Dulu kau datang saat hatiku tidak sedang mencari
Kini saat kau telah pergi
Kau sulit tuk kudapati kembali
Hanya singgah sejenak silih berganti
Datang dan pergi
Tak ada yg bersemayam abadi
Hanya sisakan perih
Dan letih...
Hampa menemani
Thursday, July 31, 2008
Friday, July 18, 2008
This Is A Story ‘Bout You and Your Calls
Pagi. Jam enam teng –kadang kurang, kadang lebih- hape di sebelah bantalku mulai berkedip-kedip tanpa suara. Maklum, setiap malam hape memang sengaja aku silent guna menghindari hal-hal yang tidak kuinginkan semisal berdering di malam buta atau yang paling nggak ngenakin adalah membuatku terbangun dari tidurku yang lagi pe-we banget alias masih larut dalam kisah alam bawah sadar dan menciptakan pulau-pulau kecil di bantalku (baca: ngiler).
Kulirik hape yang masih menyala-padam menampakkan animasi dengan background biru bertuliskan “Aku sebel ama kamu, but I love you” itu. Masih setengah mengantuk aku kemudian memencet tombol hijau di hape sembari menyenandungkan kata “hallo” dengan suara khas orang bangun tidur.
“Hallo ...” Kudengar suaramu di ujung telepon.
“Ayoo... bangun ... molor aja!!” (Males, lagian masih ngantuk juga nelpon!)
“Darimana aja, kenapa dari tadi telponku nggak diangkat?” (Kalo sekarang telponmu udah kuangkat, kenapa sih masih nanya: “Kenapa nggak diangkat?”)
“Semalem tidur jam berapa?” (Masa’ tiap mau tidur kudu ngliat jam dulu?)
“Siapa aja yang hubungi kamu semalem?” (Interogasi polisi pamong praja dimulai ...)
“Sms-an ama femme-femme ya...” (Mulai juga deh acara nuduh-nuduhnya ...)
“Dasar tukang selingkuh!” (Nuduh lagi ...)
“Emangnya aku nggak tau apa?!?” (Yang ini terdengar seperti mbah dukun aja...)
“Ayo ngaku ...” (Ahh, capek deh!!)
Hmmm .... benar-benar sarapan pagi yang tidak ada duanya di dunia, bahkan jagat raya sekali pun.
* * * * *
Kau begitu sempurna ... di mataku kau begitu indah ... kau membuat diriku akan slalu memujamu ...
Aku tidak sedang mendengarkan radio atau nonton acara musik di televisi, apalagi nyanyiin lagu Sempurna-nya Andra and the Backbone itu live dari pita suaraku. Itu adalah lagu nada panggil hape yang aku pasang khusus buat kamu jika meneleponku. Kalau pun Andra bisa komentar, pasti deh aku jamin dia bakal komplain nggak mau dipasang sebagai lagu nada panggil, capek tau kalau semenit-semenit nyanyi, walau cuma sepenggal-sepenggal tapi kalau frekuensinya terlalu sering kan capek juga. Bayangkan, dari mulai jam tujuh pagi –sekitar kurang lebih setangah jam- dari jeda waktu kamu terakhir menelepon, hapeku berdering lagi. Itu pun tak cuma sekali dua kali, minimal tiga kali dan maksimal ... tak terhingga, paling tidak sampai hapeku panas atau paling parah batrenya nge-drop ... bayangkan?!?
Aku baru selesai mandi dengan masih selembar handuk dan kaos singlet membalut tubuhku, lantunan itu membahana kembali di kamarku. Di tengah keramaian lalu lintas pagi saat aku sedang OTW ke tempat kerja, samar kudengar bait lagu itu dari celah-celah saku celanaku. Pun ketika pantatku baru bisa menyentuh kursi untuk melepas lelah usai menyelesaikan “tugas rutin” pagiku, Andra bernyanyi kembali.
“Kok lama banget baru diangkat?” (Kelamaan diangkat pun kamu komplain, uggh!!)
“Kalo femme lain aja, pasti cepat-cepat kamu angkat!” (Uggghhh ...)
“Kamu lagi ngapain sih?” (Ini pertanyaan rutinmu)
“Sms-an ama femme-femme...” (Mulai nuduh-nuduh ...)
“Telpon-telponan ama femme-femme ...” (Again and again ...)
“Ayo ... crita ...”
Bla...bla...bla ... pertanyaan-pertanyaan seputar itu-ituuu aja sudah jadi makanan sehari-hariku. Nggak pagi, nggak siang, nggak sore, nggak malem ... samaaa semua pertanyaannya!!!
Sore hingga malam tampaknya menjadi waktu rehat buat Andra untuk mendendangkan lagu wajib orang lagi jatuh cinta itu di hapeku. Begitu juga denganku. Pasalnya di waktu-waktu itulah waktumu bukan lagi sepenuhnya milikku karena kehadiran kambing(baca: suami)mu. Hanya sesekali saja hapeku berdering tapi cuma sebatas miskol, diangkat lalu mati. Kalo segera kuangkat kamu akan menuduhku sedang sms-an dengan femme lain, jadi paling kubiarkan saja berdering. Hanya ketika kambing(baca: suami)mu sedang tak di rumah, kamu berani meneleponku.
Perempuanku memang telah bersuami, bahkan dari rahimnya telah lahir anak perempuan yang kini berusia hampir setahun yang wajahnya sangat mirip sekali dengan bapaknya.
“Ibuku pernah bilang, kalo anak perempuan lahir sangat mirip wajahnya dengan bapaknya, berarti sewaktu mengandung dulu si perempuan itu sangat-sangat mencintai suaminya sehingga perasaan tersebut dijelmakan dalam rupa anak yang dilahirkannya” ledekku yang membuat bibirmu manyun lima senti.
* * * * *
Kau begitu sempurna ... dimataku kau begitu indah ... kau membuat diriku akan slalu memujamu ...
Sayup-sayup diantara sadar dan tidak, aku merasakan lagu tersebut benar-benar sangat dekat. Aku tidak sedang bermimpi ....
“Damn!!” umpatku. Aku tadi ketiduran dan lupa memasang mode silent di hapeku. Kupicingkan sebelah mata sambil meraba-raba mencari benda elektronik sumber bunyi memekakkan telinga yang sukses membuatku sontak terjaga dari tidur barusan. Bahkan tengah malam buta begini kau masih meneleponku ... benar-benar sudah tidak bisa ditolerir lagi! Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Mengecekku seperti aku ini maling saja!
Kulirik hape yang masih menyala-padam menampakkan animasi dengan background biru bertuliskan “Aku sebel ama kamu, but I love you” itu. Masih setengah mengantuk aku kemudian memencet tombol hijau di hape sembari menyenandungkan kata “hallo” dengan suara khas orang bangun tidur.
“Hallo ...” Kudengar suaramu di ujung telepon.
“Ayoo... bangun ... molor aja!!” (Males, lagian masih ngantuk juga nelpon!)
“Darimana aja, kenapa dari tadi telponku nggak diangkat?” (Kalo sekarang telponmu udah kuangkat, kenapa sih masih nanya: “Kenapa nggak diangkat?”)
“Semalem tidur jam berapa?” (Masa’ tiap mau tidur kudu ngliat jam dulu?)
“Siapa aja yang hubungi kamu semalem?” (Interogasi polisi pamong praja dimulai ...)
“Sms-an ama femme-femme ya...” (Mulai juga deh acara nuduh-nuduhnya ...)
“Dasar tukang selingkuh!” (Nuduh lagi ...)
“Emangnya aku nggak tau apa?!?” (Yang ini terdengar seperti mbah dukun aja...)
“Ayo ngaku ...” (Ahh, capek deh!!)
Hmmm .... benar-benar sarapan pagi yang tidak ada duanya di dunia, bahkan jagat raya sekali pun.
* * * * *
Kau begitu sempurna ... di mataku kau begitu indah ... kau membuat diriku akan slalu memujamu ...
Aku tidak sedang mendengarkan radio atau nonton acara musik di televisi, apalagi nyanyiin lagu Sempurna-nya Andra and the Backbone itu live dari pita suaraku. Itu adalah lagu nada panggil hape yang aku pasang khusus buat kamu jika meneleponku. Kalau pun Andra bisa komentar, pasti deh aku jamin dia bakal komplain nggak mau dipasang sebagai lagu nada panggil, capek tau kalau semenit-semenit nyanyi, walau cuma sepenggal-sepenggal tapi kalau frekuensinya terlalu sering kan capek juga. Bayangkan, dari mulai jam tujuh pagi –sekitar kurang lebih setangah jam- dari jeda waktu kamu terakhir menelepon, hapeku berdering lagi. Itu pun tak cuma sekali dua kali, minimal tiga kali dan maksimal ... tak terhingga, paling tidak sampai hapeku panas atau paling parah batrenya nge-drop ... bayangkan?!?
Aku baru selesai mandi dengan masih selembar handuk dan kaos singlet membalut tubuhku, lantunan itu membahana kembali di kamarku. Di tengah keramaian lalu lintas pagi saat aku sedang OTW ke tempat kerja, samar kudengar bait lagu itu dari celah-celah saku celanaku. Pun ketika pantatku baru bisa menyentuh kursi untuk melepas lelah usai menyelesaikan “tugas rutin” pagiku, Andra bernyanyi kembali.
“Kok lama banget baru diangkat?” (Kelamaan diangkat pun kamu komplain, uggh!!)
“Kalo femme lain aja, pasti cepat-cepat kamu angkat!” (Uggghhh ...)
“Kamu lagi ngapain sih?” (Ini pertanyaan rutinmu)
“Sms-an ama femme-femme...” (Mulai nuduh-nuduh ...)
“Telpon-telponan ama femme-femme ...” (Again and again ...)
“Ayo ... crita ...”
Bla...bla...bla ... pertanyaan-pertanyaan seputar itu-ituuu aja sudah jadi makanan sehari-hariku. Nggak pagi, nggak siang, nggak sore, nggak malem ... samaaa semua pertanyaannya!!!
Sore hingga malam tampaknya menjadi waktu rehat buat Andra untuk mendendangkan lagu wajib orang lagi jatuh cinta itu di hapeku. Begitu juga denganku. Pasalnya di waktu-waktu itulah waktumu bukan lagi sepenuhnya milikku karena kehadiran kambing(baca: suami)mu. Hanya sesekali saja hapeku berdering tapi cuma sebatas miskol, diangkat lalu mati. Kalo segera kuangkat kamu akan menuduhku sedang sms-an dengan femme lain, jadi paling kubiarkan saja berdering. Hanya ketika kambing(baca: suami)mu sedang tak di rumah, kamu berani meneleponku.
Perempuanku memang telah bersuami, bahkan dari rahimnya telah lahir anak perempuan yang kini berusia hampir setahun yang wajahnya sangat mirip sekali dengan bapaknya.
“Ibuku pernah bilang, kalo anak perempuan lahir sangat mirip wajahnya dengan bapaknya, berarti sewaktu mengandung dulu si perempuan itu sangat-sangat mencintai suaminya sehingga perasaan tersebut dijelmakan dalam rupa anak yang dilahirkannya” ledekku yang membuat bibirmu manyun lima senti.
* * * * *
Kau begitu sempurna ... dimataku kau begitu indah ... kau membuat diriku akan slalu memujamu ...
Sayup-sayup diantara sadar dan tidak, aku merasakan lagu tersebut benar-benar sangat dekat. Aku tidak sedang bermimpi ....
“Damn!!” umpatku. Aku tadi ketiduran dan lupa memasang mode silent di hapeku. Kupicingkan sebelah mata sambil meraba-raba mencari benda elektronik sumber bunyi memekakkan telinga yang sukses membuatku sontak terjaga dari tidur barusan. Bahkan tengah malam buta begini kau masih meneleponku ... benar-benar sudah tidak bisa ditolerir lagi! Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Mengecekku seperti aku ini maling saja!
Wednesday, July 16, 2008
Be Careful With Your Wish!
Pernah mendengar bahwa apa yang terucap melalui lisan adalah sebagian dari doa?
Dulu... Jaman dahulu kala ketika patah hati pertama kalinya karena seorang perempuan, aku pernah berucap kelak jika aku kembali menjalin hubungan dengan seseorang, aku pengen pasanganku-lah yang nantinya LEBIH menyayangiku. Tapi bukan berarti aku gak sayang, namun lebih ditekankan pada kadar cintanya yang lebih besar dariku, meski kami saling menyayangi. Berdasarkan pengalaman patah hati yang gak ngenakin itulah kukira dicintai oleh pasangan akan lebih enak daripada mencintai, sebab gak akan terlalu menyakitkan jika patah hati:-D
And..my wish come true! I got a girl who loves me so.. Harusnya aku senang, bukan? Harusnya aku bahagia mempunyai pasangan yang begitu menyayangiku sesuai dengan permintaanku dulu. Tapi jawabannya ternyata TIDAK. Aku malah merasa terkekang karena selalu dicurigai, dituduh-tuduh selingkuh. Belum lagi kecemburuan yang diatasnamakannya sebagai tanda sayang.
Siapa sih yang gak suka punya pacar perhatian juga jeles ama kita. Bukankah jeles emang tandanya sayang! Tapi kalo udah kelewatan pada akhirnya kayak polisi vs buronan aja.
Karena itulah, ternyata dicintai pun gak juga membuatku nyaman! So.. I'm just warn you to be careful with your wish..
Mencintai bikin sakit hati... Dicintai pun juga bikin capek hati... Jadi, sama2 jatuh hati aja kali yee
Dulu... Jaman dahulu kala ketika patah hati pertama kalinya karena seorang perempuan, aku pernah berucap kelak jika aku kembali menjalin hubungan dengan seseorang, aku pengen pasanganku-lah yang nantinya LEBIH menyayangiku. Tapi bukan berarti aku gak sayang, namun lebih ditekankan pada kadar cintanya yang lebih besar dariku, meski kami saling menyayangi. Berdasarkan pengalaman patah hati yang gak ngenakin itulah kukira dicintai oleh pasangan akan lebih enak daripada mencintai, sebab gak akan terlalu menyakitkan jika patah hati:-D
And..my wish come true! I got a girl who loves me so.. Harusnya aku senang, bukan? Harusnya aku bahagia mempunyai pasangan yang begitu menyayangiku sesuai dengan permintaanku dulu. Tapi jawabannya ternyata TIDAK. Aku malah merasa terkekang karena selalu dicurigai, dituduh-tuduh selingkuh. Belum lagi kecemburuan yang diatasnamakannya sebagai tanda sayang.
Siapa sih yang gak suka punya pacar perhatian juga jeles ama kita. Bukankah jeles emang tandanya sayang! Tapi kalo udah kelewatan pada akhirnya kayak polisi vs buronan aja.
Karena itulah, ternyata dicintai pun gak juga membuatku nyaman! So.. I'm just warn you to be careful with your wish..
Mencintai bikin sakit hati... Dicintai pun juga bikin capek hati... Jadi, sama2 jatuh hati aja kali yee
UUD=Ungkit-Ungkit Duit
"Pengorbanan gw buat dia terlalu mahal dan jujur gw masih sakit hati! Gak perlu gw terangin satu-satu, cukup gw aja yang tau. Itu pun kalo dia ngerasa, kalo gak ya cukup gw aja yg tau deh!"
Itu adalah curhatan femme yang merasa telah nglakuin apa aja buat butchienya selama pacaran dan ketika putus, maka diungkit-ungkitlah apa yang pernah ia keluarkan selama menjalin hubungan tersebut. Dan ujung2nya, ungkit2 soal duit ini berakhir dgn ninggalin kesan buruk tequtama di pihak si butchie, gak ngenakin kan? Padahal ketika pacaran dulu yang terucap hanya manis2nya aja, tapi kenapa ketika sebuah hubungan harus berakhir jadi laen ceritanya, ya kan?
Nah, menurut kalian, gimana nih enaknya agar ketika cinta berakhir gak ada tuh kasus UUD kayak diatas. Apalagi jika pihak yang merasa telah mengeluarkan uang lebih banyak berkoar-koar ke semua orang, untuk balas dendam mungkin. Walah, kan jadi ribet masalahnya...
Itu adalah curhatan femme yang merasa telah nglakuin apa aja buat butchienya selama pacaran dan ketika putus, maka diungkit-ungkitlah apa yang pernah ia keluarkan selama menjalin hubungan tersebut. Dan ujung2nya, ungkit2 soal duit ini berakhir dgn ninggalin kesan buruk tequtama di pihak si butchie, gak ngenakin kan? Padahal ketika pacaran dulu yang terucap hanya manis2nya aja, tapi kenapa ketika sebuah hubungan harus berakhir jadi laen ceritanya, ya kan?
Nah, menurut kalian, gimana nih enaknya agar ketika cinta berakhir gak ada tuh kasus UUD kayak diatas. Apalagi jika pihak yang merasa telah mengeluarkan uang lebih banyak berkoar-koar ke semua orang, untuk balas dendam mungkin. Walah, kan jadi ribet masalahnya...
Sunday, June 15, 2008
LOVE SOMETIMES WEIRD
By ALVI A.H
Namaku Nia. Umurku dua puluh tiga tahun. Aku bekerja di salah satu mall terbesar di Jakarta Barat. Sejak dua tahun lalu aku berhubungan serius dengan seorang pria bernama Nanda. Ia juga bekerja di tempat yang sama denganku, hanya berbeda bidang. Hubungan kami cukup serius. Nanda sudah pernah hendak melamarku, namun aku merasa belum siap.
Hubunganku dengan Nanda baik-baik saja, hingga kemudian datang seorang “perempuan” kost tepat di sebelah kamarku. Kenapa aku mengatakan “perempuan”? Karena perawakannya seperti laki-laki. Alisnya tebal. Tulang hidungnya tinggi. Meski tubuhnya pendek untuk ukuran laki-laki, tapi potongan rambut dan tingkah lakunya tak ubahnya seorang laki-laki.
Aku saja hampir “tertipu” saat dia berdiri di depan pintu kamarku memperkenalkan diri dan aku memanggilnya “Mas”. Dia hanya tersenyum, tanpa membantahnya. Tapi kemudian tak sengaja mataku menangkap dua buah dada menyembul diantara kaos hitamnya dan aku buru-buru meralat ucapanku barusan.
“Maaf, aku kira kau laki-laki, habis suara dan ...”
“Nggak pa-pa, kamu bukan orang pertama yang memanggilku demikian...” sahutnya ramah.
“Kenalkan ... namaku Hanny ...”
“Nia ...” Aku menyambut uluran tangannya.
“Kamu mau berangkat kerja?” tanyanya melihatku sedang memoles bedak dan lipstik.
“Yaa ...” sahutku tanpa berpaling dari cermin.
“Ya udah, aku mau istirahat dulu ...” pamitnya.
***** ***** ***** *****
“Masuklah ... maaf kamarku masih berantakan” kata Hanny sembari merapikan buku-buku yang berserakan di tempat tidur. Ia tampak agak terkejut saat suatu sore aku bertandang ke kamarnya.
Sebuah komputer set menyala. Suara mesin printer terdengar sedikit gaduh ketika mencetak lembaran demi lembaran tulisan di kertas berwarna putih. Sementara Hanny sibuk menatap layar komputer, kubaca apa yang sedang ditulisnya.
“Kamu penulis?”
“Yaa begitulah,” ujarnya sambil tetap fokus tak bergeming dari monitor. “tapi masih amatiran kok,” imbuhnya merendah.
“Kamu nulis apa aja?”
“Cerpen, puisi dan sekarang aku sedang belajar menulis skenario!”
Aku menemukan sebuah koran daerah di tumpukan buku di laci sebelah komputer. Salah satu cerpen Hanny dimuat di koran tersebut. “Dia bukan penulis amatir!” gumamku dalam hati sambil mulai membaca cerpen tersebut, hingga dering ponsel Hanny mengagetkanku...
“Hallo ... aku di kost, naik saja ...”
“Sepertinya ada yang mau datang, aku balik ke kamar aja deh!” ujarku seraya beranjak hendak pergi.
“Ah, nggak kok. Pacarku mau mampir, di sini saja nggak pa-pa kok ...”
“Pacar??” Aku mengurungkan langkah, tepatnya sengaja tak angkat kaki karena sebenarnya aku juga ingin tahu pacar si tomboy yang lumayan cakep ini.
Tak lama terdengar derap kaki mendekat.
