By Alvi A. H
Jam setengah tiga. Taksi yang kutumpangi memasuki kawasan Blok M, lalu tepat berhenti dibawah tangga penyeberangan. Aku bergerak turun. Gerimis langsung menyapa tubuhku ketika menjejakkan kaki ke jalanan beraspal yang tergenang air sisa hujan barusan.
Sejenak aku memandangi mall yang mempunyai “sejarah” penting dalam hidupku itu sebelum aku menapaki satu demi satu anak tangga penyeberangan yang menghubungkan mall dengan tempatku ketika sampai tadi.
Entah kenapa rasanya seperti baru kemarin saja aku ke tempat ini, padahal sudah genap setahun, bahkan mungkin lebih, aku tidak kemari atau tepatnya sengaja tidak kemari. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin ingatan tentang kamu memenuhi otakku lagi, meski aku sangat sadar bahwa ingatan itu memang kadang membelit di benakku seperti baru kemarin saja terjadinya.
Dan benar saja, baru selangkah memasuki pintu depan yang dulu aku lewati, ingatan itu memberondong tajam dengan begitu cepatnya merangkai tiap kejadian di masa lampau sedemikian detilnya.
“Kamu dimana? Aku sudah sampai.” ujarku ketika mendengar nada tersambung.
“Tunggu ya, ntar lagi aku sampai ...” jawab suara perempuan di ujung ponselku.
Kalau tidak karena diajak ketemuan dengan perempuan ini, aku tak akan mau kemari. “Ketemu dimana aja asal di daerah selatan... ” Begitu pintanya. Dan di daerah selatan aku hanya hafal Blok M, makanya mau tak mau disinilah akhirnya aku dan perempuan itu janjian untuk ketemuan pertama kalinya, tempat yang sama yang menjadi tempat ke-terakhir kalinya aku pergi bersama kamu setahun lalu.
Seperempat jam telah berlalu, perempuan itu belum datang juga. Aku memutuskan ke toko buku di lantai atas sembari menunggu. Sama seperti setahun lalu ketika aku menghabiskan waktu menunggumu lumayan lama untuk perawatan rambut ke salon. Dering ponsel membuyarkan lamunanku.
“Aku udah nyampe ... kamu dimana?”
“Di Gunung Agung.”
“Aku di depan lift, aku yang ke atas atau kamu yang turun?”
“Aku aja yang turun, tunggu ya ...” Pandanganku tertumbuk pada lift yang juga pas di depanku. Naik lift... ntar pasti dia sudah menunggu di bawah, mending...
Aku memutuskan turun lewat eskalator. Sembari meliuk-liuk di satu demi satu eskalator, mataku berkeliling menduga-duga sosok perempuan yang akan aku temui ini. Maklum, aku hanya mengenal suaranya saja melalui telepon tanpa pernah tahu ciri-cirinya karena ia tak mau mengatakannya.
Aku berpapasan dengan perempuan rambut sebahu yang sibuk dengan hape-nya. Mungkinkah itu dia ... Lalu ada seorang perempuan ABG. Kalau dia tak mungkin karena perempuan yang hendak kutemui ini berumur dua puluh tujuh tahun, dua tahun lebih tua dariku, meski dari suaranya terdengar seperti anak perempuan tujuh belas tahunan.
Di lantai bawah aku berpapasan dengan perempuan berbaju pink yang hendak menaiki eskalator. Kami bersirobok pandang beberapa saat karena perempuan itu mengikuti ekor mataku yang juga sedang menatapnya. Mungkinkah itu dia ...
Aku merogoh saku. Ada dua panggilan tak terjawab di ponselku. Perempuan itu. “Aku sudah di lantai bawah, kamu dimana?”
“Kamu kelamaan, aku sudah naik ... kamu yang lagi ngunyah-ngunyah permen karet ya?”
“Kenapa?” Alisku berkerut. Bagaimana ia tahu aku memang sedang mengunyah permen karet.
“Jawab saja, iya atau nggak?”
“Ya ...”
“Kalau begitu kita tadi papasan. Aku yang pake baju pink ...”
Baju pink ... hmm, tak salah lagi, pasti perempuan berambut panjang berperawakan ramping dengan tahi lalat diatas bibir tadi.
“Aku satu lantai diatasmu, kamu naik ya... ”
“Oke ...”
* * * * *
“Maaf ya, pasti lama ya nunggu aku ... sorry!” berondong perempuan yang duduk di hadapanku begitu pantatku bersentuhan dengan kursi di Platinum.
Perempuan itu sungguh sangat feminin. Meski riasan wajahnya menurutku agak berlebihan, tapi tampak pas saja. Bulu matanya seperti matahari bersinar di pagi hari dan pipinya kemerahan seperti langit senja. Ia sering mengalihkan mata ke arah lain ketika mata kami bertemu. Sesuatu hal yang membuatku tersenyum. Karena jujur saja, bukan perempuan ini yang menjadi alasanku kemari. Aku sedang merindukan kamu, sosok yang setahun lalu memenuhi hatiku.
“Kita kemana lagi?” tawarku setelah kami selesai makan siang yang agak kesorean barusan.
“Jalan-jalan aja, liat-liat baju kek. Kamu sukanya liat-liat apa?”
“Liat buku ama liat femme ...” Perempuan itu langsung melayangkan tinjunya ke lenganku mendengar jawabanku barusan.
“Ya udah, aku mau liat-liat baju, kita ke Orange yukk,”
Aku mengekor langkahnya. Posisinya tepat di depanku. Lekuk tubuhnya tergambar jelas, tak seperti gitar Spanyol memang karena bentuk badannya terlalu kurus. Mataku kemudian tak sengaja menangkap tulisan Pizza Hut di kaca sepanjang koridor yang kami lewati.
Aku dan kamu setahun lalu makan di restoran ala Italia itu, tepatnya di bangku nomor dua di sebelah kanan kasir. Masih lekang dalam ingatanku ketika itu aku sibuk memperhatikan seorang pramusaji yang mengenakan bando kelinci ala Playboy.
“Pecicilan aja kalo liat jidat licin!” protesmu ketika itu yang membuatku tersenyum. Dan mungkin itu salah satu alasan kamu memberiku poin seorang player, meski jujur waktu itu aku hanya tertarik pada bando ala plaboy si pramusaji bukan si pemakai bando. Ahh, kenapa aku selalu teringat kamu! Padahal aku sedang bersama perempuan lain.
“Lingerie ini cocok nggak buat aku?” tanya perempuan itu sembari merapatkan lingerie transparan berwarna putih ke tubuh mungilnya.
“Cocok-cocok saja, body kamu kurus jadi cocok memakai apapun!” jawabku lugas atau lebih tepatnya terdengar blak-blakan. Jujur, pertanyaan perempuan itu mengagetkan aku dari benakku yang menerawang ketika setahun lalu kamu juga mengajukan pertanyaan yang sama, juga di tempat yang sama.
“Dari tadi aku perhatikan kamu kok dikit-dikit ngelamun sih?” selidik perempuan itu sambil tangannya dengan cekatan memilah-milah deretan lingerie meski ekor matanya sesekali melirikku.
“Kalau boleh jujur, sebenarnya aku benci ke tempat ini!”
“Kenapa?” Alis perempuan itu menukik tajam. Jari-jari lentiknya berhenti beraktivitas.
“Tempat ini menjadi kencan terakhirku dengan cinta pertamaku,”
“Maaf,” Perempuan itu merasa tak enak hati. “Habis kamu nggak bilang sih ...” imbuh perempuan itu. “Aku jadi nggak enak nih, kita ke tempat lain aja kalau gitu ...”
“Ahh, nggak usah. Justru dengan aku kemari, menyadarkanku satu hal...” Perempuan itu terlihat penasaran menanti kelanjutan kalimatku. “Semua hanya masa lalu dan aku tidak boleh terus menerus hidup di masa lalu. Kenangan itu memang akan selalu ada di hatiku, tapi hanya akan menjadi sebatas kenangan.”
Hening beberapa saat, lalu kemudian perempuan itu tersenyum dan merengkuh jemariku erat. “Ayoo kita lanjutin keliling tempat ini ....” Perempuan itu bergelanyut manja di lenganku.
Kamu ... meski sudah tak ada lagi aku di hatimu, tapi aku harap suatu saat akan ada kita lagi. Walau bukan seperti kita yang dulu, paling nggak tidak seburuk kta seperti saat ini.
No comments:
Post a Comment