Mobil berhenti di rumah bertembok rendah dengan sebuah pohon mangga besar. Halaman terlihat gelap, namun lampu teras menyala. Ada seorang perempuan berkerudung duduk bercengkrama dengan dua pemuda. Aku turun, namun menunggu Butet mensejajari langkahku. Seperti yang tadi kubilang, agak susah buatku beramah tamah.
Berbincang sebentar dengan si empunya rumah, kami memutuskan untuk pergi tidur karena besok pagi-pagi masih harus menjemput Ani di terminal. Namun entah kenapa mataku begitu sulit terpejam. Aku iseng menelepon Ani beberapa kali, juga yang lain. Perempuan yang sedari tadi tampak serius ketika awal berjumpa hingga dibalik kemudi memasuki kamar dengan mengenakan celana pendek jauh diatas dengkul dan singlet hijau. Makin menajamkan penglihatanku namun makin merancukan argumenku. Lagi-lagi soal label!!
"Gimana pendapatmu setelah bertemu denganku?" tanyamu dalam gelap. "Apakah benar yang dikatakan kedua orang yang pernah bertemu denganku dulu?" Bahkan kau sendiri pun bertanya tentang label. Sesuatu yang masih kusut di benakku.
"Jujur, aku sendiri bingung jika ditanya soal label karena hanya kamu yang bisa merasakannya, kan?"
"Aku hanya ingin tau penilaianmu saja!"
Perempuan berambut cepak itu menanti jawabku.
"Dari ujung rambut sampai leher kau butchie, tapi dada ke bawah... For me its still unpredict!"
"Ow begitu ya..."
Perempuan itu tersenyum dan lamaa sekali menatapku.
"Dont staring me like that!" sergahku karena aku memang tak suka dipandangi, apalagi dengan tatapan tak terdefinisikan.
Mataku ternyata benar-benar tak berkompromi. Mencoba tengkurap agar cepat tertidur juga tak manjur. Ditambah telepon-telepon Ani tentang kerisauannya dalam perjalanan. Juga berisiknya hape perempuan di sebelahku yang silih berganti berdering. Sebuah kebiasaan yang teramat sangat kubenci darinya sejak awal aku berproses dengannya hingga kini. Tak enak tidur dan terbangun berkali-kali. Walhasil paginya kepalaku pusing.
Ani sudah menunggu di terminal sementara perempuan itu masih asyik bertelepon. Dan sama ketika di stasiun semalam, tak gampang mencari sosok yang dimaksud. Maklum juga sih karena tak ada yang tau fisik atau wajah Ani, bahkan aku yang mengenalnya setahun lebih pun tak pernah dikiriminya foto.
"Tunggu saja di masjid dekat parkiran..." perintah Butet. Ia memarkir mobil agak jauh lalu kami berdua jalan kaki ke tempat yang dimaksud. Dari jarak seratus meteran Ani sudah melambaikan tangan. Baginya mudah menemukan kami. Ia sudah pernah melihat foto kami, lagian tak sulit menemukan dua perempuan bergaya laki-laki diantara kerumunan.
Akhirnya, ketemu juga dengan saudaraku satu ini. Padahal jarak Sumenep dengan kotaku jauh lebih dekat daripada Jogja. Tapi Jogja lah yang mempertemukan kami.
HARI PERTAMA DI JOGJA
Seakan urat nadi lelah kami telah terputus, setelah mandi dan beristirahat sebentar, kami bertiga menuju Galeria. Butet beralasan akan membeli sepatu, namun dibalik itu ia tengah merencanakan sesuatu dengan seseorang.
Memberi Ani kejutan maksudnya, tapi Ani sudah terlanjur mencium aroma persekongkolan tak sedap yang dirasakannya sebagai ketidakenakan mengingat Butet adalah temannya, sedangkan orang yang diajak Butet kongkalingkong adalah orang baru yang dikenal Butet dan orang lama dalam hidup Ani.
Sedang aku... Sejak tiba kemarin aku sudah membuat janji ketemuan dengan perempuan yang sekitar 8 bulan lalu kutemui di kota ini. Hanya bedanya status kami kini agak sedikit ribet kubilang. Ia sudah sampai duluan. Menunggu tak jauh dari pintu masuk. Seperti biasa ia tampak sedikit canggung bersikap. Apalagi aku datang bareng perempuan yang teramat sangat dicemburuinya. Kami berjabat tangan dan ia langsung tenggelam bersama Ani, acuh padaku malah menyuruhku menemani Butet saja.
Di food court lantai atas. Lima lesbian dengan benak masing-masing. Aku, Butet, Kupu-Kupu Kecilku, Ani dan Brekele-nya. Entah apa yang dirasakan Ani setelah sekian lama berteman baru sekali ini bertemu Brekele. Mengingat -sepengetahuanku dari cerita Ani- mereka telah "dekat". Sedang Brekelenya sendiri bagiku tampak sok cool dengan gaya ala butchienya. Ah, aku juga tak ingin banyak mengurusi keduanya.
Pandanganku secara bergantian beralih dari Butet kemudian Kupu-Kupu Kecilku. Butet tampak asyik menonton siaran bola di tivi. Entah apa yang ada di benaknya. Benar-benar nonton tivi atau hanya peralihan. Ia lebih banyak diam. Sedang Kupu-Kupu Kecilku lebih banyak guyon dengan Ani seperti sengaja mengacuhkan, namun tatapan cemburunya jelas terbaca ketika aku dan Butet terlibat obrolan. Aku sengaja pindah duduk dekat dengannya, makin menambah kecanggungannya. Jujur saja, penampilannya hari ini sangat pas. Dalam artian, riasan serta pakaiannya terkesan matching. (Hohoho awas jangan ada yang kegeeran lho ya!) Namun endingnya tak sebaik awal. Ani ama Brekele yang awalnya canggung, tiba-tiba memanas dalam kamuflase kata-kata. Walhasil ketika keduanya memisahkan diri dari barisan, berakhir dengan kepergian Brekele tanpa pamit, entah apa yang mereka perbincangkan sebelumnya.
Sedangkan Kupu-Kupu Kecilku, ketika melihat Ani pergi berdua, ia menarikku ke bawah.
"Aku mau ngomong sesuatu empat mata!" tukasnya. Mataku sejenak beralih pada Butet yang seperti biasa tengah asyik bertelepon entah dengan siapa, lalu aku mengekor langkah perempuan yang menggenapi hari-hariku setahun ini menuju eskalator turun.
TO BE CONTINUED...
Thursday, October 9, 2008
Wednesday, October 8, 2008
Lebaran in Jogjaa... (2)
Kereta memasuki stasiun tujuan akhir sekitar pukul setengah sembilan malam. Tepat waktu, meski di jalan tadi beberapa kali terhenti nggak jelas. Begitu turun, aku menelepon Butet, mencari tahu dimana ia menunggu. Ternyata ia sedang bertelepon. Panggilanku terabaikan. Kucoba menelepon kembali dan menemukan kenyataan yang sama. Darahku naik. Aku teringat tadi ia bilang menunggu diluar. Aku melangkah keluar, celingukan mungkin saja akan menemukan sosok yang pernah kulihat fotonya itu diantara orang-orang yang hilir mudik. Tak berhasil dan telponku pun tak juga diangkat. Emosiku benar-benar terpancing!
"Kamu itu dimana, telponku nggak diangkat! Kalo emang nggak niat jemput aku bisa urus diriku sendiri!"
Nada smsku meninggi. Aku kesal sungguhan. Satu... Dua... Tiga... Tak ada respon. Aku membawa langkahku keluar stasiun.
"Persetan!"
Hapeku berdering. Aku menolaknya. Sudah terlanjur kesal. Berdering lagi. Lagi. Dan lagi. Tetap kutolak.
"Kamu dimana? Kok telponku ditolak?" Butet SMS. Akhirnya aku menerima telponnya.
"Kamu dimana? Kenapa telponku dari tadi nggak diangkat?" cerocosnya.
"Suruh siapa orang udah nyampe ditelpon malah asik sendiri nelpon!" Nada suaraku masih tinggi.
"Ya suruh siapa juga nelpon pake private number, yo nggak tak reken tho!"
"Siapa yang pake private number?"
"Kamu!"
"Ngarang!"
"Eh, coba cek hapemu, barusan kamu nelpon pake private number nggak?"
Aku kemudian teringat, tadi siang aku memang menelponnya pake private number.
"Ya kan, gitu masih nggak mau kalah!" ujarnya makin memojokkanku.
"Ah, sudahlah, kamu sekarang dimana?"
"Kamu yang dimana?"
Aku menengok sekitar. "Aku sudah keluar stasiun!"
"Ngapain keluar, kan tadi kubilang aku nunggu di parkiran!"
