Sunday, June 15, 2008

WILL U MARRY ME ...

Oleh : ALVI A.H.

Kutatap cincin bertahtakan satu mata berlian di hadapanku. Aku meraihnya, memandangi lingkaran kuning berkilauan itu untuk kesekian kalinya, lalu memasangkannya di jari manis tangan kiriku. Pas sekali. Bentuknya pun sangat kusuka.

Tadi siang seseorang yang sangat kusayangi, yang telah mengisi hari-hari indahku selama lebih dari setengah tahun ini memberikan cincin itu padaku, bukan sebagai hadiah ulangtahun atau Valentine -karena ini bukan bulan Februari-.

“Tutup matamu ...” ucapnya saat kami berdua selesai lunch di sebuah rumah makan tempat kami biasa bertemu.

“Tutup mata ... untuk apa?” tanyaku tak mengerti.

“Aku ingin memberikan sesuatu padamu ... cepat tutup matamu ...” desaknya dengan wajah berbinar.

Aku semakin tak mengerti. Kucoba tuk mengingat semua hal istimewa yang mungkin terjadi hari ini, mungkin aku melupakan sesuatu.

Ulang tahunnya sudah lewat, ulang tahunku juga masih beberapa bulan lagi. Hari ini juga bukan tanggal jadian kami, lalu apa ...

“Sudahlah, tutup matamu ... jangan berpikir macam-macam,” Rupanya ia dapat membaca isi pikiranku.

Dengan masih menyisakan sedikit keraguan, perlahan aku mulai menutup mata.

“Tutup yang rapat, jangan coba mengintip,” ujarnya saat tahu aku ingin curang mengintip apa yang akan diberikannya padaku.

“Habis kamu sih bikin aku penasaran ...” elakku.

“Makanya, cepat tutup matamu biar kau tidak penasaran lagi.”

Kali ini aku menutup mataku rapat-rapat. Dan bagiku waktu telah lama berselang, tapi ia tak juga menyuruhku membuka mata.

“Kok lama banget sih, kamu mau mempermainkan aku yaa ...” Nada suaraku lebih terdengar seperti penasaran.

“Sabar ... nah, sekarang buka matamu,”

Perlu waktu beberapa detik sebelum akhirnya aku mampu menormalkan penglihatanku kembali setelah mataku terpejam barusan. Kudapati ia sedang berlutut di hadapanku.

“Apa yang sedang kau ...” Kalimatku terhenti saat mataku terbentur sebuah cincin yang tengah disodorkannya padaku.

“Maukah kau menikah denganku?” ucapnya tulus.

Tenggorokanku tiba-tiba tercekat. Aku tak menyangka ia akan memberiku sebuah cincin, bahkan berlutut melamarku.

“Apa yang kau lakukan?” sergahku seraya menoleh sekeliling. Untung saja pengunjung restoran sedang sepi. Tak ada yang memperhatikan kami, terlebih saat ini, ia bak seorang pangeran tengah mempersembahkan cincin pada sang putri.
* * * * *

Aku terkejut. Bahkan boleh dibilang sangat terkejut. Dulu memang ia sempat mengutarakan hendak meminangku, namun kukira ia tak benar-benar serius. Hanya terbawa perasaan kami yang begitu menggebu-gebu kala itu karena kami baru jadian dan merasa cocok satu sama lain.
Namun kini, setengah tahun kemudian, ia benar-benar membuktikan kata-katanya padaku. Ia benar-benar melamarku!

Dan harusnya aku bahagia. Aku memang bahagia. Tak kupungkiri aku bahagia. Tapi kemudian ada banyak hal mengganjal pikiranku sejalan dengan munculnya kebahagiaan itu. Meski umurku tahun ini akan menginjak dua puluh delapan, belum terbersit di benakku untuk menikah, namun bukan itu inti persoalannya.

Perempuan mana yang tak bahagia dilamar oleh orang yang begitu disayang? Aku sama bahagianya dengan para perempuan yang dilamar kekasihnya. Tapi persoalannya akan menjadi lain jika yang melamarku kini adalah bukan seorang laki-laki seperti harapan kedua orangtuaku.

