Saturday, June 23, 2012
Agenda Cari Jodoh
Aku tersenyum dengan agenda otak yang satu ini. Flirtasi mungkin sudah hobi tapi untuk serius mencocokkan hati dan mencocokkan lainnya, aku seperti sedang dihempaskan ke masa-masa dimana mencari jodoh itu hanya dimaknai sebagai pengalih isu atas ketidakpuasan otak atas keterpurukan hati kala itu.
Akankah terulang saat ini? Mau dengan model yang berbeda sekalipun? Haha kukira aku tak pernah seserius itu memasukkan agenda memilah memilih dan dipilihkan untuk urusan hati. Aku masih percaya kespontanan hati, bahwa chemistry atau merasa clique terhadap seseorang datangnya kerap tak terduga.
Friday, June 22, 2012
Otak Sudah Tak Imajiner
Dulu gak pernah mengharap, dan semua terjadi dan terlewati begitu saja. Lalu kenapa sekarang harus berharap atau mentarget?
Ungkapan diatas sebagian dari refleksi kecil yang sedang kulakukan besar-besaran. Maklum, menggenggam pasir, sepertinya masih mencokol erat di hati.
Ketidaksinkronan dua pembesar alias decision maker atas tubuhku ngaru banget dalam keseharian. Namun meski saling berkampanye, keduanya tak pernah saling sikut. Otak yang merupakan kandidat pemenang pilkada kerap mengakomodir kepentingan hati tapi tetap dalam track berlajur realistis. Karena otak tak suka hati ketika berimajiner. Berharap untuk sebuah cita-cita mungkin baik, tapi mengharap hati, otak tampaknya lebih dulu sudah pasang badan.
Monday, June 18, 2012
Pilkada Tubuh Saya
Seperti yang pernah kubilang, menentukan sikap dan pilihan itu bahkan perlu diselenggarakan sebuah pilkada. Hati vs Otak, keduanya saling berkampanye tapi tak saling menjatuhkan...
Memulai kerja dobel awal Minggu ini diusung otak untuk menanggalkan urusan hati. Ya, model orang serius dan tidak mau diganggu ketika menjadi workaholic sepertinya secara tersamar sebagai prinsip otak saya. Lain otak, lain pula kampanye hati, love is about giving, so brain stop counting! Kata counting, sebenarnya satu dari sekian habit otak yang lumayan punya persentase besar untuk memproganda keputusan yang kuambil. That's why hati sangat berkeberatan jika selalu ngitung! Terlebih, ungkap hati, dengan ego kepemilikan yang cukup masih mengakar.
Otak itu mungkin gudangnya kemunafikan, tapi seperti keputusan yang terjalani awal tahun kemarin, yang notabene adalah kemenangan otak, nah apakah kini akan juga dimenangkan otak untuk putaran kedua kali ini?
*Menunggu hasil kampanye
Sunday, June 17, 2012
Keinginan Untuk Memiliki
Keinginan Untuk Memiliki
Melihatnya terlelap di sebelahmu, dengan perasaan yang nyaris utuh selayak sebelum Desember lalu, namun tersadar bahwa kini adalah tak sama dengan waktu lalu, bagaimana kah rasanya?
Keinginan untuk memiliki. Dulu keinginan hati itu yang mencengkeram otak dengan ultimatum untuk mundur ketika merasa semua waktu dan pikiran lengkap dengan perasaan tak bisa keluar dari kata posesif pake banget yang entah kenapa baru ama yang ini bisa-bisanya dihinggapi perasaan kayak gitu.
Kadang merasa konyol juga sih ketika saya dengan segenap perasaan begitu sibuknya menyiapkan jaring-jaring agar ia tak keluar dari celah jala sementara ia mungkin tak berkeinginan tinggal. Namun aku percaya hati memang berisi kekonyolan-kekonyolan tak bernalar yang walau disadari pun tetap akan berulang dan terulang.
Hampir 2 bulan ini saya mendeklarasi bahwa hati saya sudah sembuh. Dalam artian, bahwa saya sudah tak mempunyai keinginan mengetahui apapun tentangnya. Ya, saya boleh dikategorikan sembuh untuk yang satu itu, selain mules yang udah pergi dari hidup saya tiap kali namamu kesebut. Dan bagiku kesembuhanku sudah total hingga tak akan masalah ketika akhir-akhir ini takdir hampir kerap mempertemukan kami -sesuai harapanku-. Namun ternyata aku belum terlalu sembuh...
