
Baru pada kejadian ini aku memaknai sebuah kejujuran adalah kehancuran alias sesuatu yang mungkin jangan dilakukan.
Kejadiannya beberapa hari lalu ketika aku ingin membuka rekening di sebuah bank swasta yang sedang berpromosi tak dikenakan potongan tiap bulannya. Beberapa teman kantor telah mencoba dan aku mengekor. Petugas customer service hanya seorang, aku masuk antrian, menunggu dengan jangka waktu lumayan lama. Akhirnya, tibalah giliranku. Perempuan itu melayangkan mata dari celana pendek yang kukenakan sampai mulutku yang tak berhenti mengunyah permen karet. Ia mempersilahkanku duduk. Tak ingin mengulang penjelasan tentang seluk beluk tabungan, ia membarengkanku dengan lelaki yang juga akan membuka rekening. Disinilah kesalahan fatal itu dimulai.
Perempuan itu meminta kartu identitasku. Aku menyerahkannya. Dengan jujur aku menjelaskan bahwa ada kesalahan pada penulisan jenis kelamin dalam KTP itu. Disana tertulis PRIA. Perempuan itu sontak kembali mengarahkan mata dari mulai ujung kaki hingga rambut cepakku.
"Wah, kok bisa begitu, mbak?" sahutnya dengan nada "aneh". "Apakah ada identitas lain?"
Aku menggeleng.
"Sebentar ya!"
Perempuan itu membawa dan menunjukkan kartu identitasku pada perempuan lain di sebuah ruangan, mungkin atasannya. Tak lama ia kembali dengan permintaan maaf.
"Maaf, mbak, kami tidak bisa membukakan rekening karena identitas adalah prinsip. Mungkin kalau ada kartu keluarga atau identitas lain baru kami bisa membantu!" dalihnya panjang lebar yang pada intinya bersifat tolakan.
Aku jelas kecewa, bukan hanya telah mengantri cukup lama, tetapi juga lantaran kenapa kesalahan penulisan jenis kelamin itu dipermasalahkan jikalau aku sudah jujur mengatakan, pun ia juga tahu kalau aku perempuan, lalu apa lagi? Tahu begitu, aku tak usah jujur saja, toh ia tak akan menyadari kesalahan penulisan itu. Malah aneh saja menurutku. Padahal dulu ketika aku membuka rekening di bank negeri di kampung halamanku persoalan jenis kelamin ini tak menjadi masalah, aku tetap bisa buka, lalu kenapa disini harus seribet ini? Aku tak habis pikir! Tapi aku akan mencoba di bank yang sama namun di cabangnya yang lain, dengan tidak akan mengatakan kesalahan jenis kelamin itu. Aku sangat penasaran akan bagaimana hasilnya!
Ini kali pertama aku kepentok masalah administratif akibat kesalahan penulisan jenis kelamin itu. Beberapa teman telah mewanti-wanti tentang masalah ini sebelumnya tapi aku menganggap itu tak akan terjadi, meski juga ada satu teman yang punya ide cemerlang bahwa untuk urusan administratif aku telah bisa menikahi perempuan menurut hukum yang berlaku di negeri ini. Hmm, jadi malah bingung, enaknya ganti KTP atau tidak ya? Pasalnya KTP itu kadaluarsa hingga 2013. Aku sih terfikir, mending kubilang ktpku hilang saja, lalu aku bikin lagi ktp baru hehehe toh kesalahan itu bukan kesengajaanku, melainkan petugas di kampung ketika aku pindah dari Probolinggo ke kota asal ibuku padahal ia tahu betul aku perempuan karena jelas-jelas aku yang menyerahkan berkas-berkas kelengkapan semua anggota keluargaku padanya. Gitu ya masih salah, ampyun deh!
2 comments:
Mungkin harus di ganti aja...
Hi... ikut baca2 ya... :D
wahahah.. wez ngedit KTP wae 2013 masih lama lhoo
btw bank swastanya apa thu yg gk ada potongannya?
Post a Comment