Sunday, June 15, 2008

LOVE SOMETIMES WEIRD

By ALVI A.H


Namaku Nia. Umurku dua puluh tiga tahun. Aku bekerja di salah satu mall terbesar di Jakarta Barat. Sejak dua tahun lalu aku berhubungan serius dengan seorang pria bernama Nanda. Ia juga bekerja di tempat yang sama denganku, hanya berbeda bidang. Hubungan kami cukup serius. Nanda sudah pernah hendak melamarku, namun aku merasa belum siap.

Hubunganku dengan Nanda baik-baik saja, hingga kemudian datang seorang “perempuan” kost tepat di sebelah kamarku. Kenapa aku mengatakan “perempuan”? Karena perawakannya seperti laki-laki. Alisnya tebal. Tulang hidungnya tinggi. Meski tubuhnya pendek untuk ukuran laki-laki, tapi potongan rambut dan tingkah lakunya tak ubahnya seorang laki-laki.

Aku saja hampir “tertipu” saat dia berdiri di depan pintu kamarku memperkenalkan diri dan aku memanggilnya “Mas”. Dia hanya tersenyum, tanpa membantahnya. Tapi kemudian tak sengaja mataku menangkap dua buah dada menyembul diantara kaos hitamnya dan aku buru-buru meralat ucapanku barusan.

“Maaf, aku kira kau laki-laki, habis suara dan ...”

“Nggak pa-pa, kamu bukan orang pertama yang memanggilku demikian...” sahutnya ramah.

“Kenalkan ... namaku Hanny ...”

“Nia ...” Aku menyambut uluran tangannya.

“Kamu mau berangkat kerja?” tanyanya melihatku sedang memoles bedak dan lipstik.

“Yaa ...” sahutku tanpa berpaling dari cermin.

“Ya udah, aku mau istirahat dulu ...” pamitnya.
***** ***** ***** *****

“Masuklah ... maaf kamarku masih berantakan” kata Hanny sembari merapikan buku-buku yang berserakan di tempat tidur. Ia tampak agak terkejut saat suatu sore aku bertandang ke kamarnya.

Sebuah komputer set menyala. Suara mesin printer terdengar sedikit gaduh ketika mencetak lembaran demi lembaran tulisan di kertas berwarna putih. Sementara Hanny sibuk menatap layar komputer, kubaca apa yang sedang ditulisnya.

“Kamu penulis?”

“Yaa begitulah,” ujarnya sambil tetap fokus tak bergeming dari monitor. “tapi masih amatiran kok,” imbuhnya merendah.

“Kamu nulis apa aja?”

“Cerpen, puisi dan sekarang aku sedang belajar menulis skenario!”

Aku menemukan sebuah koran daerah di tumpukan buku di laci sebelah komputer. Salah satu cerpen Hanny dimuat di koran tersebut. “Dia bukan penulis amatir!” gumamku dalam hati sambil mulai membaca cerpen tersebut, hingga dering ponsel Hanny mengagetkanku...

“Hallo ... aku di kost, naik saja ...”

“Sepertinya ada yang mau datang, aku balik ke kamar aja deh!” ujarku seraya beranjak hendak pergi.

“Ah, nggak kok. Pacarku mau mampir, di sini saja nggak pa-pa kok ...”

“Pacar??” Aku mengurungkan langkah, tepatnya sengaja tak angkat kaki karena sebenarnya aku juga ingin tahu pacar si tomboy yang lumayan cakep ini.

Tak lama terdengar derap kaki mendekat.

“Itu pasti pacar Hanny ...” batinku. Entah kenapa aku begitu penasaran. Tapi yang muncul di depan pintu kamar Hanny adalah seorang perempuan berkulit sawo matang dengan perawakan tubuh mungil. Rambutnya lurus sebahu. Di wajahnya terdapat bekas –bekas jerawat yang hampir punah. Dan raut muka perempuan itu tak menunjukkan keramahan padaku, makanya aku tak berani menyapanya duluan.

“Masuklah ...” kata Hanny pada perempuan yang masih menunjukkan muka masamnya padaku itu, meski kami telah duduk berdekatan.

“Nia, kenalkan ini Metha ... pacarku!”

Tenggorokanku seketika tersedak hingga aku terbatuk-batuk mendengar Hanny memperkenalkan perempuan itu dengan sebutan “pacar”.

“Nia ... kamu kenapa?”

“Sorry, aku nggak pa-pa, nggak tau kok tiba-tiba tersedak ...” kataku masih terbatuk-batuk kecil.

Masih tak ada senyuman atau sekedar basa basi sikap ramah tamah dari “pacar” Hanny itu.

