Wednesday, December 8, 2010

Meng-Konsep Diri 3


Satu lagi praktek Konsep Diri adalah keberanian mengambil keputusan. Berpikir secara prioritas. Hmm, aku tak membagi ceritaku tentangnya kepada siapapun. Hanya pada satu orang, orang luar yang netral dan dari disiplin ilmu yang layak untuk hal tsb.

Hari itu adalah hari terakhir aku bermimpi, usai mimpi indah di awal dan mimpi buruk menghantui akhir2 ini. Aku bertukar pikiran, karena rasanya sudah tak sanggup lagi membelit di otak.

"Sekarang bandingkan, motivasimu apa dan motivasi dia apa? Andai pun kalian jadian, gunanya apa? Buang2 waktu, bukan? Lalu untuk apa dilanjutkan sedangkan tujuanmu berelasi bukan sekedar having fun lagi?" cecar si penetral.

Ya, logikaku telah dari awal tersadar, hanya hati yang belum teryakinkan. Bahkan si penetral itu geleng2 kepala ketika aku melanggar kode etik untuk tak memberi perhatian pada perempuan itu.

"Kau yang memutuskan! Dan menerima resikonya!"
"Menurutmu, perlukah aku mengajaknya berbicara dan menjelaskan semuanya?"
"Menurutku, tak perlu, anak seusianya tak akan mengerti jalan pikiranmu. Lebih baik diam dan mendiamkan semuanya, termasuk apa yang selama ini ia persepsikan terhadapmu. Aku yakin, meski niatmu baik coba clear kan semua, tapi belum tentu ia akan mengerti, jadi lebih baik diam, toh kamu tahu tak akan berada dalam lingkar ruang dan waktu yang sama lagi dengannya, bukan?"

Yayaya the dream is over, meski meninggalkan akhir yang tak baik. Tapi aku banyak belajar, juga dari si penetral yang mengusulkan agar aku lebih banyak bergaul dengan laki-laki untuk tahu bagaimana mendapatkan hati perempuan. Satu proses pembelajaran lagi...

Next chapter for PDKT dengan Cara Berfikir Laki-Laki...

Tuesday, December 7, 2010

Meng-Konsep Diri 2


Lanjut pada keterampilan berkomunikasi yang buruk, aku mengakui menuliskan ide via tulisan jauh lebih gampang. Bukan proses yang mudah merubah ketrampilan bertutur, tapi semoga aku tak lelah berproses untuk hal itu...

Memahami orang lain. Aku mengkoreksi diri dengan menilai selama ini aku sudah cukup maksimal mengimplementasikannya. Mempelajari orang-orang baru terutama. Kebetulan, usai pelatihan saatnya mempraktekkan, dengan orang baru yang sempat kurindukan selama 3 hari pelatihan.

Aku sudah berusaha mempelajarimu, tapi jika kau tak belajar tentang aku, maka memang beginilah yang akan terjadi... Tulisku usai cara berpikirku kuturunkan seperti seusianya dan ego untuk mengalah sepertinya sia-sia. Pemahaman karaktermu sungguh susah diluar dugaan. Karibmu membocorkan bahwa kau rumit dan unpredict, ya saya setuju. Sekarang tinggal bagaimana langkahku ke depan?

Meng-Konsep Diri


Kata Konsep Diri melekat usai mengikuti pelatihan tsb beberapa waktu lalu. Pun menjadi topik obrolanku dengan seorang motivator kala itu, apakah meng-Konsep Diri hanya menjadi wacana atau terimplementasikan. Baiklah, mari kita kupas...

Salah satu bagian dalam pelatihan ini yang paling kusuka adalah soal percaya diri. Tak bisa dipungkiri, dan entah apa sebab, sejak jaman dahulu kala aku termasuk dalam klan ber-pede rendah. Semua kriteria orang-orang dengan PD rendah termiliki olehku. Bahkan di satu sesi melingkar ketika fasilitator meminta peserta secara bergantian mengutarakan kenapa begitu PD, aku dengan PD bilang "Saya PD karena saya tidak PD". Dapat kutangkap rona heran di wajah sang fasilitator kala itu meski ia tak berkomentar apapun. Disana juga dijelaskan cara memberangus PD rendah, dan aku mempraktekkannya dalam urusan hati...

Dihadapkan pada beberapa pilihan, aku harus mengambil satu fokus. Dan aku melakukannya. Menurutkan kata hati, menikmati keputusan hati. Meski hasilnya tak sesuai, namun aku mengambil hikmah positif, aku telah berani setapak melangkah... PD untuk memilih.

Dan bab lain yang kupelajari adalah kecerdasan emosi. Tentang mengenal emosi diri, empati dan memahami emosi orang lain. Dan sepertinya di bab ini aku belum lulus. Keterampilan berkomunikasiku masih terlampau buruk. Apa yang keluar dari mulut terkadang tak seperti yang dimaui otak. Dampaknya, pastilah kesalahpahaman. Apalagi jika beruntun, belum usai yang satu dipreteli, maka muncul bibit baru untuk disalaharti.

Hmm, mata sudah terlalu lelah... Dilanjut esok lagi...

01:09 Tue 7 Dec 2010

Monday, December 6, 2010

RASA INI, BEDA


Rasa ini bertumbuh sedemikian cepat selayak amoeba membelah diri. Sepersekian menit dari helai tangan yang saling berpadu, mataku seperti tak bisa dibuat lepas darinya. Kesan awal adalah ia serupa dengan orang yang pernah kukenal. Dalam hati ngikik abis, bagaimana bisa serupa? Kesan awalnya padaku, yang kutangkap ia agak nggrundel karena aku menertawakan kekonyolan yang ia lakukan.

Hari berikutnya kami bertemu. Sebuah tong sampah dan sehelai serbet usang. Aku mengetahui aktivitasnya. Ia pandai berlakon. Dan aku, sungguh tak biasanya aku ikut-ikutan dalam soal beginian. Tahun lalu ogah bener, padahal sebenarnya, kami harusnya dipertemukan tahun lalu. Entah rencana apa tahun ini kami bersua.

Waktu merambat cepat. Dilema. Logika dan perasaan kembali beradu. Maju atau mundur. Beberapa suara mendukung maju, meski logikaku selalu berkata untuk tak main api. Menurut kata hati, akhirnya yang kupilih. Pilihan yang kugenapi dengan segala resikonya.

Dan terima kasih... Aku meyakini rasa ini beda, pun endingnya. Sejenak gemuruh menumpuk di dada, namun senyumku kini tercerah, kembali ketika bukan orang yang tepat, rasa itu kupersilahkan pergi...

You're not the correct one, I know..
Time will wasted, I realize...
This heart beating still singing your name, I admit...
But logic mind never defeated by this accidentally love
So, every good -even deep- feeling gotta come to an end...

Aku banyak belajar tentang satu lagi karakter perempuan. Tak akan menyalahkan, faktor umur menjadi pemaklumanku. Pun pembelajaran kapan harus membuka atau menutup diri. Sekaligus menjadi penutup tahun ini...

Rasa ini, beda. Meski tak genap tiga minggu bersama, menghilangkan kelebat lincahnya bagiku butuh lebih dari sekedar transisi.

Saturday, November 20, 2010

H.A.T.I


Hati. Organ paling vital terlebih menampung berjuta perasaan yang dilewati tiap waktu oleh sang pemilik. Pun untuk perempuan, yang dilabeli sebagai "pemakai" hati daripada laki-laki. Meski aku sedikit tak suka dengan pelabelan tersebut.

But aniwei kembali soal hati, aku ingin melongok ke hatiku sendiri. Sepertinya strukturnya melebihi kerumitan struktur otakku. Otakku saja aku merasa sudah sangat rumit, apalah namanya kalau ini lebih rumit? Padahal kata orang, urusan hati bisa sebegitu mudah. Contoh ketika jatuh cinta, orang akan dengan mudah terperangkap jaring asmara. Ya, di bagian itu aku sepakati mudah, tidak ketika dihadapkan pada beberapa perasaan yang seolah mewajibkan kita untuk memilih, sebab kalau tak memilih alias tak fokus ke salah satunya kau akan dituding player.

Nah, tahapan memilih ini yang mungkin lumayan rumit. Apalagi jika suguhan hati tak bisa dikecap mana yang enak mana yang tak enak. Lidah hati terbuai dengan rasa masing-masing masakan bernafaskan cinta. Tinggal hati yang menetapkan salah satunya sebagai yang terbaik untuk kembali berproses.

Dan proses tentu saja bukan hal yang gampang, tak percaya? Makanya aku benar-benar merasa struktur hati lebih rumit dari struktur otakku, saat ini.

Friday, November 19, 2010

I Love U, Mom!

Mengenang ibu adalah waktu bagiku untuk merenung panjang. Meski ini bukan kali pertama, kalau dibilang mungkin jengah bercerita tentang ibu, tapi aku tetap dan terus bertutur tentangnya.

Terakhir pulang kemarin, aku masih ingat ia mempermasalahkan tentang penampilanku yang tidak ada perempuan-perempuannya ini. Aku agak heran sebenarnya akhir ini tiap pulang ia mengkoreksi baju yang kupakai, tatanan rambut dan make up. Ia yang biasanya tak pernah komentar apapun tiba-tiba nyeletuk kenapa aku tak suka memakai legging seperti kebanyakan perempuan lain, kenapa aku suka sekali mengacak-acak rambutku dan kenapa aku tak pernah pakai make up walau sekedar bedak. Hmm, kok jadi ribet perempuan itu sekarang?

Belum lagi soal pendamping. Ibu tak mendesak. Hanya mulai bertanya sejak lebaran kemarin intensitas pengulangan pertanyaannya kian kerap. Dan aku menjawab semuanya dengan pengalihan isu topik pembicaraan. Sejauh ini manjur, namun entah sampai kapan.

Sejak jaman dahulu kala aku jarang sependapat dengan pola pikirnya. Kadang berselisih paham. Kadang salah satu dari kami sampai bertanduk. Secara karakter, ayah memang jauh lebih paham daripada ibu yang hanya mikir kalau aku pemarah. Itu yang mungkin selalu diingat tentang aku. Memahami beliau sepertinya jarang bisa kulakukan.

Tapi tak berarti selisih paham membuat kami tak saling kasih, ia hanya terlalu menguatirkanku, kurasa.

Sosok perempuan itu sudah mulai renta dan sakit-sakitan. Satu beban moril yang masih sering menghantui pikiran adalah bagaimana bisa aku memberinya keturunan dari darah daging sendiri sementara aku tak pernah membayangkan untuk melalui proses itu?

Mom, bukan ingin tuk selalu menghindar. Andai tahu bagaimana cara bincangkan tentang aku denganmu. Kupikir kau memang tak akan mengerti, tapi aku hanya ingin kau tau. Kapankah itu?

Wednesday, November 17, 2010

THE MOTIVATORS


Masalah adalah hal biasa dalam hidup, tapi kadang kita membutuhkan teman untuk berbagi, melepas cerita bahkan hanya untuk mendengar celoteh hati. Aku hendak memberi applaus pada mereka yang kujuluki the motivators ini.

Perempuan-perempuan perkakas, begitu aku menyebut dua perempuan ini. Karena kebisaan mereka akan hal yang kasat mata. Yang satu kujuluki konselorku, selain emang sehari-hari memang konselor hehe. Dan yang satu lagi aku mengenalnya cukup lama. Curhat pun hanya lewat chat fb. Tapi berterimakasih karena usai ngobrol kadang melegakan.

Dan motivator lain, aku tak percaya kini menyebutnya sebagai motivator haha karena boleh kubilang hubungan emosional kami kuanggap "aneh". Bagaimana tidak, Juli kami dipertemukan, dan sejak belum mengetahui namanya aku sudah jatuh hati. Jatuh hati yang kupendam dan baru kuungkap ketika berpisah. Pun ketika kami bertemu kembali, kukira perasaan itu sudah mati, ternyata cemburu masih ada. Tapi berselang berapa hari saja, karena selebihnya logikaku telah cukup sadar untuk tak meneruskan hal yang sedari awal tak untuk dimiliki. Dan benar saja, ketika bertemu ketiga kalinya, rasa itu sudah benar-benar musnah, tapi kedekatan kami kian muncul disana. Bukan lagi kulibatkan emosional perasaan tapi hanya karib. Kian kemari, we've been like a sibling, supporting each other in positive way. Kadang kalau ingat fluktuasinya, aku tertawa, bagaimana bisa aku dulu jatuh hati padanya, sedang kini kami kerap bercanda tawa layaknya saudara. Tak ada yang tidak mungkin, sesuai dengan slogan miliknya. Ia memotivasiku untuk lebih berani mengejar apa yang kusuka dan inginkan. Membuka hati, menerima resiko jika memang akan sakit, yang terpenting melewati proses dan memperjuangkan apa yang ingin diraih. Thanks broth, julukan yang ia tak suka karena lebih doyan dipanggil sist, tapi aku keukeuh melabeli buci inside untuknya. We've been through our ways so far and hopefully we can achieve our goals in our life and our love journey. Chayoo broth...

Motivator terakhir adalah yang paling tidak dinyana-nyana. Jalur obrolan kami dibuka lagi beberapa waktu lalu setelah vakum panjang. Hanya via YM. Dan dering telepon ketika mengantarku pulang kampung minggu lalu. Aku juga nggak nyangka ia menelepon, menanyakan kabar dan Merapi. Pun ketika dalam perjalanan pulang, pesan pendeknya mampir di ponselku. Saat itulah dialog awal dibuka kembali. Proses panjang yang bagiku sudah selesai terpampang lagi.

Tidak. Aku tidak merasa terkorek. Karena aku meyakini prosesku telah selesai. Panjang lebar aku menjelaskan tentang situasi hati kini, karena ia masih merasa tak enak hati akan cerita lalu. Memulai obrolan kembali dengannya bagiku bukan memutar rekaman masa lalu karena kami telah punya hidup masing-masing, meski untuk urusan hati aku tak seberuntung dia. Faktor unlucky aja mungkin, sebab juga terlalu capek jika terus menggunakan alasan belum ketemu orang yang tepat. Haha selalu dan selalu begitu.

Kami berdialog panjang kalau boleh dibilang ngalor ngidul. Mulai dari oleh-oleh pulkam, samboza in memorial, dan terakhir: penjelasan yang tak tersampaikan sekitar empat tahun lalu. Aku berkata jujur ketika itu benar-benar dilanda kebingungan apa sebab ia sepertinya berlaku tak adil. Tapi kembali, empat tahun bukan waktu yang singkat untuk perenungan dan mengambil hikmah. Meletakkan umurku kini di umurnya kala itu, aku sependapat jika dulu ia mengambil keputusan yang dipilihnya dulu. Proses belajar yang selalu kutanamkan dalam benakku. Aku tak lagi menyalahkannya seperti dulu, pun tak lagi menyalahkan diri sendiri atas sifat dan sikap kekanakan di umurku kala itu. Kini hanya proses yang usai dan sebaris senyuman memaknai sebuah proses hati.

Cerita berlanjut pada ia bukanya sesi curhat. Ya, beberapa kali curhat terlontar. Aku sungguh mengucap selamat datang pada kakak yang selalu istimewa dalam bentuk dan cara pandang berbeda kini. Menjadi salah satu motivator pembangkit rasa minderku yang lumayan parah.

Someone said I'm extraordinary...
I have to keep in mind that I'm a loveable person, nice to talking to, and of course deserved to have someone by my side, but I might to convince my self before I'm convinced other...
Must say what I want. Dont think it will be hurt or not. But let it flow as it way to be...

Pujian semenit untuk diri sendiri, bukan tuk membuat diri terlena. Paling tidak segala hal positif melekat di benak untuk direalisasikan dalam polah keseharian, semoga.

Ya, thanks all motivators, sist, kakak... Sometimes I still get frustrated of this f**king completely life. Hopefully, I will not lost in my own mind and heart for a long time...