Tak pernah ada waktu bersama, kecuali via pesan pendek. Bahkan ketika bersua, ia diam dan aku tak menegur sapa. Aku sempat kuatir harus bagaimana ketika kini bersama, berdua. Beruntung degup jantung masih bersahabat. Berbasa-basi sebentar. Ya, seperti biasa ia terlihat cool. Memang gayanya, aku maklum!
Membahas mudik lebaran. Hal-hal nggak penting seh, dan lampu merah yang sepertinya terasa panjang cukup mengulur obrolan. Hahaha baru kali ini aku menikmati lamanya lampu merah agar tak segera berganti hijau. Dan aku masih saja kadang kikuk, what to do, what to ask, etc. Penyakit lama yang belum bisa sembuh.
Pengamat wajah yang tak berani beradu pandang, lebih sering terlihat ngelamun, namun lamunan yang tau ada mata yang sedang menatapnya. Ia tak berubah. Sepertinya ia model orang serius, sangat bertolak belakang dengan tingkahku yang hampir hanya iseng dan tertawa.
Ketika pulang, ada sebuah pengakuan tentang orientasi seksualnya. Ketika aku mengutarakan opsi sebab, ia merasa seperti sedang diinterogasi.
Hmm, status sosial yang menjeda, aku masih terlarut disana. Oleh karenanya, logika kemudian mengirim sinyal ke dalam kotak bernama hati. Pun kenapa degupan jantung tak luar biasa. Aku menikmati kebersamaan yang ada. Mengenalnya lewat bait kata dan lamunan muka, bahkan ketika wajah itu tak menyisakan jarak dengan wajahku. Platonis. Proses mengenal dan memahami. Dan imbas pencerah aura. Aku menikmati tanpa muluk-muluk asa!
U're the cutest ever...
Monday, September 27, 2010
Thursday, September 23, 2010
OEDIPUS COMPLEX
Inilah cerita berikutnya... Awalnya aku agak kuatir "kelabilan" perasaan itu akan terbawa, maklum selang terakhir aku bertemu muka dengan si flirting hanya beberapa jam ketika otak dan lisanku dipaksa bertemu hal-hal baru. Mood yang tidak baik agak menguatirkanku akan merusak tugas yang seharusnya kukerjakan. Tapi optimis diantara kelelahan fisik coba kutebar.
Dan malam itu tak ada yang kukenal akrab. Hanya beberapa diantara mereka yang aku tahu dan tahu hanya nama, selebihnya tak kukenal. Beruntung satu diantara orang baru yang kukenal sungguh ramah. Ia bagian dari panitia. Aku duduk semeja dengannya saat makan malam. Lalu tak lama, seorang perempuan lagi yang kemudian menarik hatiku, datang. Ia duduk persis di hadapanku. Kami bertiga di meja itu. Dua orang itu tampak akrab. Sedang aku, tau sendiri, kalau bersama orang baru aku akan memilih duduk diam dan menjadi pendengar. Tapi aku tengah mencoba keluar dari esensialis diriku, aku terkadang ikut larut ngobrol tapi tak ingin terkesan banyak bicara, bagaimana pun aku orang baru.
Dan perempuan itu, di awal aku sama sekali tak respek. Aku menganggap ia congkak karena selama ia bicara tak sekalipun matanya bertemu mataku. Bagiku, eye contact adalah mutlak karena ketika orang tak menyapa mata orang yang diajaknya bicara pertanda ia mengacuhkan orang tsb. Dan aku sudah sering berhadapan dengan keangkuhan model begini, makanya aku tak ambil pusing ketika ia tak mengarahkan mata padaku. Mungkin hal itu yang menjadi salah satu penyebab aku show off dengan lisanku tentang isi otakku. Barulah ketika ia mendengar ocehanku, matanya tertuju padaku. "Dasar angkuh!" sinisku dalam hati.
Ketidakrespekanku pada perempuan itu bertambah ketika tahu ia begitu gagap teknologi. "Huh, gaptek aja belagu jadi orang!" rutukku lagi. Tapi aku kemudian menghargai isi otaknya. Gayanya yang sok asyik tak kuperdulikan. Tau sendiri kalau aku mengagumi dan tergila-gila pada otak perempuan, ya itu yang menutupi semua kebelaguannya.
Hari berlalu sedemikian cepat. Hari ketiga aku mulai menaruh perhatian padanya. Biasa, curi-curi pandang. Tempatku sangat strategis menikmati fisik dan otaknya. Siang itu semua orang sudah menuju ruang makan, hanya aku dan dia serta seorang lelaki. Aku sedang asyik chat dengan seorang teman FB yang agak tau tentang perjalanan cintaku. Aku pun bercerita tentang si perempuan ini padanya.
"Kamu nggak makan siang?" pertanyaannya mengagetkanku."Ayo bareng kesana." Ajakannya lebih mengagetkan lagi.
"Ya, sebentar lagi." sahutku seraya mengabarkan pada teman FB aku diajak perempuan ini lunch. Ahahay.
Dan aku semeja dengannya, melihat cara makannya yang lumayan "menjijikkan" untuk orang sekelas dia. Kadar ilfil dan terseponaku lantas naik turun. Tak apalah untuk sekedar pemandangan, batinku mendefinisikan fluktuasi ilfil dan terpesona itu.
Esok harinya aku "tergila-gila" hahahaha. Sejak di tempat ini aku selalu bangun pagi dan "mejeng" di depan penginapan. Aku melihatnya tengah sibuk "beraktivitas" yang membuat cermin ilfilku menanjak hahaha. Beberapa saat setelah aku masuk kamar karena penghuni kamar yang lain keluar aku mendengar suara yang familiar di telinga hatiku. Ia masuk ke tempatku tidur. Aku jelas agak kikuk, meski ia hanya mengitari sekitar, namun aku harus bicara apa jika ditinggalkan berdua begini. Dan kemudian kami bercengkrama, aku berusaha dengan sangat agar status sosial otaknya dengan otakku tak berbeda jauh. Mengimbangi setiap obrolannya hahaha agar tak nampak bodohlah, karena kadang aku bersikap bodoh di depan orang yang disuka. Tapi teringat gapteknya perempuan itu aku jadi agak PD berinteraksi dengannya. Ia menjelaskan apa yang akan dilakukan hari ini, menjelaskan tentang tempat yang kami tinggali ini, tempat asah gempa/bencana. Ia bercerita pengetahuannya tentang penyimpanan makanan dan tetek bengek bencana. Okelah ia mungkin fasih soal itu, aku mendengarkan dan kadang nyeletuk. Ia kemudian mengajak berkeliling, melihat-lihat tempat outbound, aku lumayan fasih soal ini. Kemudian ada seorang teman bergabung dalam obrolan pagi itu.
Kemudian aku baru menyadari satu hal ketika aku berdiri di hadapannya atau ketika ia membelakangiku, ia mengenakan baju tidur lumayan jauh diatas lutut dan kadang ia mengangkat kedua tangan ke atas melipatnya dibelakang kepala yang otomatis kian menarik bagian bawah bajunya ke atas. Well, pagi2 kok disuguhi pemandangan begini? Bukan salahku bukan ketika aku menikmati suguhan pagi? Dan lumayan parah lagi ketika melangkah keluar kamar dengan setengah terburu-buru karena sebagai orang yang mandi terakhir dan akan telat untuk makan pagi dan mengikuti kegiatan, secara tak sengaja mataku menangkap tubuh putih itu hanya berbalut lilitan handuk menuju kamar. Gila, kenapa ia tak menutup pintu!
Setengah jam kemudian aku mendapatinya telah terlihat cantik dengan busana yang menurutku sangat simpel. Waduh, kadar tersepona itu naik lagi, ahahay... Aku bahkan berdendang semu: "Kau cantik hari ini..."
