Sejak dulu aku menyukai ramal meramal dan astrologi. Ketika seorang teman memakai aplikasi meramal tentang love predict, aku tak sungkan untuk juga mencoba.
Banyak ramalan2 pendek dari si mb Meg sang peramal ini. Beberapa diantaranya soal pekerjaan. Waktu itu dia bilang u will get new job and more money, eh beberapa hari kemudian kesampaian lah ramalan itu.
Dan ramalan mb Meg ini selalu positif. Beberapa memang menyarankan untuk memakai baju warna tertentu untuk hari tertentu. Bahkan pernah ada ramalan untuk pakai baju pink segala, eleh2 punya aja kagak mau apalagi pake! Hehe. Ada juga ramalan melantur, katanya I'm going 2 meet a man, ckckckck terlalu mb Meg ini, masih heteroseksisme dia!
Lain waktu aku kembali iseng menanyai mb Meg ini, ia berkata dalam waktu dekat aku akan bertemu calon kekasih hati berinisial Y dan P. Walau iseng, tapi mikir juga, perasaan kagak ada orang yang kukenal bernama Y dan P. Ya, meski agak2 penasaran akhirnya berlalu saja...
Sabtu pagi ini aku ikut acara olahraga unik yang tak pernah kucoba sebelumnya. Agak males awalnya mau berangkat, datang telat pula. Walhasil, ambil tempat di belakang. Bersanding bule2 dan seorang perempuan bersinglet hitam. Karena tak kenal hanya basa basi senyuman. Dan olahraga pun dimulai... Cukup unik dan sangat healing stres. Meski kemudian berpindah-pindah tempat dan pasangan, namun di akhir, aku dan perempuan itu bersebelahan.
Obrolan demi obrolan mengalir. Ia kerap tertawa dengan guyonanku dan ternyata ia cukup kocak untuk membalas balik dagelan. Dan beberapa kali pula ia memukul-mukul kecil pahaku sembari tertawa.
Aku kemudian bertanya nama. Maklum, banyak peserta disini aku lumayan kenal. Ketika ia menyebut nama, yang terlintas pertama kali adalah ramalan mb Meg. Nama perempuan itu berinisial salah satu nama yang diramalkan. Aku kemudian berimajinasi (baca: berhalusinasi) sendiri. Tapi tetap saja, aku adalah aku. Harusnya yang kulakukan adalah mencoba kenal lebih dekat, paling tidak tau orientasi seksualnya, karena konon tempat ia bekerja lumayan banyak yang L. Yang kemudian terjadi adalah aku membiarkannya berlalu dan asyik terlarut dengan teman2 yang sudah kukenal meski ekor mataku menangkap sosok perempuan itu tak jauh dariku.
Ada satu kejadian lucu. Aku hendak mengambil minum, perempuan itu tiba-tiba disebelahku mencomot makanan ringan. Yang bikin lucu adalah di tangan perempuan itu sudah menangkup makanan ringan serupa dalam balutan tisu, tapi kenapa ia mencomot lagi? Pertanda yang bagus bukan, tapi yeah its me, bukan tidak paham pertanda, hanya agak meragu, ntar distigma tiap kegiatan kok cari jodoh hahaha. Dan terlewatkan begitu saja, ketika aku ke depan ia sudah tak ada.
Baiklah, kalau jodoh tak lari kemana, bukan?
*Alasannya, aku belum hendak selesai bersenggama ingatan dan hati dengan perempuan bermata "nakal" yang masih menetap seksi di bilik hati.
Saturday, March 19, 2011
Thursday, March 17, 2011
BERSETIA HATI
Sudah lama tidak menulis, ketika hendak menulis yang terbayang di ingatan masih kamu dan tetap kamu. *Pertanyaannya: kamu yang mana?
Pertanyaan bagus! Sebelumnya aku telah menuang 3 rindu. Rindu yang tercecer. Namun yang melekat di ingatan hati adalah kau yang kata seorang teman kantor memiliki mata "nakal". Walau -sepertinya- tak menyatu, tapi tetap detil tentangmu menyatu di otakku. Bahkan kelebat sedikit polahmu tertangkap ekor hatiku. Kau seperti berdaya magis!
Dan kita cukup "dekat", meski kadang aku tak kesampaian membacamu. Dan tetap aku tak menagih untuk membuat ini harus bertahap seperti yang semestinya. Menikmati fluktuasi hati ibarat mengembara di taman bunga. Separuh hati kemudian mengungkap bahwa aku tak boleh terlalu larut untuk bersetia hati padamu, karena aku tak akan menemukan soulmate yang sesungguhnya jika aku tak membuka celah lain.
Nampaknya aku masih ingin tersenyum usai menikmati setiap teks pendekmu. Memburamkan celah lain karena aku masih ingin bersetia hati untuk perempuan yang bahkan aku tak sanggup membaca tentangnya...
Cinta datang dengan sebegitu sederhananya... Begitu juga perasaan ini...
*Untuk seorang perempuan bermata "nakal"
Pertanyaan bagus! Sebelumnya aku telah menuang 3 rindu. Rindu yang tercecer. Namun yang melekat di ingatan hati adalah kau yang kata seorang teman kantor memiliki mata "nakal". Walau -sepertinya- tak menyatu, tapi tetap detil tentangmu menyatu di otakku. Bahkan kelebat sedikit polahmu tertangkap ekor hatiku. Kau seperti berdaya magis!
Dan kita cukup "dekat", meski kadang aku tak kesampaian membacamu. Dan tetap aku tak menagih untuk membuat ini harus bertahap seperti yang semestinya. Menikmati fluktuasi hati ibarat mengembara di taman bunga. Separuh hati kemudian mengungkap bahwa aku tak boleh terlalu larut untuk bersetia hati padamu, karena aku tak akan menemukan soulmate yang sesungguhnya jika aku tak membuka celah lain.
Nampaknya aku masih ingin tersenyum usai menikmati setiap teks pendekmu. Memburamkan celah lain karena aku masih ingin bersetia hati untuk perempuan yang bahkan aku tak sanggup membaca tentangnya...
Cinta datang dengan sebegitu sederhananya... Begitu juga perasaan ini...
*Untuk seorang perempuan bermata "nakal"
Tuesday, March 1, 2011
3 Rindu
Hujan seperti malam-malam lalu menitik usai kumandang Maghrib. Seperti biasa pula aku terpaku menatap layar digital sembari jemari berolah dan senyuman terpilah. Ada yang berbeda malam ini. Aku sedang merindu...
3 Rindu. Sepertinya terdengar terlalu serakah. Tidak, aku bukan sedang mengumbar ke-player-an (sebutan yang diberikan seseorang padaku, namun buru-buru kubantah), perjalanan waktu lah yang mengubah dan mengganti dengan sedemikian cepat. Belum usai, terganti, begitu berulang.
Perempuan yang beberapa hari lalu kutonton. Ya, aku merindunya! Malam itu, juga hujan sedemikian lebat, tubuh ringkih yang malam sebelumnya mencapai suhu 40 derajat lebih, menembus deras air langit dengan kepala yang mendadak pening tak tertahan. Entah kekuatan apa (baca: setan apa) yang merasukiku, aku begitu ingin menyaksikan karyamu. Melihatmu.
"Aku yakin meski sampai badanmu sakit mau mati pun kamu akan tetap bela-belain datang!" ketus sohibku tempat berbagi cerita soal perempuan satu ini.
Aku tersenyum, membenarkan. Dan begitu tiba di gedung, hilang semua pening kepala, flu dan segala tetek bengeknya. Melihatmu dalam kasual balutan ala orang gila,... Hilang sakit di badan.