“Itu pasti pacar Hanny ...” batinku. Entah kenapa aku begitu penasaran. Tapi yang muncul di depan pintu kamar Hanny adalah seorang perempuan berkulit sawo matang dengan perawakan tubuh mungil. Rambutnya lurus sebahu. Di wajahnya terdapat bekas –bekas jerawat yang hampir punah. Dan raut muka perempuan itu tak menunjukkan keramahan padaku, makanya aku tak berani menyapanya duluan.
“Masuklah ...” kata Hanny pada perempuan yang masih menunjukkan muka masamnya padaku itu, meski kami telah duduk berdekatan.
“Nia, kenalkan ini Metha ... pacarku!”
Tenggorokanku seketika tersedak hingga aku terbatuk-batuk mendengar Hanny memperkenalkan perempuan itu dengan sebutan “pacar”.
“Nia ... kamu kenapa?”
“Sorry, aku nggak pa-pa, nggak tau kok tiba-tiba tersedak ...” kataku masih terbatuk-batuk kecil.
Masih tak ada senyuman atau sekedar basa basi sikap ramah tamah dari “pacar” Hanny itu.
“Apakah dia cemburu padaku?” gumamku penuh tanda tanya, memandangi Hanny kemudian perempuan itu secara bergantian dan agak merasa “aneh”.
***** ***** ***** *****
Seminggu, sebulan dan sekarang hampir setengah tahun Hanny menghuni kamar di sebelahku. Dan kami makin dekat. Hanny orangnya enak diajak diskusi tentang apa saja. Pengetahuannya luas. Aku banyak belajar tentang hidup keras yang pernah dijalaninya di masa lampau, dimana ia berjuang sendirian setelah kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan maut dan hanya mendapat kasih sayang dari neneknya. Itupun tak lama, karena neneknya juga dipanggil ke alam baka.
Hanny juga termasuk orang yang sangat perhatian padaku. Ia sering menjemputku kalau aku pulang malam dan Nanda tak bisa mengantar. Aku pun sudah mulai terbiasa dengan hubungan Hanny – Metha yang dulu kuanggap “ganjil”.
Namun aku tak pernah tahu kalau Metha ternyata cemburu padaku karena “kedekatanku” dengan Hanny tersebut. Ia tak pernah ke tempat kost Hanny lagi. Paling ia hanya menunggu di luar dan menyuruh Hanny turun.
“Aku jadi nggak enak ama Metha, Han, padahal kita nggak ada hubungan apa-apa!” kataku pada Hanny.
“Ah, itu sudah biasa. Metha memang selalu begitu jika ada perempuan yang dekat denganku” sahut Hanny santai.
“Tetap saja aku merasa tak enak!”
“Kenapa kamu harus merasa tak enak kalau memang diantara kita nggak ada apa-apa?” cecar Hanny tegas. Matanya tajam menusukku.
“Iya juga sih ...” sahutku tak berani membalas tatapannya.
“Kalian lagi ngomongin apaan nih, kok kayaknya serius banget ...” Kedatangan Nanda membuyarkan obrolan kami.
“Nia, aku balik ke kamar dulu ...” pamit Hanny spontan tanpa menoleh Nanda, seolah-olah Nanda tak ada di tempat ini.
“Aku merasa dia aneh?” ujar Nanda setelah kepergian Hanny.
“Aneh kenapa?” tanyaku pura-pura tak mengerti, padahal aku juga bisa merasakan sikap Hanny yang terkesan “dingin” pada Nanda.
“Selama ini tak pernah sekali pun dia menyapa atau beramah tamah padaku!” jelas Nanda.
“Hanny memang begitu orangnya, tapi dia baik kok. Kamu aja yang terlalu melebih-lebihkan!” sahutku masih coba menutupi.
“Aku nggak melebih-lebihkan, Nia. Dan aku nggak suka kalau kamu terlalu dekat dengannya!” larang Nanda.
“Sudahlah, kamu mulai aneh seperti pacar Hanny yang cemburu padaku!”
“Tuh kan ...”
“Sudahlah ... kamu nggak usah kuatir, nggak akan mungkin ada apa-apa antara aku dan Hanny, yang benar saja!” kataku sambil terkekeh.
***** ***** ***** *****
“Jadi kamu udah putus dengan Metha?”
Hanny mengangguk tanpa berpaling dari layar komputer yang hanya dipandanginya dengan tatapan menerawang. Entah benaknya sedang mengembara kemana. Hanya tangannya yang terlihat lincah memainkan rokok yang menyala di sela-sela jemarinya.
“Apa itu karena ... aku?” tanyaku hati-hati.
“Mungkin itu salah satunya, tapi juga banyak masalah lainnya,” Hanny menghisap dalam - dalam Marlboro beraroma menthol itu kemudian menghembuskannya dalam bentuk bulatan-bulatan besar. “Mungkin memang lebih baik putus! Aku meninggalkan pekerjaanku di Jawa demi dia. Aku memulai dari nol lagi di sini, tapi sekarang dia malah affair dengan seorang laki-laki!”
Aku terdiam, entah apa yang sedang kupikirkan.
“Hei ... kok malah diam, bukan salahmu kok!” sergah Hanny santai.
Aku tergagap. “Ah, yaa ... syukurlah kalau bukan karena aku!”
Kulirik jam di sebelah kanan bawah monitor komputer menunjuk angka dua belas lewat lima belas menit. “Hanny, udah malam aku ke kamar dulu ...”
“Kamu udah ngantuk?”
“Nggak juga sih, cuma udah malam aja!”
“Masih jam dua belas, disini saja, lagian besok kamu libur kan?”
Aku urung balik. Akhirnya aku menemani Hanny mengetik naskah film sambil mengobrol tak tentu arah, hingga mataku perlahan tak kuat lagi.
Aku ketiduran di kamar Hanny. Namun tengah malam aku terjaga dan agak sedikit terkejut menyadari bahwa wajah Hanny tak sampai sepuluh senti di depan mukaku. Aku bisa merasakan hangat nafasnya mengenai lenganku.
Entah kenapa mendadak aku merasa aneh atau lebih tepatnya merasakan perasaan yang tak terdefinisikan. Aku bahkan sampai tak sadar aku tengah memandangi raut muka si imut yang sedang tertidur pulas di depanku ini. Ada sebuah desiran halus menjalari nadiku.
***** ***** ***** *****
“Nia ...” teguran Nanda membuatku tergagap dari lamunan. “Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu sering kali melamun, apa kamu sedang punya masalah?”
“Nggak, nggak ada kok ...” jawabku sambil tersenyum kecil. Nanda menatapku. Aku meyakinkan Nanda dengan senyumanku, hingga tak sengaja aku bersirobok pandang dengan Hanny yang lewat depan kamarku.
Sejak kejadian malam itu hubunganku dan Hanny merenggang. Aku sendiri yang memang sengaja menjaga jarak dengannya dan Hanny sepertinya tahu penyebabnya, tapi ia tak banyak berkomentar.
“Baru pulang, Han ...” Kudengar Dhea, penghuni kamar paling ujung, menyapa Hanny.
Sejak hubunganku dan Hanny tak lagi ”harmonis”, Hanny jadi dekat dengan perempuan berpredikat playgirl itu. Dan entah kenapa aku sangat tak suka dengan kedekatan mereka.
“Apakah aku cemburu?” batinku.
“Nia ... Nia ...” Entah sudah untuk keberapa kalinya Nanda memanggil-manggilku. “Kamu kenapa sih? Cerita kalau ada masalah ...”
“Nggak kok, mungkin aku hanya kecapean aja ...” kilahku sambil menyungging senyuman yang tampak dipaksakan.
Nanda menatapku lekat dan aku memilih memalingkan muka.
***** ***** ***** *****
“Mana bajingan itu ...” geram Nanda seraya menaiki tangga menuju kamar Hanny.
“Nanda, sudah kubilang ini bukan salah Hanny, tapi aku sendiri yang memutuskan semuanya!” seruku mengejar berusaha mensejajari langkah Nanda.
“Nggak, kamu udah diracuni oleh bajingan itu!! Gara-gara dia otakmu udah nggak bener!!” kalap Nanda.
“Nanda, denger aku ... ini sudah keputusanku!!”
“Nggak!! Aku sama sekali nggak percaya ...”
Aku menghadang Nanda tepat saat kami sampai di depan kamar Hanny.
“Nanda, aku hanya ingin kita pisah baik-baik ...” tegasku.
Untuk sekian detik kami berhadap-hadapan dan sama-sama membisu. “Jadi kamu benar-benar serius dengan keinginan gilamu itu??” suara Nanda lirih. Ada nada kekecewaan dalam helaan nafas panjangnya.
Aku mengangguk. “Ini bukan keinginan gila, aku sadar sepenuhnya dengan keputusanku ini ...” jawabku mantap.
“Nia, apa kau gila ... hubungan kita sudah serius, nggak lama lagi kita menikah!” Nanda menggenggam tanganku erat. “Jangan melakukan kekonyolan ini, Nia ...”
“Maaf,” Kutepis tangan Nanda pelan. “Aku sendiri sudah berusaha mengingkari perasaan ini dan menganggapnya sebagai sebuah kekonyolan, tapi aku tetap tak bisa membohongi perasaanku sendiri!”
“Nia ...”
“Kumohon ... tolong hargai keputusanku!”
Sekian detik kemudian, aku hanya bisa mengikuti Nanda menghilang bersama derum motornya dari balkon. Aku tercenung. Hingga aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tiba-tiba meraih jemariku.
“Hanny ...” desisku.
Hanny tersenyum lebar. “Kaget ya ...”
“Apa kamu dengar ...”
“Ya, aku sudah dengar semuanya!” potong Hanny cepat.
Lidahku mendadak kelu.
“Aku merindukanmu, Nia ...” bisik Hanny di telingaku.
Aku memandangi jemariku yang terengkuh erat dalam genggaman Hanny. Aku mungkin tak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tapi untuk sekarang aku yakin dengan sepenuh hati bahwa keputusanku ini bukan hanya emosi sesaat.
Namaku Nia. Umurku dua puluh tiga tahun. Aku bekerja di salah satu mall terbesar di Jakarta Barat. Sejak dua tahun lalu aku berhubungan serius dengan seorang pria bernama Nanda. Ia juga bekerja di tempat yang sama denganku, hanya berbeda bidang. Hubungan kami cukup serius. Nanda sudah pernah hendak melamarku, namun aku merasa belum siap.
Hubunganku dengan Nanda baik-baik saja, hingga kemudian datang seorang “perempuan” kost tepat di sebelah kamarku. Kenapa aku mengatakan “perempuan”? Karena perawakannya seperti laki-laki. Alisnya tebal. Tulang hidungnya tinggi. Meski tubuhnya pendek untuk ukuran laki-laki, tapi potongan rambut dan tingkah lakunya tak ubahnya seorang laki-laki.
Aku saja hampir “tertipu” saat dia berdiri di depan pintu kamarku memperkenalkan diri dan aku memanggilnya “Mas”. Dia hanya tersenyum, tanpa membantahnya. Tapi kemudian tak sengaja mataku menangkap dua buah dada menyembul diantara kaos hitamnya dan aku buru-buru meralat ucapanku barusan.
“Maaf, aku kira kau laki-laki, habis suara dan ...”
“Nggak pa-pa, kamu bukan orang pertama yang memanggilku demikian...” sahutnya ramah.
“Kenalkan ... namaku Hanny ...”
“Nia ...” Aku menyambut uluran tangannya.
“Kamu mau berangkat kerja?” tanyanya melihatku sedang memoles bedak dan lipstik.
“Yaa ...” sahutku tanpa berpaling dari cermin.
“Ya udah, aku mau istirahat dulu ...” pamitnya.
***** ***** ***** *****
“Masuklah ... maaf kamarku masih berantakan” kata Hanny sembari merapikan buku-buku yang berserakan di tempat tidur. Ia tampak agak terkejut saat suatu sore aku bertandang ke kamarnya.
Sebuah komputer set menyala. Suara mesin printer terdengar sedikit gaduh ketika mencetak lembaran demi lembaran tulisan di kertas berwarna putih. Sementara Hanny sibuk menatap layar komputer, kubaca apa yang sedang ditulisnya.
“Kamu penulis?”
“Yaa begitulah,” ujarnya sambil tetap fokus tak bergeming dari monitor. “tapi masih amatiran kok,” imbuhnya merendah.
“Kamu nulis apa aja?”
“Cerpen, puisi dan sekarang aku sedang belajar menulis skenario!”
Aku menemukan sebuah koran daerah di tumpukan buku di laci sebelah komputer. Salah satu cerpen Hanny dimuat di koran tersebut. “Dia bukan penulis amatir!” gumamku dalam hati sambil mulai membaca cerpen tersebut, hingga dering ponsel Hanny mengagetkanku...
“Hallo ... aku di kost, naik saja ...”
“Sepertinya ada yang mau datang, aku balik ke kamar aja deh!” ujarku seraya beranjak hendak pergi.
“Ah, nggak kok. Pacarku mau mampir, di sini saja nggak pa-pa kok ...”
“Pacar??” Aku mengurungkan langkah, tepatnya sengaja tak angkat kaki karena sebenarnya aku juga ingin tahu pacar si tomboy yang lumayan cakep ini.
Tak lama terdengar derap kaki mendekat.
“Itu pasti pacar Hanny ...” batinku. Entah kenapa aku begitu penasaran. Tapi yang muncul di depan pintu kamar Hanny adalah seorang perempuan berkulit sawo matang dengan perawakan tubuh mungil. Rambutnya lurus sebahu. Di wajahnya terdapat bekas –bekas jerawat yang hampir punah. Dan raut muka perempuan itu tak menunjukkan keramahan padaku, makanya aku tak berani menyapanya duluan.
“Masuklah ...” kata Hanny pada perempuan yang masih menunjukkan muka masamnya padaku itu, meski kami telah duduk berdekatan.
“Nia, kenalkan ini Metha ... pacarku!”
Tenggorokanku seketika tersedak hingga aku terbatuk-batuk mendengar Hanny memperkenalkan perempuan itu dengan sebutan “pacar”.
“Nia ... kamu kenapa?”
“Sorry, aku nggak pa-pa, nggak tau kok tiba-tiba tersedak ...” kataku masih terbatuk-batuk kecil.
Masih tak ada senyuman atau sekedar basa basi sikap ramah tamah dari “pacar” Hanny itu.
“Apakah dia cemburu padaku?” gumamku penuh tanda tanya, memandangi Hanny kemudian perempuan itu secara bergantian dan agak merasa “aneh”.
***** ***** ***** *****
Seminggu, sebulan dan sekarang hampir setengah tahun Hanny menghuni kamar di sebelahku. Dan kami makin dekat. Hanny orangnya enak diajak diskusi tentang apa saja. Pengetahuannya luas. Aku banyak belajar tentang hidup keras yang pernah dijalaninya di masa lampau, dimana ia berjuang sendirian setelah kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan maut dan hanya mendapat kasih sayang dari neneknya. Itupun tak lama, karena neneknya juga dipanggil ke alam baka.
Hanny juga termasuk orang yang sangat perhatian padaku. Ia sering menjemputku kalau aku pulang malam dan Nanda tak bisa mengantar. Aku pun sudah mulai terbiasa dengan hubungan Hanny – Metha yang dulu kuanggap “ganjil”.
Namun aku tak pernah tahu kalau Metha ternyata cemburu padaku karena “kedekatanku” dengan Hanny tersebut. Ia tak pernah ke tempat kost Hanny lagi. Paling ia hanya menunggu di luar dan menyuruh Hanny turun.
“Aku jadi nggak enak ama Metha, Han, padahal kita nggak ada hubungan apa-apa!” kataku pada Hanny.
“Ah, itu sudah biasa. Metha memang selalu begitu jika ada perempuan yang dekat denganku” sahut Hanny santai.
“Tetap saja aku merasa tak enak!”
“Kenapa kamu harus merasa tak enak kalau memang diantara kita nggak ada apa-apa?” cecar Hanny tegas. Matanya tajam menusukku.
“Iya juga sih ...” sahutku tak berani membalas tatapannya.
“Kalian lagi ngomongin apaan nih, kok kayaknya serius banget ...” Kedatangan Nanda membuyarkan obrolan kami.
“Nia, aku balik ke kamar dulu ...” pamit Hanny spontan tanpa menoleh Nanda, seolah-olah Nanda tak ada di tempat ini.
“Aku merasa dia aneh?” ujar Nanda setelah kepergian Hanny.
“Aneh kenapa?” tanyaku pura-pura tak mengerti, padahal aku juga bisa merasakan sikap Hanny yang terkesan “dingin” pada Nanda.
“Selama ini tak pernah sekali pun dia menyapa atau beramah tamah padaku!” jelas Nanda.
“Hanny memang begitu orangnya, tapi dia baik kok. Kamu aja yang terlalu melebih-lebihkan!” sahutku masih coba menutupi.
“Aku nggak melebih-lebihkan, Nia. Dan aku nggak suka kalau kamu terlalu dekat dengannya!” larang Nanda.
“Sudahlah, kamu mulai aneh seperti pacar Hanny yang cemburu padaku!”
“Tuh kan ...”
“Sudahlah ... kamu nggak usah kuatir, nggak akan mungkin ada apa-apa antara aku dan Hanny, yang benar saja!” kataku sambil terkekeh.
***** ***** ***** *****
“Jadi kamu udah putus dengan Metha?”
Hanny mengangguk tanpa berpaling dari layar komputer yang hanya dipandanginya dengan tatapan menerawang. Entah benaknya sedang mengembara kemana. Hanya tangannya yang terlihat lincah memainkan rokok yang menyala di sela-sela jemarinya.
“Apa itu karena ... aku?” tanyaku hati-hati.
“Mungkin itu salah satunya, tapi juga banyak masalah lainnya,” Hanny menghisap dalam - dalam Marlboro beraroma menthol itu kemudian menghembuskannya dalam bentuk bulatan-bulatan besar. “Mungkin memang lebih baik putus! Aku meninggalkan pekerjaanku di Jawa demi dia. Aku memulai dari nol lagi di sini, tapi sekarang dia malah affair dengan seorang laki-laki!”
Aku terdiam, entah apa yang sedang kupikirkan.
“Hei ... kok malah diam, bukan salahmu kok!” sergah Hanny santai.
Aku tergagap. “Ah, yaa ... syukurlah kalau bukan karena aku!”
Kulirik jam di sebelah kanan bawah monitor komputer menunjuk angka dua belas lewat lima belas menit. “Hanny, udah malam aku ke kamar dulu ...”
“Kamu udah ngantuk?”
“Nggak juga sih, cuma udah malam aja!”
“Masih jam dua belas, disini saja, lagian besok kamu libur kan?”
Aku urung balik. Akhirnya aku menemani Hanny mengetik naskah film sambil mengobrol tak tentu arah, hingga mataku perlahan tak kuat lagi.
Aku ketiduran di kamar Hanny. Namun tengah malam aku terjaga dan agak sedikit terkejut menyadari bahwa wajah Hanny tak sampai sepuluh senti di depan mukaku. Aku bisa merasakan hangat nafasnya mengenai lenganku.
Entah kenapa mendadak aku merasa aneh atau lebih tepatnya merasakan perasaan yang tak terdefinisikan. Aku bahkan sampai tak sadar aku tengah memandangi raut muka si imut yang sedang tertidur pulas di depanku ini. Ada sebuah desiran halus menjalari nadiku.
***** ***** ***** *****
“Nia ...” teguran Nanda membuatku tergagap dari lamunan. “Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu sering kali melamun, apa kamu sedang punya masalah?”
“Nggak, nggak ada kok ...” jawabku sambil tersenyum kecil. Nanda menatapku. Aku meyakinkan Nanda dengan senyumanku, hingga tak sengaja aku bersirobok pandang dengan Hanny yang lewat depan kamarku.
Sejak kejadian malam itu hubunganku dan Hanny merenggang. Aku sendiri yang memang sengaja menjaga jarak dengannya dan Hanny sepertinya tahu penyebabnya, tapi ia tak banyak berkomentar.
“Baru pulang, Han ...” Kudengar Dhea, penghuni kamar paling ujung, menyapa Hanny.
Sejak hubunganku dan Hanny tak lagi ”harmonis”, Hanny jadi dekat dengan perempuan berpredikat playgirl itu. Dan entah kenapa aku sangat tak suka dengan kedekatan mereka.
“Apakah aku cemburu?” batinku.