Dia yang begitu kusayangi ini adalah seorang perempuan, sama sepertiku! Meski penampilan dan tingkah lakunya hampir seratus persen tak ubahnya seperti laki-laki.

“Bagaimana jika dia mengajakmu menikah? Dari ceritamu, sepertinya dia tidak hanya hendak sekedar main-main. Dia pasti menginginkan sebuah hubungan yang serius!”

Ingatanku melayang pada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan oleh seorang temanku curhat dulu. Dan kala itu aku masih bisa dengan begitu mudah menepis bahwa masih banyak yang harus aku pikirkan karena aku memang belum terlalu mengenal orang yang kusayangi ini.
Namun sekarang aku telah begitu mengenalnya. Aku tahu segalanya tentang dia, keluarganya dan semuanya. Aku sudah pernah dikenalkan pada keluarganya yang notabene telah menerima keberadaannya sebagai seorang Lesbian, sedang aku ... keluargaku tak pernah tahu kalau anak sulung mereka ini tengah menjalani hubungan sejenis.

Mereka mengira –meski tak secara langsung mengatakan- bahwa aku sedang menjalin hubungan dengan laki-laki karena aku yang biasanya tiap akhir pekan selalu pulang ke rumah orangtuaku kini sudah jarang sekali pulang.

Bukan hanya kedua orang tuaku yang tak tahu aku begini. Kadang aku juga mempertanyakan kenapa aku bisa seperti ini? Dulu, aku memang pernah berhubungan lama dengan seorang laki-laki berumur. Kemudian aku tahu dia sudah beristri. Namun, perasaan cintaku yang begitu kuat padanya mengalahkan segalanya. Aku bertahan dengan laki-laki itu, hingga kemudian dia memutuskan hubungan secara sepihak untuk kembali pada anak dan istrinya. Aku tahu aku dalam posisi salah, tapi aku juga punya perasaan. Hatiku sangat hancur. Meski ia tak pernah menggubrisku lagi, aku masih terus mencari perhatian laki-laki itu.

Dan belum pulih lukaku, aku dikejutkan oleh kabar bahwa ayahku menikah lagi. Ayah yang selama ini kubangga-banggakan dan sangat dekat denganku itu mengambil sebuah keputusan yang sangat mengecewakanku, terlebih ibuku. Aku bisa merasakan ibuku sangat tersiksa meski beliau tak pernah menunjukkannya dan berusaha berlapang dada, tapi aku tak bisa, aku sangat membenci sosok yang dulu dengan bangga kupanggil ayah tersebut. Aku tak bisa menghargainya lagi, meski ia masih berusaha perduli pada kami. Hatiku sudah terlampau sakit.

Hingga kemudian waktu membawaku berkenalan dengan orang yang kini begitu kusayangi. Sejak pertemuan pertama kami, aku sangat terkesan dengan perlakuannya yang melebihi seorang laki-laki memperlakukan kaumku. Dan pada minggu berikutnya aku langsung mengangguk tanpa pertimbangan apapun saat ia memintaku menjadi pacarnya. Entahlah, aku merasa sangat nyaman dan sangat terlindungi bila bersamanya.

Dan aku tak pernah menyangka kalau hubunganku akan sampai sejauh ini. Aku bukannya menyesali, aku sangat bahagia bersamanya, tapi kini ia memintaku bukan hanya menjadi pacarnya. Ia ingin meresmikan hubungan kami lewat seorang pemuka agama wanita yang bersedia menyatukan hubungan dua insan yang menurut hukum agama mana pun tak bisa diterima untuk dipersatukan.
* * * * *

“Aku menanti jawabanmu?” tanyanya setelah kurang lebih seminggu aku tak juga memberikan jawaban.

Apa yang harus kujawab? Aku sendiri sangat bingung. Aku menyayangi perempuan ini, tapi untuk menikah dengannya, apalagi tanpa sepengetahuan keluargaku adalah juga hal yang mustahil.

Berulang kali kucoba mencari jawab tentang apa yang sesungguhnya kurasakan padanya. Apa aku hanya sekedar menemukan kenyamanan dalam dirinya seperti menemukan figur seorang laki-laki sesuai yang kuinginkan?

