Sunday, April 7, 2013
Pemusnah Rasa
Siapa pencipta rasa? Kalau leci, stroberi, tentulah dari buah. Kalau rasa ini? (seraya menunjuk hati). Dan pertanyaan bodoh memang, serupa perasaan dari tempatnya bertumbuh ini.
Lalu siapa yang disalahkan ketika ada sebuah rasa bertumbuh dan mengekal di tempatnya tumbuh? (seraya menunjuk hati). Hati lagi.
Lalu bagaimana jika rasa itu mulai bertumbuh, membesar, padahal tempatnya tumbuh tak ikut mengalami pertambahan volume. Tak imbang, rasa yang kian bertumbuh, beranak pinak dalam tempat sebut saja ia berbentuk kotak, namun bahkan ketika kotak tsb penuh, ia tak mengalami kebocoran. Rasa itu seperti mengalir teratur. Sirkulasi rasa yang aneh, karena terkadang ia membuat kotak itu berwarna pink, kehitaman, merah, mengembang serta mengempis. Jadi seperti apa bentuknya si rasa itu? (seraya menunjuk hati).
Lalu apakah ada pemusnah rasa yang mengakar kokoh di tempatnya tumbuh ini?(seraya menunjuk hati). Musnahkan hatimu! Begitu gampangnya, bukan? Lalu merobek, entah dimana letak tumbuh si rasa tsb, lalu menghilangkannya. Menutupnya erat seolah tak terjadi apapun.
Kalau bisa dengan sedemikian mudahnya, maka kemari dan ambillah dimanapun letaknya...
Saturday, April 6, 2013
Belum Hilang Juga...
Kupikir marah padaMu takkan berlangsung lama. Maklum, meski tak sangat dekat denganMu, tapi aku punya cara-cara berdialog denganMu dengan cara yang menurutku istimewa. Hmm, apakah tadi aku menyebut kata marah? Apakah aku benar marah?
Aku memang sudah tak lagi menyempatkan perbincangan pagi denganMu. Aku hanya memakai caraMu memulai hari. Tapi tak ada lagi harapan dan permintaan tentang hidup, hati dan irisan takdir. Aku sedang dan masih tak percaya padaMu soal yang itu. Mungkin bagiMu juga tak penting. No no, aku tak mau ada asumsi tentangMu, ini hanya akan tentangku.
Aku hanya ingin mengingat suasana ketika pagi, ketika aku terpekur dengan mulut penuh mengadu lafaz berulang dengan tata urutan berbeda tentunya, dan aku menyenyumiMu setelahnya. Beberapa hari ini aku sengaja lari saat momen itu harusnya tercipta. Aku sedang kecewa, dan sekali lagi tak ada asumsiku tentangMu, ini hanya tentang kekecewaanku. Kekecewaan yang tiap hari bertumpuk tanpa berkurang. Jangan bilang itu tanda sayangMu, tanda bahwa Kau di sekelilingku sedang peduli pada pertumbuhan batinku. Tidak, aku tak percaya itu!
Dulu-dulu aku selalu percaya itu pertandamu. Namun kali ini, dan bukan asumsiku, Kau menunjukkan perangai kebalikan dari kebaikan-kebaikan sebagai simbolisasimu. Aku mengandaikan Kau sedang sangat menertawaiku. Hell ya, persetan kalau sekarang aku sedang berasumsi tentangMu. Aku sedang dan masih tak ingin percaya apapun tentang apa yang orang lain gembar-gemborkan tentangMu!
Thursday, April 4, 2013
Joglo-YangTakLagi-Manis

Tempat yang sama, orang yang sama dan perasaan yang kurang lebih sama. Hanya hatinya yang tak lagi sama...
Tuhan, aku benar-benar mencintainya! Gerutuku pada Tuhan. Gerutuan dalam palung terdalamku seraya batinku mengais telepati pada hatimu. Akh, aku tak perlu mengadu pada Tuhan, Ia tau betul perasaanku dan Ia jelas-jelas yang mengkreasikan kerumitan hal-hal yang tak bisa kumiliki yang Ia jalinkan pada temali bernama garis takdir.
Aku -masih- mencintainya! -Dan cukup itu saja-
Wednesday, April 3, 2013
One Day...

Kata itu selalu merujuk pada harapan dan pengharapan. Aku menyepakatinya...
Suatu hari, aku percaya akan ada garis persinggungan waktu untuk aku dan kamu, bukan mengulang yang tlah lalu, namun mencoba belajar dari apa yang harusnya tak kulakukan dulu.
Suatu hari, ketika aku tak lagi bisa mempercayai irisan takdir namamu dan namaku tak dipersatukan waktu, aku akan menaruh penanda, entah dengan simbol-simbol apapun yang semoga mampu melintasi ruang dan waktu, bahwa kelak aku dan kamu tarik-menarik dalam dimensi satu kehidupan setelah ini.