“Nia ... Nia ...” Entah sudah untuk keberapa kalinya Nanda memanggil-manggilku. “Kamu kenapa sih? Cerita kalau ada masalah ...”
“Nggak kok, mungkin aku hanya kecapean aja ...” kilahku sambil menyungging senyuman yang tampak dipaksakan.
Nanda menatapku lekat dan aku memilih memalingkan muka.
***** ***** ***** *****
“Mana bajingan itu ...” geram Nanda seraya menaiki tangga menuju kamar Hanny.
“Nanda, sudah kubilang ini bukan salah Hanny, tapi aku sendiri yang memutuskan semuanya!” seruku mengejar berusaha mensejajari langkah Nanda.
“Nggak, kamu udah diracuni oleh bajingan itu!! Gara-gara dia otakmu udah nggak bener!!” kalap Nanda.
“Nanda, denger aku ... ini sudah keputusanku!!”
“Nggak!! Aku sama sekali nggak percaya ...”
Aku menghadang Nanda tepat saat kami sampai di depan kamar Hanny.
“Nanda, aku hanya ingin kita pisah baik-baik ...” tegasku.
Untuk sekian detik kami berhadap-hadapan dan sama-sama membisu. “Jadi kamu benar-benar serius dengan keinginan gilamu itu??” suara Nanda lirih. Ada nada kekecewaan dalam helaan nafas panjangnya.
Aku mengangguk. “Ini bukan keinginan gila, aku sadar sepenuhnya dengan keputusanku ini ...” jawabku mantap.
“Nia, apa kau gila ... hubungan kita sudah serius, nggak lama lagi kita menikah!” Nanda menggenggam tanganku erat. “Jangan melakukan kekonyolan ini, Nia ...”
“Maaf,” Kutepis tangan Nanda pelan. “Aku sendiri sudah berusaha mengingkari perasaan ini dan menganggapnya sebagai sebuah kekonyolan, tapi aku tetap tak bisa membohongi perasaanku sendiri!”
“Nia ...”
“Kumohon ... tolong hargai keputusanku!”
Sekian detik kemudian, aku hanya bisa mengikuti Nanda menghilang bersama derum motornya dari balkon. Aku tercenung. Hingga aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tiba-tiba meraih jemariku.
“Hanny ...” desisku.
Hanny tersenyum lebar. “Kaget ya ...”
“Apa kamu dengar ...”
“Ya, aku sudah dengar semuanya!” potong Hanny cepat.
Lidahku mendadak kelu.
“Aku merindukanmu, Nia ...” bisik Hanny di telingaku.
Aku memandangi jemariku yang terengkuh erat dalam genggaman Hanny. Aku mungkin tak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tapi untuk sekarang aku yakin dengan sepenuh hati bahwa keputusanku ini bukan hanya emosi sesaat.
WILL U MARRY ME ...
Oleh : ALVI A.H.
Kutatap cincin bertahtakan satu mata berlian di hadapanku. Aku meraihnya, memandangi lingkaran kuning berkilauan itu untuk kesekian kalinya, lalu memasangkannya di jari manis tangan kiriku. Pas sekali. Bentuknya pun sangat kusuka.
Tadi siang seseorang yang sangat kusayangi, yang telah mengisi hari-hari indahku selama lebih dari setengah tahun ini memberikan cincin itu padaku, bukan sebagai hadiah ulangtahun atau Valentine -karena ini bukan bulan Februari-.
“Tutup matamu ...” ucapnya saat kami berdua selesai lunch di sebuah rumah makan tempat kami biasa bertemu.
“Tutup mata ... untuk apa?” tanyaku tak mengerti.
“Aku ingin memberikan sesuatu padamu ... cepat tutup matamu ...” desaknya dengan wajah berbinar.
Aku semakin tak mengerti. Kucoba tuk mengingat semua hal istimewa yang mungkin terjadi hari ini, mungkin aku melupakan sesuatu.
Ulang tahunnya sudah lewat, ulang tahunku juga masih beberapa bulan lagi. Hari ini juga bukan tanggal jadian kami, lalu apa ...
“Sudahlah, tutup matamu ... jangan berpikir macam-macam,” Rupanya ia dapat membaca isi pikiranku.
Dengan masih menyisakan sedikit keraguan, perlahan aku mulai menutup mata.
“Tutup yang rapat, jangan coba mengintip,” ujarnya saat tahu aku ingin curang mengintip apa yang akan diberikannya padaku.
“Habis kamu sih bikin aku penasaran ...” elakku.
“Makanya, cepat tutup matamu biar kau tidak penasaran lagi.”
Kali ini aku menutup mataku rapat-rapat. Dan bagiku waktu telah lama berselang, tapi ia tak juga menyuruhku membuka mata.
“Kok lama banget sih, kamu mau mempermainkan aku yaa ...” Nada suaraku lebih terdengar seperti penasaran.
“Sabar ... nah, sekarang buka matamu,”
Perlu waktu beberapa detik sebelum akhirnya aku mampu menormalkan penglihatanku kembali setelah mataku terpejam barusan. Kudapati ia sedang berlutut di hadapanku.
“Apa yang sedang kau ...” Kalimatku terhenti saat mataku terbentur sebuah cincin yang tengah disodorkannya padaku.
“Maukah kau menikah denganku?” ucapnya tulus.
Tenggorokanku tiba-tiba tercekat. Aku tak menyangka ia akan memberiku sebuah cincin, bahkan berlutut melamarku.
“Apa yang kau lakukan?” sergahku seraya menoleh sekeliling. Untung saja pengunjung restoran sedang sepi. Tak ada yang memperhatikan kami, terlebih saat ini, ia bak seorang pangeran tengah mempersembahkan cincin pada sang putri.
* * * * *
Aku terkejut. Bahkan boleh dibilang sangat terkejut. Dulu memang ia sempat mengutarakan hendak meminangku, namun kukira ia tak benar-benar serius. Hanya terbawa perasaan kami yang begitu menggebu-gebu kala itu karena kami baru jadian dan merasa cocok satu sama lain.
Namun kini, setengah tahun kemudian, ia benar-benar membuktikan kata-katanya padaku. Ia benar-benar melamarku!
Dan harusnya aku bahagia. Aku memang bahagia. Tak kupungkiri aku bahagia. Tapi kemudian ada banyak hal mengganjal pikiranku sejalan dengan munculnya kebahagiaan itu. Meski umurku tahun ini akan menginjak dua puluh delapan, belum terbersit di benakku untuk menikah, namun bukan itu inti persoalannya.
Perempuan mana yang tak bahagia dilamar oleh orang yang begitu disayang? Aku sama bahagianya dengan para perempuan yang dilamar kekasihnya. Tapi persoalannya akan menjadi lain jika yang melamarku kini adalah bukan seorang laki-laki seperti harapan kedua orangtuaku.
Dia yang begitu kusayangi ini adalah seorang perempuan, sama sepertiku! Meski penampilan dan tingkah lakunya hampir seratus persen tak ubahnya seperti laki-laki.
“Bagaimana jika dia mengajakmu menikah? Dari ceritamu, sepertinya dia tidak hanya hendak sekedar main-main. Dia pasti menginginkan sebuah hubungan yang serius!”
Ingatanku melayang pada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan oleh seorang temanku curhat dulu. Dan kala itu aku masih bisa dengan begitu mudah menepis bahwa masih banyak yang harus aku pikirkan karena aku memang belum terlalu mengenal orang yang kusayangi ini.
Namun sekarang aku telah begitu mengenalnya. Aku tahu segalanya tentang dia, keluarganya dan semuanya. Aku sudah pernah dikenalkan pada keluarganya yang notabene telah menerima keberadaannya sebagai seorang Lesbian, sedang aku ... keluargaku tak pernah tahu kalau anak sulung mereka ini tengah menjalani hubungan sejenis.
Mereka mengira –meski tak secara langsung mengatakan- bahwa aku sedang menjalin hubungan dengan laki-laki karena aku yang biasanya tiap akhir pekan selalu pulang ke rumah orangtuaku kini sudah jarang sekali pulang.
Bukan hanya kedua orang tuaku yang tak tahu aku begini. Kadang aku juga mempertanyakan kenapa aku bisa seperti ini? Dulu, aku memang pernah berhubungan lama dengan seorang laki-laki berumur. Kemudian aku tahu dia sudah beristri. Namun, perasaan cintaku yang begitu kuat padanya mengalahkan segalanya. Aku bertahan dengan laki-laki itu, hingga kemudian dia memutuskan hubungan secara sepihak untuk kembali pada anak dan istrinya. Aku tahu aku dalam posisi salah, tapi aku juga punya perasaan. Hatiku sangat hancur. Meski ia tak pernah menggubrisku lagi, aku masih terus mencari perhatian laki-laki itu.
Dan belum pulih lukaku, aku dikejutkan oleh kabar bahwa ayahku menikah lagi. Ayah yang selama ini kubangga-banggakan dan sangat dekat denganku itu mengambil sebuah keputusan yang sangat mengecewakanku, terlebih ibuku. Aku bisa merasakan ibuku sangat tersiksa meski beliau tak pernah menunjukkannya dan berusaha berlapang dada, tapi aku tak bisa, aku sangat membenci sosok yang dulu dengan bangga kupanggil ayah tersebut. Aku tak bisa menghargainya lagi, meski ia masih berusaha perduli pada kami. Hatiku sudah terlampau sakit.
Hingga kemudian waktu membawaku berkenalan dengan orang yang kini begitu kusayangi. Sejak pertemuan pertama kami, aku sangat terkesan dengan perlakuannya yang melebihi seorang laki-laki memperlakukan kaumku. Dan pada minggu berikutnya aku langsung mengangguk tanpa pertimbangan apapun saat ia memintaku menjadi pacarnya. Entahlah, aku merasa sangat nyaman dan sangat terlindungi bila bersamanya.
Dan aku tak pernah menyangka kalau hubunganku akan sampai sejauh ini. Aku bukannya menyesali, aku sangat bahagia bersamanya, tapi kini ia memintaku bukan hanya menjadi pacarnya. Ia ingin meresmikan hubungan kami lewat seorang pemuka agama wanita yang bersedia menyatukan hubungan dua insan yang menurut hukum agama mana pun tak bisa diterima untuk dipersatukan.
* * * * *
“Aku menanti jawabanmu?” tanyanya setelah kurang lebih seminggu aku tak juga memberikan jawaban.
Apa yang harus kujawab? Aku sendiri sangat bingung. Aku menyayangi perempuan ini, tapi untuk menikah dengannya, apalagi tanpa sepengetahuan keluargaku adalah juga hal yang mustahil.
Berulang kali kucoba mencari jawab tentang apa yang sesungguhnya kurasakan padanya. Apa aku hanya sekedar menemukan kenyamanan dalam dirinya seperti menemukan figur seorang laki-laki sesuai yang kuinginkan?
Dan jawabannya BUKAN. Bagiku, ia tak hanya lebih dari figur laki-laki yang tak kudapati dulu.
Dia memang bukan perempuan pertama dalam hidupku. Tapi, ketika mengenalnya aku menjadi lebih mantap dengan pilihan orientasi seksual yang selalu membuatku gamang sejak dua laki-laki itu menyakitiku.
Ya, aku sangat menyayanginya, tapi untuk mengambil keputusan besar seperti ini adalah bukan hal yang mudah. Karena apapun keputusanku, akan mengubah hidupku selanjutnya. Meski toh kebahagiaanku jauh lebih penting, namun aku tak bisa menyepelekan akan betapa kecewanya ibuku. Sudah cukup perlakuan pahit dari ayah, aku tak ingin menambahnya. Di satu sisi aku begitu yakin ingin mengatakan YA pada perempuan yang kusayang, tapi bayangan raut muka ibu membuatku harus berpikir ulang.
“Aku rasa waktu seminggu kurang lebih cukup untuk berpikir, sekarang aku meminta jawaban dan kepastianmu.” tanyanya datar namun tegas. “Aku tidak ingin menekanmu karena aku tahu itu pilihan sulit bagimu,”
Jika kau tahu itu pilihan sulit, kenapa kau mengajukannya padaku? Toh selama ini tanpa kita menikah pun, hubungan kita baik-baik saja. Kita tetap bisa saling menyayangi, berbagi satu sama lain dan tak ada masalah apa pun, lalu kenapa kau melamarku?
Apakah dengan kita “melegalkan” hubungan kita ini akan merubah sesuatu diantara kita? Tidak ada yang akan berubah! Aku tetap akan begitu menyayangimu seperti sekarang, masih menginginkan berada di sisimu setiap waktu dan mendapatkan perhatianmu, begitu juga sebaliknya kau.
Dan semuanya masih akan sama! Kita akan tetap menyembunyikan hubungan kita tanpa pernah mendapat penerimaan dari orang-orang di sekitar kita! Memilikimu dalam setiap detik hidupku bagiku sudah terlampau cukup!
Rangkaian kata itu hanya bisa tertahan di batang tenggorokku tanpa berani terlontar dari bibirku. Aku takut itu akan menyakitinya, meski cepat atau lambat aku harus memberinya jawaban. Sekarang aku bisa mengelak, tapi nanti...
* * * * *
“Sayang, sayang ... bangun ...”
Sebuah suara yang sangat kukenal seketika membuatku terjaga. Begitu mataku utuh terbuka sosok perempuan yang kusayangi sedang tersenyum tepat di arah pandanganku. Entah sudah sejak berapa lama ia berusaha membangunkanku.
Ternyata, semua hanya mimpi.
“Kau mimpi buruk ya?” tanyanya sembari mengusap peluh di keningku.
Aku langsung memeluknya erat. Entah kenapa aku sangat ingin memeluknya. Entah karena aku begitu senang semua ketakutanku barusan hanyalah mimpi belaka, entahlah!
“Sudah siang, nanti kau telat ke kantor,” ucapnya penuh kesabaran, kemudian ia beranjak ke depan.
Dari balik jendela kaca aku mengamati perempuan yang kusayangi itu sedang memanaskan mesin motor sambil mengobrol ringan dengan perempuan penghuni kamar sebelah yang menjuluki kami “setan” karena hubungan sejenis diantara kami. Aku selalu tersenyum jika teringat ekspresi muka “aneh” perempuan itu sewaktu pernah memergoki kami saat akan berciuman.
Aku berbalik hendak mengambil perlengkapan mandi ketika secara tak sengaja ekor mataku menangkap sebuah kotak hitam kecil di atas laci sebelah tempat tidur. Kotak hitam itu sepertinya pernah kulihat sebelumnya, tapi dimana ...
“Cincin ini ...” desisku mendapati sebuah cincin bermahkotakan satu mata berlian kecil. Cincin yang juga pernah kulihat sebelumnya ...
Seluruh persendianku tiba-tiba terasa lemas hingga tak mampu menyanggah tubuh suburku yang kini kurasakan sangat ringan.
Kutatap cincin bertahtakan satu mata berlian di hadapanku. Aku meraihnya, memandangi lingkaran kuning berkilauan itu untuk kesekian kalinya, lalu memasangkannya di jari manis tangan kiriku. Pas sekali. Bentuknya pun sangat kusuka.
Tadi siang seseorang yang sangat kusayangi, yang telah mengisi hari-hari indahku selama lebih dari setengah tahun ini memberikan cincin itu padaku, bukan sebagai hadiah ulangtahun atau Valentine -karena ini bukan bulan Februari-.
“Tutup matamu ...” ucapnya saat kami berdua selesai lunch di sebuah rumah makan tempat kami biasa bertemu.
“Tutup mata ... untuk apa?” tanyaku tak mengerti.
“Aku ingin memberikan sesuatu padamu ... cepat tutup matamu ...” desaknya dengan wajah berbinar.
Aku semakin tak mengerti. Kucoba tuk mengingat semua hal istimewa yang mungkin terjadi hari ini, mungkin aku melupakan sesuatu.
Ulang tahunnya sudah lewat, ulang tahunku juga masih beberapa bulan lagi. Hari ini juga bukan tanggal jadian kami, lalu apa ...
“Sudahlah, tutup matamu ... jangan berpikir macam-macam,” Rupanya ia dapat membaca isi pikiranku.
Dengan masih menyisakan sedikit keraguan, perlahan aku mulai menutup mata.
“Tutup yang rapat, jangan coba mengintip,” ujarnya saat tahu aku ingin curang mengintip apa yang akan diberikannya padaku.
“Habis kamu sih bikin aku penasaran ...” elakku.
“Makanya, cepat tutup matamu biar kau tidak penasaran lagi.”
Kali ini aku menutup mataku rapat-rapat. Dan bagiku waktu telah lama berselang, tapi ia tak juga menyuruhku membuka mata.
“Kok lama banget sih, kamu mau mempermainkan aku yaa ...” Nada suaraku lebih terdengar seperti penasaran.
“Sabar ... nah, sekarang buka matamu,”
Perlu waktu beberapa detik sebelum akhirnya aku mampu menormalkan penglihatanku kembali setelah mataku terpejam barusan. Kudapati ia sedang berlutut di hadapanku.
“Apa yang sedang kau ...” Kalimatku terhenti saat mataku terbentur sebuah cincin yang tengah disodorkannya padaku.
“Maukah kau menikah denganku?” ucapnya tulus.
Tenggorokanku tiba-tiba tercekat. Aku tak menyangka ia akan memberiku sebuah cincin, bahkan berlutut melamarku.
“Apa yang kau lakukan?” sergahku seraya menoleh sekeliling. Untung saja pengunjung restoran sedang sepi. Tak ada yang memperhatikan kami, terlebih saat ini, ia bak seorang pangeran tengah mempersembahkan cincin pada sang putri.
* * * * *
Aku terkejut. Bahkan boleh dibilang sangat terkejut. Dulu memang ia sempat mengutarakan hendak meminangku, namun kukira ia tak benar-benar serius. Hanya terbawa perasaan kami yang begitu menggebu-gebu kala itu karena kami baru jadian dan merasa cocok satu sama lain.
Namun kini, setengah tahun kemudian, ia benar-benar membuktikan kata-katanya padaku. Ia benar-benar melamarku!
Dan harusnya aku bahagia. Aku memang bahagia. Tak kupungkiri aku bahagia. Tapi kemudian ada banyak hal mengganjal pikiranku sejalan dengan munculnya kebahagiaan itu. Meski umurku tahun ini akan menginjak dua puluh delapan, belum terbersit di benakku untuk menikah, namun bukan itu inti persoalannya.
Perempuan mana yang tak bahagia dilamar oleh orang yang begitu disayang? Aku sama bahagianya dengan para perempuan yang dilamar kekasihnya. Tapi persoalannya akan menjadi lain jika yang melamarku kini adalah bukan seorang laki-laki seperti harapan kedua orangtuaku.
Dia yang begitu kusayangi ini adalah seorang perempuan, sama sepertiku! Meski penampilan dan tingkah lakunya hampir seratus persen tak ubahnya seperti laki-laki.
“Bagaimana jika dia mengajakmu menikah? Dari ceritamu, sepertinya dia tidak hanya hendak sekedar main-main. Dia pasti menginginkan sebuah hubungan yang serius!”
Ingatanku melayang pada sebuah pertanyaan yang pernah diajukan oleh seorang temanku curhat dulu. Dan kala itu aku masih bisa dengan begitu mudah menepis bahwa masih banyak yang harus aku pikirkan karena aku memang belum terlalu mengenal orang yang kusayangi ini.
Namun sekarang aku telah begitu mengenalnya. Aku tahu segalanya tentang dia, keluarganya dan semuanya. Aku sudah pernah dikenalkan pada keluarganya yang notabene telah menerima keberadaannya sebagai seorang Lesbian, sedang aku ... keluargaku tak pernah tahu kalau anak sulung mereka ini tengah menjalani hubungan sejenis.
Mereka mengira –meski tak secara langsung mengatakan- bahwa aku sedang menjalin hubungan dengan laki-laki karena aku yang biasanya tiap akhir pekan selalu pulang ke rumah orangtuaku kini sudah jarang sekali pulang.
Bukan hanya kedua orang tuaku yang tak tahu aku begini. Kadang aku juga mempertanyakan kenapa aku bisa seperti ini? Dulu, aku memang pernah berhubungan lama dengan seorang laki-laki berumur. Kemudian aku tahu dia sudah beristri. Namun, perasaan cintaku yang begitu kuat padanya mengalahkan segalanya. Aku bertahan dengan laki-laki itu, hingga kemudian dia memutuskan hubungan secara sepihak untuk kembali pada anak dan istrinya. Aku tahu aku dalam posisi salah, tapi aku juga punya perasaan. Hatiku sangat hancur. Meski ia tak pernah menggubrisku lagi, aku masih terus mencari perhatian laki-laki itu.
Dan belum pulih lukaku, aku dikejutkan oleh kabar bahwa ayahku menikah lagi. Ayah yang selama ini kubangga-banggakan dan sangat dekat denganku itu mengambil sebuah keputusan yang sangat mengecewakanku, terlebih ibuku. Aku bisa merasakan ibuku sangat tersiksa meski beliau tak pernah menunjukkannya dan berusaha berlapang dada, tapi aku tak bisa, aku sangat membenci sosok yang dulu dengan bangga kupanggil ayah tersebut. Aku tak bisa menghargainya lagi, meski ia masih berusaha perduli pada kami. Hatiku sudah terlampau sakit.
Hingga kemudian waktu membawaku berkenalan dengan orang yang kini begitu kusayangi. Sejak pertemuan pertama kami, aku sangat terkesan dengan perlakuannya yang melebihi seorang laki-laki memperlakukan kaumku. Dan pada minggu berikutnya aku langsung mengangguk tanpa pertimbangan apapun saat ia memintaku menjadi pacarnya. Entahlah, aku merasa sangat nyaman dan sangat terlindungi bila bersamanya.
Dan aku tak pernah menyangka kalau hubunganku akan sampai sejauh ini. Aku bukannya menyesali, aku sangat bahagia bersamanya, tapi kini ia memintaku bukan hanya menjadi pacarnya. Ia ingin meresmikan hubungan kami lewat seorang pemuka agama wanita yang bersedia menyatukan hubungan dua insan yang menurut hukum agama mana pun tak bisa diterima untuk dipersatukan.
* * * * *
“Aku menanti jawabanmu?” tanyanya setelah kurang lebih seminggu aku tak juga memberikan jawaban.
Apa yang harus kujawab? Aku sendiri sangat bingung. Aku menyayangi perempuan ini, tapi untuk menikah dengannya, apalagi tanpa sepengetahuan keluargaku adalah juga hal yang mustahil.
Berulang kali kucoba mencari jawab tentang apa yang sesungguhnya kurasakan padanya. Apa aku hanya sekedar menemukan kenyamanan dalam dirinya seperti menemukan figur seorang laki-laki sesuai yang kuinginkan?
Dan jawabannya BUKAN. Bagiku, ia tak hanya lebih dari figur laki-laki yang tak kudapati dulu.
Dia memang bukan perempuan pertama dalam hidupku. Tapi, ketika mengenalnya aku menjadi lebih mantap dengan pilihan orientasi seksual yang selalu membuatku gamang sejak dua laki-laki itu menyakitiku.
Ya, aku sangat menyayanginya, tapi untuk mengambil keputusan besar seperti ini adalah bukan hal yang mudah. Karena apapun keputusanku, akan mengubah hidupku selanjutnya. Meski toh kebahagiaanku jauh lebih penting, namun aku tak bisa menyepelekan akan betapa kecewanya ibuku. Sudah cukup perlakuan pahit dari ayah, aku tak ingin menambahnya. Di satu sisi aku begitu yakin ingin mengatakan YA pada perempuan yang kusayang, tapi bayangan raut muka ibu membuatku harus berpikir ulang.
“Aku rasa waktu seminggu kurang lebih cukup untuk berpikir, sekarang aku meminta jawaban dan kepastianmu.” tanyanya datar namun tegas. “Aku tidak ingin menekanmu karena aku tahu itu pilihan sulit bagimu,”
Jika kau tahu itu pilihan sulit, kenapa kau mengajukannya padaku? Toh selama ini tanpa kita menikah pun, hubungan kita baik-baik saja. Kita tetap bisa saling menyayangi, berbagi satu sama lain dan tak ada masalah apa pun, lalu kenapa kau melamarku?
Apakah dengan kita “melegalkan” hubungan kita ini akan merubah sesuatu diantara kita? Tidak ada yang akan berubah! Aku tetap akan begitu menyayangimu seperti sekarang, masih menginginkan berada di sisimu setiap waktu dan mendapatkan perhatianmu, begitu juga sebaliknya kau.
Dan semuanya masih akan sama! Kita akan tetap menyembunyikan hubungan kita tanpa pernah mendapat penerimaan dari orang-orang di sekitar kita! Memilikimu dalam setiap detik hidupku bagiku sudah terlampau cukup!
Rangkaian kata itu hanya bisa tertahan di batang tenggorokku tanpa berani terlontar dari bibirku. Aku takut itu akan menyakitinya, meski cepat atau lambat aku harus memberinya jawaban. Sekarang aku bisa mengelak, tapi nanti...
* * * * *
“Sayang, sayang ... bangun ...”
Sebuah suara yang sangat kukenal seketika membuatku terjaga. Begitu mataku utuh terbuka sosok perempuan yang kusayangi sedang tersenyum tepat di arah pandanganku. Entah sudah sejak berapa lama ia berusaha membangunkanku.
Ternyata, semua hanya mimpi.
“Kau mimpi buruk ya?” tanyanya sembari mengusap peluh di keningku.
Aku langsung memeluknya erat. Entah kenapa aku sangat ingin memeluknya. Entah karena aku begitu senang semua ketakutanku barusan hanyalah mimpi belaka, entahlah!
“Sudah siang, nanti kau telat ke kantor,” ucapnya penuh kesabaran, kemudian ia beranjak ke depan.
Dari balik jendela kaca aku mengamati perempuan yang kusayangi itu sedang memanaskan mesin motor sambil mengobrol ringan dengan perempuan penghuni kamar sebelah yang menjuluki kami “setan” karena hubungan sejenis diantara kami. Aku selalu tersenyum jika teringat ekspresi muka “aneh” perempuan itu sewaktu pernah memergoki kami saat akan berciuman.
Aku berbalik hendak mengambil perlengkapan mandi ketika secara tak sengaja ekor mataku menangkap sebuah kotak hitam kecil di atas laci sebelah tempat tidur. Kotak hitam itu sepertinya pernah kulihat sebelumnya, tapi dimana ...
“Cincin ini ...” desisku mendapati sebuah cincin bermahkotakan satu mata berlian kecil. Cincin yang juga pernah kulihat sebelumnya ...
Seluruh persendianku tiba-tiba terasa lemas hingga tak mampu menyanggah tubuh suburku yang kini kurasakan sangat ringan.
14 Desember 2007
By Alvi A. H
Jam setengah tiga. Taksi yang kutumpangi memasuki kawasan Blok M, lalu tepat berhenti dibawah tangga penyeberangan. Aku bergerak turun. Gerimis langsung menyapa tubuhku ketika menjejakkan kaki ke jalanan beraspal yang tergenang air sisa hujan barusan.
Sejenak aku memandangi mall yang mempunyai “sejarah” penting dalam hidupku itu sebelum aku menapaki satu demi satu anak tangga penyeberangan yang menghubungkan mall dengan tempatku ketika sampai tadi.
Entah kenapa rasanya seperti baru kemarin saja aku ke tempat ini, padahal sudah genap setahun, bahkan mungkin lebih, aku tidak kemari atau tepatnya sengaja tidak kemari. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin ingatan tentang kamu memenuhi otakku lagi, meski aku sangat sadar bahwa ingatan itu memang kadang membelit di benakku seperti baru kemarin saja terjadinya.
Dan benar saja, baru selangkah memasuki pintu depan yang dulu aku lewati, ingatan itu memberondong tajam dengan begitu cepatnya merangkai tiap kejadian di masa lampau sedemikian detilnya.
“Kamu dimana? Aku sudah sampai.” ujarku ketika mendengar nada tersambung.
“Tunggu ya, ntar lagi aku sampai ...” jawab suara perempuan di ujung ponselku.
Kalau tidak karena diajak ketemuan dengan perempuan ini, aku tak akan mau kemari. “Ketemu dimana aja asal di daerah selatan... ” Begitu pintanya. Dan di daerah selatan aku hanya hafal Blok M, makanya mau tak mau disinilah akhirnya aku dan perempuan itu janjian untuk ketemuan pertama kalinya, tempat yang sama yang menjadi tempat ke-terakhir kalinya aku pergi bersama kamu setahun lalu.
Seperempat jam telah berlalu, perempuan itu belum datang juga. Aku memutuskan ke toko buku di lantai atas sembari menunggu. Sama seperti setahun lalu ketika aku menghabiskan waktu menunggumu lumayan lama untuk perawatan rambut ke salon. Dering ponsel membuyarkan lamunanku.
“Aku udah nyampe ... kamu dimana?”
“Di Gunung Agung.”
“Aku di depan lift, aku yang ke atas atau kamu yang turun?”
“Aku aja yang turun, tunggu ya ...” Pandanganku tertumbuk pada lift yang juga pas di depanku. Naik lift... ntar pasti dia sudah menunggu di bawah, mending...
Aku memutuskan turun lewat eskalator. Sembari meliuk-liuk di satu demi satu eskalator, mataku berkeliling menduga-duga sosok perempuan yang akan aku temui ini. Maklum, aku hanya mengenal suaranya saja melalui telepon tanpa pernah tahu ciri-cirinya karena ia tak mau mengatakannya.
Aku berpapasan dengan perempuan rambut sebahu yang sibuk dengan hape-nya. Mungkinkah itu dia ... Lalu ada seorang perempuan ABG. Kalau dia tak mungkin karena perempuan yang hendak kutemui ini berumur dua puluh tujuh tahun, dua tahun lebih tua dariku, meski dari suaranya terdengar seperti anak perempuan tujuh belas tahunan.
Di lantai bawah aku berpapasan dengan perempuan berbaju pink yang hendak menaiki eskalator. Kami bersirobok pandang beberapa saat karena perempuan itu mengikuti ekor mataku yang juga sedang menatapnya. Mungkinkah itu dia ...
Aku merogoh saku. Ada dua panggilan tak terjawab di ponselku. Perempuan itu. “Aku sudah di lantai bawah, kamu dimana?”
“Kamu kelamaan, aku sudah naik ... kamu yang lagi ngunyah-ngunyah permen karet ya?”
“Kenapa?” Alisku berkerut. Bagaimana ia tahu aku memang sedang mengunyah permen karet.
