Saturday, May 29, 2010

AKU DAN PEREMPUAN ITU


"Apa kamu benar2 tidak akan menikah?" tanyamu padaku di kebersamaan kita yang kesekian kalinya.
Aku menggeleng.
"Pasti? Bagaimana kalau ibumu nyuruh?" tanyamu lebih detil.
"Ya sedapat mungkin aku akan mengulur waktu, malahan kalau memang aku menemukan perempuan yang benar-benar melengkapi hidupku maka aku akan mengenalkannya pada ibu."
Kamu tersenyum. Tapi aku tau benakmu mengatakan sesuatu yang entah tak bisa kubaca.
***

"Tumben kamu nggak cari pacar?" tanyaku padamu di kebersamaan lain.
"Lho, katamu nggak boleh cepat2, nanti kisahnya kayak kemarin itu." jelasmu.
Rupanya kamu menurut ucapanku, tapi aku menangkap hal lain dengan seringnya kebersamaan2 ini muncul.
***

Entah berapa waktu kebersamaan2 ini mulai ada. Bahkan aku pernah membuat jarak karena kamu terlalu cepat mendekat. Aku masih terbiasa sendiri dan menikmati kesibukan pekerjaan. Namun aku akui kamu cukup telaten mendekat, memberikan pemahaman2 ketidakpercayaanku akan ketulusan, mencoba merajut hari dengan energi dan pikiran positif. Dan kamu sudah tak asing menceritakan "aib" keluargamu padaku. Meminta pendapatku, mencarikan solusi bersama atas masalah yang dihadapi.

Aku pernah kau kenalkan pada sepupu lelakimu. Dan kamu pun sudah tahu satu persatu teman dan lingkunganku. Ada kekuatiran sebenarnya, takut di kemudian hari aku menyesal telah mengenalkanmu ke duniaku. Kadang kau bertanya tentang dunia lesbian, memperkaya wacana. Dan satu hal, kamu begitu penasaran menelusur melihat teman2 di fesbukku.

Aku bukan tengah menawarkan dunia baru. Aku juga tidak memberi apa-apa untuk kau tahu. Tapi aku dan kamu sepertinya hanya berselancar, menikmati satu persatu kebersamaan yang tak terencana. Hanya mengalir.

Aku pernah berujar padamu ketika kamu di awal2 dulu setengah mati menutupi belahan dada atau selangkangan yang terbuka pada apa yang kau kenakan, "Perempuan telanjang di depanku sekali pun, kalau tak ada rasa tetap tak akan menarik birahiku". Sejak itu kamu mulai tak bingung bagaimana harus duduk ataupun menyembunyikan belahan. Tetapi kok aku jadi yang tidak bisa konsen ketika ia dengan enteng duduk menulis memiringkan tubuh di depanku. "Eh, eh, duduknya jangan di depanku!" tegurku membuatmu tergelak. "Lho katanya..." "Ah sudah, nggak usah dibahas!" Tawa kemenanganmu menggelegar usai sukses menggoda.
***

Di kebersamaan lain, ketika kamu sudah di depan kamarku sedang aku masih sibuk di dalam mematikan laptop.
"Vi, udah ditungguin pacarnya itu lho!" celetuk buci tetangga sebelah yang sedang menjemur pakaian.
Aku tak merespon secara ekstrim meski celetukan tetangga itu akan membuat asumsi yang tidak2 di benak tetangga lain. Maklum, aku belum open di kost, sedang kamu sudah tak terhitung dengan kebersamaan ini.
"Yo, ini mau keluar!" Tanpa respon lebih lanjut, apalagi kamu juga tak berekspresi nggak tau apa yang ada di pikiranmu saat itu, tapi aku tak sedikitpun memindahkan obrolan menyentuh hal tsb.

Aku memaknainya sebagai sebuah kebersamaan, untuk mencoba mempercayai persahabatan atau relasi antar manusia, ketulusan dan saling memahami sesama manusia. Hal-hal yang tak pernah kupercaya karena tak pernah kudapat yang kini tengah kau coba dengan telatenmu untuk kau tunjukkan padaku.

Thursday, May 27, 2010

AKU ADALAH ARTIS!


Percaya tidak dengan judul diatas? Kalau aku sih percaya, tapi bukan tengah ge-er, begini ceritanya...

Beberapa hari lalu, aku membuka akun fesbuk yang kuperuntukkan teman2 kost dan smu ku. Eh, nggak sengaja ngeliat akun TG yang suka jelekin namaku di dunia maya itu, dan ternyata ia benar2 hebat. Definisi hebat disini adalah hebat karena ia benar2 sungguh2 dan sangat2 kurang kerjaan sekali nge-add semua teman kostku dan termasuk juga teman2 smu, dan yang paling gila juga ia berteman dengan sepupu2ku. Hebat bukan? (Baca: SAKIT JIWA, bukan?). Pernah kah Anda mengalami hal yang sama denganku ini?

Anda berelasi dengan seorang perempuan, sebut saja Ade Kupu Kupu Kecil (A), lalu Anda putus hubungan dengan A, lalu A mulai meresahkan kehidupan Anda dengan menteror hp Anda miskol2 sampe ratusan kali, menteror nomer telepon kantor Anda tiap pagi, siang dan sore, lalu memajang nomer hp Anda di chattingan sehingga pria2 iseng kemudian menelpon/sms Anda untuk ngajak ML padahal Anda sama sekali tak pernah kenal, belum cukup nmr hp Anda yang dipajang, nomor kantor pun diberikan. Walhasil, banyak lelaki yang mencari2 Anda, sehingga Anda dan teman2 kantor disibukkan untuk menjawab telpon2 NGGAK PENTING.

Belum cukup rupanya si A mengganggu kehidupan Anda, lalu ceritalah si A pada teman sekaligus mantan pacarnya, sebut saja KAWAI WIE (K) dan RINA NASUTION (R).
Entah apa yang dibacotkan A pada K dan R, dua perempuan ini kemudian bergerilya. Si K ini Anda tak pernah kenal, baik nama, suara apalagi tatap muka, tapi si K ini rajin banget pasang nama Anda di status fesbuknya. Katanya, Anda adalah penipu, penjahat dll. Komentar pun bersahutan. Termasuk juga komentar dari sepupu dan teman kerja Anda di Jakarta yang selama ini tak pernah tahu bahwa Anda lesbian. Jadi siapa sebenarnya yang penjahat dan penipu? Kalau memang Anda benar seperti yang dikatakan K bahwa Anda penjahat dan penipu, maka laporkanlah ke pihak yang berwajib, tapi kenyataannya si A, mantan pacar Anda ini malah ngajak balikan. Bahkan ketika Anda menolak balikan pun, si A ini kerap telpon2/sms2 tanya2 nggak penting. Jadi maunya si A ini apa? Lebih2 si K, udah Anda nggak kenal ini orang, eh kok berani2nya nyebut2 nama Anda sbg penipu dan penjahat.

Hmm, sepertinya aku menjadi artis di hidup K ini. Bayangkan, orang yang tidak mengenal Anda, tetapi begitu mengidolakan Anda seperti tahu kehidupan pribadi, karakter dan tingkah laku Anda sehari-hari. Bukankah fans begitu pada artis idolanya? Setiap saat para fans menggunjingkan idolanya seolah tau, padahal fans itu kenal pun tidak pada sang idola. Ya, aku sih berterima kasih, karena status fesbuk K itu ya positifnya kuanggap sbg publikasi gratis agar orang2 yang mengomentari statusnya itu dapat mengenali apa, siapa dan bgm aku. Sedangkan jikalau nantinya sepupuku tau atau nanya2 ttg status fesbuk si K ini padaku atau lebih parahnya kelesbiananku terketahui oleh mereka, aku telah menganggap mungkin ini salah satu jalanku untuk coming out pada keluarga. Aku telah berfikir dan banyak mempertimbangkan, jikalau aku tetap mempertahankan kelajanganku (terhadap laki2) maka sekaligus aku nantinya harus bersiap membuka diri ttg orientasi seksualku ini. Ibu mungkin akan kecewa dengan pilihanku, tapi cepat atau lambat ia memang harus tahu dan -semoga- mengerti dengan pilihanku ini. Sekali lagi jika si K ini emang berniat akan membongkar orientasi seksualku di lingkungan keluarga dan teman2 heteroseksualku dengan ia meng-add teman2 kost, teman2 kerjaku, teman2 smu atau bahkan sepupuku, aku malah akan berujar terima kasih telah menunjukkan siapa Anda dan siapa Saya sebenarnya.