"Ya suruh siapa nelpon nggak diangkat!" Aku tetap nggak mau kalah.
"Ya udah sekarang masuk lagi ke areal stasiun!"
Aku menurut dengan setengah kesal. "Kamu dimana, aku sudah masuk!" Kejengkelan menghinggapiku kembali karena sudah masuk ke dalam pun aku tetap belum menemukannya. Kegusaranku makin bertambah. "Pokoknya aku nunggu di wartel depan tempat informasi!" cetusku.
"Oh, udah, udah, aku udah lihat kamu!"
Aku terperanjat. Langsung kulihat sekeliling. Mencari sosok yang sedang bertelepon denganku ini. Keadaan sekitar memang agak remang hingga nyaris saja aku melewatkan perempuan dengan padanan T-Shirt dan celana ijo sedang tersenyum ke arahku sambil menenteng hape. Sosok yang membuatku tertegun beberapa saat sebelum akhirnya kuperintahkan kakiku menghampirinya dan ditenggelamkan dalam lengan kokohnya.
"Butchie..." desisku ketika kurasakan gaya bersalamannya sama seperti yang kulakukan saat bertemu teman-teman butch lain. Entah apa yang ada dalam benakku saat ini. Aku memang sudah pernah melihat fotonya, tapi kenapa ketika menemukannya dalam bentuk tiga dimensi aku masih saja "terkejut".
Sampai masuk ke dalam mobil pun bagiku kami masih canggung satu sama lain. Ia juga tak banyak berbicara dan aku lebih banyak menghabiskan waktuku "mengamatinya".
"Bagaimana kesanmu setelah ketemu aku?" Ia mengajukan pertanyaan itu dengan menyibukkan diri menyalakan mesin mobil. Ia bahkan tak berani menatapku. Grogi kah? Entah!
Dering ponselku menyelamatkanku dari pertanyaan klise pertemuan pertama tersebut. Dari Ani. Ia sedang terjebak di penyebrangan Surabaya-Madura yang macet total.
"Gimana kalo aku nggak nyampe Jogja? Kalo liat antriannya kayak gini sih males jadinya!" rengeknya disela gaduh background belakangnya.
"Pokoknya kamu harus ke Jogja, aku nggak mau tau!" tegasku membuat rengekan Ani kian panjang sebelum kututup telepon.
"Rencananya aku tidak ingin membawamu ke rumah malam ini!" Ide perempuan dibalik kemudi yang sejak bertemu tadi kuperhatikan tiap gerakannya itu. Aku menolehnya. Ia masih saja tak berani atau sepertinya sengaja menghindari bertemu mata denganku. "Trus kita mau kemana?" Sebenarnya aku agak lega karena jujur aku tipe orang yang agak kaku kalau bertemu dengan seseorang apalagi komplit sekeluarga. Maklum, agak nggak bisa dan nggak biasa basa-basi.
"Tadinya aku mau bawa kamu nongkrong aja semalaman di jalan, di Malioboro atau Alkid gitu..." Mata perempuan itu nanar ke depan. Sikapnya kurasa dingin sedingin AC yang menembus pori-pori tubuhku.
"Butchie banget..." desisku sekali lagi memperhatikan keseriusan wajah perempuan itu.
"Lapar kan? Kita makan dulu..."
Jalanan keluar dari stasiun Tugu agak macet, cukup untuk membuatku "puas" mengamati tiap senti lekuk wajahnya. Mobil berhenti di depan warung Suroboyoan. Aku memesan kwetiau, ia capcay kuah. Kami duduk berhadapan, obrolan yang jujur saja jauh dari konsentrasiku karena benakku entah memikirkan apa. Ia kemudian melajukan mobil cukup kencang memecah jalanan malam Jogja yang mulai senyap. Mobil menikung memasuki gang kecil.
"Jangan kaget ya... Kemaren kan sudah kubilang rumahku dekat sawah..."
Ternyata ia tak jadi membawaku nongkrong semalaman. Entah karena apa. Hmm.. Aku akan bertemu keluarganya.
TO BE CONTINUED...
"Kamu itu dimana, telponku nggak diangkat! Kalo emang nggak niat jemput aku bisa urus diriku sendiri!"
Nada smsku meninggi. Aku kesal sungguhan. Satu... Dua... Tiga... Tak ada respon. Aku membawa langkahku keluar stasiun.
"Persetan!"
Hapeku berdering. Aku menolaknya. Sudah terlanjur kesal. Berdering lagi. Lagi. Dan lagi. Tetap kutolak.
"Kamu dimana? Kok telponku ditolak?" Butet SMS. Akhirnya aku menerima telponnya.
"Kamu dimana? Kenapa telponku dari tadi nggak diangkat?" cerocosnya.
"Suruh siapa orang udah nyampe ditelpon malah asik sendiri nelpon!" Nada suaraku masih tinggi.
"Ya suruh siapa juga nelpon pake private number, yo nggak tak reken tho!"
"Siapa yang pake private number?"
"Kamu!"
"Ngarang!"
"Eh, coba cek hapemu, barusan kamu nelpon pake private number nggak?"
Aku kemudian teringat, tadi siang aku memang menelponnya pake private number.
"Ya kan, gitu masih nggak mau kalah!" ujarnya makin memojokkanku.
"Ah, sudahlah, kamu sekarang dimana?"
"Kamu yang dimana?"
Aku menengok sekitar. "Aku sudah keluar stasiun!"
"Ngapain keluar, kan tadi kubilang aku nunggu di parkiran!"
"Ya suruh siapa nelpon nggak diangkat!" Aku tetap nggak mau kalah.
"Ya udah sekarang masuk lagi ke areal stasiun!"
Aku menurut dengan setengah kesal. "Kamu dimana, aku sudah masuk!" Kejengkelan menghinggapiku kembali karena sudah masuk ke dalam pun aku tetap belum menemukannya. Kegusaranku makin bertambah. "Pokoknya aku nunggu di wartel depan tempat informasi!" cetusku.
"Oh, udah, udah, aku udah lihat kamu!"
Aku terperanjat. Langsung kulihat sekeliling. Mencari sosok yang sedang bertelepon denganku ini. Keadaan sekitar memang agak remang hingga nyaris saja aku melewatkan perempuan dengan padanan T-Shirt dan celana ijo sedang tersenyum ke arahku sambil menenteng hape. Sosok yang membuatku tertegun beberapa saat sebelum akhirnya kuperintahkan kakiku menghampirinya dan ditenggelamkan dalam lengan kokohnya.
"Butchie..." desisku ketika kurasakan gaya bersalamannya sama seperti yang kulakukan saat bertemu teman-teman butch lain. Entah apa yang ada dalam benakku saat ini. Aku memang sudah pernah melihat fotonya, tapi kenapa ketika menemukannya dalam bentuk tiga dimensi aku masih saja "terkejut".
Sampai masuk ke dalam mobil pun bagiku kami masih canggung satu sama lain. Ia juga tak banyak berbicara dan aku lebih banyak menghabiskan waktuku "mengamatinya".
"Bagaimana kesanmu setelah ketemu aku?" Ia mengajukan pertanyaan itu dengan menyibukkan diri menyalakan mesin mobil. Ia bahkan tak berani menatapku. Grogi kah? Entah!
Dering ponselku menyelamatkanku dari pertanyaan klise pertemuan pertama tersebut. Dari Ani. Ia sedang terjebak di penyebrangan Surabaya-Madura yang macet total.
"Gimana kalo aku nggak nyampe Jogja? Kalo liat antriannya kayak gini sih males jadinya!" rengeknya disela gaduh background belakangnya.
"Pokoknya kamu harus ke Jogja, aku nggak mau tau!" tegasku membuat rengekan Ani kian panjang sebelum kututup telepon.
"Rencananya aku tidak ingin membawamu ke rumah malam ini!" Ide perempuan dibalik kemudi yang sejak bertemu tadi kuperhatikan tiap gerakannya itu. Aku menolehnya. Ia masih saja tak berani atau sepertinya sengaja menghindari bertemu mata denganku. "Trus kita mau kemana?" Sebenarnya aku agak lega karena jujur aku tipe orang yang agak kaku kalau bertemu dengan seseorang apalagi komplit sekeluarga. Maklum, agak nggak bisa dan nggak biasa basa-basi.
"Tadinya aku mau bawa kamu nongkrong aja semalaman di jalan, di Malioboro atau Alkid gitu..." Mata perempuan itu nanar ke depan. Sikapnya kurasa dingin sedingin AC yang menembus pori-pori tubuhku.
"Butchie banget..." desisku sekali lagi memperhatikan keseriusan wajah perempuan itu.
"Lapar kan? Kita makan dulu..."
Jalanan keluar dari stasiun Tugu agak macet, cukup untuk membuatku "puas" mengamati tiap senti lekuk wajahnya. Mobil berhenti di depan warung Suroboyoan. Aku memesan kwetiau, ia capcay kuah. Kami duduk berhadapan, obrolan yang jujur saja jauh dari konsentrasiku karena benakku entah memikirkan apa. Ia kemudian melajukan mobil cukup kencang memecah jalanan malam Jogja yang mulai senyap. Mobil menikung memasuki gang kecil.
"Jangan kaget ya... Kemaren kan sudah kubilang rumahku dekat sawah..."
Ternyata ia tak jadi membawaku nongkrong semalaman. Entah karena apa. Hmm.. Aku akan bertemu keluarganya.
TO BE CONTINUED...
Lebaran in Jogjaa...
Lebaran tahun ini adalah lebaran pertama dalam hidupku yang tidak kuhabiskan di rumah bersama keluarga. Pasalnya, disaat mungkin orang-orang tengah bersilaturahmi dengan tetangga atau sanak famili, aku malah menjejakkan kakiku di kota yang tak satupun saudara dari silsilah ayah ataupun ibu tinggal disana.
Tanggal 2 Oktober pagi. Aku berkemas. Tadinya memang tak ada rencana untuk pergi keluar kota. Hanya memang beberapa hari ini kami bertiga, aku, Butet dan Ani, sudah kasak kusuk pengen ketemuan. Karena libur lebaran kami rasa paling tepat, bukan karena momen lebarannya sih tapi masalah mencocokkan timing yang tepat mengingat aktivitas kami masing-masing, juga keberagaman daerah asal. Ketika dirasa lebaran adalah the one and only waktu yang paling baik, maka direncanakanlah pertemuan tersebut. Awalnya, kukira hampir batal. Ani sepertinya ogah-ogahan karena pendeknya jatah libur. Jadi untuk ke Jogja hanya akan menambah lelah saja. Mungkin karena tekad untuk melihat masing-masing secara tiga dimensi, mengingat aku dan Ani sudah setahun lebih saling kenal, namun tak pernah ada waktu bertemu muka serta aku dan Butet yang baru sekitar dua bulanan kenal, Butet memutuskan datang ke Surabaya. Rencana telah disusun rapi. Tanggal 3 dipilih sebagai hari keramat itu. Namun satu hari sebelum hari H, Ani berulah. Membuyarkan apa yang telah disepakati. Nyaris membuatku murka.
Rencana kemudian beralih. Surabaya tak lagi dipilih. Jogja tempat Butet menghabiskan lebaran bersama keluarga menjadi pilihan. Aku mewanti-wanti Ani untuk tak merubah apapun lagi atau aku akan membatalkan semuanya. Dan tak disangka pula, yang tadinya aku akan berangkat dari Surabaya bareng Ani kemudian berubah ketika entah dapat ide darimana aku tiba-tiba pengen nebeng seorang saudara yang hendak ke Surabaya. Aku dan Ani memang agak sedikit berdebat mengenai transportasi yang kami pilih. Ani lebih condong naik bis, sedang aku lebih suka kereta api.
Berangkatlah siang itu aku ke Surabaya. Beramah tamah di rumah saudara sebentar, lalu kuputuskan menunggu di stasiun. Kereta beranjak sekitar pukul tiga. Nyaris tak ada pemandangan berharga selain sawah. Mentari terbenam utuh ketika kereta melaju diperbatasan jawa timur dan tengah. Pria yang duduk di sebelahku turun di Solo. Aku yang sedari tadi mengalihkan mata keluar jendela dan membisu sepanjang perjalanan, kini merasa sedikit lega. Aku bergeser duduk dekat lorong sambil melihat-lihat penumpang lain.
Empat kursi di depanku, ada turis yang ketika di stasiun tadi berdiri di depanku. Ia sedang berbincang dengan pria pribumi berambut gondrong. Tepat di arah pandangku ada cewek ABG dengan celana jeans pendek dan kaus ungu asik mengutak-atik hape. Lucunya, kami sering bersirobok pandang dan lucunya lagi, ia selalu cepat-cepat membuang matanya ke arah lain lalu memutuskan tak berani menoleh ke arahku lagi. Geli membuatku tersenyum sendiri. Dan upps... Tak sengaja ekor mataku menangkap sesuatu yang lain.Tepat di kursi berpunggungan dengan cewek ABG tadi, kulihat tangan perempuan tengah merengkuh leher seorang lelaki. Awalnya kukira tangan anak kecil, namun ketika kulihat kilauan kekuningan berjejer di pergelangan tangannya kupastikan ia adalah perempuan dewasa. Mataku terus tertarik memperhatikan aktivitas keduanya(hehehe). Meski hanya tampak punggung, aku meyakini keduanya berpagutan. Tak lama memang, namun berulang-ulang.
