Saturday, August 21, 2010

REKAM ULANG

Entah kenapa malam ini aku sedang senang memutar ulang fikiran tempo dulu. Bukan soal seseorang di masa lalu, hanya memori-memori kecil yang hingga kini membekas dan dibekaskan oleh lagu.

Segera kubuka youtube. Mengingat kepingan cerita bersama teman kerja dan lagu Paul Van Dyke. Entah aku lupa judulnya aku search saja. Sampai pada cover perempuan yang remang kuingat. Ya, ini videoklip yang selalu kami nantikan untuk diputar di salah satu tivi swasta yang saat itu tengah siaran percobaan dan hanya memutar lagu-lagu secara simultan, berulang dan sama, bahkan jam-jam yang sama. Maka tak heran, kami bisa tau kapan klip itu akan diputar.

Kalau diingat tingkah kami dulu, kini aku hanya tergelak. Kenapa videoklip itu dinantikan? Karena pada bagian endingnya ada sekian detik adegan ciuman dan itu tak disensor. Aku masih ingat ketika salah satu teman sampai lari-lari dari dapur dan menghentikan sejenak aktivitasnya hanya untuk melihat adegan itu. Dan konyolnya, ketika si bos sedang nonton tivi padahal jam menunjuk klip itu akan ditayangkan, kami semua menggerutu dan berharap si bos cepat-cepat pulang. Konyol dan bikin geli ketika ingat. Tapi namanya juga kekonyolan, just enjoy ajah!

Jadi teringat juga masa-masa ketika pagi-pagi harus beraktivitas, ketika kemalasan meraja hal yang paling enak dilakukan adalah putar musik dan berjoget. Haha jadi ngakak teringat ketika seorang rekan yang anti joget akhirnya dengan malu-malu menggoyangkan badan setelah aku dan seorang teman lagi yang sama-sama hobi bergoyang memaksanya mengikuti irama Beyonce cs lewat Lose My Breath dan JTL My Lecon. Pagi yang gila, namun ketika ajudan si bos datang, everything back 2 normal again.

Hmm, musik memang tak akan pernah mati, sejalan usia pun, bahkan masa ketika aku belum tercipta. Jadi kangen dua teman itu, kapan yak dipertemukan waktu untuk kembali bergoyang sejenak dalam usia yang boleh dibilang tak lagi muda. Ahahay... Love music, miz u my friends...

Wednesday, August 18, 2010

TUHAN, MAAF!


Tuhan, maaf, aku menemuimu ketika takdir yang kau gariskan padaku seakan terlampau berat untuk kulewati, walau dengan tertatih. Hmm, doa keegoisan manusia. Namun disadari atau tidak, mayoritas -aku tak bilang semuanya- menempuh cara itu.

Aku mendapatkan ide tulisan ini usai dengan sedikit terharu pagi tadi aku mendapati ketidakkuasaan manusia ketika didera problema yang tak kunjung usai, malahan seperti siklus berantai yang kian lama memuai setelah terkena mentari.

"Aku hendak bercakap dengan penciptaku, otakku sudah tak kuat!" jelasnya.

Ya ya ya, bertemu dengan pemberi hidup, aku juga meyakini, memang menyuguhkan kesejukan tersendiri, meski itu bukti keegoisan manusia. Mencari di kala sedih, lalai ketika sedang bertaji. Tak perlu munafik untuk mengakui itu. Aku juga teringat ketika mengikuti pelatihan, seorang fasilitator mengajukan pertanyaan: "Masih perlu kah Tuhan? Jawab iya atau tidak!". Kontan semua berkasak-kusuk. Ada yang bilang mutlak perlu, bahkan ada yang berujar tak perlu, perlu hanya jika butuh. Semua terkembali pada tiap individu, Tuhan masih kah Engkau diperlukan hambaMu? Pertanyaan konyol makhluk ciptaan terhadap penciptanya bukan?

Pemaknaan perlu atau tak perlu bercakap dengan penguasa alam semesta adalah hak dan pilihan masing-masing. Aku hanya yakin, ini adalah sebuah proses. Meski berantai, namun tetap akan berakhir, apapun endingnya. Dan bersiapkah untuk proses baru yang mungkin juga berantai, isn't it?

Monday, August 16, 2010

SAHABAT DIRI SENDIRI



Jadilah dirimu sendiri! Ya, akan percuma menjadi orang lain ibarat tubuh kita tapi perilaku dan pemikiran ingin jadi orang lain, meskipun itu pacar, teman atau sahabat kita. Hmm, teman dan sahabat, adakah bedanya? Tentulah, dan itu tak perlu kujelaskan.