Aku geram, pastinya sebagai manusia marah itu ada. Terlebih aku bahkan tak kenal seluk beluk K ini sementara ia piawai memutarbalikkan lidah dan fakta. Tapi aku pernah berujar, apapun yang si A, si K, atau si B C D E sampai Z sekalipun lakukan padaku, jika itu kamu pandang benar dan melegakan hatimu dan dendammu padaku, maka lakukanlah tetapi ingat segala hal yang menurut Anda baik belum tentu baik bagi orang lain, begitu juga sebaliknya. Manusia sudah ada takdirnya, sebaik apapun ditutupi dan seburuk apapun ditelanjangi, semua sudah tertulis atas kehendakNYA. Aku adalah artisNYA dan terima kasih kamu sudah menjadi fans beratku hehehe

Wednesday, May 26, 2010

BERTEMAN BUKU


"Sepertinya temanku benar, lebih baik berteman dengan buku daripada dengan manusia!" ujarku ketika manusia benar-benar memuakkan untuk disikapi.
"Jangan begitu, kan nggak semua manusia nggak baik, jangan dipukul rata begitu dong. Kalau nggak baik ya jangan digubris, tapi kan masih banyak orang lain lagi yang baik." jelas perempuan itu panjang lebar usai ia menyaksikan kegeramanku atas perilaku manusia.
Ya, mungkin aku tengah muak saja, bukan hendak pukul rata. Tapi rupanya kediamanku selama ini tak ada harganya. Kapan orang lain bisa menghargai orang lain kalau ia belum bisa menghargai dirinya sendiri untuk bisa menghargai yang lain!
Ya sekali lagi aku akan diam, meski diam tak akan menyelesaikan masalah. Percuma berbicara kalau aku tau semua itu tak akan ada artinya, juga tak menyelesaikan masalah.

Tuesday, May 25, 2010

KETULUSAN


Ada yang menarik ketika aku menonton Take a celebrity out semalam. Aku baru menyetel tivi di tengah acara, tak tahu depannya, yang kulihat adalah ketika seorang lelaki -entah berprofesi sebagai apa- tengah bercerita tentang kehidupan rumah tangganya yang kandas. Penyebabnya, karena si lelaki tak punya uang. Ia bahkan diusir dari rumah. Prinsip istrinya No money, no love. No money, no sex. Si lelaki tak diperbolehkan bertemu sang anak kalau tak bawa uang. Bukan itu yang membuatku terharu. Bukan juga ketika tak satu pun lampu menyala untuk si lelaki tak berduit itu. Tapi cara ia bertutur, mengisahkan dan opini yang keluar dari bibirnya. Pencerminan seseorang yang bijak yang sayangnya mungkin belum beruntung. Terlepas dari ia tengah berakting atau tidak, tapi sungguh ketulusan itu kudengar dengan mataku. Lalu janda Pasha Ungu meminta lampunya dinyalakan. Perempuan ini juga tak pintar berdiplomasi, namun alasan penerimaannya untuk si lelaki bukan pengibaan. Dan si lelaki menerima. Ada kejadian ketika kondisi si lelaki tiba-tiba melemah. Ia minta jeda waktu bahkan rebahan di panggung.
"Ketika aku bercerita tadi sebenarnya ada dua kekuatan yang saling tarik menarik, antara cerita atau tidak." Laki-laki itu merasa berat ketika menceritakan kisah hidupnya. Seperti menguras semua energinya hingga lemas.

