Saturday, February 26, 2011

PLAYER!!!

Seorang kawan melabeliku PLAYER. Menurutnya aku terlalu banyak menclak menclok nggak jelas. Sebenarnya apa sih definisi player?

Buatku pribadi aku jelas membantah dikategorikan player. Satu hal, bagiku player adalah seseorang yang telah berada dalam sebuah relasi namun bermain hati dan membangun relasi dengan yang lain. Sedang aku? Sepertinya tidak, bukan???

Aku meyakini aku termasuk setia jika telah memilih dan berada pada sebuah relasi yang memiliki visi misi ke depan bersama. Dan jika itu belum tergariskan dalam takdirku, apa salahnya aku mengenal satu persatu karakter perempuan? Main hati asal tidak mempermainkan hati.

Monogami relationship. Jingle yang selalu kudendangkan jika aku telah berada dalam sebuah relasi.

Thursday, February 24, 2011

PERASAAN INI ANEH!

Kalau kau menyukai seseorang maka biasanya kau akan mencoba untuk lebih dekat, meng-sms klise yang penting bisa komunikasi dengannya atau apalah yang bisa membuat ia menemani hari-harimu. Tapi tidak buat aku kini! Aku menganggap bertumbuhnya perasaan ini sebagai sebuah keanehan! Sungguh, aku tak berusaha dan mengusahakan apapun untuk meraihnya! Bukan karena ia tak istimewa. Kalau boleh dibilang, aku menginginkannya dengan segenap jiwa, tapi entahlah, sepertinya otakku membangun tembok Berlin di sepanjang aliran syaraf hingga hati mungkin tak sanggup memanjatnya.

Mungkinkah trauma? Ya ditolak atau diterima itu konsekuensi. Tapi mungkin kegagalan demi kegagalan asmara masa lalu mengguratkan sedikit banyak trauma yang mempengaruhiku dalam pengambilan keputusan. Aku telah sepenuhnya melangkah ke depan, hanya kadang bayangan akan jatuh lagi, sakit lagi, mulai dari awal lagi, hal tsb yang masih mengkonstruksi hebat di pemikiranku untuk lebih dan teramat lebih berhati-hati. Namun aku sungguh menikmati setiap perasaan yang bertumbuh dalam satu persatu hari yang tercipta...

Sunday, February 20, 2011

Namamu Tercantum di Garis Takdirku

Semoga namamu tercantum di garis takdirku empat hari ke depan...

Begitu update status yang kutulis di fesbuk semalam sebelum keberangkatanku ke kotamu. Aku percaya apa yang kulalui semua sudah tergariskan dan aku hanya tinggal melewati. Meski dag dig dug juga akankah aku melihat wajahmu lagi? Sepanjang jalan yang kulalui usai kakiku menjejak kota yang dulu 4 tahun kutinggali ini aku masih bertanya-tanya bagaimana nanti aku bisa bertemu?

Jika Tuhan sudah berkehendak maka tak ada aral apapun yang bisa menghalangi. Aku sungguh cemas ketika pagi itu kau bilang kau tak bisa bergabung. Tapi bagaimana lagi, mungkin kita memang tak ditakdir bertemu. Maka sore itu dengan santai aku menyiapkan diri usai kegiatan. Bahkan tak ada dalam fikiranku akan berjumpa denganmu.

Mencari-cari dibalik punggung si abang ojek tempat aku berjanji bertemu dengan teman2, aku akhirnya tak kesasar. Ketika memastikan kebenaran tempat janjian itu, tak sengaja aku mendapati sepertinya itu sosokmu di sana? Dan tak menunggu detik terbuang percuma, dengan pikiran kian ribet benarkah itu dia, kok tadi bilang nggak bisa dan bla bla bla... Aku kini telah ada di sebelahnya!

Entah perasaan ini mau didefinisikan apa dan bagaimana, yang jelas seperti biasa aku tak memandangnya. Seperti biasa hanya curi-curi saja. Dan ketololan-ketololan yang seperti biasa tercipta.

Ya, aku mensyukuri, namamu benar tercantum di garis takdirku... Jadi percaya lah, jika sudah dikehendakkan, maka tak ada satu makhluk pun dapat menjadi penghalang. I believe in that!

Wednesday, February 9, 2011

Semakin Hari Semakin Rindu

Akhirnya aku mendefinisikan perasaan ini sebagai rindu. Rindu mengulang ketololan. Rindu kontradiksi perasaan dan pikiran. Rindu adiksi senyuman dan rangkaian olokan. Rindu menggilaimu dengan bentrok logika dan perasaan.

Aku rumit. Ya itu aku. Si pemikir yang rumit. Dah mikir, rumit pula. Tapi serumit apapun pemikiranku, rindu ini mengalir tulus. Klise memang cinta tak harus memiliki. Platonis yang berulang kali terulang.

Rindu yang menyiksa. Dan terlampau kebal menikmati ketersiksaan. Karena ketika kesederhanaan hati melenggang dalam batasan yang dibangun logika, aku hanya cukup menikmati, membiarkan ia terus bertumbuh karena sebegitu sederhana perasaan itu tertambat tak perlu menagih untuk berpaut. I just love u just the way it is, not just the way it has to be...

Saturday, February 5, 2011

TAU KAH KAU?

Tau kah kau kalo sebenarnya aku begitu penasaran apa jawab hatimu. Meski lenganku tertahan untuk tetap membungkam mulutku. Matamu menyiratkan jawab yang tak sanggup kupertanyakan.

Tahu kah kau terkadang cemburu memburu untuk mematikan rasa yang semestinya tak berkembang ini. Aku kerap berujar, kau telah berpemilik, siapapun itu! Asumsi yang kerap tumbuh dan kubabat dalam saat yang bersamaan. Bayangkan betapa hebatnya bergolak dengan permainan hati yang kunikmati ini?

Tau kah kau bagaimana alur berpikirku kini sudah tak logis dalam menilai, memaknai dan berkendali. Jika diibaratkan birokrasi, kemana logika harus menuntut ketika hati melakukan pembiaran?

Tau kah kau bahwa kau merubahku. Pola berpikir hatiku. Pola rasa otakku. Semua memang kau jungkir balik. Kukira tiba saatnya sekarang, yang positif dulu bisa jadi negatif, begitu sebaliknya. Tak perlu hidup dalam definisi. Semua ada alur. Lewati saja...

Ini hanya untaian kataku agar kau tau...

Mencintaimu dengan sederhana. Memilikimu dengan kesederhanaan hati.

Thursday, February 3, 2011

TAK UNTUK...

Tak untuk diungkap,
Tak untuk dimiliki,
Tak untuk termiliki,
Tak untuk...

Ya, terkadang rasa cinta memang tak untuk memperoleh apa yang kau ingin. Bukan pula sebuah kepengecutan ketika kata itu tak untuk diucap saat kau menyadari ada rentetan hal yang harus dipikirkan di belakang. Aku yakin kau telah cukup dapat membaca tanpa perlu mulutku menuliskannya dengan barisan kata.

Love is not about being accepted or rejected. Adalah kesadaran memaknai apa yang bertemu, bertumbuh dan bercokol di hati.

Alur yang sama. Tapi terima kasih tak jatuh di kubangan yang sama. Tak untuk terulang ketika sebelumnya memperturutkan hati hingga logika tunggang langgang belakangan. Meski logikaku untuk saat ini pun sedang mati rasa, nikmati saja lah!

Wednesday, February 2, 2011

Mimpi Seminggu

Semakin jauh ku mengenalmu
Ku mengerti dirimu sehari-hari
Semakin aku memujakamu
Mengagumi dirimu sehari-hari

Semakin dalam
Diriku tenggelam
Kedalam samudra
Cinta yang dalam

Semakin hari semakin cinta
Semakin hari semakin rindu
Semakin dalam perasaan kasih dan sayangku
Kepada kamu

Semakin lama kuredam hatiku
Semakin keras badai asmaraku
Semakin aku menyadari
Ku tak bisa bila tak ada dirimu


Lirik lagu yang urung kunyanyikan pada malam yang kukira akan menjadi malam terakhir kami. Lirik cerminan hati yang telah siap kuungkap. Dan juga seorang teman yang memfasilitasi dengan merequest lagu itu. Tapi aku diam ketika alat kekuasaan di tempat hiburan itu tersodor pada teman lain untuk dilafalkan. Aku hanya ikut bernyanyi... Untukmu...
***

Aku melajukan motor ke tempat aku akan menghabiskan seminggu waktuku ke depan dengan sisa pikiran dan perasaan tak nyaman. Aku masih ingat betul malam sebelumnya aku hendak memutuskan tak jadi ikut pelatihan yang sebenarnya sangat kuinginkan, namun karena ada teman kantor yang lebih mumpuni aku tak jadi aplikasi selain karena urusan administratif yang harus dibayarkan hehe tapi kemudian si teman kantor tak bisa ikut, aku didaulat menggantikan. Senang, pastinya! Tapi pikiran lagi tak jenak bikin maju mundur untuk ikut. Bagaimana bisa mengikuti pelatihan dengan pikiran di tempat lain, pikirku. Ditambah dengan bidang yang tak kukuasai. Apa jadinya kalau plonga plongo sementara yang lain mumpuni di bidangnya.
"Anggap aja refreshing, ga usah dipikir!"
Itu yang kemudian kulakukan. The show must go on. Malamnya agak dikit ribet dengan ketidakpedean dan teknis yang harus dibawa. Aku bercerita pada salah satu peserta yang kebetulan kukenal. Ia pun menyarankan hal yang sama, anggap sebagai sarana belajar aja.

Sampai di bangunan ala Jogja banget itu still dont know what to do, ga da yang kenal. Aku mengambil duduk di ujung. Tepat di sebelah perempuan yang tengah sibuk dengan laptopnya.
"Cantik!" ujarku dalam hati. Haha hanya pujian batin saja tak apa, mengurangi kenervousanku dan coba beradaptasi. Aku bahkan lupa tak mengulurkan tangan berkenalan, lupa! Dan ketika sadar ia tak coba membuka pembicaraan, aku kemudian juga diam. Ya, hanya diam dan sibuk sms teman kantor sembari memandangi peserta lain yang tak satupun kukenal.
"Disini wi-fi?" tanyaku padanya.
"Iya, tapi ada pasword dan username," jawabnya sembari mencari kertas dan menuliskan sesuatu.
Aku bahkan tak bertanya namanya. Aku hanya dengar ketika seorang teman memanggilnya. Aku lalu mengutak atik mengikuti prosedur yang ia berikan, tapi tetap tak bisa.
"Wifinya gak bisa kayaknya?" kataku.
"Bisa kok!"
Aku menyorongkan laptopku padanya. Ia hanya menekan Enter dan terkoneksilah sudah. Wah canggung lagi ketika oon dah mulai keluar gini.
"Kayaknya di tangan ahlinya langsung bisa," ujarku mencairkan. Ia terkekeh. Perempuan pintar, tambah cantik aja! Batinku lagi. Haha no no ini bukan pujian semu, galau yang kubawa tadi belum hilang. Tapi tidak kupungkiri mataku kemudian beberapa kali terarah mengikuti lakunya.

Seorang teman yang kukenal datang. Ya, akhirnya ada bolo juga. Paling tidak mengurangi ketidakPD an ini.

Sesi perkenalan. Mengetahui nama dan posisinya. Beranjak pada perkenalan lebih dalam, aku agak berjarak. Satu hal, aku "takut" dikira deketin cewek. Stigma itu masih melekat, dan itu termasuk dalam paket pembelajaran Desember lalu yang hingga detik ini belum tuntas terakhiri kesalahpahamannya.

Ada satu hal yang paling kuingat dari sesi ini, adalah ketika aku harus melewatinya tak mengenalnya dalam sebuah cerita atas instruksi yang diberikan fasilitator. Aku melambaikan tangan, ia balas dengan senyum manis. God, bolehlah aku dibilang GR, but I think that's a sign.

Detik kemudian berganti cepat. Galau yang kubawa perlahan terkikis. Aku mulai menyukai ini. Khususnya tentang seksualitas. Topik yang sangat menarik perhatianku. Ia sedikit membuka diri tentang pengalaman seksualitasnya. Ketika pertanda itu kukenali, aku mungkin terlarut disana. Namun logika mewanti-wanti ia hetero, jangan mengulang insiden Desember yang tak ingin ku ulang dua kali.

Dan entah kapan perasaan itu bercokol. Setelah satu demi satu pertanda. Mata hati sepertinya sudah mematok untuk membeli bibit-bibit penyubur atas rasa yang mulai bersemi.

Mimpi seminggu, aku mengatakan demikian. Karena untuk pertama kalinya logikaku seolah mati rasa. Terlampau banyak hal yang harusnya kucerita, tapi aku menganggap itu semua hanya milik hatiku. Bukan hendak hidup dalam benaman kenangan, namun kenangan lah yang hendak kuhidupkan karena hanya dalam dimensi itulah aku memilikimu utuh.

Aku sungguh berterimakasih karena telah membantu lepas dari esensialis pribadiku, satu langkah ke depan meski melakukan "ketololan semu" namun telah melampaui batas yang kubangun antara kita. Aku sadar meski kata itu tak terangkai dari bibirku, kau telah cukup tau.

Penasehat hatiku berkata aku selalu mengulang memendam rasa tanpa pernah mengungkap, tapi untuk dia adalah benar ketika logikaku yang kelu meski hati sudah bersiap membocorkan semua.