Urusan hatiku sudah selesai dengannya. Andai urusan lisan ini pun terselesaikan aku yakin tak begini ujungnya. Tapi kulihat kau lebih dewasa dalam bersikap. Dan aku yakin akan ada saat yang tepat ketika lisan dan canda kita bersatu seperti tiga minggu penuh warna itu. Malam ini aku merindumu untuk menagih sang waktu kapan momen itu akan tersaji untukmu juga untukku...
Rindu kedua. Aku tak semestinya merindu! Hanya akan menambah deretan sebutan pemain cinta untukku. Padahal perasaan itu bersemi tanpa pernah bisa diduga. Andai bisa tentu pun bisa kuprediksi kapan kutanam kapan kutuai. Sama juga perasaan ini padamu... Aku meyakini ini bukan cinta! Sebuah kebersamaan sesaat yang menghadirkan getar-getar tak wajar. Pertanda cinta, mungkin. Tapi logikaku teramat bermain disini. Dan aku cukup menghargai perasaan yang tercipta. Aku mungkin mudah akrab dengan orang dan kau pun demikian. Pun kita punya beberapa kesamaan.
Sebuah perjalanan yang bukan pertama kali bagiku tapi tetap tak menyurutkan mataku untuk terlelap. Pun kau demikian. Dan obrolan panjang tergelar, meski kadang bahasanya tak kumengerti fasih.
"Kenapa kau tak tidur?" tanyaku.
"Aku sedang berpikir?" jawabnya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Ia lalu bercerita. Aku terketuk. Perempuan di sebelahku sungguh teramat empatik.
"Dan kenapa kau tak tidur?" tanyanya balik.
"Aku suka menikmati perjalanan, meski sudah berulang kali lewat sini. Aku juga berpikir, tapi tak seperti yang kau pikir. Perjalanan biasanya memberiku ide untuk menulis. Mengembarakan pikiran saja!"
Dan kesamaan lain kami adalah kami sama-sama suka ketika bicara kemudian terhenti, menjawab sendiri pertanyaan kami dan kemudian tak jadi bertanya. Aku tertawa melihat tingkah perempuan itu, jadi mungkin begitu ekspresi mukaku ketika melakukan hal yang sama.
Satu lagi, ia tak suka tubuhnya dijamah, sama sepertiku. Untuk sebuah kebersamaan singkat, kami banyak bertukar kisah. Ia bilang ia bukan tipe orang ceroboh, itu tak sama sepertiku. Dan kebiasaanya menyedot batang nikotin minimal 2 bungkus sehari ditambah bergelas-gelas kopi, hmm kami sungguh berbeda. Dan jika malam ini aku merindunya, adalah tentang keceriaan dan sebuah ingatan tentangnya saat kami harus terpisah. Ya, adegan itu yang teramat melekat di otakku dan selalu membuatku tersenyum usai mengingatnya.
Ada sebuah gambar aku dan perempuan di wallpaper hapeku. Sejak berada di mobil, dengan jarak yang sangat berdekatan, tepatnya lengannya pun menyatu dengan lenganku, aku amat yakin tiap kali aku membuka ponsel ia pasti bisa melihat potret itu. Dan aku jujur mengakui, di awal-awal aku SENGAJA membiarkan hape mengarah padanya -berharap- agar dia bertanya atau paling tidak menggodaku tentang siapa perempuan di ponselku. Tapi, ternyata tidak, ia tak berkomentar. Oke lah! Meski aku tak mengerti kenapa ia berkomentar tiap hapeku bunyi dan sms2 berdatangan.
"Berapa sms per hari kau habiskan?" tanyamu.
"Ribuan!" candaku yang membuatnya terperangah. "Karena smsku gratis unlimited seharian!"
Ia terkejut. Awal yang baik ia menguatirkan arus smsku yang cukup deras, padahal asal tahu saja, aku sedang meng-sms jaringan LSM yang besok diundang rapat oleh lembaga tempatku bekerja. Bahkan ketika turun dari daerah "tak bersinyal" dan aku buru-buru menghidupkan hape, perempuan itu langsung komentar:
"Ya, cepatlah hidupkan hapemu dan berkirim sms!"
Nada cemburu terkesan hahay. Kurasa aku perlu menjelaskan.
"Hmm, aku dari tadi meng-sms teman2 LSM lain karena besok ada rapat di kantor."
"Oh ya, rapat apa?"
Dan perbincangan berlanjut. Satu demi satu momen tercipta. Hingga momen itu...
Aku merasakan kedekatan kami. Ia pun demikian. "Time 2 say gudbye..." kubilang, dan ia tak mau kata-kata itu karena yakin kami akan bertemu lagi suatu saat nanti. Dan tiba-tiba aku merasakan tangannya sudah berada di tanganku... Dan kemudian ia meraih ponselku... Aku bertanda tanya apa yang sedang ia lakukan, belum dapat kucari jawab, dengan wajah serius ia bertanya: "Who's this?" sembari menyorongkan gambar aku dan seorang perempuan dalam screensaver hapeku. Hal yang ingin kulakukan sebenarnya adalah tertawa, merayakan kemenanganku bahwa ia pada akhirnya menanyakan sosok dalam ponsel itu, tapi melihat ekspresi muka seriusnya aku kemudian menjawab: "She's my friend. In another town." Lalu kau hanya ber O panjang dan aku tak berhenti tertawa -dalam hati-. Aku tak akan pernah lupa caramu menyentuh tanganku untuk meraih hapeku dan bertanya, sungguh, aku masih sulit percaya. Dan aku merindumu kini...
Rindu ketiga adalah penyambung rindu barusan. Tentang perempuan dalam screen saver ponselku. Perempuan ini selalu menyedot ingatanku untuk menyuruh jemariku mengetahui apa yang sedang ia lakukan, menikmati sosoknya. Dan membiarkan rindu melayang-layang. Hanya ia satu-satunya perempuan yang tau tentang perasaanku. Aku telah mengungkap semuanya. Kata yang tak sempat kuucap ketika ia menjejak kota yang kutinggali kini karena ada yang menahanku. Namun ia harus tau, hatiku ngotot ngalahin logika. Ketika tau hanya lega yang tersisa, selebihnya aku bisa berdamai. Setiap detik aku bisa melihat gambarnya. Namun merindunya diantara logika dan asumsi yang selalu bertumbuh, aku telah terbiasa...
3 Rindu yang istimewa. Ketiganya punya keunikan dan rasa yang berbeda. Aku tak membandingkan mana yang terhebat pun yang terdahsyat karena ketiganya punya cerita...
Jika hujan tak berhenti menitik malam ini, maka seperti itu pula tetesan rinduku pada ketiganya...
3 Rindu. Sepertinya terdengar terlalu serakah. Tidak, aku bukan sedang mengumbar ke-player-an (sebutan yang diberikan seseorang padaku, namun buru-buru kubantah), perjalanan waktu lah yang mengubah dan mengganti dengan sedemikian cepat. Belum usai, terganti, begitu berulang.
Perempuan yang beberapa hari lalu kutonton. Ya, aku merindunya! Malam itu, juga hujan sedemikian lebat, tubuh ringkih yang malam sebelumnya mencapai suhu 40 derajat lebih, menembus deras air langit dengan kepala yang mendadak pening tak tertahan. Entah kekuatan apa (baca: setan apa) yang merasukiku, aku begitu ingin menyaksikan karyamu. Melihatmu.
"Aku yakin meski sampai badanmu sakit mau mati pun kamu akan tetap bela-belain datang!" ketus sohibku tempat berbagi cerita soal perempuan satu ini.
Aku tersenyum, membenarkan. Dan begitu tiba di gedung, hilang semua pening kepala, flu dan segala tetek bengeknya. Melihatmu dalam kasual balutan ala orang gila,... Hilang sakit di badan.