“Apakah dia cemburu padaku?” gumamku penuh tanda tanya, memandangi Hanny kemudian perempuan itu secara bergantian dan agak merasa “aneh”.
***** ***** ***** *****

Seminggu, sebulan dan sekarang hampir setengah tahun Hanny menghuni kamar di sebelahku. Dan kami makin dekat. Hanny orangnya enak diajak diskusi tentang apa saja. Pengetahuannya luas. Aku banyak belajar tentang hidup keras yang pernah dijalaninya di masa lampau, dimana ia berjuang sendirian setelah kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan maut dan hanya mendapat kasih sayang dari neneknya. Itupun tak lama, karena neneknya juga dipanggil ke alam baka.

Hanny juga termasuk orang yang sangat perhatian padaku. Ia sering menjemputku kalau aku pulang malam dan Nanda tak bisa mengantar. Aku pun sudah mulai terbiasa dengan hubungan Hanny – Metha yang dulu kuanggap “ganjil”.

Namun aku tak pernah tahu kalau Metha ternyata cemburu padaku karena “kedekatanku” dengan Hanny tersebut. Ia tak pernah ke tempat kost Hanny lagi. Paling ia hanya menunggu di luar dan menyuruh Hanny turun.

“Aku jadi nggak enak ama Metha, Han, padahal kita nggak ada hubungan apa-apa!” kataku pada Hanny.

“Ah, itu sudah biasa. Metha memang selalu begitu jika ada perempuan yang dekat denganku” sahut Hanny santai.

“Tetap saja aku merasa tak enak!”

“Kenapa kamu harus merasa tak enak kalau memang diantara kita nggak ada apa-apa?” cecar Hanny tegas. Matanya tajam menusukku.

“Iya juga sih ...” sahutku tak berani membalas tatapannya.

“Kalian lagi ngomongin apaan nih, kok kayaknya serius banget ...” Kedatangan Nanda membuyarkan obrolan kami.

“Nia, aku balik ke kamar dulu ...” pamit Hanny spontan tanpa menoleh Nanda, seolah-olah Nanda tak ada di tempat ini.

“Aku merasa dia aneh?” ujar Nanda setelah kepergian Hanny.

“Aneh kenapa?” tanyaku pura-pura tak mengerti, padahal aku juga bisa merasakan sikap Hanny yang terkesan “dingin” pada Nanda.

“Selama ini tak pernah sekali pun dia menyapa atau beramah tamah padaku!” jelas Nanda.

“Hanny memang begitu orangnya, tapi dia baik kok. Kamu aja yang terlalu melebih-lebihkan!” sahutku masih coba menutupi.

“Aku nggak melebih-lebihkan, Nia. Dan aku nggak suka kalau kamu terlalu dekat dengannya!” larang Nanda.

“Sudahlah, kamu mulai aneh seperti pacar Hanny yang cemburu padaku!”

“Tuh kan ...”

“Sudahlah ... kamu nggak usah kuatir, nggak akan mungkin ada apa-apa antara aku dan Hanny, yang benar saja!” kataku sambil terkekeh.
***** ***** ***** *****

“Jadi kamu udah putus dengan Metha?”

Hanny mengangguk tanpa berpaling dari layar komputer yang hanya dipandanginya dengan tatapan menerawang. Entah benaknya sedang mengembara kemana. Hanya tangannya yang terlihat lincah memainkan rokok yang menyala di sela-sela jemarinya.

“Apa itu karena ... aku?” tanyaku hati-hati.

“Mungkin itu salah satunya, tapi juga banyak masalah lainnya,” Hanny menghisap dalam - dalam Marlboro beraroma menthol itu kemudian menghembuskannya dalam bentuk bulatan-bulatan besar. “Mungkin memang lebih baik putus! Aku meninggalkan pekerjaanku di Jawa demi dia. Aku memulai dari nol lagi di sini, tapi sekarang dia malah affair dengan seorang laki-laki!”

Aku terdiam, entah apa yang sedang kupikirkan.

“Hei ... kok malah diam, bukan salahmu kok!” sergah Hanny santai.

Aku tergagap. “Ah, yaa ... syukurlah kalau bukan karena aku!”

Kulirik jam di sebelah kanan bawah monitor komputer menunjuk angka dua belas lewat lima belas menit. “Hanny, udah malam aku ke kamar dulu ...”

“Kamu udah ngantuk?”

“Nggak juga sih, cuma udah malam aja!”

“Masih jam dua belas, disini saja, lagian besok kamu libur kan?”

Aku urung balik. Akhirnya aku menemani Hanny mengetik naskah film sambil mengobrol tak tentu arah, hingga mataku perlahan tak kuat lagi.

