Monday, January 24, 2011

RAMALAN


Di jaman sekarang yang hampir serba canggih, kemungkinan percaya atas dasar ramal-meramal sudah tergilas jaman. Tapi tidak buatku, sejak dulu aku suka topik ramal-meramal ini mulai dari astrologi, garis tangan hingga penerawangan paranormal. Bukan untuk dipercaya seratus persen, hanya terkesan ketika orang-orang yang diberi gift itu tengah berprediksi.

"Tahun depan kau akan mulai gelisah dengan orientasi seksualmu dan dua tahun lagi kau akan memutuskan untuk menikah!" cetus perempuan berambut keriting yang kukenal dalam sebuah pelatihan pada pertengahan Desember lalu. Perempuan itu tak sedang meracau. "Ada yang membisikiku barusan," jelasnya.

Aku hanya terbahak. Pasalnya, sebelum ia menceploskan ramalan itu ia dengan tepat dan meyakinkan membaca isi otakku yang membuatku agak menajamkan kuping.
"Ngapain kamu mikirin anak ABG!" Suara ngebass perempuan dari wilayah Timur Indonesia itu membuyarkan benaman benakku akan seorang perempuan yang persis baru saja ia katakan, anak ABG.
"Kok tau?" tanyaku menyelidik karena aku tak pernah bercerita. Jelas, kami baru kenal di pelatihan dan urusan hati yang sedang kutinggalkan sejenak demi pelatihan mewakili kantor tempatku bekerja ini tak pernah kuutarakan pada orang lain.
"Ya tau lah, ada yang bisikin Mama barusan!" jelasnya. "Sudah, ngapain kamu pikirin, setelah pelatihan kamu sudah tak akan berelasi dengannya lagi kok!" imbuhnya.
Aku membenahi dudukku dan tertarik bahkan boleh dibilang lumayan penasaran ketika ia mulai mengoceh bukan tentang si anak ABG yang sedang kugandrungi itu, namun tentang ramalan pernikahanku dua tahun mendatang seperti yang kuceritakan diatas. Dan ramalan itu terus terngiang hingga kini.

Menikah. Di umur menjelang tiga puluh ini bagi kebanyakan perempuan adalah prioritas utama, apalagi jika didesak oleh keluarga. Beruntung aku tak mendapat tekanan itu. Ibu tak pernah secara blak-blakan menanyai kapan aku mengenalkan pendamping bla bla bla tetapi diramal akan berubah orientasi seksual menjadi hetero dan kemudian memutuskan untuk menikah, jika menilik sejarah perjalanan ketertarikanku pada perempuan rasanya tak mungkin akan terjadi. Bayangkan, di usia 8 tahun aku sudah menaruh hati pada perempuan dan tak pernah sekalipun melirik laki-laki. Jadi, bagaimana mungkin akan berubah orientasi?

“Pasti karena Ibu, kan?” tanyaku mulai menggelinding dalam pusaran arus ramalan. Permintaan Ibu sebagai satu-satunya orangtuaku adalah satu-satunya alasan yang MEMUNGKINKAN aku untuk mengambil keputusan yang tak sesuai dengan nuraniku itu.
“Mama tak tahu penyebabnya apa, pastinya yang membisiki Mama berkata demikian, terserah kamu mau percaya atau tidak, Mama hanya bicara saja.”

Ya ya ya kita tak bisa dan tak boleh mendahului rencanaNYA. Apalagi si Mama dari Ambon itu lumayan keukeuh dengan ramalannya.
"Mama tak bicara begitu karena tidak suka pada lesbian, kan?" selidikku menduga kemungkinan antipati perempuan itu pada homoseksualitas.
"Tidak!" sangkalnya. "Saya bukan pertama kali ini bertemu lesbian, tapi untuk kamu ini ada yang membisiki Mama tentang hal itu!" ujarnya mematahkan kecurigaanku.

Dan entah kenapa akhir-akhir ini suasana di kantor memang agak berubah alur. Ada dua teman yang sedang hamil dan salah satunya yang merupakan staf baru di kantor giat alias getol banget mewanti-wantiku untuk bisa merasakan gimana mengandung 9 bulan. Aku tidak merasa terintimidasi oleh mereka dan ramalan ya memang hanya akan sebatas ramalan, tapi kadang terbersit bagaimana jika itu benar terjadi???

Sunday, January 23, 2011

GARA GARA GINGSUL

Jatuh cinta memang berjuta rasanya. Tapi bagaimana jika kau jatuh cinta tapi tidak tahu kenapa kamu bisa jatuh cinta dan tergila-gila pada perempuan itu? Kira-kira seperti itulah yang kurasakan beberapa waktu lalu. Tiba-tiba dunia berputar indah, waktu berdetak cepat hingga melewati sehari dua hari terlewat dengan senyuman. Seperti berada dalam alam bawah sadar dan ketika kembali pada kesadaran sepenuhnya kau seakan tak tahu mengapa kau sebegitu menggilainya. Jatuh cinta pada perempuan, oh tentu saja pernah kurasakan, tapi aku sama sekali tak pernah merasa seperti ini, karenanya saat dihadapkan pada perasaan "tak lazim" macam ini aku teramat tertarik untuk menelisiknya.

Perempuan itu secara fisik tak begitu semampai. Rambutnya bergelombang panjang. Secara otak sesuai pengakuannya ia tak pernah berprestasi, namun bakat seninya mengalir deras. Secara fisik ia tak masuk dalam kategori sempurna, mungkin. Aku tak sedang membandingkan, sekali lagi hanya mencari tau mengapa sosok perempuan yang tidak istimewa membuatku merasakan perasaan yang istimewa? Dalam hitungan detik usai tangannya bersentuhan dengan tanganku untuk pertama kali, mataku seolah tak ingin lepas. Meski takdir hanya menyuratkan kebersamaan kami hanya tiga minggu dan menyisakan kemelut tak manis di akhir cerita, namun aku harus mengakui sampai detik ini terkadang bayangannya masih menghantui.

Beberapa hari lalu aku membuka-buka kembali potretnya di laptopku. Melupakannya adalah agenda utama bilik hatiku, meski dengan melihat gambarnya akan melanggengkan sosoknya dalam ingatanku. Dan aku mendadak menemukan jawab kenapa kisah singkat ini teramat sulit untuk kulepas. Biasanya, aku tak pernah menaruh hati pada perempuan dengan hanya melihat secara fisik karena bagiku kedalaman otak jauh lebih penting, tapi dengan perempuan yang wajahnya serupa mantanku dan usianya jauh lebih muda ini aku luluh lantak oleh sesuatu dalam fisiknya. Bukan paras ayu atau body bak gitar Spanyol. Gigi gingsulnya. Tau gingsul kan? Tonjolan gigi yang terletak tidak di tempatnya. Kalau artis mirip gigi Dara The Virgin. Awalnya kukira aneh saja jatuh cinta kok ama gingsul, tapi ketika kuputar benakku pada pertemuan awal dulu, ya senyuman yang memamerkan gigi tak rata itulah yang membelit hatiku hingga kini.

Jatuh cinta memang berjuta rasanya, tapi bermilyar pula pembelajaran atasnya. Si gingsul yang tak teraih hati ini memberi banyak pelajaran bagiku untuk tak lagi esensialis (baca: meletakkan dan menempatkan sesuatu pada porsinya sehingga jika melakoni hal diluar yang semestinya akan kurasa “tak wajar/terlarang”), diantaranya:

1. Kalau sedang naksir jangan kebangetan nunjukinnya... Just calm down and stay cool...
I have to learn this, agar mata tak hanya terpaku pada sosoknya seperti dunia milikku seorang. Karena negatif effectnya, kau tak akan pernah tau kalau ada orang lain yang diam-diam naksir kamu dan nyeselnya baru tau belakangan ketika orang tsb sudah mundur teratur hehehehe tak percaya, ini sering terjadi padaku...
2. PDKT dengan cara berfikir laki-laki.
Aku sebenarnya tak terlalu setuju dengan ungkapan ini, karena seperti pelanggengan atas heteroseksisme. Aku tak bersetuju bahwa perempuan menggunakan hati daripada perasaan. Jelas dalam kategori ini aku banyak pakai logika, meski tidak memungkiri bentrok juga dengan hati. Dan hati lah yang kadang suka ngeyel-in kemauannya pada si otak. Jadinya ya ketika otak sudah mati-matian melogikakan sebuah relasi yang sia-sia, tapi hati masih saja mellow-mellow gak jelas.

PDKT dengan cara berfikir laki-laki adalah ide dari salah seorang konselorku, mengingat kata dia cara pendekatanku pada perempuan tak akan berhasil kalau aku sendiri memahami perempuan dari sisi perempuan. Hmm, malah membingungkan ya? Aku mencermati idenya, tapi kemudian menarik konklusi bahwa ya si konselor mungkin masih melihat dalam kaca mata heteroseksisme tadi. Tapi aku bersetuju dalam hal ini karena konteks perempuan yang berada dalam target PDKT ini memang lain daripada biasanya. Jadi aku manggut-manggut ketika si konselor menyarankanku untuk lebih banyak bergaul dengan laki-laki, memahami pola pikir mereka saat menaklukkan perempuan.

3. Terlalu jujur.
Wadow, ini satu lagi sifat yang teramat perlu kukendalikan. Hobi yang paling sering keluar ketika berhadapan dengan orang yang disuka adalah kadang suka grogi. Dan parahnya, ucapan yang terlalu jujur kadang menambah bibit-bibit kesalahpahaman. Apalagi jujur dalam hal yang prinsipil, jika iya maka iya dan tidak maka tidak. Hmm, jujur dalam beberapa hal mungkin baik, tapi kalau terlalu jujur, waduh beranjak dari pengalaman ini lisan harus dikontrol untuk memilah dan memilih mana yang harus dikatakan jujur atau disimpan untuk dikatakan di kemudian hari.

4. Jangan sia-siakan kesempatan.
Nah untuk kategori ini aku memang terlalu esensialis. Menempatkan segala sesuatu pada porsinya yang benar, jadi kalau tidak benar sedikit saja aku tidak mau melakoni. Dan buntutnya, rugi bandar euy! Sharing saja neh, kenapa aku menolak kesempatan yang pada akhirnya tak datang dua kali. Kebanyakan mikir, jika kulakukan maka aku sudah melakukan hal yang tak baik. Tapi kemudian sedikit menyesal bahwa hal yang tak baik itulah yang semestinya berlaku. Kesempitan dalam kesempatan, akibat banyak mikir akhirnya terlewatkan momen yang seharusnya mendekatkan kami.


Ya, cinta memang unik dengan segala keunikannya. Meski tak ditakdir bersama, ia menjadi cerita tersendiri dalam perjalanan hatiku.

Monday, January 17, 2011

Sisa Rasa


Semalam aku nonton ketoprak di panggung sekaten. Bukan tanpa sebab, karena memang ini kali pertama aku nonton kesenian yang bahkan bahasanya pun nyaris aku nggak mudeng. Perempuan itu menjadi salah satu lakon disana. Ya, kalau tak boleh munafik, secara otak sudah berakhir, tapi secara hati belum. Dan malam itu rencananya aku ingin mengakhiri proses hati.

Niatan awal itu diuji. Bayangkan, tanpa teman aku terus melaju kalau boleh dibilang mekso datang ke sana. Entah, malam itu sungguh tak bersahabat. Semua ku sms tapi tak satupun mengiyakan, bahkan partner jalan-jalanku pun sedang beragenda. Dan yang fix mau datang juga tiba-tiba meng-cancel. Janjian dengan teman kantor lamanya minta ampun gak nongol-nongol. Walhasil, duduk di kursi penonton dengan dikuntit pria yang matanya dari tadi ngliat ke arahku. Dalam hati dah mbatin, kalau macam-macam tak lempar botol mizone yang kupegang.

Aku sms salah seorang pemain yang ngabarin ia sedang dandan, bersama perempuan itu. Setelah lama menanti, si teman kantor sms kalo dia malah di belakang panggung alias di ruang rias. Aku nggak tau kalau diperbolehkan memasuki areal itu. Tapi boleh pun, mungkin aku masih mikir-mikir lagi. Dan aku melajukan kaki ke ruang rias diiringi teguran iseng pria tadi yang sama sekali tak kugubris. Heran aja, penampilan dah kayak preman gini masih aja gak luput diisengin! Dasar otak laki-laki itu memang perlu direkontruksi biar gak cuma mikirin penis!

Sesampai di ruang rias akhirnya ketemu juga ma si teman kantor.
"Kamu gak salaman?" Aku tau maksud dia adalah salaman dengan perempuan itu.
Aku menggeleng. "Nggak, sepertinya masalah kami belum beres." Ya, benar, dari gelagatnya aku bersyukur tak masuk di ruangan ini sendirian.

Mengenakan pakaian jawa yang pas badan, tubuhnya terbalut indah. Aku merasa bobotnya agak turun. Dan seperti biasa aku tak setuju dengan dandanan muka, ya demi kepentingan panggung ukuran ketebalan make up 7 lapis memang wajar.

Pertunjukkan dimulai, sayang mic tak mendukung, suara tak terdengar penonton. Ia mengisi bagian parodi. Katanya ditawari jadi peran putri ia tolak karena kendala dialog harus bahasa Jawa alus. Ketika bagian parodi dimulai, suara ketiganya cukup terdengar, tak seperti di awal. Hmm, tapi ada insiden yang terlewat...

Pas awal-awal belum dapat duduk, tiba-tiba ada lelaki muncul menenteng sepeda. Aku mengenalinya.
"Tuh, pacar dia!" bisikku pada teman kantor.
"Ah, masak!" sahutnya membeliak tak percaya sambil mata temanku menelisik detil lelaki itu dan kemudian sekali lagi bergumam: "Masak sih itu pacarnya?" Kubalas anggukan meyakinkan. "Lha kok doyan?"
Aku langsung ngakak. Ya ibarat beauty and the beast mungkin si lelaki ini -maaf- aku kategorikan the beast.
"Justru itu, awalnya aku juga mikir kayak kamu, kok dia bisa kecantol lelaki kayak gitu, tapi aku pikir lagi hal spesial apa yang dipunyainya hingga perempuan petakilan yang mengisi hatiku itu memilih lelaki -yang kata temanku- item kayak maha patih gajah mada itu hahaha

Hahaha cinta memang unik dengan kadang tak masuk akal. "Yakin dia pacarnya?" Teman kantor masih meragu.
Lelaki itu tak jenak, ia menonton lalu kemudian menenteng sepedanya keluar. Dari gerak-geriknya ia merasa "tak nyaman".
"Di FB seh iya, tapi gak tau kalo cuma status2an aja."
"Iya kali cuma status!"
Kujawab dengan angkat bahu. Dan tiba-tiba lelaki yang kami omongkan sudah berdiri di belakang kami. Bukan hanya berdiri, tapi ia -SENGAJA- mematung disana, meski matanya ke arah panggung. Aku dan temanku langsung ganti topik tak penting, lalu si lelaki ini kembali menenteng sepedanya.

Tak lama kami merasa capek dan duduk bekas tempat duduk si lelaki tadi. Perempuan itu belum nongol juga di lakon. Dan insiden kedua terjadi... Si lelaki yang sejak tadi sibuk menenteng sepedanya itu muncul lagi memarkir sepeda dan feelingku mengatakan...
"Lihat aja, dalam hitungan ketiga ia akan duduk tepat disampingku!" bisikku pada si teman dan belum aku mengunci mulut apa yang terucap barusan sungguh terjadi. Lelaki itu membawa tubuhnya pas di sebelahku. Untuk kali kedua ini aku benar-benar ngakak dalam hati. Jelas, ia sungguh tau siapa aku! Tingkahnya sungguh membuatku tertawa!
"Kalian saling kenal?" bisik temanku.
Aku menggeleng. "Tapi aku yakin dia tau aku!"
Berselang beberapa menit ia "tak betah" beralih duduk di seberang. Tawa yang bergema di hatiku masih terjadi. Dan si temanku ini juga masih menancapkan mata pada lelaki itu sembari tak henti berujar: "Kok bisa si kemenyek itu doyan ya ama dia?"

Usai lakon perempuan itu berakhir, kami beranjak tak sampai di ending cerita. Dan sungguh dalam perjalanan pulang jalan-jalan kulewati tak kurasakan. Gronjalan tak rata kuterjangi. Gak tau apa isi otak.
"Cemburu menguras hati!" ujar partner jalan2ku ngakak habis aku ceritain.

Hmm, cemburu kah? Rasanya tidak! Aku tidak cemburu dengan relasi mereka. Tapi tersisa satu ganjalan di hati, rasa itu masih ada. Ingin melihat sosoknya, meski tak ingin meraihnya. Benteng otak sudah terbangun kokoh, hanya hati yang tak mau di bentengi. Kalau begitu pertanyaannya sekarang adalah: Sebenarnya rasa ini masih tumbuh dan bersemi karena kau serupa mantanku atau hatiku saja yang sedang bernostalgi pada mantanku yang wajahnya mirip kamu? Mana yang benar??? Kapan-kapan aku buktikan ketika ditakdir bertemu dengan si mantanku itu.

Wednesday, January 12, 2011

Suatu pagi di bulan November...

"Maliiinng..." teriakku subuh tadi. Sesubuhan aku begitu disibukkan oleh si Maling ini. Tak ada perhiasan terjarah, barang elektronik terangkut ataupun rupiah terberai. Hanya hati yang tercuri! Kamu, pencuri hati!

***

Hati tak bisa bohong, meski logika mencecoki agar mulut berkamuflase menutupi apa yang dinamakan perasaan. Ya, mulut atas dasar logikaku boleh berkoar aku harus berhati-hati agar hati tak luka, ia begini begitu dst, namun tetap saja, bahkan disaat aku berada di tengah celah hatiku yang lain pun, bukan otak yang menginstruksi pikiran untuk malahan memikirkan kamu dan cinta terlarang ini meski aku tengah berhadapan dengan sisi hati lain yang sedang bertumbuh dalam rekontruksi. Bahkan segenap upaya perbaikan aku dengannya terasa hambar saja karena hatiku sebegitu sibuknya berada di celah lain yang urusannya jauh lebih ribet.
#Galau yang tercecer, terimakasih suara serak ditengah kantukmu sedikit mengobati#

Wednesday, December 8, 2010

Meng-Konsep Diri 3


Satu lagi praktek Konsep Diri adalah keberanian mengambil keputusan. Berpikir secara prioritas. Hmm, aku tak membagi ceritaku tentangnya kepada siapapun. Hanya pada satu orang, orang luar yang netral dan dari disiplin ilmu yang layak untuk hal tsb.

Hari itu adalah hari terakhir aku bermimpi, usai mimpi indah di awal dan mimpi buruk menghantui akhir2 ini. Aku bertukar pikiran, karena rasanya sudah tak sanggup lagi membelit di otak.

"Sekarang bandingkan, motivasimu apa dan motivasi dia apa? Andai pun kalian jadian, gunanya apa? Buang2 waktu, bukan? Lalu untuk apa dilanjutkan sedangkan tujuanmu berelasi bukan sekedar having fun lagi?" cecar si penetral.

Ya, logikaku telah dari awal tersadar, hanya hati yang belum teryakinkan. Bahkan si penetral itu geleng2 kepala ketika aku melanggar kode etik untuk tak memberi perhatian pada perempuan itu.

"Kau yang memutuskan! Dan menerima resikonya!"
"Menurutmu, perlukah aku mengajaknya berbicara dan menjelaskan semuanya?"
"Menurutku, tak perlu, anak seusianya tak akan mengerti jalan pikiranmu. Lebih baik diam dan mendiamkan semuanya, termasuk apa yang selama ini ia persepsikan terhadapmu. Aku yakin, meski niatmu baik coba clear kan semua, tapi belum tentu ia akan mengerti, jadi lebih baik diam, toh kamu tahu tak akan berada dalam lingkar ruang dan waktu yang sama lagi dengannya, bukan?"

Yayaya the dream is over, meski meninggalkan akhir yang tak baik. Tapi aku banyak belajar, juga dari si penetral yang mengusulkan agar aku lebih banyak bergaul dengan laki-laki untuk tahu bagaimana mendapatkan hati perempuan. Satu proses pembelajaran lagi...

Next chapter for PDKT dengan Cara Berfikir Laki-Laki...

Tuesday, December 7, 2010

Meng-Konsep Diri 2


Lanjut pada keterampilan berkomunikasi yang buruk, aku mengakui menuliskan ide via tulisan jauh lebih gampang. Bukan proses yang mudah merubah ketrampilan bertutur, tapi semoga aku tak lelah berproses untuk hal itu...

Memahami orang lain. Aku mengkoreksi diri dengan menilai selama ini aku sudah cukup maksimal mengimplementasikannya. Mempelajari orang-orang baru terutama. Kebetulan, usai pelatihan saatnya mempraktekkan, dengan orang baru yang sempat kurindukan selama 3 hari pelatihan.

Aku sudah berusaha mempelajarimu, tapi jika kau tak belajar tentang aku, maka memang beginilah yang akan terjadi... Tulisku usai cara berpikirku kuturunkan seperti seusianya dan ego untuk mengalah sepertinya sia-sia. Pemahaman karaktermu sungguh susah diluar dugaan. Karibmu membocorkan bahwa kau rumit dan unpredict, ya saya setuju. Sekarang tinggal bagaimana langkahku ke depan?

Meng-Konsep Diri


Kata Konsep Diri melekat usai mengikuti pelatihan tsb beberapa waktu lalu. Pun menjadi topik obrolanku dengan seorang motivator kala itu, apakah meng-Konsep Diri hanya menjadi wacana atau terimplementasikan. Baiklah, mari kita kupas...

Salah satu bagian dalam pelatihan ini yang paling kusuka adalah soal percaya diri. Tak bisa dipungkiri, dan entah apa sebab, sejak jaman dahulu kala aku termasuk dalam klan ber-pede rendah. Semua kriteria orang-orang dengan PD rendah termiliki olehku. Bahkan di satu sesi melingkar ketika fasilitator meminta peserta secara bergantian mengutarakan kenapa begitu PD, aku dengan PD bilang "Saya PD karena saya tidak PD". Dapat kutangkap rona heran di wajah sang fasilitator kala itu meski ia tak berkomentar apapun. Disana juga dijelaskan cara memberangus PD rendah, dan aku mempraktekkannya dalam urusan hati...

Dihadapkan pada beberapa pilihan, aku harus mengambil satu fokus. Dan aku melakukannya. Menurutkan kata hati, menikmati keputusan hati. Meski hasilnya tak sesuai, namun aku mengambil hikmah positif, aku telah berani setapak melangkah... PD untuk memilih.

Dan bab lain yang kupelajari adalah kecerdasan emosi. Tentang mengenal emosi diri, empati dan memahami emosi orang lain. Dan sepertinya di bab ini aku belum lulus. Keterampilan berkomunikasiku masih terlampau buruk. Apa yang keluar dari mulut terkadang tak seperti yang dimaui otak. Dampaknya, pastilah kesalahpahaman. Apalagi jika beruntun, belum usai yang satu dipreteli, maka muncul bibit baru untuk disalaharti.

Hmm, mata sudah terlalu lelah... Dilanjut esok lagi...

01:09 Tue 7 Dec 2010