Urusan hatiku sudah selesai dengannya. Andai urusan lisan ini pun terselesaikan aku yakin tak begini ujungnya. Tapi kulihat kau lebih dewasa dalam bersikap. Dan aku yakin akan ada saat yang tepat ketika lisan dan canda kita bersatu seperti tiga minggu penuh warna itu. Malam ini aku merindumu untuk menagih sang waktu kapan momen itu akan tersaji untukmu juga untukku...
Rindu kedua. Aku tak semestinya merindu! Hanya akan menambah deretan sebutan pemain cinta untukku. Padahal perasaan itu bersemi tanpa pernah bisa diduga. Andai bisa tentu pun bisa kuprediksi kapan kutanam kapan kutuai. Sama juga perasaan ini padamu... Aku meyakini ini bukan cinta! Sebuah kebersamaan sesaat yang menghadirkan getar-getar tak wajar. Pertanda cinta, mungkin. Tapi logikaku teramat bermain disini. Dan aku cukup menghargai perasaan yang tercipta. Aku mungkin mudah akrab dengan orang dan kau pun demikian. Pun kita punya beberapa kesamaan.
Sebuah perjalanan yang bukan pertama kali bagiku tapi tetap tak menyurutkan mataku untuk terlelap. Pun kau demikian. Dan obrolan panjang tergelar, meski kadang bahasanya tak kumengerti fasih.
"Kenapa kau tak tidur?" tanyaku.
"Aku sedang berpikir?" jawabnya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Ia lalu bercerita. Aku terketuk. Perempuan di sebelahku sungguh teramat empatik.
"Dan kenapa kau tak tidur?" tanyanya balik.
"Aku suka menikmati perjalanan, meski sudah berulang kali lewat sini. Aku juga berpikir, tapi tak seperti yang kau pikir. Perjalanan biasanya memberiku ide untuk menulis. Mengembarakan pikiran saja!"
Dan kesamaan lain kami adalah kami sama-sama suka ketika bicara kemudian terhenti, menjawab sendiri pertanyaan kami dan kemudian tak jadi bertanya. Aku tertawa melihat tingkah perempuan itu, jadi mungkin begitu ekspresi mukaku ketika melakukan hal yang sama.
Satu lagi, ia tak suka tubuhnya dijamah, sama sepertiku. Untuk sebuah kebersamaan singkat, kami banyak bertukar kisah. Ia bilang ia bukan tipe orang ceroboh, itu tak sama sepertiku. Dan kebiasaanya menyedot batang nikotin minimal 2 bungkus sehari ditambah bergelas-gelas kopi, hmm kami sungguh berbeda. Dan jika malam ini aku merindunya, adalah tentang keceriaan dan sebuah ingatan tentangnya saat kami harus terpisah. Ya, adegan itu yang teramat melekat di otakku dan selalu membuatku tersenyum usai mengingatnya.
Ada sebuah gambar aku dan perempuan di wallpaper hapeku. Sejak berada di mobil, dengan jarak yang sangat berdekatan, tepatnya lengannya pun menyatu dengan lenganku, aku amat yakin tiap kali aku membuka ponsel ia pasti bisa melihat potret itu. Dan aku jujur mengakui, di awal-awal aku SENGAJA membiarkan hape mengarah padanya -berharap- agar dia bertanya atau paling tidak menggodaku tentang siapa perempuan di ponselku. Tapi, ternyata tidak, ia tak berkomentar. Oke lah! Meski aku tak mengerti kenapa ia berkomentar tiap hapeku bunyi dan sms2 berdatangan.
"Berapa sms per hari kau habiskan?" tanyamu.
"Ribuan!" candaku yang membuatnya terperangah. "Karena smsku gratis unlimited seharian!"
Ia terkejut. Awal yang baik ia menguatirkan arus smsku yang cukup deras, padahal asal tahu saja, aku sedang meng-sms jaringan LSM yang besok diundang rapat oleh lembaga tempatku bekerja. Bahkan ketika turun dari daerah "tak bersinyal" dan aku buru-buru menghidupkan hape, perempuan itu langsung komentar:
"Ya, cepatlah hidupkan hapemu dan berkirim sms!"
Nada cemburu terkesan hahay. Kurasa aku perlu menjelaskan.
"Hmm, aku dari tadi meng-sms teman2 LSM lain karena besok ada rapat di kantor."
"Oh ya, rapat apa?"
Dan perbincangan berlanjut. Satu demi satu momen tercipta. Hingga momen itu...
Aku merasakan kedekatan kami. Ia pun demikian. "Time 2 say gudbye..." kubilang, dan ia tak mau kata-kata itu karena yakin kami akan bertemu lagi suatu saat nanti. Dan tiba-tiba aku merasakan tangannya sudah berada di tanganku... Dan kemudian ia meraih ponselku... Aku bertanda tanya apa yang sedang ia lakukan, belum dapat kucari jawab, dengan wajah serius ia bertanya: "Who's this?" sembari menyorongkan gambar aku dan seorang perempuan dalam screensaver hapeku. Hal yang ingin kulakukan sebenarnya adalah tertawa, merayakan kemenanganku bahwa ia pada akhirnya menanyakan sosok dalam ponsel itu, tapi melihat ekspresi muka seriusnya aku kemudian menjawab: "She's my friend. In another town." Lalu kau hanya ber O panjang dan aku tak berhenti tertawa -dalam hati-. Aku tak akan pernah lupa caramu menyentuh tanganku untuk meraih hapeku dan bertanya, sungguh, aku masih sulit percaya. Dan aku merindumu kini...
Rindu ketiga adalah penyambung rindu barusan. Tentang perempuan dalam screen saver ponselku. Perempuan ini selalu menyedot ingatanku untuk menyuruh jemariku mengetahui apa yang sedang ia lakukan, menikmati sosoknya. Dan membiarkan rindu melayang-layang. Hanya ia satu-satunya perempuan yang tau tentang perasaanku. Aku telah mengungkap semuanya. Kata yang tak sempat kuucap ketika ia menjejak kota yang kutinggali kini karena ada yang menahanku. Namun ia harus tau, hatiku ngotot ngalahin logika. Ketika tau hanya lega yang tersisa, selebihnya aku bisa berdamai. Setiap detik aku bisa melihat gambarnya. Namun merindunya diantara logika dan asumsi yang selalu bertumbuh, aku telah terbiasa...
3 Rindu yang istimewa. Ketiganya punya keunikan dan rasa yang berbeda. Aku tak membandingkan mana yang terhebat pun yang terdahsyat karena ketiganya punya cerita...
Jika hujan tak berhenti menitik malam ini, maka seperti itu pula tetesan rinduku pada ketiganya...
Saturday, February 26, 2011
PLAYER!!!
Seorang kawan melabeliku PLAYER. Menurutnya aku terlalu banyak menclak menclok nggak jelas. Sebenarnya apa sih definisi player?
Buatku pribadi aku jelas membantah dikategorikan player. Satu hal, bagiku player adalah seseorang yang telah berada dalam sebuah relasi namun bermain hati dan membangun relasi dengan yang lain. Sedang aku? Sepertinya tidak, bukan???
Aku meyakini aku termasuk setia jika telah memilih dan berada pada sebuah relasi yang memiliki visi misi ke depan bersama. Dan jika itu belum tergariskan dalam takdirku, apa salahnya aku mengenal satu persatu karakter perempuan? Main hati asal tidak mempermainkan hati.
Monogami relationship. Jingle yang selalu kudendangkan jika aku telah berada dalam sebuah relasi.
Buatku pribadi aku jelas membantah dikategorikan player. Satu hal, bagiku player adalah seseorang yang telah berada dalam sebuah relasi namun bermain hati dan membangun relasi dengan yang lain. Sedang aku? Sepertinya tidak, bukan???