"Ya ampun, kayak nggak ada tempat laen aja untuk berbuat mesum!" rutukku sedikit jengkel. Bukan karena apa, tapi kulihat tak jauh di kursi depan keduanya seorang bocah perempuan kira-kira masih SD tampak sedang melongo menikmati tontonan gratis tersebut. Bahkan ketika pegawai kereta lewat pun tak mengurangi birahi mereka.
"Benar-benar kebangetan tuh orang!" Kejengkelanku membuatku menarik tubuh ke dekat jendela kembali menikmati jalan-jalan gelap yang dilalui kereta. Hapeku berdering. Dari Butet yang akan menjemputku di stasiun Tugu. Aku memberitahukan posisiku. Ia sudah menanti.
TO BE CONTINUED...
Tanggal 2 Oktober pagi. Aku berkemas. Tadinya memang tak ada rencana untuk pergi keluar kota. Hanya memang beberapa hari ini kami bertiga, aku, Butet dan Ani, sudah kasak kusuk pengen ketemuan. Karena libur lebaran kami rasa paling tepat, bukan karena momen lebarannya sih tapi masalah mencocokkan timing yang tepat mengingat aktivitas kami masing-masing, juga keberagaman daerah asal. Ketika dirasa lebaran adalah the one and only waktu yang paling baik, maka direncanakanlah pertemuan tersebut. Awalnya, kukira hampir batal. Ani sepertinya ogah-ogahan karena pendeknya jatah libur. Jadi untuk ke Jogja hanya akan menambah lelah saja. Mungkin karena tekad untuk melihat masing-masing secara tiga dimensi, mengingat aku dan Ani sudah setahun lebih saling kenal, namun tak pernah ada waktu bertemu muka serta aku dan Butet yang baru sekitar dua bulanan kenal, Butet memutuskan datang ke Surabaya. Rencana telah disusun rapi. Tanggal 3 dipilih sebagai hari keramat itu. Namun satu hari sebelum hari H, Ani berulah. Membuyarkan apa yang telah disepakati. Nyaris membuatku murka.
Rencana kemudian beralih. Surabaya tak lagi dipilih. Jogja tempat Butet menghabiskan lebaran bersama keluarga menjadi pilihan. Aku mewanti-wanti Ani untuk tak merubah apapun lagi atau aku akan membatalkan semuanya. Dan tak disangka pula, yang tadinya aku akan berangkat dari Surabaya bareng Ani kemudian berubah ketika entah dapat ide darimana aku tiba-tiba pengen nebeng seorang saudara yang hendak ke Surabaya. Aku dan Ani memang agak sedikit berdebat mengenai transportasi yang kami pilih. Ani lebih condong naik bis, sedang aku lebih suka kereta api.
Berangkatlah siang itu aku ke Surabaya. Beramah tamah di rumah saudara sebentar, lalu kuputuskan menunggu di stasiun. Kereta beranjak sekitar pukul tiga. Nyaris tak ada pemandangan berharga selain sawah. Mentari terbenam utuh ketika kereta melaju diperbatasan jawa timur dan tengah. Pria yang duduk di sebelahku turun di Solo. Aku yang sedari tadi mengalihkan mata keluar jendela dan membisu sepanjang perjalanan, kini merasa sedikit lega. Aku bergeser duduk dekat lorong sambil melihat-lihat penumpang lain.
Empat kursi di depanku, ada turis yang ketika di stasiun tadi berdiri di depanku. Ia sedang berbincang dengan pria pribumi berambut gondrong. Tepat di arah pandangku ada cewek ABG dengan celana jeans pendek dan kaus ungu asik mengutak-atik hape. Lucunya, kami sering bersirobok pandang dan lucunya lagi, ia selalu cepat-cepat membuang matanya ke arah lain lalu memutuskan tak berani menoleh ke arahku lagi. Geli membuatku tersenyum sendiri. Dan upps... Tak sengaja ekor mataku menangkap sesuatu yang lain.Tepat di kursi berpunggungan dengan cewek ABG tadi, kulihat tangan perempuan tengah merengkuh leher seorang lelaki. Awalnya kukira tangan anak kecil, namun ketika kulihat kilauan kekuningan berjejer di pergelangan tangannya kupastikan ia adalah perempuan dewasa. Mataku terus tertarik memperhatikan aktivitas keduanya(hehehe). Meski hanya tampak punggung, aku meyakini keduanya berpagutan. Tak lama memang, namun berulang-ulang.