Aku mengagumi otak perempuan, that's it! Ketika ia tampak menarik, itu bonus hehehe. Mungkin agak sedikit bertanya kenapa aku memberi judul Oedipus Complex, ya perempuan itu berusia diatasku. Dan ia SEPERTINYA hetero -meski seksualitas itu cair-. Sekali lagi aku mengagumi otaknya, menikmati setiap kebersamaan yang tercipta, dan mengingat lambaian, senyuman dan kecupannya ketika harus mengakhiri ini semua. Jujur ia perempuan berdaya tarik seksual yang pernah kutemui.
Hmm, tampaknya aku mulai ber-platonis ria! Tak apalah, selama bikin aura jadi cerah dan menggairahkan setiap suguhan hidup yang dicontekkan Tuhan padaku, kupikir itu akan berimbas positif.
Senyum dan tawa lebar itu akan kurindukan!
Dan malam itu tak ada yang kukenal akrab. Hanya beberapa diantara mereka yang aku tahu dan tahu hanya nama, selebihnya tak kukenal. Beruntung satu diantara orang baru yang kukenal sungguh ramah. Ia bagian dari panitia. Aku duduk semeja dengannya saat makan malam. Lalu tak lama, seorang perempuan lagi yang kemudian menarik hatiku, datang. Ia duduk persis di hadapanku. Kami bertiga di meja itu. Dua orang itu tampak akrab. Sedang aku, tau sendiri, kalau bersama orang baru aku akan memilih duduk diam dan menjadi pendengar. Tapi aku tengah mencoba keluar dari esensialis diriku, aku terkadang ikut larut ngobrol tapi tak ingin terkesan banyak bicara, bagaimana pun aku orang baru.
Dan perempuan itu, di awal aku sama sekali tak respek. Aku menganggap ia congkak karena selama ia bicara tak sekalipun matanya bertemu mataku. Bagiku, eye contact adalah mutlak karena ketika orang tak menyapa mata orang yang diajaknya bicara pertanda ia mengacuhkan orang tsb. Dan aku sudah sering berhadapan dengan keangkuhan model begini, makanya aku tak ambil pusing ketika ia tak mengarahkan mata padaku. Mungkin hal itu yang menjadi salah satu penyebab aku show off dengan lisanku tentang isi otakku. Barulah ketika ia mendengar ocehanku, matanya tertuju padaku. "Dasar angkuh!" sinisku dalam hati.
Ketidakrespekanku pada perempuan itu bertambah ketika tahu ia begitu gagap teknologi. "Huh, gaptek aja belagu jadi orang!" rutukku lagi. Tapi aku kemudian menghargai isi otaknya. Gayanya yang sok asyik tak kuperdulikan. Tau sendiri kalau aku mengagumi dan tergila-gila pada otak perempuan, ya itu yang menutupi semua kebelaguannya.
Hari berlalu sedemikian cepat. Hari ketiga aku mulai menaruh perhatian padanya. Biasa, curi-curi pandang. Tempatku sangat strategis menikmati fisik dan otaknya. Siang itu semua orang sudah menuju ruang makan, hanya aku dan dia serta seorang lelaki. Aku sedang asyik chat dengan seorang teman FB yang agak tau tentang perjalanan cintaku. Aku pun bercerita tentang si perempuan ini padanya.
"Kamu nggak makan siang?" pertanyaannya mengagetkanku."Ayo bareng kesana." Ajakannya lebih mengagetkan lagi.
"Ya, sebentar lagi." sahutku seraya mengabarkan pada teman FB aku diajak perempuan ini lunch. Ahahay.
Dan aku semeja dengannya, melihat cara makannya yang lumayan "menjijikkan" untuk orang sekelas dia. Kadar ilfil dan terseponaku lantas naik turun. Tak apalah untuk sekedar pemandangan, batinku mendefinisikan fluktuasi ilfil dan terpesona itu.