Dan jawabannya BUKAN. Bagiku, ia tak hanya lebih dari figur laki-laki yang tak kudapati dulu.
Dia memang bukan perempuan pertama dalam hidupku. Tapi, ketika mengenalnya aku menjadi lebih mantap dengan pilihan orientasi seksual yang selalu membuatku gamang sejak dua laki-laki itu menyakitiku.

Ya, aku sangat menyayanginya, tapi untuk mengambil keputusan besar seperti ini adalah bukan hal yang mudah. Karena apapun keputusanku, akan mengubah hidupku selanjutnya. Meski toh kebahagiaanku jauh lebih penting, namun aku tak bisa menyepelekan akan betapa kecewanya ibuku. Sudah cukup perlakuan pahit dari ayah, aku tak ingin menambahnya. Di satu sisi aku begitu yakin ingin mengatakan YA pada perempuan yang kusayang, tapi bayangan raut muka ibu membuatku harus berpikir ulang.

“Aku rasa waktu seminggu kurang lebih cukup untuk berpikir, sekarang aku meminta jawaban dan kepastianmu.” tanyanya datar namun tegas. “Aku tidak ingin menekanmu karena aku tahu itu pilihan sulit bagimu,”

Jika kau tahu itu pilihan sulit, kenapa kau mengajukannya padaku? Toh selama ini tanpa kita menikah pun, hubungan kita baik-baik saja. Kita tetap bisa saling menyayangi, berbagi satu sama lain dan tak ada masalah apa pun, lalu kenapa kau melamarku?

Apakah dengan kita “melegalkan” hubungan kita ini akan merubah sesuatu diantara kita? Tidak ada yang akan berubah! Aku tetap akan begitu menyayangimu seperti sekarang, masih menginginkan berada di sisimu setiap waktu dan mendapatkan perhatianmu, begitu juga sebaliknya kau.

Dan semuanya masih akan sama! Kita akan tetap menyembunyikan hubungan kita tanpa pernah mendapat penerimaan dari orang-orang di sekitar kita! Memilikimu dalam setiap detik hidupku bagiku sudah terlampau cukup!

Rangkaian kata itu hanya bisa tertahan di batang tenggorokku tanpa berani terlontar dari bibirku. Aku takut itu akan menyakitinya, meski cepat atau lambat aku harus memberinya jawaban. Sekarang aku bisa mengelak, tapi nanti...
* * * * *

“Sayang, sayang ... bangun ...”

Sebuah suara yang sangat kukenal seketika membuatku terjaga. Begitu mataku utuh terbuka sosok perempuan yang kusayangi sedang tersenyum tepat di arah pandanganku. Entah sudah sejak berapa lama ia berusaha membangunkanku.

Ternyata, semua hanya mimpi.

“Kau mimpi buruk ya?” tanyanya sembari mengusap peluh di keningku.
Aku langsung memeluknya erat. Entah kenapa aku sangat ingin memeluknya. Entah karena aku begitu senang semua ketakutanku barusan hanyalah mimpi belaka, entahlah!

“Sudah siang, nanti kau telat ke kantor,” ucapnya penuh kesabaran, kemudian ia beranjak ke depan.

Dari balik jendela kaca aku mengamati perempuan yang kusayangi itu sedang memanaskan mesin motor sambil mengobrol ringan dengan perempuan penghuni kamar sebelah yang menjuluki kami “setan” karena hubungan sejenis diantara kami. Aku selalu tersenyum jika teringat ekspresi muka “aneh” perempuan itu sewaktu pernah memergoki kami saat akan berciuman.

Aku berbalik hendak mengambil perlengkapan mandi ketika secara tak sengaja ekor mataku menangkap sebuah kotak hitam kecil di atas laci sebelah tempat tidur. Kotak hitam itu sepertinya pernah kulihat sebelumnya, tapi dimana ...

“Cincin ini ...” desisku mendapati sebuah cincin bermahkotakan satu mata berlian kecil. Cincin yang juga pernah kulihat sebelumnya ...

Seluruh persendianku tiba-tiba terasa lemas hingga tak mampu menyanggah tubuh suburku yang kini kurasakan sangat ringan.

No comments: