Akhirnya aku mendefinisikan perasaan ini sebagai rindu. Rindu mengulang ketololan. Rindu kontradiksi perasaan dan pikiran. Rindu adiksi senyuman dan rangkaian olokan. Rindu menggilaimu dengan bentrok logika dan perasaan.
Aku rumit. Ya itu aku. Si pemikir yang rumit. Dah mikir, rumit pula. Tapi serumit apapun pemikiranku, rindu ini mengalir tulus. Klise memang cinta tak harus memiliki. Platonis yang berulang kali terulang.
Rindu yang menyiksa. Dan terlampau kebal menikmati ketersiksaan. Karena ketika kesederhanaan hati melenggang dalam batasan yang dibangun logika, aku hanya cukup menikmati, membiarkan ia terus bertumbuh karena sebegitu sederhana perasaan itu tertambat tak perlu menagih untuk berpaut. I just love u just the way it is, not just the way it has to be...
No comments:
Post a Comment