Friday, August 23, 2013
Framming The Mountain
Motor yang kukendarai perlahan melambat. Memang sengaja kukurangi. Sejenak memandang view di depanku. Aku berada di selangkangan dua gunung. Merapi dan Merbabu. Jalan yang kulalui adalah jalan setapak berliku yang hanya dilalui segelintir orang, tetapi katanya tak berbahaya. Jika pagi sedang bersahabat, aku akan menemukan dua gunung tsb tampak menggoda untuk diabadikan. Tetapi dari beberapa kali aku menyusuri jalan setapak ini aku hanya pernah sekali mengabadikan alam yang tampak kehijauan di depanku. Tampak dekat, padahal ia jauh.
Dan view pagi ini membuatku tersenyum. Memang, langit juga sedang merekahkan warna birunya tanpa sehelai awan. Pun gunung yang tampak hijau telanjang yang memenuhi penglihatanku. Namun yang membuatku melempar secarik senyum adalah bukan karena kesempurnaan ciptaanNya. Aku membayangkan rona sumringah perempuan itu jika ia berada bersamaku sekarang, meletakkan dataran tinggi yang lambat-lambat kunikmati ini dalam bingkai lensa yang kemudian berpindah ke bentuk dua dimensi.
Dan aku sungguh yakin ia akan lama membingkai view ini. Puncak gunung. Lekukannya. Asap lirih dari bagian atas yang meniupkannya ke langit. Jenjang-jenjang kehijauan yang tampak seperti anak-anak tangga. Aku dapat membayangkan hanya bunyi jepretan yang akan kudengar dari lisan kameranya.
Framming the mountain, I wish I could bring you here someday…
Wednesday, August 21, 2013
Gara-Gara Minyak Angin
Aku sebenarnya bukan tipe perhatian ke orang, malah cenderung kurang tanggap. Tapi soal minyak angin ini memang benar-benar kebetulan…
Aku menemukan sebuah artikel tentang larangan penggunaan minyak angin untuk perempuan hamil. Iseng saja sih men-share kannya pada perempuan itu. Tetapi kemudian ia tanggapi dan kebetulan juga si minyak angin ini menjadi teman sehati perempuan ini, maklum kehamilan awal bulan. Lalu perbincangan berlanjut. Aku yang tadinya cuma iseng, jadi deh searching beneran…
Owalah, hal-hal sederhana memulai obrolan lama, dan gak sengaja keisengan kadang menjadi hal penting bagi orang lain…
Monday, August 19, 2013
2 Kubu: Give Up!
Aku membuka-buka kembali file cerpen berjudul Pulang. Cerpen yang kuadaptasi dari imajinasi dan pengembangan ceritaku dengan sepupu perempuan yang hendak kuceritakan ini.
Aku sudah lumayan lama putus komunikasi dengan perempuan ini. Kayaknya ganti nomer. Makanya agak kaget juga waktu ia beserta keluarganya nongol di rumah malem-malem dan berencana ke rumah adik ibuku di pasuruan yang punya cerita cinta dengan si perempuan. Jadi antar sepupu saling suka dan ditentang oleh bapak si cewek tentu saja. Waktu itu aku masih akrab dengannya. Dan jadilah malam itu aku, ibu dan adik ibuku serta keluarga perempuan itu ke Pasuruan.
Dan ane jelas paling gaol, yang laen pada jilbaban gue pake celana pendek dan tas gunung. Rame banget tuh rumah dengan golden age kumpul bareng, maklum jugak jarang banget bisa kumpul, mana pake acara kesasar karena burem jalanan si penunjuk jalan gak apal. Awalnya aku dan mereka diem-dieman kayak baru kenal, eh waktu tuh golden age cekikikan barulah kita ikut larut. Nih cewek gak tau kenapa hobi banget memotretku, plus pulangnya ia menggandeng tanganku yang segera kutepis dengan pura-pura ngegandeng emak gue.
Esok malamnya keluarga perempuan itu ke rumah lagi. Ngobrol ngelantur yang terpisah. Ibunya ngobrol ama ibuku, ia dan ayahnya serta adik2nya ngobrol di rumah adik ibuku. Tau modus apa yang dipakainya malam ini, modus tidur yang gak mau dibangunin. Aku ketawa dalam hati, sengaja ya biar nginep, dasar sulung yang badung!
