?" tanyaku ketika tiba di kamar. "Wajahnya kok sayu banget kelihatannya?"
"Nggak tau! Sejak kamu sama bojomu pergi tadi, ia mulai tak banyak bicara!"
Alisku mengernyit. "Maksudnya?" batinku. Benakku mulai mengembara. Sejak di warung tenda tadi sikap dan raut mukanya memang terkesan "aneh". Dibilang mellow iya, romantis juga nggak jelas, marah tapi karna apa, ngebingungin deh sama kayak hatinya yang unpredict! Aku juga nggak mau terlalu mikirin. Bagiku ia tetap saja unpredict, meski tatapan dan perlakuannya padaku boleh dikategorikan "istimewa" dibanding ke Ani. Aku hanya tak ingin jatuh ke lubang yang sama dua kali. Percaya pada tatapan, namun hati belumlah pasti.

Perempuan itu masuk kamar tampak habis mandi. Wangi sekali.
"Kak, wangi badan kakak akan bikin aku cepet tidur nih..." ujar Ani yang disambut senyuman perempuan yang malam ini tampak "gagah" mengenakan celana basket selutut dan singlet coklat. Ah, wajah itu... Tatapan itu... Tak terdefinisikan!

Silent Mode On
Hening
Tak berbunyi
Mulut mengatup rapat
Hanya suara-suara tak tentu
Nyanyian tokek
Tarian nyamuk
Hari berganti...

THE LAST DAY IN JOGJAA... I Thought...

Sejak kemarin aku dan Ani telah membahas akan pulang naik apa. Luput dari rencana semula yang tadinya aku akan pulang belakangan, tiba-tiba aku mengubah pulang bareng Ani. Tetap pada perdebatan yang sama. Soal transportasi. Aku kereta, dia bis. Akhirnya kami menemukan kesepakatan, naik kereta sore.

Namun rencana berubah lagi ketika ibu Butet memberi tahu tentang kepulangan tiga cucunya ke Surabaya besok pagi. Beliau menyuruh kami bareng mereka. Ani setuju. Butet girang. Wajah sendu itu mengguratkan binar keceriaan kembali.

Pagi-pagi ketika baru bangun tidur, ia tergopoh-gopoh datang menyodoriku sepiring kecil mie dan sebaris senyuman.
Dan cuma sepiring. Padahal dalam kamar itu ada dua orang. Aku dan Ani yang duduk dibawah menghisap batang nikotin serta segelas kopi menyanding.
"Apalagi ini, kemarin SilverQueen sekarang mie..." batinku agak tak enak juga pada Ani, meski Ani tak berkomentar sedikit pun.

Kukira ia mau menepati janjinya membuatkanku omelet seperti yang ia katakan kemarin. Ternyata mie untuk sarapan sekeluarga. Dan ia menungguiku.
"Makan sayurnya!" titahnya ketika melihat aku meminggirkan sayuran hijau yang membaur dengan mie. Ia tau betul aku nggak doyan sayur-sayuran. Aku nyengir sembari melahap habis mie hingga tak tersisa.
"Mau ikut?" tawarnya.
"Kemana?"
"Pasar!"
Aku mengangguk. Ini kedua kalinya aku dan dia ke pasar. Kali ini pasar yang berbeda.
"Dua butchie ke pasar!" kelakar Butet. Lucunya, ada seorang penjual berusia paruh baya yang memanggilnya Mas. Aku terkekeh. Dan lucunya lagi, para penjual di pasar itu memanggil Mbak padaku.
"Mereka kalo manggil Mbak ngeliat ke kamu..." ledek Butet. Hohoho maklum sih rambutku sudah gondrong. Sebelum kemari aku sudah punya planning potong rambut dahulu, berhubung rencananya dimajukan, keduluan nyampe Jogjanya daripada potong rambutnya.