Baru kali ini aku melihat begitu berat beban hati tuk diungkap. Dan itu sebuah ketulusan. Ketulusan yang meluncur dari bibir seorang laki-laki. Dan Okie memilihnya. Ini bukan tentang latar belakang dan status sosial, bukan profesi artis dan non artis, selebriti atau bukan, aku hanya melihat ketulusan seorang manusia.

Yah, mungkin ketulusan adalah kata yang kupelajari malam itu. Banyak ketulusan. Ketulusan ketika laki-laki itu merespon kenapa tak ada satu lampu pun menyala untuknya. Ketulusannya mencintai. Laki-laki itu tak banyak bicara memang, tapi apa yang terucap dari bibirnya murni ketulusan. Dan ada ketulusan yang tidak kuduga sama sekali, yaitu ketika si lelaki terkapar, orang pertama yang mendekat adalah seorang selebriti yang notabene punya track record yang lumayan jelek. Bukan tengah berpura-pura, aku yakin banget ia teramat pintar bermain peran, namun yang terpancar dari mata ketika ia mendekat dan memberi perhatian kepada lelaki itu, aku membaca ketulusan disana. Aku percaya mata bisa berbicara, meski hendak ditutupi silat lidah atau gestur tubuh seindah apapun.

Belum usai "keherananku" mendapati ketulusan, sebuah ketulusan lagi disuguhkan. Ceritanya si janda Pasha Ungu telah digaet oleh si lelaki. Saat terakhir, perpisahan terjadi. Yang selalu kulihat dari tayangan ini adalah ngeliat cowok dari sisi materi dan tampang, atau kalo nggak ya cuma acara rekayasa untuk mendongkrak rating, tapi satu hal yang luput adalah kebersamaan 30 perempuan di panggung ini memunculkan rasa persahabatan demikian mendalam. Yang disajikan di mataku adalah glamour dan materialistis mereka, namun malam itu aku agak terharu, ya mungkin lagi mellow dan sentimental pada sebuah persahabatan yang terjalin akibat terlalu lama berada di panggung.

Enough soal take me out, aku memang tengah terobsesi dengan ketulusan. Pengalaman hidup membuatku harus dengan susah mempercayai kata itu. Bukan karena negatif thinking, aku sepertinya lelah ketika aku percaya jika apa yang kutabur itulah yang aku tuai tak manjur. Pertanyaan kenapa orang lain tak menabur apa yang kutabur, hingga pertanya pikiran dan perilaku orang tak bisa disamakan dengan pikiran dan perilakuku sungguh kadang bikin aku kelelahan untuk menjelaskan bukan begitu maksudku tapi begini. Pemahaman, ketulusan, sesuatu yang bagiku langka untuk dipercaya.

Sunday, May 23, 2010

Pengalaman IDAHO 2010



IDAHO. International Day Against Homophobia atau Hari Internasional Melawan Homophobia. Yogyakarta mempersembahkan tiga acara, aksi damai bagi 1000 nasi bungkus, diskusi publik keberagaman orientasi seksual dan terakhir panggung keberagaman menyuarakan kebisuan dengan kearifan lokal. Aksi damai di pasar bering harjo dan diskusi publik sukses, dalam artian tak tersentuh milisi sipil yang lebih dulu bergerilya di Surabaya, Depok dan Bandung. Apalagi ketika diskusi publik yang turut mengundang pihak pemerintah, berlangsung seru dan padat peserta. Namun kendala mulai tampak di kegiatan terakhir. Rapat technical meeting telah digelar, bahkan rundown dan pengisi acara telah siap. Kebetulan salah satu pengisi acara adalah teater ibu2 PRT dari KOY yang sungguh antusias latihan, tak terkendala hujan sekali pun, demi menyuguhkan SAYUR LODEH dalam panggung keberagaman tsb. Tapi rencana tinggal rencana, ijin tempat di Sasono Hinggil Alkid dicabut satu hari sebelum hari H dengan alasan keamanan, akan ada milisi sipil yang siap menggagalkan acara tsb. Dan kejadian ILGA pun terulang saat polisi tak memberi jaminan keselamatan jika acara panggung keberagaman tetap digelar.