"Ya ampun, kayak nggak ada tempat laen aja untuk berbuat mesum!" rutukku sedikit jengkel. Bukan karena apa, tapi kulihat tak jauh di kursi depan keduanya seorang bocah perempuan kira-kira masih SD tampak sedang melongo menikmati tontonan gratis tersebut. Bahkan ketika pegawai kereta lewat pun tak mengurangi birahi mereka.
"Benar-benar kebangetan tuh orang!" Kejengkelanku membuatku menarik tubuh ke dekat jendela kembali menikmati jalan-jalan gelap yang dilalui kereta. Hapeku berdering. Dari Butet yang akan menjemputku di stasiun Tugu. Aku memberitahukan posisiku. Ia sudah menanti.
TO BE CONTINUED...
Sebuah Cerita...
Dalam sebuah cerita selalu ada awal yang berujung pada akhir. Entah menyenangkan entah menyedihkan.
Kita membuat cerita dari awal dan kurasa kan sampai titik akhir. Bukan sesuatu yang menyenangkan memang, tapi setidaknya melegakan. Bukan hanya buatmu, tapi juga buatku.
Bukan orang yang tepat. Bukan waktu yang tepat. Dan bukan keputusan yang tepat.
Dalam sebuah pertemuan akan ada perpisahan. Kita sudah melewath masa itu. Bersua dalam rentang waktu sementara. Tak terduga. Terencana dengan sedikit tergesa. Ah, apapun bentuknya, telah kita lalui hari bersama. Tapi tak cukup hanya sua, apalagi kata-kata. Meski penuh bunga-bunga, namun hatiku tak terjamah. Ragu itu kian merona. Dan pada lelah aku memutuskan berpisah. Bukan hanya raga. Bukan hanya benak yang masih membara. Tapi hati yang tak terjamah.
Kau memberiku setetes cinta. Mengimingiku tawa merekah. Namun hatiku sebesar belanga. Tak cukup hanya dipenuhi tawa. Berpisah. Bukan akhir yang menyenangkan, tapi kuharap akan melegakan. Bagi kita berdua.
Kita membuat cerita dari awal dan kurasa kan sampai titik akhir. Bukan sesuatu yang menyenangkan memang, tapi setidaknya melegakan. Bukan hanya buatmu, tapi juga buatku.
Bukan orang yang tepat. Bukan waktu yang tepat. Dan bukan keputusan yang tepat.
Dalam sebuah pertemuan akan ada perpisahan. Kita sudah melewath masa itu. Bersua dalam rentang waktu sementara. Tak terduga. Terencana dengan sedikit tergesa. Ah, apapun bentuknya, telah kita lalui hari bersama. Tapi tak cukup hanya sua, apalagi kata-kata. Meski penuh bunga-bunga, namun hatiku tak terjamah. Ragu itu kian merona. Dan pada lelah aku memutuskan berpisah. Bukan hanya raga. Bukan hanya benak yang masih membara. Tapi hati yang tak terjamah.
Kau memberiku setetes cinta. Mengimingiku tawa merekah. Namun hatiku sebesar belanga. Tak cukup hanya dipenuhi tawa. Berpisah. Bukan akhir yang menyenangkan, tapi kuharap akan melegakan. Bagi kita berdua.
Tuesday, October 7, 2008
P.L.A.Y.E.R
Kata diatas begitu familiar untuk kulantangkan pada seseorang akhir-akhir ini. Kadang aku bertanya-tanya sendiri, sebenarnya apa sih definisi yang tepat untuk mengulas makna dibalik kata tersebut?
Aku menggunakan kata itu pada seseorang karena ia terlalu banyak mengenal orang hingga hapenya tak pernah berhenti berdering. (Catatan: hape lebih dari satu lho!) Definisi yang tepat kah? Mengingat tak ada satu hati yang tertambat di relungnya. Hanya cabang-cabang kecil yang berentetan dipajang di hatinya yang diatasnamakannya sebagai bentuk persahabatan.
Pun demikian ketika beberapa orang, DULU menjulukiku dengan kata yang sama. Ketika aku secara bersamaan memberi hati pada beberapa perempuan. Hingga tiap kali beramah tamah dengan makhluk berjenis perempuan, langsung saja stempel tersebut ditohok ke mukaku. Playerkah?
Atau juga ketika seseorang secara sadar dan sengaja membagi hati pada beberapa perempuan. Itu kah definisi yang tepat?
Beragam definisi dengan satu benang merah, namun dengan beraneka latar belakang dan alasan-alasan lain yang membuntuti di belakang. Apapun definisinya, PLAYER tetap saja adalah sebuah stigma buruk yang kadang risih untuk disandang, namun tak sedikit pula yang berbangga dengan predikat tersebut.
Aku menggunakan kata itu pada seseorang karena ia terlalu banyak mengenal orang hingga hapenya tak pernah berhenti berdering. (Catatan: hape lebih dari satu lho!) Definisi yang tepat kah? Mengingat tak ada satu hati yang tertambat di relungnya. Hanya cabang-cabang kecil yang berentetan dipajang di hatinya yang diatasnamakannya sebagai bentuk persahabatan.
Pun demikian ketika beberapa orang, DULU menjulukiku dengan kata yang sama. Ketika aku secara bersamaan memberi hati pada beberapa perempuan. Hingga tiap kali beramah tamah dengan makhluk berjenis perempuan, langsung saja stempel tersebut ditohok ke mukaku. Playerkah?
Atau juga ketika seseorang secara sadar dan sengaja membagi hati pada beberapa perempuan. Itu kah definisi yang tepat?
Beragam definisi dengan satu benang merah, namun dengan beraneka latar belakang dan alasan-alasan lain yang membuntuti di belakang. Apapun definisinya, PLAYER tetap saja adalah sebuah stigma buruk yang kadang risih untuk disandang, namun tak sedikit pula yang berbangga dengan predikat tersebut.
BERMIMPI
Aku MUNGKIN tengah bermimpi
Melihatmu di selayang mataku
Memapahku dalam pelukan cintamu
Menuntunku hirup nafasmu
Membuatku minum di bibirmu
Memabukkanku dalam buih-buih keindahan atas nama cinta
Ah, aku MEMANG tengah bermimpi
Pelukan tlah terlepas
Nafasmu menyesakkan dadaku
Keindahan itu semu
Selayang mata yang hanya kamuflase
Seorang pemain watak yang sesungguhnya. Seorang penata mata yang lihai pula. Seorang penjaja hati yang tak mau dikategorikan murah. Ah, kau ternyata pandai juga! Jarang ada orang yang pintar tuk meng-tidakSINKRON-kan mata, mulut dan hati secara bersamaan sementara kau dengan cukup jenius menyeimbangkannya sekaligus. Sallute!!
Melihatmu di selayang mataku
Memapahku dalam pelukan cintamu
Menuntunku hirup nafasmu
Membuatku minum di bibirmu
Memabukkanku dalam buih-buih keindahan atas nama cinta
Ah, aku MEMANG tengah bermimpi
Pelukan tlah terlepas
Nafasmu menyesakkan dadaku
Keindahan itu semu
Selayang mata yang hanya kamuflase
Seorang pemain watak yang sesungguhnya. Seorang penata mata yang lihai pula. Seorang penjaja hati yang tak mau dikategorikan murah. Ah, kau ternyata pandai juga! Jarang ada orang yang pintar tuk meng-tidakSINKRON-kan mata, mulut dan hati secara bersamaan sementara kau dengan cukup jenius menyeimbangkannya sekaligus. Sallute!!
Song Of This Day
Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa
Teringat disaat kita tertawa bersama ceritakan semua tentang kita...
***
Peluk tubuhku untuk sejenak
Dan biarkan kita memudar dengan kasih
Biarkan semua seperti seharusnya
Takkan pernah menjadi milikku
Lupakan semua tinggalkan ini
Kukan tenang dan kau kan pergi...
Tinggalkan cerita tentang kita
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa
Teringat disaat kita tertawa bersama ceritakan semua tentang kita...
***
Peluk tubuhku untuk sejenak
Dan biarkan kita memudar dengan kasih
Biarkan semua seperti seharusnya
Takkan pernah menjadi milikku
Lupakan semua tinggalkan ini
Kukan tenang dan kau kan pergi...
Subscribe to:
Posts (Atom)