Hari Sabtu ada pertemuan besar di rumahnya, semua diminta hadir. Aku tak berangkat. Paling males ama acara orang-orang tua sedang kita kayak kambing congek nungguin. Huh, mending di rumah aja!
Esok dia pulang, sedangkan aku masih Selasa. Entah dapat hembusan ide darimana aku mengcancel kereta dan memilih naek mobil pulang bareng keluarga perempuan itu. Keputusan yang salah dan tak akan pernah kuulangi. Apes yang berulang, begitulah aku menggambarkan perjalanan pulangku. Dimulai dari bocor ban jam 12 malem sampe jam 2 pagi kedinginan di jalan. Kukira nih rombongan mau cepat-cepat sampe Jakarta, eh ternyata sopirnya kreatif ngampirin kita ke rumah ortunya di Sragen, kalo di kotanya sih gak papa, lha ini di pelosok, dan dikasi makan mie instan. Saya positif masuk angin, diare dan makan yang tidak teratur. Penderitaan belum berakhir saudara2!
Tapi ada cerita aku dan perempuan itu… Aku baru nyadar ortunya, terutama bapaknya tidak suka padaku. Bukan saja secara wajah tapi juga perbuatan. Yang jelas ia tak suka anak sulungnya dekat-dekat aku meski anaknya ngedeketin mulu. Aku dan perempuan itu tak diberi celah ngobrol berdua, harus ada orang ketiga. Padahal biasanya orang ketiga itu setan, bukan? Kami baru bisa ngobrol sebentar usai dia subuhan dan obrolan gak penting sepanjang berjalan. Ia yang duduk pas di depanku harus curi-curi noleh ke belakang. Di rumah si sopir, mules kembali mendera, niatnya keluar mau nyari jamban eh tuh perempuan malah ngikut. Kami foto-foto diluar. Setengah mati ngindar biar gak berduaan, itulah yang kulakukan. Ayah perempuan itu benar-benar tak suka padaku!
Well, perjalanan yang lazimnya kutempuh 9 jam jadi hampir seharian. Sore aku baru tiba di Jogja dengan sisa masuk angin dan perut kosong seharian. Menyesal sih tidak, tapi melakukan kegilaan ini lagi hanya untuk memperpanjang waktu bersama perempuan itu, kupikir aku tak akan pernah mengulanginya lagi.
Setelahnya, kami masih melanjutkan ngobrol di whatsapp dan perempuan itu hampir selalu me-like tiap status fesbukku. Ya ya ya, sejak pulang aku mulai rajin menengok fesbuk yang isinya pencitraan, jualan dan pamer anak-anak dari teman SMA dan sodara. Dan ketika aku men-scroll fesbukku dua tahunan ini ternyata yang merespon lumayan sering adalah perempuan itu. Catet!
Obrolan di whatsapp lumayan lancar, awalnya ngobrol enak dan datar tapi tidak ada sesuatu yang selalu flat. Riak kecil yang berwujud perdebatan, tentang ideologi hingga hal-hal sepele. Masih menemukan titik kompromi, tapi juga tak lama. Bagaimana pun sesuatu yang sangat prinsip akan menonjol perlahan, menanti untuk dimenangkan. Bukan ego, tapi fundamental. Fundamental bagimu adalah hal-hal berbau agama, sedangkan fundamentalku adalah kemanusiaan. Ia memahamkan tekstual dalam kedinamisan hidup sedangkan aku kontekstual. Bukan tak mempercayai yang tekstual. Ibarat buku panduan, akan menjadi acuan tetapi juga melihat hal-hal diluar itu untuk diadaptasikan. Aku mengadopsi nilai-nilai yang kuadopsi sendiri, bukan tentang memenangkan ego. Hanya menciptakan dan menjalani apa yang menurutku nyaman tanpa melanggar hak orang lain. Awalnya ia bersetuju, tetapi prakteknya tentu tak seperti ucapannya.