Aku meyakini aku termasuk setia jika telah memilih dan berada pada sebuah relasi yang memiliki visi misi ke depan bersama. Dan jika itu belum tergariskan dalam takdirku, apa salahnya aku mengenal satu persatu karakter perempuan? Main hati asal tidak mempermainkan hati.
Monogami relationship. Jingle yang selalu kudendangkan jika aku telah berada dalam sebuah relasi.
Thursday, February 24, 2011
PERASAAN INI ANEH!
Kalau kau menyukai seseorang maka biasanya kau akan mencoba untuk lebih dekat, meng-sms klise yang penting bisa komunikasi dengannya atau apalah yang bisa membuat ia menemani hari-harimu. Tapi tidak buat aku kini! Aku menganggap bertumbuhnya perasaan ini sebagai sebuah keanehan! Sungguh, aku tak berusaha dan mengusahakan apapun untuk meraihnya! Bukan karena ia tak istimewa. Kalau boleh dibilang, aku menginginkannya dengan segenap jiwa, tapi entahlah, sepertinya otakku membangun tembok Berlin di sepanjang aliran syaraf hingga hati mungkin tak sanggup memanjatnya.
Mungkinkah trauma? Ya ditolak atau diterima itu konsekuensi. Tapi mungkin kegagalan demi kegagalan asmara masa lalu mengguratkan sedikit banyak trauma yang mempengaruhiku dalam pengambilan keputusan. Aku telah sepenuhnya melangkah ke depan, hanya kadang bayangan akan jatuh lagi, sakit lagi, mulai dari awal lagi, hal tsb yang masih mengkonstruksi hebat di pemikiranku untuk lebih dan teramat lebih berhati-hati. Namun aku sungguh menikmati setiap perasaan yang bertumbuh dalam satu persatu hari yang tercipta...
Mungkinkah trauma? Ya ditolak atau diterima itu konsekuensi. Tapi mungkin kegagalan demi kegagalan asmara masa lalu mengguratkan sedikit banyak trauma yang mempengaruhiku dalam pengambilan keputusan. Aku telah sepenuhnya melangkah ke depan, hanya kadang bayangan akan jatuh lagi, sakit lagi, mulai dari awal lagi, hal tsb yang masih mengkonstruksi hebat di pemikiranku untuk lebih dan teramat lebih berhati-hati. Namun aku sungguh menikmati setiap perasaan yang bertumbuh dalam satu persatu hari yang tercipta...
Sunday, February 20, 2011
Namamu Tercantum di Garis Takdirku
Semoga namamu tercantum di garis takdirku empat hari ke depan...
Begitu update status yang kutulis di fesbuk semalam sebelum keberangkatanku ke kotamu. Aku percaya apa yang kulalui semua sudah tergariskan dan aku hanya tinggal melewati. Meski dag dig dug juga akankah aku melihat wajahmu lagi? Sepanjang jalan yang kulalui usai kakiku menjejak kota yang dulu 4 tahun kutinggali ini aku masih bertanya-tanya bagaimana nanti aku bisa bertemu?
Jika Tuhan sudah berkehendak maka tak ada aral apapun yang bisa menghalangi. Aku sungguh cemas ketika pagi itu kau bilang kau tak bisa bergabung. Tapi bagaimana lagi, mungkin kita memang tak ditakdir bertemu. Maka sore itu dengan santai aku menyiapkan diri usai kegiatan. Bahkan tak ada dalam fikiranku akan berjumpa denganmu.
Mencari-cari dibalik punggung si abang ojek tempat aku berjanji bertemu dengan teman2, aku akhirnya tak kesasar. Ketika memastikan kebenaran tempat janjian itu, tak sengaja aku mendapati sepertinya itu sosokmu di sana? Dan tak menunggu detik terbuang percuma, dengan pikiran kian ribet benarkah itu dia, kok tadi bilang nggak bisa dan bla bla bla... Aku kini telah ada di sebelahnya!