Melihatnya, tentu saja, membahagiakan. Bahkan boleh dibilang endorfin alamiku bekerja over. Bagaimana tidak, mata tak mau dipejamkan, degup jantung yang berirama dan suntikan energi yang entah berasal dari mana, pastinya semua bekerja alami. Meski otak sudah berulang kali mewanti-wanti, seakan transmisi perintah itu meluruh di pembuluh nadi tak pernah sampai ke hati. Namun indikasi sembuh dengan ketiadaan keinginan untuk mengetahui cerita tentangnya justru berbanding terbalik dengan keinginan untuk memiliki.
Ego kepemilikanku masih mengakar. Cemburu yang masih menderu. Posesif yang masih aktif. Aku belum sembuh! Meski segenap lisanku seakan menulikan jeritan hatiku.
Aku tak sedang ingin membahas seberapa berarti perasaan itu, hanya mencoba mencerna dari koridorku tentang bagaimana caraku menyayangnya. Jadi ini tak ada hubungannya tentang bagaimana dan apakah ia menyayangku. Bagaimana menyikapi perasaan sendiri, yang tak ada hubungannya dengan perasaannya padaku kini. Menentukan pilihan dan tentu saja sikap, dalam sebuah pilkada hati...
Melihatnya terlelap di sebelahmu, dengan perasaan yang nyaris utuh selayak sebelum Desember lalu, namun tersadar bahwa kini adalah tak sama dengan waktu lalu, bagaimana kah rasanya?
Keinginan untuk memiliki. Dulu keinginan hati itu yang mencengkeram otak dengan ultimatum untuk mundur ketika merasa semua waktu dan pikiran lengkap dengan perasaan tak bisa keluar dari kata posesif pake banget yang entah kenapa baru ama yang ini bisa-bisanya dihinggapi perasaan kayak gitu.
Kadang merasa konyol juga sih ketika saya dengan segenap perasaan begitu sibuknya menyiapkan jaring-jaring agar ia tak keluar dari celah jala sementara ia mungkin tak berkeinginan tinggal. Namun aku percaya hati memang berisi kekonyolan-kekonyolan tak bernalar yang walau disadari pun tetap akan berulang dan terulang.
Hampir 2 bulan ini saya mendeklarasi bahwa hati saya sudah sembuh. Dalam artian, bahwa saya sudah tak mempunyai keinginan mengetahui apapun tentangnya. Ya, saya boleh dikategorikan sembuh untuk yang satu itu, selain mules yang udah pergi dari hidup saya tiap kali namamu kesebut. Dan bagiku kesembuhanku sudah total hingga tak akan masalah ketika akhir-akhir ini takdir hampir kerap mempertemukan kami -sesuai harapanku-. Namun ternyata aku belum terlalu sembuh...
Melihatnya, tentu saja, membahagiakan. Bahkan boleh dibilang endorfin alamiku bekerja over. Bagaimana tidak, mata tak mau dipejamkan, degup jantung yang berirama dan suntikan energi yang entah berasal dari mana, pastinya semua bekerja alami. Meski otak sudah berulang kali mewanti-wanti, seakan transmisi perintah itu meluruh di pembuluh nadi tak pernah sampai ke hati. Namun indikasi sembuh dengan ketiadaan keinginan untuk mengetahui cerita tentangnya justru berbanding terbalik dengan keinginan untuk memiliki.
Ego kepemilikanku masih mengakar. Cemburu yang masih menderu. Posesif yang masih aktif. Aku belum sembuh! Meski segenap lisanku seakan menulikan jeritan hatiku.
Aku tak sedang ingin membahas seberapa berarti perasaan itu, hanya mencoba mencerna dari koridorku tentang bagaimana caraku menyayangnya. Jadi ini tak ada hubungannya tentang bagaimana dan apakah ia menyayangku. Bagaimana menyikapi perasaan sendiri, yang tak ada hubungannya dengan perasaannya padaku kini. Menentukan pilihan dan tentu saja sikap, dalam sebuah pilkada hati...
Thursday, June 7, 2012
Hujan Kedua di Bulan Juni
Kok masih hujan sih, padahal kan harusnya udah musim panas?
Begitu satu pertanyaan seorang teman kost tadi sore. Seperti mempertanyakan hujan kemarin di saat telah beberapa waktu Jogja tak pernah diguyur air langit.
Juni, aku sudah lupa di mata pelajaran SD dulu harusnya musim kemarau atau hujan, lagian musim sudah tak terprediksi. Prinsip angin muson sudak tak berlaku.
Hari ini hujan kedua di bulan Juni. Seperti halnya tahun lalu, Juni adalah transisi dari separo tahun yang sudah ku pijak, merefleksi, untuk separo tahun selanjutnya.
Hujan kedua di bulan Juni masih tak menderas soal hati. Mungkin sedang hibernasi. Otak sedang full akselerasi dan butuh asupan lebih banyak ketimbang hati. Tapi di lain sisi, ada yang menghalang hati untuk membuka kisi-kisi. Ia seperti hujan di bulan Juni, mungkin tak tepat masanya, namun mampu sejukkan kala terik panas menggerayang hampir di tiap siang sepanjang tahun ini.
Begitu satu pertanyaan seorang teman kost tadi sore. Seperti mempertanyakan hujan kemarin di saat telah beberapa waktu Jogja tak pernah diguyur air langit.
Juni, aku sudah lupa di mata pelajaran SD dulu harusnya musim kemarau atau hujan, lagian musim sudah tak terprediksi. Prinsip angin muson sudak tak berlaku.
Hari ini hujan kedua di bulan Juni. Seperti halnya tahun lalu, Juni adalah transisi dari separo tahun yang sudah ku pijak, merefleksi, untuk separo tahun selanjutnya.
Hujan kedua di bulan Juni masih tak menderas soal hati. Mungkin sedang hibernasi. Otak sedang full akselerasi dan butuh asupan lebih banyak ketimbang hati. Tapi di lain sisi, ada yang menghalang hati untuk membuka kisi-kisi. Ia seperti hujan di bulan Juni, mungkin tak tepat masanya, namun mampu sejukkan kala terik panas menggerayang hampir di tiap siang sepanjang tahun ini.
Wednesday, June 6, 2012
Gender Ekspresi
Dipanggil Mas.
Mungkin sudah ga keitung berapa kali orang-orang memanggilku demikian, mulai dari tukang parkir, ibu-ibu sampe narasumber diskusi yang aku ikuti dan semua orang dari ragam profesi juga situasi dan kondisi tempatku berpijak. Aku tak sedang akan membahas ini, karena orang-orang cenderung bertanya kamu nyaman gak dipanggil mas? Kalau gak nyaman, segera klarifikasi. Begitu saran seorang teman ketika diskusi di Solo tempo hari. Bahkan masih banyak variasi respon yang kadang juga bikin jengkel. Seperti ketika petugas kereta api prameks mengusirku dari gerbong perempuan, pun ketika kejadian di toilet perempuan UIN tidak terlalu lama ini dimana para perempuan di toilet tsb berteriak histeris melihatku lalu memandangi setiap gerakku di sana hingga sukses membuatku batal kencing gara-gara tak nyaman dengan tatapan mereka. Padahal kalau boleh jujur, ketika mereka berteriak, justru lututku yang gemeteran. Bayangkan kalau ada yang langsung anarkis ngelempar sepatu atau apapun ke arahku.
Konstruksi masyarakat yang masih stereotyping bahwa yang berambut pendek pasti cowok dan perempuan berambut panjang, sebenarnya gak bisa nyalahin juga. Makanya kalau ditanya nyaman gak dikira cowok? Hmm, aku hanya senang ketika mereka bingung sementara aku tenang-tenang saja. Pun ketika naik prameks lagi, aku sengaja menunggu ada gak yang berani "ngusir". Buntutnya, si petugas malah tunggang langgang karena kata teman-teman aku memelototinya. Bagiku Mas atau Mbak, adalah hanya pelabelan masyarakat. Tapi lebih suka dipanggil Om sih, bukan karena itu lumrah dipakai untuk laki-laki diatas umur Mas-Mas, cuma cocok aja kayaknya untuk panggilan awal sebelum namaku, jadi bukan karena itu digunakan untuk cowok atau cewek.
Transgender
Sebenarnya identitas seksual ini yang hendak ku bahas. Aku tertarik karena teringat pertanyaan seorang teman sekitar seminggu lalu. Waktu itu kami sedang rapat persiapan diskusi LBTIQ yang memang setiap bulan kami adakan dengan membahas tema yang berbeda-beda. Bulan ini kami hendak mendiskusikan tentang identitas seksual. Ketika beralih dari narasumber lesbian, dan biseksual, seorang teman menoleh padaku dan bertanya, "Untuk narasumber transgender, identitas seksualmu apa? Bisa kah menjadi narsum?". Waktu itu aku bilang bahwa aku bukan transgender, aku kemudian merekomendasikan padanya seorang teman yang sepertinya transgender.
Dan kukira si teman ini sudah clear dengan jawabanku, tapi ternyata beberapa hari kemudian saat ia bersama teman yang kukira transgender itu -dan ternyata bukan-, si teman ini kembali bertanya:"Kamu bukan transgender?". Entah karena ia sudah desperate karena tak menemukan narsum transgender atau ia memang keukeuh mengiraku transgender, yang jelas aku jadi tergelitik. Namun sekali lagi aku meyakinkan bahwa aku bukan transgender.
Sebenarnya pertanyaan si teman ini bukan yang pertama diajukan orang padaku. Meski tak sesering seperti saat dipanggil Mas, tapi identitas seksualku sepertinya cukup menarik bagi beberapa teman untuk dibahas. Sebagai salah satu responden penelitian, surveyorku pernah bertanya: secara fisik kamu sangat maskulin, rambut jabrik, pakaian dan perilaku tomboy abis, apakah kamu lesbian buci atau transgender?. Tidak semuanya, begitu jawabku. Memang bukan dua-duanya, karena aku bukan penganut pelabelan dan transgender juga bukan identitas seksualku. Aku tak pernah merasa terperangkap di tubuh perempuan yang kumiliki ini.
Mencintai tubuh sendiri, pastinya! Bahkan mbah-nya LSM yang membidangi seksualitas menganggapku unik. Tubuh tak mau disentuh tapi bukan berarti aku tak suka dengan tubuh sendiri. Waktu itu aku pun tak dapat mendefinisi kenapa merasa risih disentuh. Namun sejalan pendalamanku tentang tubuh dan seksualitas, aku kini meyakini bahwa pada beberapa bagian tubuhku hanya berfungsi sebagai asesoris. Menyentuh atau tak mau disentuh hanya soal kesepakatan dan kenyamanan, ini bergantung bagaimana berkompromi dan mengubur ego.
Balik soal transgender, aku meyakini kenyamananku berpenampilan maskulin adalah gender ekspresiku. Bagiku setiap orang pasti punya sisi maskulin dan feminin, jadi apa yang nampak diluar maskulin, mungkin Anda tak pernah tau ada sisi feminin yang kadang maupun sering muncul. Bukan karena merasa laki-laki ketika lebih suka dipanggil Om. Bukan karena merasa laki-laki ketika lebih sering nampak maskulin. This is me, yang merasa nyaman dengan atribut maskulin dan pastinya mencintai tubuh sendiri.
Mungkin sudah ga keitung berapa kali orang-orang memanggilku demikian, mulai dari tukang parkir, ibu-ibu sampe narasumber diskusi yang aku ikuti dan semua orang dari ragam profesi juga situasi dan kondisi tempatku berpijak. Aku tak sedang akan membahas ini, karena orang-orang cenderung bertanya kamu nyaman gak dipanggil mas? Kalau gak nyaman, segera klarifikasi. Begitu saran seorang teman ketika diskusi di Solo tempo hari. Bahkan masih banyak variasi respon yang kadang juga bikin jengkel. Seperti ketika petugas kereta api prameks mengusirku dari gerbong perempuan, pun ketika kejadian di toilet perempuan UIN tidak terlalu lama ini dimana para perempuan di toilet tsb berteriak histeris melihatku lalu memandangi setiap gerakku di sana hingga sukses membuatku batal kencing gara-gara tak nyaman dengan tatapan mereka. Padahal kalau boleh jujur, ketika mereka berteriak, justru lututku yang gemeteran. Bayangkan kalau ada yang langsung anarkis ngelempar sepatu atau apapun ke arahku.
Konstruksi masyarakat yang masih stereotyping bahwa yang berambut pendek pasti cowok dan perempuan berambut panjang, sebenarnya gak bisa nyalahin juga. Makanya kalau ditanya nyaman gak dikira cowok? Hmm, aku hanya senang ketika mereka bingung sementara aku tenang-tenang saja. Pun ketika naik prameks lagi, aku sengaja menunggu ada gak yang berani "ngusir". Buntutnya, si petugas malah tunggang langgang karena kata teman-teman aku memelototinya. Bagiku Mas atau Mbak, adalah hanya pelabelan masyarakat. Tapi lebih suka dipanggil Om sih, bukan karena itu lumrah dipakai untuk laki-laki diatas umur Mas-Mas, cuma cocok aja kayaknya untuk panggilan awal sebelum namaku, jadi bukan karena itu digunakan untuk cowok atau cewek.
Transgender
Sebenarnya identitas seksual ini yang hendak ku bahas. Aku tertarik karena teringat pertanyaan seorang teman sekitar seminggu lalu. Waktu itu kami sedang rapat persiapan diskusi LBTIQ yang memang setiap bulan kami adakan dengan membahas tema yang berbeda-beda. Bulan ini kami hendak mendiskusikan tentang identitas seksual. Ketika beralih dari narasumber lesbian, dan biseksual, seorang teman menoleh padaku dan bertanya, "Untuk narasumber transgender, identitas seksualmu apa? Bisa kah menjadi narsum?". Waktu itu aku bilang bahwa aku bukan transgender, aku kemudian merekomendasikan padanya seorang teman yang sepertinya transgender.
Dan kukira si teman ini sudah clear dengan jawabanku, tapi ternyata beberapa hari kemudian saat ia bersama teman yang kukira transgender itu -dan ternyata bukan-, si teman ini kembali bertanya:"Kamu bukan transgender?". Entah karena ia sudah desperate karena tak menemukan narsum transgender atau ia memang keukeuh mengiraku transgender, yang jelas aku jadi tergelitik. Namun sekali lagi aku meyakinkan bahwa aku bukan transgender.
Sebenarnya pertanyaan si teman ini bukan yang pertama diajukan orang padaku. Meski tak sesering seperti saat dipanggil Mas, tapi identitas seksualku sepertinya cukup menarik bagi beberapa teman untuk dibahas. Sebagai salah satu responden penelitian, surveyorku pernah bertanya: secara fisik kamu sangat maskulin, rambut jabrik, pakaian dan perilaku tomboy abis, apakah kamu lesbian buci atau transgender?. Tidak semuanya, begitu jawabku. Memang bukan dua-duanya, karena aku bukan penganut pelabelan dan transgender juga bukan identitas seksualku. Aku tak pernah merasa terperangkap di tubuh perempuan yang kumiliki ini.
Mencintai tubuh sendiri, pastinya! Bahkan mbah-nya LSM yang membidangi seksualitas menganggapku unik. Tubuh tak mau disentuh tapi bukan berarti aku tak suka dengan tubuh sendiri. Waktu itu aku pun tak dapat mendefinisi kenapa merasa risih disentuh. Namun sejalan pendalamanku tentang tubuh dan seksualitas, aku kini meyakini bahwa pada beberapa bagian tubuhku hanya berfungsi sebagai asesoris. Menyentuh atau tak mau disentuh hanya soal kesepakatan dan kenyamanan, ini bergantung bagaimana berkompromi dan mengubur ego.
Balik soal transgender, aku meyakini kenyamananku berpenampilan maskulin adalah gender ekspresiku. Bagiku setiap orang pasti punya sisi maskulin dan feminin, jadi apa yang nampak diluar maskulin, mungkin Anda tak pernah tau ada sisi feminin yang kadang maupun sering muncul. Bukan karena merasa laki-laki ketika lebih suka dipanggil Om. Bukan karena merasa laki-laki ketika lebih sering nampak maskulin. This is me, yang merasa nyaman dengan atribut maskulin dan pastinya mencintai tubuh sendiri.
Sunday, June 3, 2012
Mencocokkan Kelamin
Aku suka judul diatas! Terdengar saru bukan? Multitafsir sih, yang mendengar kata itu menginterpretasikan masing-masing. Banyak yang sepakat lebih condong mengartikan ke arah "saru".
Mencocokkan hati mungkin mudah, tapi mencocokkan kelamin, itu yang susah. Mungkin itu salah satu faktor penyebab #GagalMovedOn saya setelah memutuskan mundur dari perang kecamuk otak, batin dan perasaan saya sendiri akhir Desember lalu. Namun saya tak hendak mengulik cerita hati itu, hanya ingin berkesimpulan alias mengevaluasi dampak relasi tsb. Wuih bahasanya udah kayak proposal gini yak, bahkan soal hati perlu analisis dampak.
Prinsip soal sulitnya mencocokkan kelamin itu berawal ketika memulai membuka hati untuk orang baru. Setiap yang datang hanya membuai sesaat lalu lenyap, bukan orangnya tapi perasaannya. Hashtag GagalMovedOn yang jadi jargon itu lantas kutelisik penyebabnya. Mungkin sudah rahasia umum bahwa saya termasuk orang yang masuk dalam kategori mudah jatuh hati. Ya, bagiku mencocokkan hati itu mudah, apapun bentuk relasinya, baik pertemanan, jejaring, bisnis bahkan flirting. Bukti paling nyata adalah perempuan pengisi Agustus September lalu saya, betah 14 jam ngobrol ngalor ngidul, -saya merasa- klik berbincang apapun seolah baru 10 menit mendengar suaranya. Tapi untuk mencocokkan kelamin... Bagiku tak mudah!
Namun perlu dipahami bahwa mencocokkan kelamin itu bukan melulu urusan ranjang dan sekitarnya. Banyak yang menafsirkan mencocokkan kelamin adalah semata hubungan atau perilaku seks, keliru total! Aktivitas seksual, ya akan itu-itu dan begitu-begitu aja, tapi cocok secara kelamin adalah soal kenyamanan. Mungkin kenyamanan adalah kata yang paling tepat to describe.
Itulah kenapa dari dulu saya beranggapan seks bukan yang utama, karena mencocokkan kelamin buat saya sulit. Merasa nyaman adalah bagian tersulit dalam mencocokkan kelamin dalam arti sebenarnya. Butuh lebih dari sekedar hati dan birahi. Bahasa kelamin yang bukan hanya terejawantahkan oleh deru nafas.
Seperti yang kubilang, saya tergolong susah dalam hal tsb, makanya ketika sudah cocok secara kelamin lantas harus memulai relasi baru, aku tak kaget dengan hashtag GagalMovedOn yang masih menjadi jargon terkuat dalam pilkada hati yang baru.
Mencocokkan hati mungkin mudah, tapi mencocokkan kelamin, itu yang susah. Mungkin itu salah satu faktor penyebab #GagalMovedOn saya setelah memutuskan mundur dari perang kecamuk otak, batin dan perasaan saya sendiri akhir Desember lalu. Namun saya tak hendak mengulik cerita hati itu, hanya ingin berkesimpulan alias mengevaluasi dampak relasi tsb. Wuih bahasanya udah kayak proposal gini yak, bahkan soal hati perlu analisis dampak.
Prinsip soal sulitnya mencocokkan kelamin itu berawal ketika memulai membuka hati untuk orang baru. Setiap yang datang hanya membuai sesaat lalu lenyap, bukan orangnya tapi perasaannya. Hashtag GagalMovedOn yang jadi jargon itu lantas kutelisik penyebabnya. Mungkin sudah rahasia umum bahwa saya termasuk orang yang masuk dalam kategori mudah jatuh hati. Ya, bagiku mencocokkan hati itu mudah, apapun bentuk relasinya, baik pertemanan, jejaring, bisnis bahkan flirting. Bukti paling nyata adalah perempuan pengisi Agustus September lalu saya, betah 14 jam ngobrol ngalor ngidul, -saya merasa- klik berbincang apapun seolah baru 10 menit mendengar suaranya. Tapi untuk mencocokkan kelamin... Bagiku tak mudah!
Namun perlu dipahami bahwa mencocokkan kelamin itu bukan melulu urusan ranjang dan sekitarnya. Banyak yang menafsirkan mencocokkan kelamin adalah semata hubungan atau perilaku seks, keliru total! Aktivitas seksual, ya akan itu-itu dan begitu-begitu aja, tapi cocok secara kelamin adalah soal kenyamanan. Mungkin kenyamanan adalah kata yang paling tepat to describe.
Itulah kenapa dari dulu saya beranggapan seks bukan yang utama, karena mencocokkan kelamin buat saya sulit. Merasa nyaman adalah bagian tersulit dalam mencocokkan kelamin dalam arti sebenarnya. Butuh lebih dari sekedar hati dan birahi. Bahasa kelamin yang bukan hanya terejawantahkan oleh deru nafas.
Seperti yang kubilang, saya tergolong susah dalam hal tsb, makanya ketika sudah cocok secara kelamin lantas harus memulai relasi baru, aku tak kaget dengan hashtag GagalMovedOn yang masih menjadi jargon terkuat dalam pilkada hati yang baru.
Subscribe to:
Posts (Atom)