Ia mulai mencekokiku dengan dalil-dalil yang ia dapat dari gugel. Tuhannya juga gugel ternyata! Dan aku mulai gerah, bukan karena hawa panas dari serangan berbau agamis. Tetapi nada kemunafikan yang menurutku ia sendiri pun tak tau kenapa harus percaya, yang penting menurut tekstual begitu adanya maka ia melakoni. Menelaah tekstual tanpa filter kadar kepahaman akan isi, hanya mencuplik-cuplik lalu berteriak dan meneriaki orang lain pendosa karena tidak sepaham dengannya yang sudah mengaplikasikan si tekstual tadi, itu yang kualami.
Ia meneriakiku kafir karena memberi selamat ultah. Satu jam whatsapp hanya untuk debat dan men-copy-kan dari gugle tentang filosofi larangan kasi selamat ultah. Belum lagi hal lain, dan bagiku lama-lama ini tak bisa dibiarkan. Maka, bagimu pahammu dan bagiku pahamku. Awalnya aku keukeuh ingin meracuni pemahamannya tetapi kemudian aku menyerah. Buang-buang tenaga dan waktu untuk debat dengan orang yang hidupnya merasa paling benar tapi aktivitas pergaulannya hanya sebatas rumah-tempat kerja-rumah. Untuk lingkup sosial Jakarta, maaf nona kupikir anda bukan partner debat sepadan kalau kemanusiaan anda tak pernah anda tumbuhkan dengan melihat lingkungan sekitar!
Wednesday, August 14, 2013
Bosenan vs Gengsian
Bosenan is my middle name and Gengsian is her middle name. So, how’s our relationship supposed to be?
Imagine, aku dengan sifat pembosan yang teramat sangat, pembenaran kenapa aku tak bisa punya relasi dalam jangka waktu lama. Ya, gak tau apa sebabnya, bahkan di relasi yang menyenangkan dengan perempuan yang secara otak menarik dan secara seksual bikin naik itu pun masih saja aku merasakan bosan. Terlalu!
And also imagine, ini dari point of view-ku, bahwa perempuan itu teramat gengsian dengan pola yang ia terapkan bagaimana ia harus di-catch as a mangsa dan tak menunjukkan tanda-tanda memangsa. Ini juga keterlaluan, menurutku!
Maka muncullah satu lagi karakter yang menjadi first name-ku, ego! Karena terapan pola gengsian tsb, aku memasang ego di garda depan otakku. Tak jarang tak ada komunikasi yang tercipta ketika egoku meninggi. Aku jelas-jelas tak mau terus membuatnya selalu merasa paling dibutuhkan, meski kalau disapa dikit aja langsung deh crita darinya tumpah ruah. Seperti kali ini…
Sudah beberapa hari ini aku sengaja menciptakan jeda dan ia juga tak ada tanda-tanda memulai pergerakan, sama ketika aku mengenalnya pertama dulu. Ia pasang muka gak butuh, tapi disenggol dikit aja eh langsung nyerocos banyak. So, gengsian is the absolutely correct middle name for her. Aku kemudian ‘iseng’ menyapanya dan benar saja tuh perempuan ngejawabnya berparagraf-paragraf. Ini yang kadang bikin egoku capek!
I tweet about this, tentang si gengsian yang gak tau kalo si bosenan cuma nyapa iseng karena si bosenan lagi ada gebetan baru! Tapi tenang aja, pembenaranku sebagai seorang pembosan tak akan berlangsung lama, aku akan kembali pada si gengsian, tapi hati-hati juga kalau hati terpaut yang lain maka tak ada yang bisa melarang untuk berpindah hati. Rumusnya sebenarnya simple, kalau tidak ada kata saling, aku akan mudah berpaling, yang ini bukan pembenaran kok.
Jadi, mau terus Gengsian? Ati-ati Bosenan juga tak akan gengsi pindah hati!
Saturday, August 3, 2013
Too Picky
3 Agustus 2013
Adalah menjadi stempel karakter baru buat saya yang saya definisikan sendiri. Ikhwal ceritanya yaitu ketika memilih tas untuk ditenteng sebagai penampung charger, buku dan tablet kok kayak milih pacar, susah abis!
Pagi hingga matahari tepat diatas kepala aku sudah berkeliling dari satu toko di sepanjang malioboro hingga 2 mall, dan hasilnya nihil. Ada beberapa yang menarik mata, tapi tak langsung kupilih karena aku memutuskan melihat-lihat yang lain dulu mungkin ada yang lebih bagus. Begitu berulang kali. Jadi ketika sampai rumah aku pulang bawa tangan hampa. Agak gak enak ati juga sih ama kawan yang nemenin. Ya tapi mau gimana lagi, kalau cuma setengah sukak, apa ya mau dibeli? Kalau aku sih tidak!
Lalu sorenya aku kembali bergerilya, tidak dengan kawan yang sama tentunya.. Kali ini niatnya dia ke toko tas cewek yang bersebelahan dengan beberapa toko tas ransel. Dan too picky ini memang seakan telah mengental dalam filosofi memilih barang ala saya, jadi ketika si teman sudah dapat 2 tas, saya masih belum menemukan kecocokan satupun.
Saya kemudian merengek minta diantarkan ke Gramedia, meski aku pesimis karena tiap kesana aku juga menengok etalase tas dan tak pernah melihat ada yang bagus, tetapi tak ada salahnya mencoba, bukan?
Memilah dan memilih, kekuatiranku sedikit pupus ketika terpikat dengan dua tas. Entah, padahal tiap kali kemari gak pernah ada yang bagus, ini kok tiba-tiba ada yang bikin kepincut. Justru si teman ini yang mulai kuatir, jangan-jangan udah suka ama 2 tas tsb tapi ntar ujung-ujungnya ga jadi beli. Namun kekuatirannya meleset, saya akhirnya memilih diantara dua yang saya suka. Satunya, tas ala pendaki gunung yang juga lebih mirip tas kamera, sedang yang satu model klasik dengan banyak space. Pilihan saya jatuh pada yang pertama.
Jadi, saya suka pun kadang belum tentu saya memilihnya. Prosesor di kepala saya ini terlalu rumit bukan karena lemot memutuskan, tetapi sangat selektif memperhitungkan segala aspek. Satu barang saja begitu, apalagi makhluk hidup bernama pasangan jiwa. Tapi satu hal yang ingin kugarisbawahi, ketika menemukan yang click, rasanya tak perlu berpikir dua kali untuk memutuskan ia menjadi bagian hidup saya. Too picky yang picky, bukan?
Ya, memang susah jadi orang rumit, saya kadang takjub, bagaimana history microchip otak saya bisa sebegini unik. Well, too picky, I must admit that sometimes it bother me enough!
Wednesday, July 31, 2013
Kebetulan Yang Disengaja!
Aku, #MonMon, dan #Uhuy dengan sebuah hotel yang mengiriskannya..
Perempuan itu bercerita bahwa ia sedang ada agenda kantor di sebuah hotel lumayan terkenal. Kebetulannya, aku pernah menempati salah satu kamar di hotel tersebut. Hubungannya dengan MonMon, hotel itu menjadi saksi bisu ketika lututku masih terasa lemas akan 'kejadian' itu padahal dua hari telah berselang.
Ruang kamar hotel tersebut menyaksikan bagaimana aku sembunyi-sembunyi menenggelamkan suara demi tidak mengganggu teman sekamarku, meneduhkan keriuhan hati yang masih bereuforia. Ritme hati masih menyisakan detakan-detakan riang tiap suara itu melekat di telinga, mengingatkanku akan suara itu ketika malam yang membuat lututku lemas hingga menginjakkan kaki di ibukota.
Dan di hotel yang sama, entah di ruang yang mana, perempuan itu kini sedang menekuni aktivitasnya bersama teman-teman sekerja.
Dan kenapa aku menyebutnya kebetulan yang disengaja, karena memang temanya adalah kebetulan hotel besar itu menjadi irisan antara aku dan MonMon dengan aku dan perempuan itu. Yang membuatnya menjadi sengaja adalah bahwa aku memaksakannya sebagai sesuatu yang kebetulan menyatukan kami, tepatnya menyatu di otakku untuk kuhubung-hubungkan. Dua perempuan yang sukses mengisi hati yang bahkan salah satunya masih punya taji di hati.
Aku mungkin sedang rindu saja, ya merindunya!
Sunday, July 28, 2013
SURUT
Ombak pantai seberapapun elok dan menantangnya, tetap saja ada fase yang dinamakan pasang surut, begitu pula tentangperasaan... Perasaanku maksudnya...
Butuh beberapa waktu untuk kembali dari kabur usai mendengar kabar itu. Kabar yang pada awal tercetusnya membuatku menjadi seseorang yang hidup di kehidupan orang lain. Pura-pura senang, pura-pura menanyakan kabar yang sebenarnya membuatku kabur dan pura-pura bahwa aku tak terluka. Aku akhirnya lelah menghidupi kehidupan orang lain. Dan, tak tau kemana dan bagaimana cara keluarnya...
Aku memilih kompromi. Kabar itu jelas tak bisa diubah, kabur pun tak menyelesaikan masalah. Aku jelas bukan tipe manusia hobi mangkir, meski hati sudah dibuat terjungkir. Hal-hal yang kuyakini (baca: kutakutkan) akan terjadi tentang dampak kabarmu, entah kaburku atau bahkan kaburmu, pilihan yang terakhir inilah yang menguat dan mengakar di benakku. Bahwa akan ada perubahan perilaku, ada sesuatu yang tak akan sama seperti dulu. Dan pastinya kekuatiran itu begitu membuat jaring bayang-bayang semu yang mencecoki otakku dengan sesuatu bernama kehilangan akan sesuatu yang sejak awal memang tak akan kumiliki.
Namun, di lain sisi, aku juga mengenal diriku. Ketika kekuatiran itu mencuat, aku juga membangun benteng yang kusebut sebagai realita. Dan seperti yang kubilang di awal bahwa aku begitu mengenal diriku, ketika kekuatiran itu menjadi tak bertaji, maka begitulah aku mengenal diriku luar dalam.
Kadang aku merasa aku seperti ombak, akan mengalami pasang dan surut bahkan dalam ritme yang tak terduga. Itulah yang menjadi efek kabar bikin kabur tentang perempuan itu. Perasaanku yang kemudian menyurut dampak kian berseminya realita. Penyebabnya tentu bukan karena aku kalah atau ia yang menjengkalkan galah. Tak ada yang berbeda dari kami. Ia masih perempuan gengsian yang menungguku mengulurkan kata lalu ia akan mengalirkan cerita. Pun tentang makna perempuan itu dalam keseharianku, ia tetap menjadi sumbangsih terbesar yang menjadi alasan bibirku membentang luas oleh canda dan ucapan tak 'penting'nya.
Lalu, apa yang surut? Keinginanku, apa yang kuharapkan darinya. Bahwa ia -mungkin- tak akan lagi utama. Realita itu semacam ulat yang ketika membuat lubang di daun ia tak akan terlihat wujudnya, hanya bolong-bolong tak elok di mata yang bisa kau tuai sembari menyalahkan si ulat, yang bahkan -mungkin- sudah berpindah daun atau pohon. Aku tak nampak menjauh, tapi keinginanku akannya sudah tak lagi se-bergairah dulu.
Sekali lagi bukan hendak melemparkan pemikiran 'ini salah siapa?', ya kembali aku tak akan berkelit ini hanya soal bagaimana aku memahami diriku sendiri. Maka surut ini bukan berarti mengakhiri, aku sedang memberi jeda nafas bagi kekuatiranku dan tetap menikmati canda tawamu di batas yang kuingini dan mampu kutangani.
Percaya, bahwa tak akan ada yang berubah dari kesederhanaan keseharian keterbatasan aku dengan perempuan itu. Hand in hand, bukan sesuatu yang tertulis baku, ada kalanya ia menyematkan celah kecil untuk masing-masing kami menikmati dunia kami sendiri.
Aku tak menunggu ombak kembali pasang, kadang laut juga dinantikan keindahannya ketika air-air itu tak berkejaran satu sama lain. Ia akan tampak tenang membiarkan angin bersuara, pun begitulah aku saat ini... Membiarkan air kadang hanya membasahi ujung kakiku, tak menenggelamkan bawahan kain yang kupakai untuk menyatu dengan hantaman lekukan ombak.
Aku sedang menikmati surut!
Subscribe to:
Posts (Atom)