Aku ketiduran di kamar Hanny. Namun tengah malam aku terjaga dan agak sedikit terkejut menyadari bahwa wajah Hanny tak sampai sepuluh senti di depan mukaku. Aku bisa merasakan hangat nafasnya mengenai lenganku.

Entah kenapa mendadak aku merasa aneh atau lebih tepatnya merasakan perasaan yang tak terdefinisikan. Aku bahkan sampai tak sadar aku tengah memandangi raut muka si imut yang sedang tertidur pulas di depanku ini. Ada sebuah desiran halus menjalari nadiku.
***** ***** ***** *****

“Nia ...” teguran Nanda membuatku tergagap dari lamunan. “Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu sering kali melamun, apa kamu sedang punya masalah?”

“Nggak, nggak ada kok ...” jawabku sambil tersenyum kecil. Nanda menatapku. Aku meyakinkan Nanda dengan senyumanku, hingga tak sengaja aku bersirobok pandang dengan Hanny yang lewat depan kamarku.

Sejak kejadian malam itu hubunganku dan Hanny merenggang. Aku sendiri yang memang sengaja menjaga jarak dengannya dan Hanny sepertinya tahu penyebabnya, tapi ia tak banyak berkomentar.

“Baru pulang, Han ...” Kudengar Dhea, penghuni kamar paling ujung, menyapa Hanny.
Sejak hubunganku dan Hanny tak lagi ”harmonis”, Hanny jadi dekat dengan perempuan berpredikat playgirl itu. Dan entah kenapa aku sangat tak suka dengan kedekatan mereka.

“Apakah aku cemburu?” batinku.

“Nia ... Nia ...” Entah sudah untuk keberapa kalinya Nanda memanggil-manggilku. “Kamu kenapa sih? Cerita kalau ada masalah ...”

“Nggak kok, mungkin aku hanya kecapean aja ...” kilahku sambil menyungging senyuman yang tampak dipaksakan.

Nanda menatapku lekat dan aku memilih memalingkan muka.
***** ***** ***** *****

“Mana bajingan itu ...” geram Nanda seraya menaiki tangga menuju kamar Hanny.

“Nanda, sudah kubilang ini bukan salah Hanny, tapi aku sendiri yang memutuskan semuanya!” seruku mengejar berusaha mensejajari langkah Nanda.

“Nggak, kamu udah diracuni oleh bajingan itu!! Gara-gara dia otakmu udah nggak bener!!” kalap Nanda.

“Nanda, denger aku ... ini sudah keputusanku!!”

“Nggak!! Aku sama sekali nggak percaya ...”

Aku menghadang Nanda tepat saat kami sampai di depan kamar Hanny.

“Nanda, aku hanya ingin kita pisah baik-baik ...” tegasku.

Untuk sekian detik kami berhadap-hadapan dan sama-sama membisu. “Jadi kamu benar-benar serius dengan keinginan gilamu itu??” suara Nanda lirih. Ada nada kekecewaan dalam helaan nafas panjangnya.

Aku mengangguk. “Ini bukan keinginan gila, aku sadar sepenuhnya dengan keputusanku ini ...” jawabku mantap.

“Nia, apa kau gila ... hubungan kita sudah serius, nggak lama lagi kita menikah!” Nanda menggenggam tanganku erat. “Jangan melakukan kekonyolan ini, Nia ...”

“Maaf,” Kutepis tangan Nanda pelan. “Aku sendiri sudah berusaha mengingkari perasaan ini dan menganggapnya sebagai sebuah kekonyolan, tapi aku tetap tak bisa membohongi perasaanku sendiri!”

“Nia ...”

“Kumohon ... tolong hargai keputusanku!”

Sekian detik kemudian, aku hanya bisa mengikuti Nanda menghilang bersama derum motornya dari balkon. Aku tercenung. Hingga aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tiba-tiba meraih jemariku.

“Hanny ...” desisku.

Hanny tersenyum lebar. “Kaget ya ...”

“Apa kamu dengar ...”

“Ya, aku sudah dengar semuanya!” potong Hanny cepat.

Lidahku mendadak kelu.

“Aku merindukanmu, Nia ...” bisik Hanny di telingaku.

Aku memandangi jemariku yang terengkuh erat dalam genggaman Hanny. Aku mungkin tak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tapi untuk sekarang aku yakin dengan sepenuh hati bahwa keputusanku ini bukan hanya emosi sesaat.

1 comment:

August said...

omg....cerita ini ck ck ck....menyentuh dan membuat tersenyum saat ngebacanya...love is always weird...it is ^^