Esok harinya aku "tergila-gila" hahahaha. Sejak di tempat ini aku selalu bangun pagi dan "mejeng" di depan penginapan. Aku melihatnya tengah sibuk "beraktivitas" yang membuat cermin ilfilku menanjak hahaha. Beberapa saat setelah aku masuk kamar karena penghuni kamar yang lain keluar aku mendengar suara yang familiar di telinga hatiku. Ia masuk ke tempatku tidur. Aku jelas agak kikuk, meski ia hanya mengitari sekitar, namun aku harus bicara apa jika ditinggalkan berdua begini. Dan kemudian kami bercengkrama, aku berusaha dengan sangat agar status sosial otaknya dengan otakku tak berbeda jauh. Mengimbangi setiap obrolannya hahaha agar tak nampak bodohlah, karena kadang aku bersikap bodoh di depan orang yang disuka. Tapi teringat gapteknya perempuan itu aku jadi agak PD berinteraksi dengannya. Ia menjelaskan apa yang akan dilakukan hari ini, menjelaskan tentang tempat yang kami tinggali ini, tempat asah gempa/bencana. Ia bercerita pengetahuannya tentang penyimpanan makanan dan tetek bengek bencana. Okelah ia mungkin fasih soal itu, aku mendengarkan dan kadang nyeletuk. Ia kemudian mengajak berkeliling, melihat-lihat tempat outbound, aku lumayan fasih soal ini. Kemudian ada seorang teman bergabung dalam obrolan pagi itu.
Kemudian aku baru menyadari satu hal ketika aku berdiri di hadapannya atau ketika ia membelakangiku, ia mengenakan baju tidur lumayan jauh diatas lutut dan kadang ia mengangkat kedua tangan ke atas melipatnya dibelakang kepala yang otomatis kian menarik bagian bawah bajunya ke atas. Well, pagi2 kok disuguhi pemandangan begini? Bukan salahku bukan ketika aku menikmati suguhan pagi? Dan lumayan parah lagi ketika melangkah keluar kamar dengan setengah terburu-buru karena sebagai orang yang mandi terakhir dan akan telat untuk makan pagi dan mengikuti kegiatan, secara tak sengaja mataku menangkap tubuh putih itu hanya berbalut lilitan handuk menuju kamar. Gila, kenapa ia tak menutup pintu!
Setengah jam kemudian aku mendapatinya telah terlihat cantik dengan busana yang menurutku sangat simpel. Waduh, kadar tersepona itu naik lagi, ahahay... Aku bahkan berdendang semu: "Kau cantik hari ini..."
Aku mengagumi otak perempuan, that's it! Ketika ia tampak menarik, itu bonus hehehe. Mungkin agak sedikit bertanya kenapa aku memberi judul Oedipus Complex, ya perempuan itu berusia diatasku. Dan ia SEPERTINYA hetero -meski seksualitas itu cair-. Sekali lagi aku mengagumi otaknya, menikmati setiap kebersamaan yang tercipta, dan mengingat lambaian, senyuman dan kecupannya ketika harus mengakhiri ini semua. Jujur ia perempuan berdaya tarik seksual yang pernah kutemui.
Hmm, tampaknya aku mulai ber-platonis ria! Tak apalah, selama bikin aura jadi cerah dan menggairahkan setiap suguhan hidup yang dicontekkan Tuhan padaku, kupikir itu akan berimbas positif.
Senyum dan tawa lebar itu akan kurindukan!
Saturday, September 18, 2010
PLAYING WITH "THE FLIRTING"
Bermain dengan tukang flirting. Definisi bermain yang cukup rancu, setidaknya buatku sendiri...
Masih ingat dengan tukang flirting yang pernah kuceritakan. Ya ya ya dulu aku menjulukinya tukang flirting, meski sampai sekarang pun demikian. Bahkan sebelum kami bertemu lagi, komunikasi yang terbangun kian intens. Aku sempat kuatir dengan perasaanku, meski seorang teman telah mewanti-wanti untuk tak membuka hati sedikitpun padanya, dan aku pun berujar: "Tak usah kuatir, aku bisa menjaga hati!" optimisku, saat itu.