Entah perasaan ini mau didefinisikan apa dan bagaimana, yang jelas seperti biasa aku tak memandangnya. Seperti biasa hanya curi-curi saja. Dan ketololan-ketololan yang seperti biasa tercipta.
Ya, aku mensyukuri, namamu benar tercantum di garis takdirku... Jadi percaya lah, jika sudah dikehendakkan, maka tak ada satu makhluk pun dapat menjadi penghalang. I believe in that!
Begitu update status yang kutulis di fesbuk semalam sebelum keberangkatanku ke kotamu. Aku percaya apa yang kulalui semua sudah tergariskan dan aku hanya tinggal melewati. Meski dag dig dug juga akankah aku melihat wajahmu lagi? Sepanjang jalan yang kulalui usai kakiku menjejak kota yang dulu 4 tahun kutinggali ini aku masih bertanya-tanya bagaimana nanti aku bisa bertemu?
Jika Tuhan sudah berkehendak maka tak ada aral apapun yang bisa menghalangi. Aku sungguh cemas ketika pagi itu kau bilang kau tak bisa bergabung. Tapi bagaimana lagi, mungkin kita memang tak ditakdir bertemu. Maka sore itu dengan santai aku menyiapkan diri usai kegiatan. Bahkan tak ada dalam fikiranku akan berjumpa denganmu.
Mencari-cari dibalik punggung si abang ojek tempat aku berjanji bertemu dengan teman2, aku akhirnya tak kesasar. Ketika memastikan kebenaran tempat janjian itu, tak sengaja aku mendapati sepertinya itu sosokmu di sana? Dan tak menunggu detik terbuang percuma, dengan pikiran kian ribet benarkah itu dia, kok tadi bilang nggak bisa dan bla bla bla... Aku kini telah ada di sebelahnya!
Entah perasaan ini mau didefinisikan apa dan bagaimana, yang jelas seperti biasa aku tak memandangnya. Seperti biasa hanya curi-curi saja. Dan ketololan-ketololan yang seperti biasa tercipta.
Ya, aku mensyukuri, namamu benar tercantum di garis takdirku... Jadi percaya lah, jika sudah dikehendakkan, maka tak ada satu makhluk pun dapat menjadi penghalang. I believe in that!
Wednesday, February 9, 2011
Semakin Hari Semakin Rindu
Akhirnya aku mendefinisikan perasaan ini sebagai rindu. Rindu mengulang ketololan. Rindu kontradiksi perasaan dan pikiran. Rindu adiksi senyuman dan rangkaian olokan. Rindu menggilaimu dengan bentrok logika dan perasaan.
Aku rumit. Ya itu aku. Si pemikir yang rumit. Dah mikir, rumit pula. Tapi serumit apapun pemikiranku, rindu ini mengalir tulus. Klise memang cinta tak harus memiliki. Platonis yang berulang kali terulang.
Rindu yang menyiksa. Dan terlampau kebal menikmati ketersiksaan. Karena ketika kesederhanaan hati melenggang dalam batasan yang dibangun logika, aku hanya cukup menikmati, membiarkan ia terus bertumbuh karena sebegitu sederhana perasaan itu tertambat tak perlu menagih untuk berpaut. I just love u just the way it is, not just the way it has to be...
Aku rumit. Ya itu aku. Si pemikir yang rumit. Dah mikir, rumit pula. Tapi serumit apapun pemikiranku, rindu ini mengalir tulus. Klise memang cinta tak harus memiliki. Platonis yang berulang kali terulang.
Rindu yang menyiksa. Dan terlampau kebal menikmati ketersiksaan. Karena ketika kesederhanaan hati melenggang dalam batasan yang dibangun logika, aku hanya cukup menikmati, membiarkan ia terus bertumbuh karena sebegitu sederhana perasaan itu tertambat tak perlu menagih untuk berpaut. I just love u just the way it is, not just the way it has to be...
Subscribe to:
Posts (Atom)