Tuesday, March 1, 2011

3 Rindu

Hujan seperti malam-malam lalu menitik usai kumandang Maghrib. Seperti biasa pula aku terpaku menatap layar digital sembari jemari berolah dan senyuman terpilah. Ada yang berbeda malam ini. Aku sedang merindu...

3 Rindu. Sepertinya terdengar terlalu serakah. Tidak, aku bukan sedang mengumbar ke-player-an (sebutan yang diberikan seseorang padaku, namun buru-buru kubantah), perjalanan waktu lah yang mengubah dan mengganti dengan sedemikian cepat. Belum usai, terganti, begitu berulang.

Perempuan yang beberapa hari lalu kutonton. Ya, aku merindunya! Malam itu, juga hujan sedemikian lebat, tubuh ringkih yang malam sebelumnya mencapai suhu 40 derajat lebih, menembus deras air langit dengan kepala yang mendadak pening tak tertahan. Entah kekuatan apa (baca: setan apa) yang merasukiku, aku begitu ingin menyaksikan karyamu. Melihatmu.
"Aku yakin meski sampai badanmu sakit mau mati pun kamu akan tetap bela-belain datang!" ketus sohibku tempat berbagi cerita soal perempuan satu ini.
Aku tersenyum, membenarkan. Dan begitu tiba di gedung, hilang semua pening kepala, flu dan segala tetek bengeknya. Melihatmu dalam kasual balutan ala orang gila,... Hilang sakit di badan.

Urusan hatiku sudah selesai dengannya. Andai urusan lisan ini pun terselesaikan aku yakin tak begini ujungnya. Tapi kulihat kau lebih dewasa dalam bersikap. Dan aku yakin akan ada saat yang tepat ketika lisan dan canda kita bersatu seperti tiga minggu penuh warna itu. Malam ini aku merindumu untuk menagih sang waktu kapan momen itu akan tersaji untukmu juga untukku...

Rindu kedua. Aku tak semestinya merindu! Hanya akan menambah deretan sebutan pemain cinta untukku. Padahal perasaan itu bersemi tanpa pernah bisa diduga. Andai bisa tentu pun bisa kuprediksi kapan kutanam kapan kutuai. Sama juga perasaan ini padamu... Aku meyakini ini bukan cinta! Sebuah kebersamaan sesaat yang menghadirkan getar-getar tak wajar. Pertanda cinta, mungkin. Tapi logikaku teramat bermain disini. Dan aku cukup menghargai perasaan yang tercipta. Aku mungkin mudah akrab dengan orang dan kau pun demikian. Pun kita punya beberapa kesamaan.

Sebuah perjalanan yang bukan pertama kali bagiku tapi tetap tak menyurutkan mataku untuk terlelap. Pun kau demikian. Dan obrolan panjang tergelar, meski kadang bahasanya tak kumengerti fasih.
"Kenapa kau tak tidur?" tanyaku.
"Aku sedang berpikir?" jawabnya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Ia lalu bercerita. Aku terketuk. Perempuan di sebelahku sungguh teramat empatik.
"Dan kenapa kau tak tidur?" tanyanya balik.
"Aku suka menikmati perjalanan, meski sudah berulang kali lewat sini. Aku juga berpikir, tapi tak seperti yang kau pikir. Perjalanan biasanya memberiku ide untuk menulis. Mengembarakan pikiran saja!"
Dan kesamaan lain kami adalah kami sama-sama suka ketika bicara kemudian terhenti, menjawab sendiri pertanyaan kami dan kemudian tak jadi bertanya. Aku tertawa melihat tingkah perempuan itu, jadi mungkin begitu ekspresi mukaku ketika melakukan hal yang sama.

Satu lagi, ia tak suka tubuhnya dijamah, sama sepertiku. Untuk sebuah kebersamaan singkat, kami banyak bertukar kisah. Ia bilang ia bukan tipe orang ceroboh, itu tak sama sepertiku. Dan kebiasaanya menyedot batang nikotin minimal 2 bungkus sehari ditambah bergelas-gelas kopi, hmm kami sungguh berbeda. Dan jika malam ini aku merindunya, adalah tentang keceriaan dan sebuah ingatan tentangnya saat kami harus terpisah. Ya, adegan itu yang teramat melekat di otakku dan selalu membuatku tersenyum usai mengingatnya.

Ada sebuah gambar aku dan perempuan di wallpaper hapeku. Sejak berada di mobil, dengan jarak yang sangat berdekatan, tepatnya lengannya pun menyatu dengan lenganku, aku amat yakin tiap kali aku membuka ponsel ia pasti bisa melihat potret itu. Dan aku jujur mengakui, di awal-awal aku SENGAJA membiarkan hape mengarah padanya -berharap- agar dia bertanya atau paling tidak menggodaku tentang siapa perempuan di ponselku. Tapi, ternyata tidak, ia tak berkomentar. Oke lah! Meski aku tak mengerti kenapa ia berkomentar tiap hapeku bunyi dan sms2 berdatangan.
"Berapa sms per hari kau habiskan?" tanyamu.
"Ribuan!" candaku yang membuatnya terperangah. "Karena smsku gratis unlimited seharian!"
Ia terkejut. Awal yang baik ia menguatirkan arus smsku yang cukup deras, padahal asal tahu saja, aku sedang meng-sms jaringan LSM yang besok diundang rapat oleh lembaga tempatku bekerja. Bahkan ketika turun dari daerah "tak bersinyal" dan aku buru-buru menghidupkan hape, perempuan itu langsung komentar:
"Ya, cepatlah hidupkan hapemu dan berkirim sms!"
Nada cemburu terkesan hahay. Kurasa aku perlu menjelaskan.
"Hmm, aku dari tadi meng-sms teman2 LSM lain karena besok ada rapat di kantor."
"Oh ya, rapat apa?"
Dan perbincangan berlanjut. Satu demi satu momen tercipta. Hingga momen itu...

Aku merasakan kedekatan kami. Ia pun demikian. "Time 2 say gudbye..." kubilang, dan ia tak mau kata-kata itu karena yakin kami akan bertemu lagi suatu saat nanti. Dan tiba-tiba aku merasakan tangannya sudah berada di tanganku... Dan kemudian ia meraih ponselku... Aku bertanda tanya apa yang sedang ia lakukan, belum dapat kucari jawab, dengan wajah serius ia bertanya: "Who's this?" sembari menyorongkan gambar aku dan seorang perempuan dalam screensaver hapeku. Hal yang ingin kulakukan sebenarnya adalah tertawa, merayakan kemenanganku bahwa ia pada akhirnya menanyakan sosok dalam ponsel itu, tapi melihat ekspresi muka seriusnya aku kemudian menjawab: "She's my friend. In another town." Lalu kau hanya ber O panjang dan aku tak berhenti tertawa -dalam hati-. Aku tak akan pernah lupa caramu menyentuh tanganku untuk meraih hapeku dan bertanya, sungguh, aku masih sulit percaya. Dan aku merindumu kini...

Rindu ketiga adalah penyambung rindu barusan. Tentang perempuan dalam screen saver ponselku. Perempuan ini selalu menyedot ingatanku untuk menyuruh jemariku mengetahui apa yang sedang ia lakukan, menikmati sosoknya. Dan membiarkan rindu melayang-layang. Hanya ia satu-satunya perempuan yang tau tentang perasaanku. Aku telah mengungkap semuanya. Kata yang tak sempat kuucap ketika ia menjejak kota yang kutinggali kini karena ada yang menahanku. Namun ia harus tau, hatiku ngotot ngalahin logika. Ketika tau hanya lega yang tersisa, selebihnya aku bisa berdamai. Setiap detik aku bisa melihat gambarnya. Namun merindunya diantara logika dan asumsi yang selalu bertumbuh, aku telah terbiasa...

3 Rindu yang istimewa. Ketiganya punya keunikan dan rasa yang berbeda. Aku tak membandingkan mana yang terhebat pun yang terdahsyat karena ketiganya punya cerita...

Jika hujan tak berhenti menitik malam ini, maka seperti itu pula tetesan rinduku pada ketiganya...

No comments: