Tuesday, January 10, 2012

Logika, berdamailah, aku pernah jatuh hati padanya...

Kata itu untuk kesekian kalinya diungkap hati memang, dan kali ini mujarab. Bukan karena peri memelas hati agar diterima, logikaku sedang membuka-buka ilmu ikhlas...

Ya, logika yang sekian lama menginstruksi tangan untuk mengepal pasir, kini mulai belajar melihat pasir-pasir itu dalam telapak yang terbuka. Entah ia akan ikut tersapu angin atau menetap dalam lingkaran tanganku, logika sudah bisa menatapnya dengan senyuman.

Ya, logika yang setengah mati menopang daguku untuk tetap tegap, bahwa aku bisa pongah, tak butuh sesuatu yang bernama cinta, membunuhi satu demi satu kenangan, ingatan dan semua yang bermuara pada perempuan itu dengan kepongahan berlabel harga diri. Saking congkaknya, kalau bisa kuibaratkan, logika akan sanggup membeli apapun di dunia ini agar hati tak usah lagi mengais dan berturut pada rasa yang membuatnya seperti kerbau dicocok hidungnya. Ya, logika mengakuinya... Logika itu dulu meluapkan amarah lewat apa saja, aku tau niat baiknya, ia hanya tak ingin hatiku mendung. Meski ia tau akan ada pelangi setelah badai, ia hanya tak mau ketika hujan turun ada ratapan yang mengiring serupa hujan. Logikaku menyayangi hati. Sisi maskulin logikaku kini sedang bercanda riang dengan kefemininan hati.

Logika, terima ya aku pernah jatuh hati padanya...

15:10, Tue 10-Jan-2012

Monday, January 9, 2012

Sesuatu yang tak akan kusebut sebagai luka

Malam telah beranjak larut namun mata belum mau diajak surut. Lingkaran hitam yang mengelilinginya padahal sudah diambang batas normal, meski begitu tak nampak tanda-tanda kantuk akan mendera. Tugas memang menumpuk, itu sudah berhari-hari lalu. Namun bukan itu yang membuat otak masih terjaga jam segini, hati tak mau ditidurkan. Benak ini sedari tadi terisi oleh cerita-cerita kasih medio akhir tahun yang masih menyisakan, kalau boleh dibilang melanggengkan sesuatu yang awalnya kusebut luka.

Sapaan seorang kawan lama di fesbuk, dan ini untuk berapa kalinya sejak berapa hari lalu, namun selalu tidak sukses karena sinyal buruk yang menghambat komunikasi, sama dengan malam ini. Jemariku bergerak menekan tanda panggil untuk nama perempuan ini sembari melirik keatas layar hape, waktu merangkak tepat ke pergantian hari.

Suara di seberang menyahut. Entah sudah berapa lama kami tak berjumpa suara, terakhir hanya lewat dunia maya, dan ternyata banyak cerita yang kulewatkan tentangnya dan ia sendiri mengaku mengikuti kisahku lewat timeline fesbuk. Ia mulai berkisah...

Cerita hatinya yang lumayan complicated satu demi satu terucap. Namun kucermati dalam nada dan pola bicaranya, ada sesuatu yang berbeda. Jelas perbedaan yang signifikan jika dibandingkan ketika ia bercerita kisahnya dengan derai tumpah kira2 beberapa bulan lalu. Meski alurnya sama, sad ending, namun cara ia bertuturlah yang tak sama.

Bibir yang mengantar kisah tak bahagia untuk sebuah cerita bahagia itu tak terdengar pahit di telingaku.
"Kamu tau sendiri kan kisah hidupku sedari dulu, hampir nggak pernah bahagia soal hati. Kali ini juga, besok ia menikah, dan sampai berapa jam lalu aku menemaninya. Tapi ia lantas menyuruhku pulang, melarangku esok ada di hari pernikahannya meski aku sangat ingin ada dan melihatnya. Ia tak sanggup. Sepanjang perjalanan tadi tangisku tumpah, tapi ada sesuatu yang menguatkanku..."

Ia bercerita runut. Makin kental sekali perbedaan cara ia bertutur. Ia pun bertanya cerita hatiku. Kalau mengambil benang merahnya, ada kesamaan tentang: selingkuh, laki-laki dan hati. Cerita kami memang tak sama, meski berangkat dari sebuah "kesalahan hati" yang sama. Aku belajar satu hal malam ini darinya; sesuatu itu tak akan kusebut sebagai luka. Begitu ia menyimpulkan cerita hatinya dengan perempuan itu. Karena luka membutuhkan waktu untuk sembuh, tapi ketika menguatkan hati untuk menempatkan cerita hanya dari sudut pandang indahnya saja, paling tidak kau akan lebih mudah berdamai, dengan hatimu dan yang bersangkutan.

Menilik ke dalam cerita hatiku, ia berprasangka bahwa aku sedang terluka. Aku membantah, bukan membela diri. Terlepas dari bagaimana caraku, aku menganggap pola yang kubikin untuk perempuan yang hingga detik ini ada dalam nafasku adalah pola terbaik yang aku bisa. Aku tak membencinya, aku membenci diriku sendiri yang memberikan hatiku padanya.

