
TTTM, aku tidak sedang salah ketik. Memang itulah yang ingin kutulis. TTTM, bukan TTM. Aku mendengarnya ketika iseng mengikuti sebuah film yang diangkat dari blog Raditya Dika, KAMBING JANTAN. Teman Tapi Tidak Mesra, aku ngakak ketika kepanjangan TTTM sampai ke telingaku. Hmm, berangkat dari ungkapan itu aku jadi teringat dua hal yang baru-baru ini terjadi di hidupku. Teman Tapi -memang- Tidak Mesra.
Sebelumnya, aku terngiang ucapan yang digemakan seorang teman kantor, berbunyi: "Perasaan cinta itu dapat tumbuh kapan dan dimana saja tanpa ada satu pun yang bisa menghalangi, tetapi kontrol dari dalam hati kita sendiri tentang bagaimana keberlanjutan/ketiadaan perasaan tsb lah yang akan menalar apakah perasaan itu akan diteruskan atau hanya dirasakan saja tanpa ada realisasi apa pun." Ungkapan itu kemudian menohokku dan menjadi bahan pikiranku tentang dua hal yang menyelimuti kalbu.
Adalah suatu malam ketika aku membuka sebuah pesan pendek yang kukira berasal dari seorang yang kunanti balasnya, tetapi bukan. Sms itu dari orang lain. Tepatnya perempuan yang telah kusematkan janji bahwa aku tak akan mengirim sms atau meneleponnya terlebih dahulu. Pasalnya, selepas ia menjejakkan kakinya di depan pintu kamarku beberapa waktu lalu, hanya aku yang memulai obrolan, meski sebatas apakah ia telah sampai di kotanya atau kah belum. Bagiku, meski hanya formalitas, tetapi aku memandang kalau aku tak menanyakan kabarnya nanti dikira tidak sopan de el el. Karenanya, tak apalah beberapa kali aku memulai obrolan, tapi setelah kucerna kok selalu aku yang memulai. Apakah karena perdebatan kami tentang perasaanku dan perasaannya serta keputusan yang kemudian dipilih untuk menggarisbawahi perasaan itu hanya sebatas sahabat sehingga membuatnya mungkin sedikit diatas angin hohoho aku tak senaif itu dan memutuskan untuk tak lagi perlu memulai hubungan. Dan malam itu smsnya benar mampir di ponselku.
"Apa kbr? Lg dimana?"
Pertanyaan klise. Kami beberapa kali berbalas obrolan klise, hingga pengakuannya mencengangkanku. Ia tengah bersama kekasih hatinya.
Entah kenapa jemariku kemudian kelu. Kupikir kemengertianku akan situasinya kini telah dapat kurealisasi hingga ke hati, ternyata tidak. Cemburu itu masih ada. Jemariku yang kelu kubiarkan kram. Aku tengah di keramaian, tetapi malah hampa dan merasa sepi. Bibir yang menebar senyum dan tawa kosong. Ah, aku mungkin terlalu larut!
Esok paginya smsnya telah menyambangi ponselku. Tak kubalas. Jemari hatiku masih kelu. Siangnya baru kutekan tuts dengan isi pesan mengada-ada. Kali ini lebih gila. Kekasih hatinya yang menjawab. Membuka cerita yang telah tertutup, meski tak rapat. Perempuan itu rupanya masih menyimpan semua pesan pendek perdebatan perasaan kami usai ia kembali ke kotanya. Aku boleh dibilang tak menyangka ia akan menyimpannya, apalagi kemudian terbaca oleh kekasih hatinya.
Yang menjadi pertanyaanku kemudian adalah kenapa perempuan itu masih menata rapi semua sms yang kukirim padahal jeda waktu antara kepulangannya ke kotanya dengan malam itu kurang lebih terpaut tiga mingguan. Tiga minggu bukan waktu yang singkat untuk menumpuk sms2 baru yang datang kemudian, tapi kenapa smsku tak dihapusnya kalau ia tahu itu akan berpotensi menjadi sebuah persoalan? Oke lah, aku tak ingin berspekulasi menjawab hal itu. Yang paling urgen adalah keingintahuan kekasih hatinya atas perdebatan perasaan yang tertuang lewat sms yang bahkan aku telah lupa itu. Maklum saja, kupikir perdebatan itu tak akan terlalu dipermasalahkan mengingat "kesepakatan" kami untuk tetap dan akan selalu menjadi sahabat saja sampai kapan pun adalah yang utama bagiku. Meski memang kekasih hatinya lalu tak mempersalahkan, namun buntutnya si kekasih hati kian sering menyapa berpura-pura layaknya ia adalah sohibku dengan bahasa dan ungkapan yang tak pernah dilontarkan sohibku semisal kangen de el el. Ada apa dengannya?
Belum kudapat jawabannya, ada lagi persoalan berikutnya. Seorang teman lagi, dan juga kekasihnya. Tapi untuk yang ini aku merasa hanya kekuatiran berlebihan terhadap pasangannya. Tapi aku juga jadi mikir dan ngambil kesimpulan agak lucu serta nggak nyambung, ternyata bukan status janda aja yang rentan dalam hubungan relasinya dengan orang lain, jomblo juga ternyata rentan menjadi sorotan diantara persahabatan yang terjalin, padahal persahabatan tsb jauh lebih dulu bersemi ketimbang cerita cinta mereka.
Balik soal TTTM, Teman Tapi Tidak Mesra, gak ada yang salah, bukan?
No comments:
Post a Comment