Dan waktu yang dinanti pun tiba. Teman yang mewantiku merasakan auraku sudah tak wajar. Tapi aku bersikukuh aku wajar-wajar saja, aku beralasan karena hatiku sudah milik si dinda hahaha. Dan kemudian aku mendapatinya diatas motor, termangu. Perasaanku sepertinya biasa saja, karena aku memang mencoba biasa. Dan malam terlalui berdua. Ia banyak bercerita, pun aku demikian. Tak ada rahasia. Sesuai slogan kami di dunia maya: Kita soulmate, tak ada rahasia diantara kita, juga tak ada cinta.
Namun paginya, semua pertahanan hati yang kubangun jebol. Padahal semalam tak ada relung yang memberatkan ketika pagi ini ia akan bermimpi dua hari bersama perempuan yang ia cinta. Aku bahkan mendukung, paling tidak aku melihatnya bahagia. Tapi berbicara ternyata tak semudah melakoni. Entah kesambet setan mana, aku harus mengakui aku tak bisa menutupi amarah. Terbakar cemburu, mirip lagu PADI BAND.
Beberapa hari kemudian aku menertawakan ketololanku. Lagu itu kuputar berulang, dan aku tertawa keras. Sudah sadar dari awal bahwa ia tak untuk dimiliki, kenapa aku keukeuh melibatkan hati, meski lisan berkata tidak. Ketidaksinkronan hati dan lisan bikin otak nggak bisa berfikir jernih. Namun ketika menyadari dan menertawakan ketololan itu, aku merasa manusiawi ketika merasa mencemburui hal yang tak untuk dimiliki itu, tapi hanya sesaat. Tenggang waktu sekejab karena kemudian beralih pada cerita selanjutnya...
Masih ingat dengan tukang flirting yang pernah kuceritakan. Ya ya ya dulu aku menjulukinya tukang flirting, meski sampai sekarang pun demikian. Bahkan sebelum kami bertemu lagi, komunikasi yang terbangun kian intens. Aku sempat kuatir dengan perasaanku, meski seorang teman telah mewanti-wanti untuk tak membuka hati sedikitpun padanya, dan aku pun berujar: "Tak usah kuatir, aku bisa menjaga hati!" optimisku, saat itu.
Dan waktu yang dinanti pun tiba. Teman yang mewantiku merasakan auraku sudah tak wajar. Tapi aku bersikukuh aku wajar-wajar saja, aku beralasan karena hatiku sudah milik si dinda hahaha. Dan kemudian aku mendapatinya diatas motor, termangu. Perasaanku sepertinya biasa saja, karena aku memang mencoba biasa. Dan malam terlalui berdua. Ia banyak bercerita, pun aku demikian. Tak ada rahasia. Sesuai slogan kami di dunia maya: Kita soulmate, tak ada rahasia diantara kita, juga tak ada cinta.
Namun paginya, semua pertahanan hati yang kubangun jebol. Padahal semalam tak ada relung yang memberatkan ketika pagi ini ia akan bermimpi dua hari bersama perempuan yang ia cinta. Aku bahkan mendukung, paling tidak aku melihatnya bahagia. Tapi berbicara ternyata tak semudah melakoni. Entah kesambet setan mana, aku harus mengakui aku tak bisa menutupi amarah. Terbakar cemburu, mirip lagu PADI BAND.
Beberapa hari kemudian aku menertawakan ketololanku. Lagu itu kuputar berulang, dan aku tertawa keras. Sudah sadar dari awal bahwa ia tak untuk dimiliki, kenapa aku keukeuh melibatkan hati, meski lisan berkata tidak. Ketidaksinkronan hati dan lisan bikin otak nggak bisa berfikir jernih. Namun ketika menyadari dan menertawakan ketololan itu, aku merasa manusiawi ketika merasa mencemburui hal yang tak untuk dimiliki itu, tapi hanya sesaat. Tenggang waktu sekejab karena kemudian beralih pada cerita selanjutnya...
Saturday, September 4, 2010
Get Addicted... Oh No...