Aku mungkin pernah bercerita bahwa selama hidup aku tak sekalipun punya sahabat. But, that's true! Ketidak pernah percayaan pada orang dan mitos bahwa sahabat adalah orang pertama yang menusukmu dari belakang, mungkin sudah terlampau dalam mencuci otakku. Tetapi tak lantas aku tidak menjadi sahabat bagi orang lain. Aku hanya kebalikannya saja, tidak ingin punya sahabat. Namun akhir-akhir ini aku sudah berjanji tak ingin mematok esensialisme-ku sebagai harga mati. Perubahan adalah hal yang patut dicoba.

Aku lantas mulai membuka ruang untuk bercerita. Ditambah problema juga sedang senang mengitariku. Aku memilih satu dari sekian orang untuk kubagikan keluh kesah dan masalah, pun tawa canda. Ya, aku memang lebih suka membagi tawa, begitupun ucap perempuan itu setiap kali kami bertemu dalam box berisi kata.

Aku memulai menjeda tawa dengan berkisah problema. Aku memilihnya karena aku menilai ia layak. Kecerdasan otak dan bagaimana cara ia memuntahkan pikirannya melalui lisan kuakui memikatku. Aku mulai nyaman bercerita. Hampir setiap saat ledekan, makian, pujian, narsis2an terangkai dan teraduk. Flirting, pengakuan, irama canda dan belahan tawa, sejenak membuatku yakin bahwa aku sedang menemukan sosok sahabat.

Persepsi yang kurasa akan memudar seiring kelunturanku akan keyakinan bahwa ia tak ubahnya teman. Aku mungkin belum bisa membuka nama untuk sahabat. Terlampau banyak berkeluh kesah pun mungkin orang akan bosan, apalagi hanya terkotakkan dalam kata tak bernada tak berwajah.

Sejatinya, meyakini bahwa sahabatku adalah diriku sendiri merupakan hal paling ampuh untuk tak lagi ingin coba-coba melampaui esensialis pribadi. Padahal tak ada trauma, tak ada ketakutan, dan tak ada kehendak untuk menutup diri, namun seperti tengah mencari belahan hati, aku mungkin tak mudah berjodoh menemukan seseorang untuk leluasa bercengkrama. Orang mencariku di kala susah, mencekokiku dengan cerita, dan telingaku dipatenkan untuk terus menerima, memamerkan senyuman dan meregangkan pelukan, namun ketika pilu meraja di kalbuku tak seorang pun sepertinya hendak menyodorkan telinga. Hmm, aku sudah terbiasa!

Saturday, August 14, 2010

KOMUNIKASI



Komunikasi sepertinya kini menjadi obat mujarab yang harus kutelan setiap hari agar terhindar dari ketidaksepahaman. Namun sayangnya, obat mujarab itu raib dari peredaran alias tak ada di toko obat terdekat di kota saya. Mungkin saking banyaknya permintaan hingga stoknya menghilang dari peredaran. Aku sih percaya, banyak orang yang harus mengkonsumsi obat bernama KOMUNIKASI itu.

Aku tak tahu kapan mulanya dan bagaimana persisnya, tapi perlahan hubunganku dengan kamu memburuk. Awalnya, kupikir perbedaan dan perdebatan adalah hal yang wajar, lepas dari tengah sensitif atau tidak. Namun itikad baik meninjau ulang pertemanan yang bagiku tak disusun 2 atau 3 hari itu yang membuatku jauh-jauh untuk berfikir karena nila setitik rusak susu sebelanga. Tidak, aku menghargai persahabatan kita ketika aku meminta maaf meski aku merasakan sikap dingin dalam sms dan untaian kata yang tidak bernada.

Lalu aku me-remove fesbukmu. Keputusan yang kuyakini bukan karena emosi sesaat. Kau bukan tipe orang yang mudah memaafkan, sejak dulu kuyakini itu. Tapi terkadang aku pun punya ego, ketika usahaku kurasa maksimal, ketika pada puncaknya setiap apa yang kutulis tak kau tanggapi atau sengaja kau lewati tetapi kau menjawab celoteh temanmu yang dibawah kata-kataku. Egoku berkata: "Cukup teman pemaklumanku atasmu!". Jemariku kemudian menekan tanda hapus teman di akunmu, ingat, bukan karena kemarahanku. Aku hanya merasa ketika setiap ucapku tak lagi perlu untuk kau respon ya untuk apalagi kita berkoneksi dalam jejaring soal itu? Terkoneksi atau tidak, kalau memang tak berpengaruh apa-apa bukankah sebaiknya tak perlu terkoneksi?

Maaf teman, aku bukan marah padamu. Ini hanya sudut pandangku yang belum tentu sama denganmu. Kau bilang kau tak sedang ingin berpikir, itu hakmu, tapi kau tak bisa mengharuskan orang lain untuk selajur pemikiran dengan pikiran dan keinginanmu. Aku yakin suatu saat nanti jika kau terfikir bahwa persahabatan tercipta atas dua orang yang berbeda, aku yakin dua orang yang telah mengenal cukup lama walau tanpa pernah saling mendalami karakter masing-masing dengan lebih detil, tetapi percaya bahwa aku tak akan jadi seperti yang kau minta dan begitupun sebaliknya, aku yakin kelak ketika menilik kembali jejak masa lalu, akan dengan senyum kita tersadar bahwa SAHABAT itu lebih bermakna daripada ketidaksepahaman atas dasar komunikasi.

Kau pernah bilang kata-kataku terlalu rumit untuk kau pahami. Tidak, aku tak pakai majas hiperbola ataupun metafora, kata-kataku lugas, tapi jangan bilang kau tak suka kejujuran dan malah lebih suka pengandaian serta basa-basi yang akhirnya menjurus basi? Hmm, inilah aku, inilah gaya bahasaku dan inilah cara bertuturku. Lepas kau suka atau tidak!

Wednesday, August 11, 2010

KEGELISAHAN


Gelisah. Mungkin itu kata yang tepat tentang perasaan dan pemikiran. Konflik adalah makanan sehari-hari dalam hidup. Aku tak memungkiri itu, namun ketika satu persatu dan kadang konflik berbarengan tersaji, mau tak mau otak pun terperas, dan mau tak mau pula hati tergerus.

Masalah melatih kita untuk lebih bisa dewasa dalam berfikir, bersikap dan memahami sesuatu -dan seseorang-. Emosi yang turut terpancing adalah wajar, asal tak membubrahkan lajur hikmah yang harus dicari.

Aku pernah berujar, aku bukan tipikal orang yang suka menjelaskan, meski tak juga membiarkan kesalahpahaman. Aku hanya ingin mengkoreksi apa yang perlu kukoreksi, selebihnya aku hanya akan mengucapkan selamat pada orang-orang yang berkubang dalam asumsi atas diriku.

Mau sebohong apapun kita pada orang lain, tetap tak bisa bohong pada diri sendiri karena hanya diri sendirilah yang tahu apa yang telah dan tidak kita pikir dan lakukan. Kegelisahan pada asumsi orang lain, jelas bukan itu kupikir dan rasakan. Kegelisahan kenapa manusia seringkali memandang sesuatu hanya dari sudut pemikiran saja, seperti tengah menutup mata untuk kemungkinan lain yang mungkin bisa saja luput dari pemikiran.

Kegelisahan ini memang belum dan mungkin tidak akan berakhir. Aku tak akan mencari penyelesaian. Hanya melihat setiap proses berjalan pada lajurnya masing-masing karena otak manusia dibentuk secara individual berbeda dengan yang lain. Menyaksikan otak-otak itu mengorbit dalam iramanya masing-masing.

Memahami bahwa daun tak selamanya hijau, merah tak selamanya darah dan semua tak selamanya semua. Kadang apa yang tersaji di mata bukanlah seperti persepsi aku atau orang lain duga, oleh karenanya dinamika itu akan menjadi indah dalam harmonisasi perbedaan kegelisahan pemikiran atas satu atau seperangkat masalah.

Monday, August 9, 2010

YM - mu


Beberapa hari lalu aku menemukan YM seseorang dari masa lalu sedang online, setelah sekian tahun akun tsb sepertinya -kukira- sudah tak berpenghuni lagi. Aku kemudian tercenung, bukan mengenang si pemilik YM. Hanya sedikit teringat. Telah lama berselang, tetap saja kejadian demi kejadian seperti baru kemarin terjadi. Hanya dengan pemaknaan berbeda. Dulu aku terus dan terus meraba serta mencari bagaimana hal tsb bertemu, bersemai dan berakhir, namun kini aku memandangnya sebagai proses yang telah usai. Berdamai, bahwa yang telah terjadi adalah pembelajaran.

Sunday, August 1, 2010

BREAK SAJA, MUNGKIN


Bagiku, ketika sebuah itikad baik tak disambut, maka sudah tidak ada gunanya dan lebih baik diakhiri.

Aku menilai perbedaan pemikiran adalah sesuatu hal yang wajar karena manusia mempunyai sudut pandang masing-masing, tapi ketika sebuah pertemanan yang terkoyak tak bisa menemukan apa yang dinamakan KESEPAHAMAN, maka ikhlaskan saja kepada tangan sang waktu menjadikannya tak mustahil untuk dikembalikan pada kita.

Kau bilang kau lelah. Sama. Tak ada yang sempurna, aku hanya yakin itu. Break saja, mungkin. Aku dengan pemikiranku. Dan kamu dengan asumsimu.