Suatu hari, ketika keduanya tak terjadi, aku tak akan bertanya tentang irisan takdir dan persinggungan waktu, itu hanya Tuhan yang mau, karena yang ku mau kau cukup kutaruh dalam bilik kecil yang juga ciptaanMu bernama hati.
Suatu hari, andai Kau renggut pun hati itu, maka hari itu pulalah hati itu beranak pinak dengan suara hati yang tak beda, kamu harapan suatu hariku...
Monday, April 1, 2013
Sedang Sangat Tak Percaya PadaMu!
Awalnya kupikir Ia sedang mengingatku dan mengajakku bermain-main. Maklum, hampir cukup lama riak keseharianku datar-datar saja. Ia memulai "permainan"nya dengan mendekatkanku pada perempuan itu. Ya, perempuan itu kembali mengisi hari dengan tawa. Namun tau sendiri kan aku, aku tak pernah percaya hal terjadi dengan semulus apapun. Selalu akan ada kerikil. Dan aku sungguh percaya pada pertanda...
Tawa itu seperti tulus. Canda itu tak ada celah. Dan hati kembali merona. Harusnya itu pertanda baik, bukan? Namun aku tak pernah seratus persen percaya. Dan benar, instingku terbukti. Segalanya hanya pemanis di awal. Akh, untuk hal-hal begini aku sudah biasa!
Tak butuh waktu lama untuk menata energi dan pikiran kembali pada tujuan semula. Mencintaimu. Masih tetap akan melafalkanmu sebelum memulai aktivitasku. Dan masih mempercayaiNya! Ia dengan segala kuasanya tengah menegurku, mengajakku bercanda, mengingatku bahwa aku masih makhluknya. Itu menyemangatiku, tak menciderai hari-hari burukku. Akh, aku ciptaan yang naif, bukan?
Namun semangat itu meluruh. Kukira Ia tengah sayang padaku. Tegurannya kupikir adalah rencananya untuk menguatkanku, tetapi pagi ini ketika aku membuka mataku, aku berseru: "Aku benar-benar sedang sangat tidak percaya padaMu!"
Kamu, kisahnya seakan nyata. Ya, memang itu yang terjadi di dunia nyata. Kamu, dan keramahanmu, dan cincin di jarimu. Kamu, yang berada dalam rengkuhku. Kamu, yang membalas denyut bibirku. Kamu, dan alam bawah sadarku. Kamu, yang sepertinya hanya hidup di alam tak nyataku.
Lalu aku menyalahkanNya! Jelas Ia yang bersalah! Hari ini, 1 April, apa Ia tengah merayakan April Mop untukku. Kalau iya, kupikir tak lucu! Maka, aku memutuskan untuk tak mempercayaiNya! Ia menghadirkanmu hanya di alam bawah sadar, dan aku merengek hebat untuk tak dibangunkan. Ia tau di alam nyata, alam bawah sadar itu tak terjadi, lantas mengapa sengaja mempermainkanku?
Pertanyaan yang kujawab dengan lantang -tapi tak menantang- kukatakan, aku sedang sangat tak percaya padaNya!
Setiap hari sebelum melajukan motor, aku mengajakNya bicara. Tentang harapanku. Tentang permintaanku. Karena Ia katanya maha segala-galanya dan aku hanya makhluknya. Namun hari ini, aku mengajaknya bicara hal lain; Maaf, aku sedang sangat tak percaya padaNya! Aku mendongak, Ia pasti mendengar. Tapi aku tak sedang menantangnya. Aku hanya kecewa ternyata Ia juga pandai mengiming-imingi ciptaanNya tapi tak pernah benar-benar memberikannya.
Jadi, apa bedanya? Maka genaplah, aku sedang tak percaya!
Sunday, March 31, 2013
Sungai Kehidupan Hatiku Tentangmu..
Ide itu tiba-tiba terlintas. Dan segera ku tindak lanjuti. Mengungkap isi hati via lagu. Sisi otakku yang lain meragu, mengajak berseteru. "Ngapain kamu lakukan lagi, mau ditertawain lagi?" sinisnya. Ya, aku punya riwayat buruk tentang menjabarkan hati lewat media tertentu.
Video waktu itu yang kupilih. Menautkan potongan-potongan gambar teman-teman membawa tulisan berkesinambungan. Bahkan mereka rela "syuting" demi mendapat gambar dengan latar background yang bagus. Saya salut dengan teman-teman waktu itu, demi menuruti keinginan hati saya meski hasilnya cuma tertawaan.
Menurut otak hal itu harusnya menjadi bahan pelajaran untuk tidak diulangi, bukan? Tapi hati kembali bereuforia. Hati sekali lagi bermain-main dengan yang namanya ilusi...
Idenya adalah ketika malam api unggun, seorang teman akan bermain gitar dan saya bernyanyi. Meski belum kepikiran juga apa yang akan dilakukan, ya gimana mau mikir wong membayangkan respon yang sama seperti kasus video tadi saja sudah bikin mikir ini akan sama endingnya, ditertawakan. Tapi hati tergolong ulet..
Pagi itu, mruput, bergegas ke tempat teman untuk mencocokkan nada. Niat banget, bukan? Hmm, terlanjur diniati ya dilakoni. Gak sampai sejam match sudah suara dan petikan gitar. Dan belum kepikiran juga skenario masuknya mengungkapkan hati akan kayak gimana, pokoknya persiapan dulu lah..
Malam tiba, seperti biasa otak bikin hati maju mundur. Dan ungkapan hati itu tersalurkan melalui media lain. Sungai kehidupanku. Bercerita mulai dari kisah semasa kecil, remaja, cerita cinta dan kamu. Hmm, aku bahkan tak menduga ungkapan itu terkatakan. Hanya saja aku berterimakasih pada sang waktu karena jika tak kulakukan pada medium masa itu, ungkapan unek-unek hati tak pernah akan tumpah. Berbicara denganmu empat mata, aku bukannya meragukan, tapi jelas-jelas meyakini situasi obrolan tak akan mengarah pada inti tetapi berputar tak tentu arah. Aku hafal karaktermu, pun karakterku.
Dan setelahnya, lega. Entah di ruang yang mana, pastinya tak mampat. Dan entah bagaimana caranya mengungkap isi hati jauh lebih lancar ketimbang memimpin forum. Tak ada kata terbata-bata. Musnah kalimat yang selalu blunder. Meski tak semua runut tetapi paling tidak tak ada yang bisa menghalangi hati waktu itu untuk tak melepaskan unek-uneknya.
Hmm, lantas aku terdiam. Otakku kembali menebar racun. Racun yang benar telah menyebar di setiap pembuluh darah..
Thursday, March 7, 2013
Pecicilan itu Menyenangkan!
Aku datang terlambat. Berefek pada aku tak bisa memilih tempat duduk. Dan suer aku benar-benar lupa pada acara itu. Mendapati 3 orang-orang baru di sekitarku, perkenalan, untung mood sosialitaku sedang bagus. Perempuan itu berbalut baju kedinasan, mukanya terlihat gak ngenakin, galak gak jelas. Biasa aku agak mikir negatif kalo semeja dengan instansi pemerintah. Yang udah-udah pasti mereka menunjukkan relasi kuasa dengan ngeremehin lsm. Hari pertama perempuan itu tak mengisi selayang mataku.
Baru hari kedua ketika diskusi kelompok aku mengetahui perspektif dan alur pikirnya. Ia mulai menarik. Plus aku mengerjainya, ia yang menulis ia yang bacain. Baru kali ini bisa ngerjain instansi pemerintah, bukan? Namun tujuanku sebenarnya adalah mengetahui isi otaknya. Ia pintar, dan konklusi itu membuyarkan muka agak judesnya yang sedari awal ku benci.
Dan mbribik pun dimulai... Menanyakan ia di divisi mana, kegiatannya, bahkan studinya.. Perempuan ini cerdas! Hari itu kami bertukar pin. Kukira hanya akan sebatas saling tukar, kami duduk bersebelahan dan ia mengirimiku pesan bbm. Dan indera mbribikku langsung memasang antena tinggi-tinggi.. Perempuan itu memulainya...
Esoknya, aku menanyainya akan berangkat jam berapa. Ia datang terlambat. Dan last day yang mengakrabkan. Alur pikirnya untuk seorang yang berada di posisi kedinasan bagiku lumayan mumpuni sebagai changemaker. Ia mengkritisi tetua yang konservatif, kebijakan yang tidak pro rakyat, hmm meski ia tak dalam posisi sebagai decision maker, namun ada orang-orang yang progresif di instansi pemerintah itu adalah kemajuan.
Hampir tiap hari kami bersambang dalam bbm. Tentang program yang bisa di akses, kegiatanku, bahkan obrolan tak penting tentang kegemarannya. Dan aku tergelak, ia mengharap akan bertemu denganku dalam event sosialisasi. Sayangnya bukan aku yang datang.
Dan ada satu hal lagi yang membuatku tergelitik... Ketika proses 3 hari kemarin ia selalu memanggilku mbak, panggilan lumrah dan aku tak protes bahkan di awal kami bbm-an ia masih memanggilku mbak. Namun entah dapat wangsit apa, ia kemudian memanggilku kakak. Dan setiap kata yang harus menyertakan namaku, ia terus berujar kakak dan kakak. Sunggingan bibirku melebar... Aku pasti mengerjainya! Terlebih usai mendengar statementnya: itu foto tunangan kok, belum mantenan!
So, let's mbribik.. For access khususnya..
Subscribe to:
Posts (Atom)