Wednesday, February 2, 2011

Mimpi Seminggu

Semakin jauh ku mengenalmu
Ku mengerti dirimu sehari-hari
Semakin aku memujakamu
Mengagumi dirimu sehari-hari

Semakin dalam
Diriku tenggelam
Kedalam samudra
Cinta yang dalam

Semakin hari semakin cinta
Semakin hari semakin rindu
Semakin dalam perasaan kasih dan sayangku
Kepada kamu

Semakin lama kuredam hatiku
Semakin keras badai asmaraku
Semakin aku menyadari
Ku tak bisa bila tak ada dirimu


Lirik lagu yang urung kunyanyikan pada malam yang kukira akan menjadi malam terakhir kami. Lirik cerminan hati yang telah siap kuungkap. Dan juga seorang teman yang memfasilitasi dengan merequest lagu itu. Tapi aku diam ketika alat kekuasaan di tempat hiburan itu tersodor pada teman lain untuk dilafalkan. Aku hanya ikut bernyanyi... Untukmu...
***

Aku melajukan motor ke tempat aku akan menghabiskan seminggu waktuku ke depan dengan sisa pikiran dan perasaan tak nyaman. Aku masih ingat betul malam sebelumnya aku hendak memutuskan tak jadi ikut pelatihan yang sebenarnya sangat kuinginkan, namun karena ada teman kantor yang lebih mumpuni aku tak jadi aplikasi selain karena urusan administratif yang harus dibayarkan hehe tapi kemudian si teman kantor tak bisa ikut, aku didaulat menggantikan. Senang, pastinya! Tapi pikiran lagi tak jenak bikin maju mundur untuk ikut. Bagaimana bisa mengikuti pelatihan dengan pikiran di tempat lain, pikirku. Ditambah dengan bidang yang tak kukuasai. Apa jadinya kalau plonga plongo sementara yang lain mumpuni di bidangnya.
"Anggap aja refreshing, ga usah dipikir!"
Itu yang kemudian kulakukan. The show must go on. Malamnya agak dikit ribet dengan ketidakpedean dan teknis yang harus dibawa. Aku bercerita pada salah satu peserta yang kebetulan kukenal. Ia pun menyarankan hal yang sama, anggap sebagai sarana belajar aja.

Sampai di bangunan ala Jogja banget itu still dont know what to do, ga da yang kenal. Aku mengambil duduk di ujung. Tepat di sebelah perempuan yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Cantik!" ujarku dalam hati. Haha hanya pujian batin saja tak apa, mengurangi kenervousanku dan coba beradaptasi. Aku bahkan lupa tak mengulurkan tangan berkenalan, lupa! Dan ketika sadar ia tak coba membuka pembicaraan, aku kemudian juga diam. Ya, hanya diam dan sibuk sms teman kantor sembari memandangi peserta lain yang tak satupun kukenal.
"Disini wi-fi?" tanyaku padanya.
"Iya, tapi ada pasword dan username," jawabnya sembari mencari kertas dan menuliskan sesuatu.
Aku bahkan tak bertanya namanya. Aku hanya dengar ketika seorang teman memanggilnya. Aku lalu mengutak atik mengikuti prosedur yang ia berikan, tapi tetap tak bisa.
"Wifinya gak bisa kayaknya?" kataku.
"Bisa kok!"
Aku menyorongkan laptopku padanya. Ia hanya menekan Enter dan terkoneksilah sudah. Wah canggung lagi ketika oon dah mulai keluar gini.
"Kayaknya di tangan ahlinya langsung bisa," ujarku mencairkan. Ia terkekeh. Perempuan pintar, tambah cantik aja! Batinku lagi. Haha no no ini bukan pujian semu, galau yang kubawa tadi belum hilang. Tapi tidak kupungkiri mataku kemudian beberapa kali terarah mengikuti lakunya.

Seorang teman yang kukenal datang. Ya, akhirnya ada bolo juga. Paling tidak mengurangi ketidakPD an ini.

Sesi perkenalan. Mengetahui nama dan posisinya. Beranjak pada perkenalan lebih dalam, aku agak berjarak. Satu hal, aku "takut" dikira deketin cewek. Stigma itu masih melekat, dan itu termasuk dalam paket pembelajaran Desember lalu yang hingga detik ini belum tuntas terakhiri kesalahpahamannya.

Ada satu hal yang paling kuingat dari sesi ini, adalah ketika aku harus melewatinya tak mengenalnya dalam sebuah cerita atas instruksi yang diberikan fasilitator. Aku melambaikan tangan, ia balas dengan senyum manis. God, bolehlah aku dibilang GR, but I think that's a sign.

Detik kemudian berganti cepat. Galau yang kubawa perlahan terkikis. Aku mulai menyukai ini. Khususnya tentang seksualitas. Topik yang sangat menarik perhatianku. Ia sedikit membuka diri tentang pengalaman seksualitasnya. Ketika pertanda itu kukenali, aku mungkin terlarut disana. Namun logika mewanti-wanti ia hetero, jangan mengulang insiden Desember yang tak ingin ku ulang dua kali.

Dan entah kapan perasaan itu bercokol. Setelah satu demi satu pertanda. Mata hati sepertinya sudah mematok untuk membeli bibit-bibit penyubur atas rasa yang mulai bersemi.

Mimpi seminggu, aku mengatakan demikian. Karena untuk pertama kalinya logikaku seolah mati rasa. Terlampau banyak hal yang harusnya kucerita, tapi aku menganggap itu semua hanya milik hatiku. Bukan hendak hidup dalam benaman kenangan, namun kenangan lah yang hendak kuhidupkan karena hanya dalam dimensi itulah aku memilikimu utuh.

Aku sungguh berterimakasih karena telah membantu lepas dari esensialis pribadiku, satu langkah ke depan meski melakukan "ketololan semu" namun telah melampaui batas yang kubangun antara kita. Aku sadar meski kata itu tak terangkai dari bibirku, kau telah cukup tau.

Penasehat hatiku berkata aku selalu mengulang memendam rasa tanpa pernah mengungkap, tapi untuk dia adalah benar ketika logikaku yang kelu meski hati sudah bersiap membocorkan semua.

No comments: