
Aku baru tertidur kurang lebih sejam ketika kudengar suara orang muntah. Aku bergerak bangun. Saat melihatku ia minta tolong diambilkan kantong plastik. Ia jackpot. Aku beranjak kembali ke pembaringanku, lantas tak lama aku mendengar suara isakan. Kali ini bukan hanya mengagetkanku. Aku dan seorang teman menengoknya. Perempuan itu sedang terisak, bahkan meraung, meski matanya tak meneteskan airmata. Aku kebingungan, pun temanku yang semalam menjadi rivalnya beradu menenggak campuran Mansion rasa jeruk sedang aku hanya menjadi juri kengelanturan mereka. Ia menyuruh kami pergi. Kami angkat kaki dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang dipikirkan temanku, bagiku perempuan yang masih terdengar terisak dan sesenggukan itu mempunyai sesuatu yang dipikirkan hingga ke alam bawah sadarnya.
Ada yang tak selesai di hatinya. Ia memang pernah beberapa kali bercerita, namun aku meyakini isakan itu menyiratkan persoalan yang lebih dalam dari apa yang telah ia ceritakan. Aku tak hendak mengetahui apa, hanya saja aku memikirkan betapa tersiksanya ketika seseorang harus merasakan getir hidup bahkan ketika sampai di alam bawah sadar?
Waktu menjelang subuh ketika aku terjaga dari mimpi kala fajar hari ini. Mimpi seperti biasa mungkin hanya hiasan tidur. Tapi ini lain, aku merasa dadaku begitu sesak hingga secara otomatis buliran air meretas dari mataku. Mitos semasa kecil mungkin akan menjebakku pada alasan aku lupa baca doa sebelum tidur tadi. Aku tak sedang menghindar, tapi rasa sesak itu adalah imbas dari rentetan peristiwa yang diputarkan otak ketika aku sedang berada di alam bawah sadar. Ini bukan kali pertama aku terjaga dengan bantal basah, sudah beberapa kali dan aku mulai merasa ada yang tak selesai dengan hatiku. Di alam nyata, aku boleh-boleh saja bersenandung seolah-olah persoalan-persoalan hidupku telah kututup rapat dan kusimpan rapi untuk tak kubuka-buka kembali dalam perpustakaan tua di otakku, tapi nyatanya tak ubahnya isakan perempuan itu tangis sesenggukanku mungkin mempunyai tafsir yang sama dengan persoalan berbeda.
Aku tak tahu temanku itu punya persoalan apa hingga membekas ke alam bawah sadar, tapi untuk pagi tadi jelas-jelas aku memapah seorang anak kecil di bahuku, berlari, seperti menyelamatkan anak itu dari musuh. Dan ketika sampai di suatu ruang kosong, kami bermain dan bercanda tawa. Ia merindukanku sebesar aku merindunya. Lalu segerombolan orang mengepung dan mengambilnya dariku, menyisakan sesenggukan yang kemudian menjabani alam nyataku. Seperti biasa aku menyelesaikan tangis itu hingga kelegaan menyeruak dari relung terdalamku, kemudian tanganku dengan cekatan menuliskan.
Wajah anak kecil itu tak asing. Aku begitu mengenalinya. Mungkin -bukan mungkin, tapi benar- aku merindunya. Tak kesampaian di alam nyata karena ketegasan lafalku menerima untuk tak bisa mendengar celoteh riangnya, ternyata alam bawah sadarku menyuguhkan kebalikannya. Aku masih merindunya, diakui atau tidak!
Merunut titik-titik air yang pernah membekas ketika mataku terjaga pagi hari, tak selang lama aku teringat almarhum ayah, ibu dan kakak. Aku pun merindu akan masa dimana dulu aku melaluinya bersama mereka sebagai sebuah kesatuan tetapi saat itu tak terasa istimewa, malahan seringkali dibumbui percekcokan. Mungkin hal biasa, mengingat seseorang tak selalu mempunyai kesepahaman pikiran. Namun, memutar ulang masa, seperti ada "penyesalan" disana, kenapa waktu itu tidak begini-begini, kenapa malah begitu-begitu.
Ada yang tak selesai pada hatiku. Lisanku boleh saja berkata semua telah dapat kuatasi, namun faktanya alam bawah sadar tak bisa dibohongi. Jikalau hanya karena lupa tak baca doa sebelum tidur, maka mulai besok akan aku tempelkan tulisan dalam benakku untuk mendendangkan nada-nada karya Tuhan sebelum memejamkan mata.
Rindu 1/2 mati, seperti nada gubahan D'massive, itulah intinya. Aku merindukan hal-hal yang di alam nyataku telah kugariskan sebagai suatu cerita yang telah padam, namun ternyata belum terselesaikan. Merindu bukan berarti ingin mengulang persis seperti kejadian atau perasaan yang dulu, hanya saja alam bawah sadar masih belum bisa dan menganggapnya sebagai sebuah cerita yang unfinished. Merindukan hal-hal yang dulunya tak berasa istimewa, namun setengah mati peralihan alam ketika mataku terpejam menjejal dan menciptakan rindu yang menganga.
Aku rindu, setengah mati kepadamu...
Sungguh kuingin kau tau...
Aku rindu setengah mati...
No comments:
Post a Comment