Semua berkumpul, menyiapkan langkah-langkah selanjutnya. Press conference diadakan di LBH Jogja menyikapi pembatalan dan pembiaran tsb. Dan aksi lain dihembuskan, di tempat yang sama, yaitu alun-alun kidul, akan digelar aksi bersepeda berantai selama 18 putaran pada pukul 18.00 WIB. Yang membuat aku agak bergidik adalah ketika seorang teman memforward sms aksi dengan dibawahnya tertulis footnote tidak ada jaminan keselamatan, aksi ini adalah panggilan kemanusiaan.

Teman kantor tak mau ikut serta. Otomatis gak ada bareng, agak malas juga. Apalagi sepeda sudah lama kuanggurkan. Bahkan aku sudah sms teman panitia bahwa saya positif tidak ikut. Namun entah kekuatan darimana, tiba-tiba sepeda yang masih bagus tetapi usang berdebu karena berbulan-bulan gak kupakai itu aku mandikan dan kubawa ke bengkel sepeda untuk dilumasi rantainya. Dan tepat pukul 5 sore, sepeda sudah siap pakai. Berganti kaos putih sesuai dengan dresscode aksi yang sengaja aku dobelin pakai kemeja kotak-kotak, headset di kuping dan helm, aku mengayuh sepeda cukup kencang. Maklum, pemberitahuan jam ngumpul setengah 6. Sampai di alun-alun aku malah kayak anak hilang. Dengan menajamkan mata pada satu persatu pengunjung alkid tak kutemukan orang yang kukenal atau paling tidak berdresscode sama denganku. Terus terang aku mulai panik. Kumpul dimana mereka, batinku.

Sampai di sasono hinggil, ada satu panitia dan peserta rapat tadi pagi. Dan rupanya ia juga agak kebingungan sampai kami yang tak saling kenal jadi agak akrab. Lalu satu persatu datang. Aku bisa menangkap wajah-wajah agak ketakutan disana. Setelah satu persatu datang, aku merasa bergerombol bukan ide yang baik. Apalagi sejak datang tadi sudah ada dua lelaki pelontos yang memperhatikan gerak gerik kami.

Akhirnya aku mencetuskan ide mengajak perempuan yang juga bawa sepeda gunung sendiri untuk keliling duluan. Ia setuju. Padahal kami tak saling kenal sebelumnya. Lalu ada beberapa orang yang ikut. Tepat jam 6 mungkin, leader sepeda yang telah ditunjuk dimana orang yang bonceng di belakang akan memetik gitar dan mulai bernyanyi memimpin koor panjang sepeda berantai. Berbaris satu ke belakang dengan tak putus aksi dimulai. Nyanyian mulai Indonesia Raya sampai Pelangi-Pelangi berkumandang mengundang tiap pasang mata melihat dan sesekali terdengar riuhan dari para pedagang di pinggir jalan. Entah berpuluh sepeda yang ikut serta bercampur para pengendara sepeda lainnya. Hingga kemudian...
"FPI datang, bubar!!!" seru si ketua panggung keberagaman dari arah belakang hingga ke depan usai ia melihat 2 mobil jeep dan bermotor2 penuh orang bersorban.
Disinilah kepanikan mulai terjadi. Barisan berkaos putih mulai kocar-kacir, cepat-cepat mengembalikan sepeda sewaan lalu mengambil motor masing-masing. Yang bawa sepeda sendiri juga tunggang langgang berbelok keluar alkid. Aku malah kebingungan. Ada apa dengan orang2? Padahal ketika rapat tadi siang mereka telah mantap akan bilang: "Kami hanya piknik bersama dan bersepeda?". Lalu mengapa lari?
"Kita cuek aja yuk, sewa sepedanya kan belum habis. Lagian juga gak ada yang akan tahu!" ujar seorang perempuan.
Aku mengamini rencananya. Kenapa kita harus berhenti? Toh kita juga sama dengan pengguna sepeda sewaan yang lain, kan? Namun teman perempuan itu yang juga panitia menyuruh mengembalikan sepeda yang ia tumpangi. Rona mukanya juga mencekam. Akhirnya, kami tak jadi melanjutkan sepeda ria.
"Lalu kita mau kemana nih? Apa bubar jalan?" tanyaku. Ya konyol saja kalau bubar jalan. Sebagian memilih bubar, sebagian ikut anjuran ke tempat minum salah satu teman. Meski tak tahu arah aku mengikut saja.

Usai melepas lelah, bercengkrama tentang aksi yang dilakukan barusan, aku hendak beranjak pulang. Namun satu hal, aku lupa jalan pulang. Maklum ingatanku teramat buruk jika menghapal jalan. Aku bertanya pada teman kantor yang rumahnya sekitaran tempat yang kusinggahi ini dan mengabarkan jalannya aksi hingga membawaku ke tempat melepas lelah ini. Namun tanggapan teman kantor sungguh diluar dugaan, aku sudah bilang kalau aku bawa sepeda tapi ia bersikukuh menjemputku. Sampai di depan, ia menyuruhku keluar.
"Kamu itu konyol banget, di sebelah ini malah justru tempat si milisi sipil itu nongkrong!" jelasnya. "Makanya, aku harus jemput bukan hanya kasi ancer2 pulang!"
Kebetulan ada teman dari Jaringan Perempuan yang mendengar. Aku segera masuk. Awalnya dikira aku hanya pamit pulang. Tapi aku mengambil kuping salah seorang teman.
"Aku pulang dulu. Kata teman kantor di sebelah tempat ini, fpi biasa nongkrong jadi jangan lama-lama disini. Dan kalaupun keluar, jangan melakukan pergerakan ekstrem."
Temanku mengangguk dan kemudian mengedarkannya ke kuping panitia. Aku beranjak pulang dan meyakinkan bahwa info untuk tidak berlama-lama di tempat ini sudah beredar. Kulihat satu sepeda motor keluar. Aku dituntun teman kantor melewati gang-gang yang tak pernah kulewati sebelumnya. Bahkan di satu jalan, kami harus benar-benar menuntun kendaraan karena kata temanku di wilayah keraton kendaraan harus dituntun kecuali mobil. Hingga kemudian aku berpisah di pertigaan menuju jalan besar yang telah kukenal.

Sampai di kamar barulah terasa kelunya kaki ketika kuselonjorkan. Entah berapa kali aku mengelilingi Alkid, ditambah aksi kebut2an "melarikan diri" dari Alkid lalu pulang ke kost, uffs mungkin gak keitung, tapi anehnya saat beberapa waktu lalu mengayuh sepeda setelah beberapa waktu absen bersepeda, nafasku dibuat tersengal padahal jarak tempat kerja dengan kos tak begitu jauh sama seperti perjalanan dari kos ke alkid, namun kali ini entah kenapa bahkan capek pun tidak. Kaki ini seakan tak ingin berhenti mengayuh. Baru aku tau kalo telapak tanganku memerah karna tadi sempat tabrakan berantai akibat pengendara depan berhenti mendadak.

Semangat. Aku meyakini hanya faktor tsb yang membuatku seperti memakai viagra saat bersepeda tadi. Semangat perjuangan kenapa kejadian ILGA harus terulang, kenapa milisi sipil itu kian berkuasa dan aparat seperti lemah syahwat tak berkutik. Kita akan selalu berjuang teman-teman, aku meyakini itu! Semoga semangat itu tak pernah surut sampai premanisme yang mengatasnamakan agama itu dimasukkan dalam kandang besar karena perilaku mereka tak ubahnya seperti hewan. Perbedaan manusia dengan hewan terletak pada akal dan pikiran. Hewan berakal tapi tak punya pikiran, sama seperti milisi sipil itu!

Tuesday, April 20, 2010

GE-ER


Ada kisah yang membuatku tersenyum, cerita dua orang perempuan. Adalah permintaanku untuk mampir ke warnet usai "berkeliling" kota seharian ini. Bagaimana tidak, mulai dari ke kantor, lalu agak siangan kembali ke kost untuk urusan perbankan. Lalu ke bank yang kumaksud, setelah janjian dengan customer service-nya yang masih mengingatku karena identitas genderku. Ia masih ingat ketika aku membuka rekening beberapa lalu ia menatapku dari ujung rambut ke kaki dan begitu sebaliknya ia meragukan "keperempuananku", ditambah jenis kelamin yang tertera di KTP waktu itu masih LAKI-LAKI. Praktis ia kian ragu dan memintaku mengganti kartu identitas terlebih dahulu sebelum membuka rekening. Dan hal itu rupanya yang menautkan ingatannya terhadapku. Ketika aku menelepon customer service bank tanpa administrasi bulanan itu dan ia memperdengarkan namanya serta kemudian menanyakan identitasku, ia lalu kubawa pada kejadian keraguan gender itu, ia langsung teringat sekaligus terbahak, lalu ia mendengarkan keluhanku tentang permasalahan transfer antar bank dan menyuruhku menemuinya saja untuk mendapatkan kejelasan. Dan aku benar menemuinya, masih dengan senyum tertahan dan wajah khas jawanya ia menjelaskan dengan gamblang serta detil.

Perjalanan berikutnya adalah UNY. Menemani seorang straight yang cukup dekat denganku. Lalu FoodCourt UGM. Bertemankan wi-fi aku tertarik pada ucapan selamat ultah seseorang yang tak aku "kenal". Dan bicara soal ucapan ultah, bagiku ada satu ucapan yang menggelitikku. Entah ge-er atau hanya spekulasi atau memang benar adanya, ada seorang yang ingin mengucapkan selamat ultah, namun karena pertimbangan yang menyangkut relasinya dengan seseorang akhirnya ia memilih mengirimkannya lewat aku pihak lain. Semoga aku hanya kegeeran dengan halusinasi konyolku itu hehehehe...

Usai melahap semangkuk soup buah dan pem-mpek, aku meminta diturunkan di warnet untuk "panen", hal yang tak sempat kulakukan seharian karena pikiranku sudah lebih dulu dikacaukan dengan urusan perbankan. Si penjaga warnet adalah perempuan yang selalu "ramah" padaku. Aku bisa mengatakan ramah karena hanya ia satu-satunya penjaga warnet dari sekian banyak operator yang paling sumringah menyambutku.

Awal perkenalanku dengannya dulu adalah ketika ia mengajariku menggunakan gugle translate saat aku menerima job translate yang membutuhkan interview via online. Sejak awal mengenalnya aku merasa keramahan yang tak biasa hehe mungkin ge-er. Namun pertemuan-pertemuan berikutnya itulah yang memperjelas bahwa ia berbeda dengan operator lain. Namun untuk jangka waktu lumayan lama aku tak menemukan sosoknya ketika aku menyambangi warnet. Kukira ia tak bekerja disana lagi. Aku malah hendak menanyakan keberadaannya, namun kemudian kewenanganku tak sejauh itu. Hingga kemudian aku tertegun mendapati perubahan pada dirinya. Ia kini berjilbab. Asal tahu saja, awalnya kukira ia nonmuslim karena saat aku pagi-pagi ke warnet ia menyetel lagu-lagu pujian umat kristiani.
Dan aku dibuat takjub atau tepatnya tak mengenali perempuan berjilbab dengan softlense senada bolamata itu. Perbincangan pendek membawaku semakin mengenalnya. Ia tak muncul karena harus kuliah. Ia kemudian bercerita tentang kekasih yang tak lain tetangganya di kampung. Namun aku tetap bisa merasakan gerak-gerik "aneh"nya dan sikap "istimewa" itu terhadapku.