Aku kecanduan! Oh no! Bukan kecanduan drugs or something bad seh -dan berharap jangan sampe lah- hehe tapi kecanduan satu ini hampir mirip sakaunya kalo gak keturutan ahahay alay hehe
Aku tercandu untuk setiap malam bercengkrama menikmati kata-kata. Hmm, kenapa jadi tak baik? I dont know, tapi benar tak baik kan kalo berlebihan. Terluap dan cepat menguap. Maklum, juga agak pembosan hehe agar tak cepat bosan kadang aku membiarkannya berlalu di selayang mata. Hmm, serba salah ya, tak ada dirindukan, kalau ada dilewatkan. Tau sendiri aku juga model orang gak suka basa basi, daripada garing mendingan mendiamkan.
Tapi kecanduan ini juga lama-lama gak akan baik. Yup, aku percaya semua telah digariskan tinggal dilewati. Beberapa kali aku mengandalkan jurus balancing. Keseimbangan tawa. Jadi inget ketika masa SMU dan suka ama adik kelas -yang sampai sekarang dah kayak sodara sendiri-. Persis rasanya kayak gini. Ah, mang lagi fall in luph gini bikin berasa kayak anak SMU kali ya? Dan pepatah yang kugunakan saat itu juga sama, bahagia yang terlalu berlebihan mengakibatkan akhir yang tidak menyenangkan.
Kau memang mencandu. Mencandu ingatanku tuk selalu mengingat tiap detil darimu dalam detakan waktu nafasku. Aku tak pernah menilai seseorang sempurna, tapi kau cukup sempurna dalam ketidaksempurnaanmu. Sudah ya, udah mulai sakau neh!
Aku tercandu untuk setiap malam bercengkrama menikmati kata-kata. Hmm, kenapa jadi tak baik? I dont know, tapi benar tak baik kan kalo berlebihan. Terluap dan cepat menguap. Maklum, juga agak pembosan hehe agar tak cepat bosan kadang aku membiarkannya berlalu di selayang mata. Hmm, serba salah ya, tak ada dirindukan, kalau ada dilewatkan. Tau sendiri aku juga model orang gak suka basa basi, daripada garing mendingan mendiamkan.
Tapi kecanduan ini juga lama-lama gak akan baik. Yup, aku percaya semua telah digariskan tinggal dilewati. Beberapa kali aku mengandalkan jurus balancing. Keseimbangan tawa. Jadi inget ketika masa SMU dan suka ama adik kelas -yang sampai sekarang dah kayak sodara sendiri-. Persis rasanya kayak gini. Ah, mang lagi fall in luph gini bikin berasa kayak anak SMU kali ya? Dan pepatah yang kugunakan saat itu juga sama, bahagia yang terlalu berlebihan mengakibatkan akhir yang tidak menyenangkan.
Kau memang mencandu. Mencandu ingatanku tuk selalu mengingat tiap detil darimu dalam detakan waktu nafasku. Aku tak pernah menilai seseorang sempurna, tapi kau cukup sempurna dalam ketidaksempurnaanmu. Sudah ya, udah mulai sakau neh!
Friday, September 3, 2010
Punya Pacar Cantik, Rentan Selingkuh!
"Rempong bok, punya pacar cantik itu rentan selingkuh, susah meliharanya!"
Dengan setengah bercanda aku mengungkap alasan kenapa aku "lambat" dalam proses get involve dengan perempuan yang sedang kusuka. Alasan terlalu cantik adalah yang paling utama dan paling memberatkan. Mempertegas kepesimisan dan ketidakpercayaan diriku. Haha aku mengakui itu!
Ya mungkin bagi orang lain punya pasangan cantik adalah anugerah, bagiku itu ujian haha. No no no, not that kind of serious hehe. Hanya sedikit kekuatiran saja.
Aku percaya pada dasarnya berelasi bukan tentang menggenggam dan mencengkeram erat seseorang, bukan masalah secantik atau se-tidak cantik apapun, melainkan pertautan chemistry dua hati ceile jadi agak gombalistik begini ya... Hmm... Dasar C.I.N.T.A hahaha karena sekuat apapun kita memaksakan orang dalam genggaman kita tetapi orang tsb berniat tak hendak digenggam, pasti akan merembes dari sela-sela genggaman. Pada intinya bukan menggenggam namun saling menautkan jari agar tak ada celah. Dan itu dua jiwa, bukan hanya satu atas lainnya.