Aku selalu berujar, tendensinya padaku adalah urusan ia dengan pemberi hidupnya, sedangkan koridorku adalah bagaimana aku menata sikap dan hatiku untuknya. Marah pun, aku bukan marah padanya, tapi dengan diriku sendiri. Oleh karenanya aku sepakat ketika perempuan di ujung telepon ini berujar tak akan menyebut sesuatu ini sebagai luka. Terlepas dari aku masuk pada hubungan yang salah ataupun menjatuhkan hati pada perempuan yang salah, aku bersyukur meski dalam realitas pola hubungan komunikasi verbalku kini dengannya tergolong baku, namun jauh dalam palung terdalamku aku menjaganya dalam doa dan caraku menyayangnya.

Setiap pola akan menimbulkan persepsi. Dan aku tak hidup dalam persepsi orang lain. Bukan meyakini bahwa bagaimana aku berkeputusan adalah selalu benar, tetapi paling tidak hanya aku dan pemberi hidupku yang tau apa yang dilafalkan di awal oleh hati.

Kau, sesuatu yang tak akan kusebut sebagai luka, aku hanya belum sembuh dari logika yang mencengkerammu di kepal tanganku dan melihatmu sedikit demi sedikit perlahan mengalir keluar dari celah jemari.

Sunday, January 8, 2012

Kepongahan Otak

Dan hujan turun lagi. Dan hujan lagi yang temani. Masih dengan nuansa sama... Kamu yang terejahwantahkan melalui bulan. Bulan yang tak terbit malam ini, tepatnya ia bersembunyi di balik tangis langit.

Teringat semalam, sebelum sapaan di fesbuk itu buliran air tengah meretas dari mataku. Bukan karena terlampau lelah dengan deadline. Airmata tanda matinya kepongahan logika. Namun ia tak benar-benar mati ternyata!

Saya sendiri heran, biasanya ketika melepaskan ganjalan, derai yang tumpah adalah cara terjitu, karena seiring tetesan yang jatuh pun mengalir sungai recovery. Tak hanya hati yang berlega, namun logika pun berlegawa. Tapi entahlah, untuk kisahku kali ini, logikaku lebih dari sekedar congkak.

Pernah merasa, hati ingin berteriak sementara logika mematikan semua sistem syaraf ke mata untuk tak memproduksi airmata? Begitu kira-kira yang kuamati dan kurasakan sejak akhir Desember lalu.

Setiap kali hati mempropaganda mata untuk mendayu sayu, otak memang tergerak memformasi sosok perempuan itu dalam benak, tapi ketika mata hendak memproduksi sungai kelegaan, ia tercekat. Ada sesuatu dalam saraf otak yang tegas melarang. Bukan hanya larangan tangis, larangan rindu dan larangan lain tentang perempuan itu.

Hei otak, kenapa kau sebegitu congkak? Tak tau kah kau hampir sebulanan aku sudah mirip robot tak berperasaan, hanya seperti mesin bekerja tanpa ekspresi muka.

Tak ada waktu untuk menangis! Otak, kau sedang berlindung dibalik tumpukan pekerjaan yang memang menanti untuk terselesaikan, tapi kepongahan apa ini sampai-sampai buliran ini kau bunuh untuk tak menetas bahkan di kelopak mataku!

Otak, saya letih!
19:17, Sun 8-Jan-2012

Saturday, January 7, 2012

Dan hujan...

Hujan memang tak ada kaitannya dengan cerita aku dan kamu. Tetapi denting hujan bagiku seperti hawa magis yang mengantarkan benakku akanmu. Kamu dan aku yang tak seindah dulu...
***

Ketika jatuh hati, orang akan lebih mudah mengingat bahkan meluapkan memori bahkan hingga detil kisah-kisah kecil. Untuk kisah hati kali ini, aku
adalah kebalikannya. Otak diujung jemariku mampat tak bisa menari. Kontradiksi dengan cerita-cerita sebelumnya. Bait kata yang kata orang gombal terlalu mudah tergelincir dari lidah penaku. Menuliskan dikategorikan susah mungkin, namun bahkan menemukan chemistry diantara aku dan kamu, otak telah terperas pun aku tak pernah mendapati apa yang sebenarnya menautkan aku dan kamu.
***

Sore, hari itu, aku melihatmu, bukan untuk pertama kalinya, namun pertama kali sesuatu menyelip diantara bilik hati yang kala itu tersuguh manis untuk perempuan lain. Perempuan berkemeja krem, yang bahkan malam sebelumnya kusapa ketika menemui seorang teman yang kebetulan ada pada event yang sama. Begitulah persinggahan takdir mempertemukan aku dan kamu kala itu.

Bisa karena terbiasa. Kadang aku tak percaya ungkapan itu. Bagaimana mungkin curi-curi pandang usai sukses mengajaknya berkeliling pada event itu, yang bahkan aku pun nggak nyangka ia mau kuajak karena memang kami kuanggap BELUM saling kenal. Setiap memutar ulang hari itu, bibirku menyungging senyuman, terlebih mereka rupa wajah dan sikapnya yang selalu ingin kontroversi denganku. "Ada apa dengan perempuan ini?" pikirku.

Lalu percayakah bahwa hati tak memerlukan buku diktat setebal kamus atau referensi dari narasumber atau kliping cerita-cerita untuk memaknai satu demi satu kebersamaan yang kemudian tercipta. Prototipe hati seakan sebegitu sederhananya ketika "mencinta orang asing".

Dan jangan pernah percaya ungkapan bahwa kau bisa berjalan diantara dua kayuh dengan dua kakimu. Yakin bahwa hatimu teruntuk orang lain sementara kau juga bisa bermain-main. Sekali lagi hati yang bisa sebegitu sederhana itu sanggup mengobrak-abrik tata aturan yang bahkan sudah terpatenkan lisan untuk dilanggar, tepatnya tak tau kenapa bisa dilanggar.

Dan kemudian terbentuklah racun hati yang seperti biasanya. Keterlibatan emosional. Para pembisik. Semu. Jemu. Setiap cerita bahkan di kehidupan nyata pun punya alur. Fluktuasi yang tak terhindarkan. Dan terlebih, akhir cerita.
***

Berhitung. Itu racun hati paling mematikan. Hati tak pernah berhitung. Namun sejak logika menderita trauma cerita lalu, ia kadang menyelusup membawa mesin penghitung dan berusaha mencekoki hati tentang untung rugi. Hati tak pandai berdagang, logika mewanti-wantikannya. Dan logika sedang tak mau ditawar.

Finish the unfinished
Memilih untuk berkeputusan bersebrangan dengan perasaan, aku tak perlu menjabarkannya panjang lebar, semua tentu pernah merasakan. Namun menasehati hati bahwa proses seperti ini cepat atau lambat akan terlakoni memang butuh waktu dan transisi.

*Get well soon, heart!

Wednesday, November 9, 2011

Fantasi

Mungkin, aku dan kamu, tak lebih dari sekedar fantasi, aku dan kamu. Kadang, jika kutilik ulang aku dan kamu, tak ada benang merah antara kita.
"Apa chemistry kalian?" tanya si emak2 pada kami. Ia kemudian menjelaskan chemistry intelektual aku dan dia, dan ketika kembali aku dan perempuan itu bertemu pandang, kami masih terus mencari, apa yang sebenarnya menautkan kami?

Ada pepatah yang pernah kubaca, jika kita tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan kita untuk orang yang ada di hati, maka itulah cinta. Ketika kukumandangkan itu padanya, ia malah berseru pepatah itu tak dapat dipercaya, bisa saja bermakna sebaliknya.

Pun bila menilik duniaku dengannya, sungguh kontras! Manusia malam vs manusia rumahan. Dan pola pikir yang teramat bertolak belakang, aku tipe orang yang senang semua ditutur komunikasikan sedang ia menutup rapat isi otaknya. Bahkan seringkali aku bergumam, kayaknya aku harus belajar ilmu kebatinan deh!

Dan semua yang bertolak belakang lainnya. Intensitas pertemuan yang hanya diisi kediaman, tawa dan obrolan yang bisa diitung jari. Kau bilang semua butuh waktu, aku sepakat, tapi semoga tak kelamaan di wilayah kebatinan ini.

Pun jika ini sebuah fantasi aku tak akan sepakat denganmu untuk menyebutnya kesalahan termanis. Setiap irisan takdir selalu memaknakan sesuatu, meski hingga detik ini kita belum menemukan padanan yang khas.

Friday, November 4, 2011

Kamu

Kamu. Saya bahkan tak bisa mempenakan tentang kamu. Sesingkat apapun. Ya, otak saya sedari awal menghujat; setiap yang hadir dalam hidupku selalu dapat kuprosa atau puitiskan dalam ruang dunia maya ini, kecuali kamu.

Bukan karena aku benci namamu sejak awal. Entah, aku tak menemukan satu alasan pun kenapa otakku kemudian mandeg total. Hanya ketika emosi telah memuncak, apa yang menggunung di hati sepertinya perlu untuk dikatarsiskan.

Hanya aku tetap terbungkam. Seperti ceritamu yang hanya akan terbungkam di otak dan hatiku.

Thursday, November 3, 2011

Everything Back

Everything goes normal again. Insomnia yang datang kembali. Tidur pun rasanya ada yang bangunkan. Kantung mata yang menghitam kembali. Itu yang kusebut fase normal atau rutin.

Dua bulan. Seperti pendulum aku menghitung waktu. Sebuah kemerosotan yang lagi2 aku buat sendiri. Aku terlampau berleha-leha untuk urusan hati. Hmm, ya internal error satu itu belum bisa kubenahi sampai sekarang. Ditengah riuh rutinitas yang terselubungi cerita terlarang, aku kalang kabut Oktober lalu.

Intermezzo yang harus kusudahi. Ada yang maha penting; hidupku, bukan hatiku. Bahwa sekali lagi pencipta seluruh keberlangsungan hidupku adalah diriku sendiri.