"Kenapa wajahmu dari kemarin ditekuk?" Aku memberanikan diri bertanya setelah tak lagi ada mendung menggelanyuti si pemilik wajah serius itu.
"Mau tau?" Ia menatapku. Aku tidak tau kenapa, tapi ia suka sekali memandangiku hingga lama. Dan selalu aku yang kalah, memilih membuang muka ke arah lain. "Aku sebenarnya nggak rela kamu pergi!" Ia mengucapkan dengan jelas, cukup mampu membuatku terhenyak.
"Kayak nggak akan ketemu lagi aja!" ujarku sembari menepuk pundaknya, coba mencairkan suasana.
"Itu yang aku takutkan!" Mimik perempuan itu terlampau serius, aku sedikit bergidik bercampur bingung.
"Apa sebenarnya isi pikiran dan hati perempuan ini?" selidikku coba tuk mencerna arti tatapan nan meneduhkan perempuan di hadapanku.

Dering ponselnya membuyarkan obrolan kami. Dari perempuan yang dikenalkan Ani padanya, tapi tak dikenalkan Ani padaku. Entah karena apa, akhir-akhir ini Ani sedang giat-giatnya mengenalkan hampir seluruh temannya pada Butet, namun anehnya tak pernah barang sekalipun hal serupa dilakukannya padaku.

Butet kemudian membawaku berkeliling. Ia menunjukkan rumah laki-laki cinta monyetnya ketika SMP dulu. Kebetulan laki-laki itu sedang mengadakan pesta pertunangan putri sulungnya. Tak terduga. Bahkan mata istri laki-laki itu berkaca-kaca ketika menyalami Butet. Cerita masa lalu yang agak ribet.

Perjalanan dilanjut ke rumah nenek Butet. Sayangnya beliau sedang tidur. Setelah bercakap sebentar dengan laki-laki saudara Butet, kami pulang.

TO BE CONTINUED...

Friday, October 10, 2008

Lebaran in Jogjaa... (5)

Satu lagi pertemuan dengan perempuan yang selama ini hanya dihubungkan dengan handphone. CH.

Mobil Butet berhenti tak jauh dari gang tempat perempuan yang kami tunggu muncul. Ketika perempuan kurus dengan rambut dikuncir berdiri depan gang, kami nyamperin. Fotonya memang ada di FS ku. Tapi ternyata aslinya menurutku nggak sama dengan fotonya hehehe.
"Gimana, jadi jemput bojomu?" tanya CH padaku.
"Iya, susul bojomu ya?" timpal Ani.
CH, begitu juga Ani, memang selalu menyebut Kupu-Kupu Kecilku dengan sebutan BOJO.
Aku menggeleng dan balik menunjuk Butet yang pegang kemudi.
"Terserah sih, tapi aku nggak tau jalan!" sahut perempuan yang tampak cool dengan kaus sporty warna putih. Kaus yang akhirnya dipilihnya setelah padanan kaus biru dengan jeans kegombrongan mendapat komplain habis-habisan dari Ani sampai pede nya ancur lebur. Tak puas dengan penilaian Ani, ia masih bertanya pada dua keponakan laki-lakinya. Ketika mendapat jawaban serupa Ani, ia mengganti total pakaian yang dikenakannya. T-Shirt putih garis-garis dipadu celana bahan berwarna coklat gelap.

Berbeda dengan Ani, aku tipe orang yang tak pernah mau ikut campur dengan apa yang dikenakan orang lain karena aku sendiri juga tak mau orang lain komplain ini itu dengan apa yang kukenakan. Jujur, bagiku ia terlihat seperti butchie keren sehabis keramas. Seperti kemarin.
"Keren ya.. Coba lihat kalo begini.." Ia mengeluarkan dompet merah, mengambil bedak dan lipstik. Cukup membuatku melongo, meski awalnya sudah kukatakan "Jangan". "Whatss!?!" pekikku dalam hati. Perempuan yang gaya sehari-harinya bagai pinang dibelah dua denganku ini kemudian memoles wajahnya dengan bedak lalu lipstik merah. OMG!!

Kupu-Kupu Kecilku memandu kami ke rumahnya. CH meresapi tiap informasi dengan seksama karena hanya ia yang tau jalan. Dalam perjalanan ini aku kembali mewejangkan Butet tentang Maha Besar ALLAH yang menciptakan kuping dengan begitu sempurna, tapi tetap saja baginya hanya angin lalu.

Kupu-Kupu Kecilku telah menunggu. Mobil berputar arah, berhenti tepat di depan perempuan 29 tahun yang sedang mengayun-ayunkan kaki mirip bocah sepuluh tahunan saja. Di dalam mobil, Ani langsung ngakak melihat tingkahnya.
"Gitu bilangnya mau coba jadi buci!" kekeh Ani. "Tingkahnya saja masih kayak anak kecil!" Ani tak berhenti tertawa.

Aku bergerak turun. Kupu-Kupu Kecil mengajakku ke dalam untuk memintakan ijin keluar kepada suami dan mertuanya. Aku mewakilkannya pada Ani. Bukannya apa, aku nggak pandai basa-basi, kuatir kekikukanku nanti malah bikin runyam.

Sudah sekian menit Ani masuk dan tak kunjung keluar. Datang-datang keduanya tak membawa si kecil seperti rencana semula.
"Mana anakmu, katanya diajak?" tanyaku.
"Anaknya nggak enak badan, mertuanya ngelarang." sahut Ani. "Alasan klise tapi tepat!"
"Al, duduk di belakang, biar CH di depan!" perintah Butet padaku.
"Kenapa emang?" tanyaku tak mengerti.
"Pokoknya pindah saja ke belakang!" desak Butet tak mau tau.

Secara tak sengaja ekor mataku menangkap tatapan Kupu-Kupu Kecil yang menyiratkan kesinisan. Aku beranjak di jok paling belakang. Sendirian. Ani dan Kupu-Kupu Kecil duduk di tengah. Sedang CH dan Butet telah akrab layaknya lama kenal.
"Sekarang kita kemana?" tanya Butet. "Sebelum pergi, harus tau tujuannya kemana?" Mobil melaju.

Aku yang duduk paling belakang, jadi pemantau. Butet sudah sibuk menulari CH yang duduk di sebelahnya kebiasaan bertelepon dengan mengenalkan si penelepon pada CH yang nggak kusangka orangnya geblek juga. Di jok tengah, Ani sedang menginterview Kupu-Kupu Kecil tentang kondisi rumah tangganya. Dan mendadak, airmata Kupu-Kupu Kecil mengalir deras.
"Aku sudah nggak kuat, mbak!" curhatnya disela isakan. Airmata tak kunjung berhenti, malah makin membanjir.
Ani memegang tangan Kupu-Kupu Kecil, menegarkan. "Menangislah, kalau itu bisa membuatmu lega, keluarkan semuanya..." kata Ani penuh empati. Aku akui untuk soal seperti ini Ani jagonya, sedang aku paling tak bisa melihat perempuan menangis. Yang kulakukan hanya mengelus punggungnya, menguatkan, tanpa sepatah pun terlontar dari bibirku, membiarkannya melepas tangis batinnya. Jika bukan karena Ani, Kupu-Kupu Kecil takkan meleburkan beban rumah tangganya, karena di depanku ia hanya memberiku tawa tanpa pernah membawaku masuk dalam dukanya.

Mendengar gaduh di belakang, CH dan Butet sontak menoleh. Ekspresi Butet menyiratkan Kupu-Kupu Kecil menangis karenaku, sisa masalah kemarin. Langsung kutepis prasangka di wajahnya.
"Ia menangis karna masalah rumah tangganya, bukan karna aku, jadi jangan salah paham!"
"Nggak ikut-ikut deh!"
Keduanya membalikkan muka, asyik berceloteh kembali.

Malas ke Mall, atas usulan CH, kami mampir di Warung Goeboek yang katanya tempat nongkrongnya anak-anak belok. Begitu akan ke tempat tujuan selanjutnya, yaitu Alun-Alun Kidul, karena GF CH telah menunggu disana, Kupu-Kupu Kecil tak bisa ikut merasa telah kesorean. Sedang untuk mengantarnya kembali ke rumah juga tak mungkin.

Ia pulang naik taksi bersamaku. Takut jika pulang sendirian. Sikapnya berbeda ketika berdua. Tak sesinis ketika beramai-ramai tadi dan kemarin. Pancaran mata yang tak pernah sanggup ia bohongi.

TO BE CONTINUED...

Lebaran in Jogjaa... (4)

Dan ternyata endingnya pun tak jauh berbeda dengan Ani. Hanya aku berusaha mengalihkan kekesalanku -karena terus menerus dipojokkan atas kesalahan yang akarnya pada dirinya sendiri- dengan candaan ditengah wajah -yang dipaksakan- serius milik perempuan itu. Namun ketika ia pergi, kejengkelan itu tak terbendung. Aku memilih membisu sepanjang perjalanan pulang. Tak menghiraukan gurauan Ani atau ajakan Butet untuk bercerita masalahku. Aku sendiri justru bingung, aku sebenarnya marah pada siapa?

Moodku kembali pulih ketika Ani sukses membuatku tak tahan aroma kentutnya sementara ia terkekeh hebat sembari memegangi perutnya yang kaku, entah karena memang kebelet atau melihat ekspresiku akan bau tak sedap itu. Ani memang paling pintar membangun suasana. Sama ketika ia sedang tak enak hati, aku lah yang bisa membuatnya tertawa lagi.
"Sejelek apapun saudara, pasti lebih dicari daripada teman manapun!" Begitu ungkapnya.

Perempuan si empunya rumah masuk, masih dengan pakaian tidur yang sama yang dikenakannya semalam.

Tangan-tangan yang hinggap
Dalam dering telepon
Mulut-mulut berbicara
Ada irama dibalik kata
Tertata seperti nada
Kadang pelan kadang menghentak
Meski rancu oleh suara-suara tak tentu
Namun sanggup layu Dalam buaian wangi surga

Pagi tiba...

HARI KEDUA DI JOGJA

Hari ini nyaris berjalan cepat tanpa aktivitas. Dari mulai bangun kesiangan. Lalu praktis didominasi ocehan Ani dan Butet dengan benda elektronik bernama handphone itu.
"Untung saja pendengaran kalian itu buatan Yang Maha Kuasa, coba kalo Made in China ato Amrik, pasti sudah berapa kali beli kuping baru di Glodok!" sinisku. Bukan karena iri. Kalau aku mau aku bisa saja seperti mereka. Tapi hal itu cukup terjadi di masa lalu dan aku tak ingin mengulangnya.

Akhirnya aku iseng menelepon CH. Ketika kemari Februari kemarin, aku tidak sempat bertemu dengannya. Mungkin hari ini kami berjodoh bertemu.

Disinilah ada kelucuan terjadi. Benar-benar korban hape! Sewaktu aku menelepon CH, belum lama berbincang Butet tiba-tiba masuk dan menyodoriku hapenya. Aku nggak ngeh!
"Sakura mau ngomong sama kamu!" jelasnya. Aku memberi kode bahwa aku juga sedang bertelepon.
"Siapa?" tanya Butet ingin tahu. Kembali aku menggerakkan tanganku seolah berkata, "Kau tidak mengenalnya," Namun mendadak dengan gerakan cepat ia mengambil alih hapeku dan menyodorkan hapenya padaku.
"Nggak sopan!" batinku. Aku menganggap ia sudah lancang karena mencomot hapeku tanpa ijin, apalagi ia tak kenal temanku itu. Akhirnya aku ngobrol dengan Sakura.
"Apa kabar, Vi? Kok jarang angkat telponku, masih ngambek?" ledeknya. "Gimana blogmu, masih diisi?"
"Iya, masih. Tapi berhubung lebaran jadi mandeg dulu,"
"Sama kalo gitu,"
Belum selesai ngobrol, Ani menyodoriku hapenya. Kupu-Kupu Kecilku di ujung telepon.
"Aku lagi nelpon!" sergahku.
"Dia pengen ngomong ama kamu!"
Yah, jadinya masing-masing dari kami pegang hape bukan punya sendiri. Hapeku disaut Butet yang langsung berakrab ria dengan CH. Ani ngobrol sama Sakura pake hape Butet dan aku memakai hape Ani. Bener-bener deh benda elektronik bernama handphone ini emang bikin yang nggak mungkin jadi mungkin!

Tak berapa lama semuanya kembali normal. Hape balik ke tangan pemiliknya. Jadwal hari ini adalah bersua dengan CH lalu menjemput Kupu-Kupu Kecilku di rumah mertuanya. Aku sebenarnya agak nggak enak dan serba salah juga, mengingat tempat yang dituju itu ibarat dari ujung ke ujung, alias jauh bo'! Apalagi melihat ekspresi muka Butet yang tak menolak juga tak mengiyakan. Posisi yang sulit!

Merasa ada janji ketemuan, aku segera mandi. Namun tidak dengan kedua korban hape itu. Mereka masih saja sibuk ngoceh entah dengan siapa.
"Jadi pergi nggak sih sebenernya?" tanyaku geregetan melihat keleletan mereka. "Kalo emang jadi, Ani buruan mandi dan Butet buruan nyuci!" Tetap saja keduanya tak beranjak. Menjengkelkan!

Sembari menunggu Ani mandi, aku menemani Butet nyuci. Hapenya bunyi bergiliran. Tak berapa lama Ani datang. Ia bercakap dengan ibu Butet. Aku ikutan nimbrung sembari membenahi settingan ponsel Ani.

Baru jam setengah dua belas, semuanya sudah stand by. Halangan muncul. Butet lupa naruh kunci mobil setelah memindahkannya semalam. Jadinya masih muter lagi nyari kunci yang ternyata nyempil di kamar belakang.

TO BE CONTINUED...

Thursday, October 9, 2008

Lebaran in Jogjaa... (3)

Mobil berhenti di rumah bertembok rendah dengan sebuah pohon mangga besar. Halaman terlihat gelap, namun lampu teras menyala. Ada seorang perempuan berkerudung duduk bercengkrama dengan dua pemuda. Aku turun, namun menunggu Butet mensejajari langkahku. Seperti yang tadi kubilang, agak susah buatku beramah tamah.

Berbincang sebentar dengan si empunya rumah, kami memutuskan untuk pergi tidur karena besok pagi-pagi masih harus menjemput Ani di terminal. Namun entah kenapa mataku begitu sulit terpejam. Aku iseng menelepon Ani beberapa kali, juga yang lain. Perempuan yang sedari tadi tampak serius ketika awal berjumpa hingga dibalik kemudi memasuki kamar dengan mengenakan celana pendek jauh diatas dengkul dan singlet hijau. Makin menajamkan penglihatanku namun makin merancukan argumenku. Lagi-lagi soal label!!
"Gimana pendapatmu setelah bertemu denganku?" tanyamu dalam gelap. "Apakah benar yang dikatakan kedua orang yang pernah bertemu denganku dulu?" Bahkan kau sendiri pun bertanya tentang label. Sesuatu yang masih kusut di benakku.
"Jujur, aku sendiri bingung jika ditanya soal label karena hanya kamu yang bisa merasakannya, kan?"
"Aku hanya ingin tau penilaianmu saja!"
Perempuan berambut cepak itu menanti jawabku.
"Dari ujung rambut sampai leher kau butchie, tapi dada ke bawah... For me its still unpredict!"
"Ow begitu ya..."
Perempuan itu tersenyum dan lamaa sekali menatapku.
"Dont staring me like that!" sergahku karena aku memang tak suka dipandangi, apalagi dengan tatapan tak terdefinisikan.
Mataku ternyata benar-benar tak berkompromi. Mencoba tengkurap agar cepat tertidur juga tak manjur. Ditambah telepon-telepon Ani tentang kerisauannya dalam perjalanan. Juga berisiknya hape perempuan di sebelahku yang silih berganti berdering. Sebuah kebiasaan yang teramat sangat kubenci darinya sejak awal aku berproses dengannya hingga kini. Tak enak tidur dan terbangun berkali-kali. Walhasil paginya kepalaku pusing.

Ani sudah menunggu di terminal sementara perempuan itu masih asyik bertelepon. Dan sama ketika di stasiun semalam, tak gampang mencari sosok yang dimaksud. Maklum juga sih karena tak ada yang tau fisik atau wajah Ani, bahkan aku yang mengenalnya setahun lebih pun tak pernah dikiriminya foto.
"Tunggu saja di masjid dekat parkiran..." perintah Butet. Ia memarkir mobil agak jauh lalu kami berdua jalan kaki ke tempat yang dimaksud. Dari jarak seratus meteran Ani sudah melambaikan tangan. Baginya mudah menemukan kami. Ia sudah pernah melihat foto kami, lagian tak sulit menemukan dua perempuan bergaya laki-laki diantara kerumunan.

Akhirnya, ketemu juga dengan saudaraku satu ini. Padahal jarak Sumenep dengan kotaku jauh lebih dekat daripada Jogja. Tapi Jogja lah yang mempertemukan kami.

HARI PERTAMA DI JOGJA

Seakan urat nadi lelah kami telah terputus, setelah mandi dan beristirahat sebentar, kami bertiga menuju Galeria. Butet beralasan akan membeli sepatu, namun dibalik itu ia tengah merencanakan sesuatu dengan seseorang.

Memberi Ani kejutan maksudnya, tapi Ani sudah terlanjur mencium aroma persekongkolan tak sedap yang dirasakannya sebagai ketidakenakan mengingat Butet adalah temannya, sedangkan orang yang diajak Butet kongkalingkong adalah orang baru yang dikenal Butet dan orang lama dalam hidup Ani.

Sedang aku... Sejak tiba kemarin aku sudah membuat janji ketemuan dengan perempuan yang sekitar 8 bulan lalu kutemui di kota ini. Hanya bedanya status kami kini agak sedikit ribet kubilang. Ia sudah sampai duluan. Menunggu tak jauh dari pintu masuk. Seperti biasa ia tampak sedikit canggung bersikap. Apalagi aku datang bareng perempuan yang teramat sangat dicemburuinya. Kami berjabat tangan dan ia langsung tenggelam bersama Ani, acuh padaku malah menyuruhku menemani Butet saja.

Di food court lantai atas. Lima lesbian dengan benak masing-masing. Aku, Butet, Kupu-Kupu Kecilku, Ani dan Brekele-nya. Entah apa yang dirasakan Ani setelah sekian lama berteman baru sekali ini bertemu Brekele. Mengingat -sepengetahuanku dari cerita Ani- mereka telah "dekat". Sedang Brekelenya sendiri bagiku tampak sok cool dengan gaya ala butchienya. Ah, aku juga tak ingin banyak mengurusi keduanya.

Pandanganku secara bergantian beralih dari Butet kemudian Kupu-Kupu Kecilku. Butet tampak asyik menonton siaran bola di tivi. Entah apa yang ada di benaknya. Benar-benar nonton tivi atau hanya peralihan. Ia lebih banyak diam. Sedang Kupu-Kupu Kecilku lebih banyak guyon dengan Ani seperti sengaja mengacuhkan, namun tatapan cemburunya jelas terbaca ketika aku dan Butet terlibat obrolan. Aku sengaja pindah duduk dekat dengannya, makin menambah kecanggungannya. Jujur saja, penampilannya hari ini sangat pas. Dalam artian, riasan serta pakaiannya terkesan matching. (Hohoho awas jangan ada yang kegeeran lho ya!) Namun endingnya tak sebaik awal. Ani ama Brekele yang awalnya canggung, tiba-tiba memanas dalam kamuflase kata-kata. Walhasil ketika keduanya memisahkan diri dari barisan, berakhir dengan kepergian Brekele tanpa pamit, entah apa yang mereka perbincangkan sebelumnya.

Sedangkan Kupu-Kupu Kecilku, ketika melihat Ani pergi berdua, ia menarikku ke bawah.
"Aku mau ngomong sesuatu empat mata!" tukasnya. Mataku sejenak beralih pada Butet yang seperti biasa tengah asyik bertelepon entah dengan siapa, lalu aku mengekor langkah perempuan yang menggenapi hari-hariku setahun ini menuju eskalator turun.

TO BE CONTINUED...