Wah, kok jadi belibet, habis konstruksi otak masih terwacana bahwa punya pacar cantik akan susah untuk ngejaga hahaha.
Dengan setengah bercanda aku mengungkap alasan kenapa aku "lambat" dalam proses get involve dengan perempuan yang sedang kusuka. Alasan terlalu cantik adalah yang paling utama dan paling memberatkan. Mempertegas kepesimisan dan ketidakpercayaan diriku. Haha aku mengakui itu!
Ya mungkin bagi orang lain punya pasangan cantik adalah anugerah, bagiku itu ujian haha. No no no, not that kind of serious hehe. Hanya sedikit kekuatiran saja.
Aku percaya pada dasarnya berelasi bukan tentang menggenggam dan mencengkeram erat seseorang, bukan masalah secantik atau se-tidak cantik apapun, melainkan pertautan chemistry dua hati ceile jadi agak gombalistik begini ya... Hmm... Dasar C.I.N.T.A hahaha karena sekuat apapun kita memaksakan orang dalam genggaman kita tetapi orang tsb berniat tak hendak digenggam, pasti akan merembes dari sela-sela genggaman. Pada intinya bukan menggenggam namun saling menautkan jari agar tak ada celah. Dan itu dua jiwa, bukan hanya satu atas lainnya.
Wah, kok jadi belibet, habis konstruksi otak masih terwacana bahwa punya pacar cantik akan susah untuk ngejaga hahaha.
Tuesday, August 31, 2010
BUKA HATI

Akhir-akhir ini banyak yang memojokkanku. Bukan dalam artian negatif, malah justru positif. Aku dipojokkan ketika hanya menjadikan terbebas dari esensialis sebatas jargon belaka.
"Kapan kau akan punya pacar kalau kau tidak buka hati?"
Ya ya ya aku memang sedang dalam proses ini. Aku tengah membuka hati. Esensialis, ketakutan dan hal-hal yang membelenggu dan kubatasi sendiri memang tengah kugubah. Aku mengenal orang-orang baru. Meski dinding yang kubangun sendiri itu belum bisa sekaligus kurobohkan, tapi aku tengah mencoba. Aku memang tengah membuka hati untuk seseorang. Baru kukenal, namun sepertinya sanggup meluluhlantakkan bilik hati padahal pikiran tengah dilanda kalut oleh kondisi kerja yang sedang tak baik. Tapi perasaan memang ibarat jelangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar. Ia hadir, tumbuh kembang secara spontan seakan tak menghiraukan beban yang ditanggung otak. Perempuan itu hadir tanpa dinyana. Seperti aku yang dulu-dulu, ketika dipertemukan dalam rentang waktu cukup lama, aku hanya mengagumi, mencuri pandang tanpa berani berucap sepatah kata pun. Padahal aku menangkap lampu hijau ketika ia sering tiba-tiba hadir dan diam -tapi kentara- pengen disapa di depanku. Hingga di penghujung waktu, tak seucap pun terjuntai. Hanya omongan kecil dan tak penting nan malu2 yang kerap terjalin. Akh, bodoh kan! Memang! I dont know why, keberanian itu tak ada meski sinyal yang ia interaksikan begitu kuat dan jelas. Hmm, dan olok-olok pun bermunculan. Berlatar belakang olok-olok kuberanikan menyapa dalam dimensi lain. Satu, dua dan berpatah-patah kata kemudian terjalin. Dan entah kini sudah paragraf ke berapa hahaha perkenalan yang memberanikanku bertanya kontak. Macam anak SMA aku rupanya, batinku! Tapi akh, kan aku sudah selangkah lebih maju bukan?
"Ayo, tunjukkan agresifmu sebagai butch!"
