
Tahun 2009 adalah tahun yang cukup penuh perjuangan. Diawali dengan pontang panting kesana kemari untuk survive di bulan-bulan pertama, kemudian menemukan secercah titik terang ketika mulai bergelut dalam dunia LSM, dunia yang tak pernah kusentuh sebelumnya. Mencoba mengibarkan sayap untuk menuai hasil dari hobi yang kugemari, menulis. Dengan mengayuh sepeda menemui editor, menambah relasi dengan bergabung di komunitas penulis perempuan di Jogja yang juga baru mulai merintis. TANAMA, Tanpa Nama. Anggotanya masih berjumlah tak lebih dari tujuh tetapi masing-masing mempunyai potensi disela kesibukan masing-masing. Cerpen pertamaku dimuat di bulan Juni di mingguan grup Kedaulatan Rakyat, menyusul sebuah opini pendek. Cerpen kedua di bulan Agustus dan ketiga pertengahan November yang ditutup sebuah opini pendek di akhir November.
Pemacu semangat untuk terus menulis dan selalu belajar lebih baik, serta juga lebih sabar. Pasalnya, menanti kapan novelku akan naik cetak membutuhkan kesabaran atas alasan waiting list dan deadline novel-novel lain yang mengantri untuk diterbitkan lebih dulu. Tapi aku juga belajar, mengoreksi lebih detil hasil karyaku, seperti yang dituturkan sang editor. Yah, aku memang masih sangat perlu dan harus banyak belajar dalam dunia penulisan.
Tahun 2009 dan masalah hati. Mungkin terlalu membosankan jika aku selalu bercerita tentang fluktuasi hubungan yang kemudian anti klimaks di akhir tahun dengan perempuan dua tahunan ini. Aku tak ingin mengungkitnya. Tahun 2009, usiaku 27 tahun. Usia yang sebenarnya tak kunantikan tapi mengingatkanku akan seseorang. Usia itu menyadarkanku bahwa ketika seseorang berada pada usia tiga tahun menjelang tiga puluh tahun itu hal-hal yang dipikirkan dalam berelasi adalah menata hidup ke depan, tak untuk main-main. Ketika aku mengecap usia itu, aku baru bisa merasakan dan cukup dapat memaklumi ketika dulu aku terbuang mentah-mentah meski hatiku saat itu tengah merona. Dua puluh tujuh tahun kemudian kukeramatkan sebagai pertanda dan ujung tonggak pemahamanku pada sebuah relasi yang tak lagi hanya memikirkan ketemu, pergi makan atau bahkan cuma untuk bobok bareng.
Banyak yang tlah terlewati di tahun 2009, kematian beruntun, yang membukakan mataku bahwa aku harus lebih kuat dari apapun. Aku yang belum melek atas apa yang dilemparkan dunia terhadapku kini harus terjaga dan lebih kuat, meski kadang angin yang menerpa membuatku tergoncang tetapi aku tetap dan akan selalu percaya IA yang diatas sana tak akan memberikan tornado yang memporak-porandakanku tanpa aku bisa selamat dari badai.
2010. Di tahun yang baru aku cukup bermunajat untuk bisa menjadi orang yang lebih matang, secara pribadi, sosial dan relasi. Dan semoga juga dipertemukan dengan seseorang who are meant to be... (auk deh kalo inggrisna salah-salah! Hanya mengutip Choky Sitohang di Take Me Out Indonesia kemarin. Wkwkwkwk)
No comments:
Post a Comment