Begitu juga malam ini. Awalnya aku menemukan wajahnya tampak tak menyenangkan, namun usai aku menyudahi pemakaian internet dan hendak membayar, aku melihatnya sedang bersiap pulang. Ia sudah duduk diatas motor. Aku berhalusinasi lagi, tapi kukira ini memang benar apa yang ia lakukan. Mungkin ia melihat dari spion, karena posisiku berdiri tampak dari spion motornya. Dan entah kenapa, aku juga begitu terburu-buru untuk menyelesaikan pembayaran. Ada sesuatu dalam diriku yang membuat aku harus cepat-cepat keluar sebelum motornya melaju. Dan doaku terkabul. Dan sepertinya aku bukan tengah berhalusinasi, ia jelas menunggu. Senyumnya merekah ketika melihatku.
"Bonceng dong, bonceng!" godaku seraya mengambil posisi hendak duduk di belakangnya.
Ia menghidupkan skuter matik dan mempersilahkanku.
"Ayo," ujarnya. Ada yang beda dari matanya. Dari cara ia menatap.
"Nggak, ah!" sahutku.
"Lho, ayo, tenanan ki! (Beneran ini!)" sergahnya.
"Mang kamu mau ke kanan atau kiri?" tanyaku menanyakan arah kepulangannya.
"Kiri. Kamu?"
"Sama sih, tapi nggak, deh!"
"Halah, wong sama-sama ke kiri aja lho, ayo tak antar!" ajaknya.

Aku tetap menolak dan melajukan kaki seraya memberinya lambaian perpisahan. Namun ada yang aneh, ya aku menunggunya untuk melewatiku tapi ia tak kunjung melintas. Jadi tidaklah benar kalau ia belok kiri sejalur denganku. Lalu kenapa ia ngotot ingin mengantar?

Monday, April 19, 2010

MEMAKNAI ULANG TAHUN


Hari ini usiaku memijak dua puluh delapan tahun. Cukup dekat dengan usia tiga puluh, ah, tapi itu nggak ngaru hehe usia mendekati berapapun tetaplah usia yang akan mengurangi waktu kita untuk menghirup dan menyesapkan apa yang diberikan dunia.

Ultah kali ini, seperti biasa, tak ada yang istimewa. Sedari kecil aku tak pernah memaknai hari kelahiran dengan perayaan khusus, apalagi pesta. Namun kali ini cukup meriah, dihadiri kurang lebih 300 undangan. Nah lo dirayain dimana? Hari ini ada sarasehan dan juga sekaligus perayaan hari jadi organisasi para pekerja rumah tangga kelompok dampingan LSM tempatku bekerja. Undangan yang hadir diatas 100 orang. Tetapi memang tak ada hubungan dengan ulang tahunku, hanya acaranya saja yang bertepatan meski sebenarnya hari jadi mereka tanggal 19 ini.

Memanjakan diri. Mungkin itu yang sengaja kulakukan, selain membalas ucapan selamat ultah di fesbuk. Hari berlalu sedemikian cepat, tak terasa setahun berlalu seolah bagai sekedipan mata. Langit kian pendek, namun semoga perjalanan masih tetap panjang untuk kutempuhi dengan segudang makna, rintangan dan halangan yang berceceran di depan dan kutempuhi dengan semangat yang meski kuyakini pasti akan ada pasang surut namun InsyaALLAH tiada kan pernah padam. Amien.