Aku sebenarnya tak setuju dengan anggapan bahwa butch harus agresif dan femme yang harus pasif. Tapi budaya patriarkal heteroseksisme ini memang masih melekat erat. Dan aku juga tak ingin ikut arus. Aku lebih percaya proses. Itu jauh lebih indah menurutku daripada saran orang-orang disekitarku. Mangsa, bidik dan tembak. Terkena atau meleset itu biasa. Ya ditolak atau diterima aku setuju itu bagian dari resiko, aku hanya tak setuju ketika harus balapan kuda dalam mendapatkan hati perempuan. Menikmati proses, hmm that's sound nice... Kita tak akan pernah tahu ending sebuah perjalanan, bukan? Jadi mengapa harus tergesa? Ketika meyakini jika memang sesuatu/seseorang akan menjadi milik kita/tidak, hal itu akan terjadi dengan sendirinya, biar manusia manapun akan berusaha menghalang.
Pun soal perempuan itu. Aku sudah buka hati. Ia sudah menggenapi hariku dengan buaian senyum. Tapi aku tetap membuat batasan. Ia terlalu cantik untukku. Status sosialnya jauh lebih tinggi disamping ke"labil"an dalam pemaknaan perasaan di internal ia sendiri. Batasan itu adalah tembok yang dibangun logikaku, meski perasaan sudah merapatkan barisan untuk menggempur jatuh logika. Hah, ribet kan? Padahal jatuh cinta bagi kebanyakan orang sederhana.
"Maju terus pantang mundur!"
Begitu semangat orang-orang di sekitarku. Aku meyakini olokan mereka tak hendak menilai negatif, mereka ingin aku kembali menata hati. Now, I'm enjoying this process, to get knowing the whole of u closer. Jadian atau tidak, bagiku itu bukan the big aim nya. Mengenal pribadi. Tawa canda. Jauh lebih berkesan dan bermakna!
Saturday, August 21, 2010
REKAM ULANG
Entah kenapa malam ini aku sedang senang memutar ulang fikiran tempo dulu. Bukan soal seseorang di masa lalu, hanya memori-memori kecil yang hingga kini membekas dan dibekaskan oleh lagu.Segera kubuka youtube. Mengingat kepingan cerita bersama teman kerja dan lagu Paul Van Dyke. Entah aku lupa judulnya aku search saja. Sampai pada cover perempuan yang remang kuingat. Ya, ini videoklip yang selalu kami nantikan untuk diputar di salah satu tivi swasta yang saat itu tengah siaran percobaan dan hanya memutar lagu-lagu secara simultan, berulang dan sama, bahkan jam-jam yang sama. Maka tak heran, kami bisa tau kapan klip itu akan diputar.
Kalau diingat tingkah kami dulu, kini aku hanya tergelak. Kenapa videoklip itu dinantikan? Karena pada bagian endingnya ada sekian detik adegan ciuman dan itu tak disensor. Aku masih ingat ketika salah satu teman sampai lari-lari dari dapur dan menghentikan sejenak aktivitasnya hanya untuk melihat adegan itu. Dan konyolnya, ketika si bos sedang nonton tivi padahal jam menunjuk klip itu akan ditayangkan, kami semua menggerutu dan berharap si bos cepat-cepat pulang. Konyol dan bikin geli ketika ingat. Tapi namanya juga kekonyolan, just enjoy ajah!
Jadi teringat juga masa-masa ketika pagi-pagi harus beraktivitas, ketika kemalasan meraja hal yang paling enak dilakukan adalah putar musik dan berjoget. Haha jadi ngakak teringat ketika seorang rekan yang anti joget akhirnya dengan malu-malu menggoyangkan badan setelah aku dan seorang teman lagi yang sama-sama hobi bergoyang memaksanya mengikuti irama Beyonce cs lewat Lose My Breath dan JTL My Lecon. Pagi yang gila, namun ketika ajudan si bos datang, everything back 2 normal again.
Hmm, musik memang tak akan pernah mati, sejalan usia pun, bahkan masa ketika aku belum tercipta. Jadi kangen dua teman itu, kapan yak dipertemukan waktu untuk kembali bergoyang sejenak dalam usia yang boleh dibilang tak lagi muda. Ahahay... Love music, miz u my friends...
Subscribe to:
Posts (Atom)