“Jawab saja, iya atau nggak?”
“Ya ...”
“Kalau begitu kita tadi papasan. Aku yang pake baju pink ...”
Baju pink ... hmm, tak salah lagi, pasti perempuan berambut panjang berperawakan ramping dengan tahi lalat diatas bibir tadi.
“Aku satu lantai diatasmu, kamu naik ya... ”
“Oke ...”
* * * * *
“Maaf ya, pasti lama ya nunggu aku ... sorry!” berondong perempuan yang duduk di hadapanku begitu pantatku bersentuhan dengan kursi di Platinum.
Perempuan itu sungguh sangat feminin. Meski riasan wajahnya menurutku agak berlebihan, tapi tampak pas saja. Bulu matanya seperti matahari bersinar di pagi hari dan pipinya kemerahan seperti langit senja. Ia sering mengalihkan mata ke arah lain ketika mata kami bertemu. Sesuatu hal yang membuatku tersenyum. Karena jujur saja, bukan perempuan ini yang menjadi alasanku kemari. Aku sedang merindukan kamu, sosok yang setahun lalu memenuhi hatiku.
“Kita kemana lagi?” tawarku setelah kami selesai makan siang yang agak kesorean barusan.
“Jalan-jalan aja, liat-liat baju kek. Kamu sukanya liat-liat apa?”
“Liat buku ama liat femme ...” Perempuan itu langsung melayangkan tinjunya ke lenganku mendengar jawabanku barusan.
“Ya udah, aku mau liat-liat baju, kita ke Orange yukk,”
Aku mengekor langkahnya. Posisinya tepat di depanku. Lekuk tubuhnya tergambar jelas, tak seperti gitar Spanyol memang karena bentuk badannya terlalu kurus. Mataku kemudian tak sengaja menangkap tulisan Pizza Hut di kaca sepanjang koridor yang kami lewati.
Aku dan kamu setahun lalu makan di restoran ala Italia itu, tepatnya di bangku nomor dua di sebelah kanan kasir. Masih lekang dalam ingatanku ketika itu aku sibuk memperhatikan seorang pramusaji yang mengenakan bando kelinci ala Playboy.
“Pecicilan aja kalo liat jidat licin!” protesmu ketika itu yang membuatku tersenyum. Dan mungkin itu salah satu alasan kamu memberiku poin seorang player, meski jujur waktu itu aku hanya tertarik pada bando ala plaboy si pramusaji bukan si pemakai bando. Ahh, kenapa aku selalu teringat kamu! Padahal aku sedang bersama perempuan lain.
“Lingerie ini cocok nggak buat aku?” tanya perempuan itu sembari merapatkan lingerie transparan berwarna putih ke tubuh mungilnya.
“Cocok-cocok saja, body kamu kurus jadi cocok memakai apapun!” jawabku lugas atau lebih tepatnya terdengar blak-blakan. Jujur, pertanyaan perempuan itu mengagetkan aku dari benakku yang menerawang ketika setahun lalu kamu juga mengajukan pertanyaan yang sama, juga di tempat yang sama.
“Dari tadi aku perhatikan kamu kok dikit-dikit ngelamun sih?” selidik perempuan itu sambil tangannya dengan cekatan memilah-milah deretan lingerie meski ekor matanya sesekali melirikku.
“Kalau boleh jujur, sebenarnya aku benci ke tempat ini!”
“Kenapa?” Alis perempuan itu menukik tajam. Jari-jari lentiknya berhenti beraktivitas.
“Tempat ini menjadi kencan terakhirku dengan cinta pertamaku,”
“Maaf,” Perempuan itu merasa tak enak hati. “Habis kamu nggak bilang sih ...” imbuh perempuan itu. “Aku jadi nggak enak nih, kita ke tempat lain aja kalau gitu ...”
“Ahh, nggak usah. Justru dengan aku kemari, menyadarkanku satu hal...” Perempuan itu terlihat penasaran menanti kelanjutan kalimatku. “Semua hanya masa lalu dan aku tidak boleh terus menerus hidup di masa lalu. Kenangan itu memang akan selalu ada di hatiku, tapi hanya akan menjadi sebatas kenangan.”
Hening beberapa saat, lalu kemudian perempuan itu tersenyum dan merengkuh jemariku erat. “Ayoo kita lanjutin keliling tempat ini ....” Perempuan itu bergelanyut manja di lenganku.
Kamu ... meski sudah tak ada lagi aku di hatimu, tapi aku harap suatu saat akan ada kita lagi. Walau bukan seperti kita yang dulu, paling nggak tidak seburuk kta seperti saat ini.
Jam setengah tiga. Taksi yang kutumpangi memasuki kawasan Blok M, lalu tepat berhenti dibawah tangga penyeberangan. Aku bergerak turun. Gerimis langsung menyapa tubuhku ketika menjejakkan kaki ke jalanan beraspal yang tergenang air sisa hujan barusan.
Sejenak aku memandangi mall yang mempunyai “sejarah” penting dalam hidupku itu sebelum aku menapaki satu demi satu anak tangga penyeberangan yang menghubungkan mall dengan tempatku ketika sampai tadi.
Entah kenapa rasanya seperti baru kemarin saja aku ke tempat ini, padahal sudah genap setahun, bahkan mungkin lebih, aku tidak kemari atau tepatnya sengaja tidak kemari. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin ingatan tentang kamu memenuhi otakku lagi, meski aku sangat sadar bahwa ingatan itu memang kadang membelit di benakku seperti baru kemarin saja terjadinya.
Dan benar saja, baru selangkah memasuki pintu depan yang dulu aku lewati, ingatan itu memberondong tajam dengan begitu cepatnya merangkai tiap kejadian di masa lampau sedemikian detilnya.
“Kamu dimana? Aku sudah sampai.” ujarku ketika mendengar nada tersambung.
“Tunggu ya, ntar lagi aku sampai ...” jawab suara perempuan di ujung ponselku.
Kalau tidak karena diajak ketemuan dengan perempuan ini, aku tak akan mau kemari. “Ketemu dimana aja asal di daerah selatan... ” Begitu pintanya. Dan di daerah selatan aku hanya hafal Blok M, makanya mau tak mau disinilah akhirnya aku dan perempuan itu janjian untuk ketemuan pertama kalinya, tempat yang sama yang menjadi tempat ke-terakhir kalinya aku pergi bersama kamu setahun lalu.
Seperempat jam telah berlalu, perempuan itu belum datang juga. Aku memutuskan ke toko buku di lantai atas sembari menunggu. Sama seperti setahun lalu ketika aku menghabiskan waktu menunggumu lumayan lama untuk perawatan rambut ke salon. Dering ponsel membuyarkan lamunanku.
“Aku udah nyampe ... kamu dimana?”
“Di Gunung Agung.”
“Aku di depan lift, aku yang ke atas atau kamu yang turun?”
“Aku aja yang turun, tunggu ya ...” Pandanganku tertumbuk pada lift yang juga pas di depanku. Naik lift... ntar pasti dia sudah menunggu di bawah, mending...
Aku memutuskan turun lewat eskalator. Sembari meliuk-liuk di satu demi satu eskalator, mataku berkeliling menduga-duga sosok perempuan yang akan aku temui ini. Maklum, aku hanya mengenal suaranya saja melalui telepon tanpa pernah tahu ciri-cirinya karena ia tak mau mengatakannya.
Aku berpapasan dengan perempuan rambut sebahu yang sibuk dengan hape-nya. Mungkinkah itu dia ... Lalu ada seorang perempuan ABG. Kalau dia tak mungkin karena perempuan yang hendak kutemui ini berumur dua puluh tujuh tahun, dua tahun lebih tua dariku, meski dari suaranya terdengar seperti anak perempuan tujuh belas tahunan.
Di lantai bawah aku berpapasan dengan perempuan berbaju pink yang hendak menaiki eskalator. Kami bersirobok pandang beberapa saat karena perempuan itu mengikuti ekor mataku yang juga sedang menatapnya. Mungkinkah itu dia ...
Aku merogoh saku. Ada dua panggilan tak terjawab di ponselku. Perempuan itu. “Aku sudah di lantai bawah, kamu dimana?”
“Kamu kelamaan, aku sudah naik ... kamu yang lagi ngunyah-ngunyah permen karet ya?”
“Kenapa?” Alisku berkerut. Bagaimana ia tahu aku memang sedang mengunyah permen karet.
“Jawab saja, iya atau nggak?”
“Ya ...”
“Kalau begitu kita tadi papasan. Aku yang pake baju pink ...”
Baju pink ... hmm, tak salah lagi, pasti perempuan berambut panjang berperawakan ramping dengan tahi lalat diatas bibir tadi.
“Aku satu lantai diatasmu, kamu naik ya... ”
“Oke ...”
* * * * *
“Maaf ya, pasti lama ya nunggu aku ... sorry!” berondong perempuan yang duduk di hadapanku begitu pantatku bersentuhan dengan kursi di Platinum.
Perempuan itu sungguh sangat feminin. Meski riasan wajahnya menurutku agak berlebihan, tapi tampak pas saja. Bulu matanya seperti matahari bersinar di pagi hari dan pipinya kemerahan seperti langit senja. Ia sering mengalihkan mata ke arah lain ketika mata kami bertemu. Sesuatu hal yang membuatku tersenyum. Karena jujur saja, bukan perempuan ini yang menjadi alasanku kemari. Aku sedang merindukan kamu, sosok yang setahun lalu memenuhi hatiku.
“Kita kemana lagi?” tawarku setelah kami selesai makan siang yang agak kesorean barusan.
“Jalan-jalan aja, liat-liat baju kek. Kamu sukanya liat-liat apa?”
“Liat buku ama liat femme ...” Perempuan itu langsung melayangkan tinjunya ke lenganku mendengar jawabanku barusan.
“Ya udah, aku mau liat-liat baju, kita ke Orange yukk,”
Aku mengekor langkahnya. Posisinya tepat di depanku. Lekuk tubuhnya tergambar jelas, tak seperti gitar Spanyol memang karena bentuk badannya terlalu kurus. Mataku kemudian tak sengaja menangkap tulisan Pizza Hut di kaca sepanjang koridor yang kami lewati.
Aku dan kamu setahun lalu makan di restoran ala Italia itu, tepatnya di bangku nomor dua di sebelah kanan kasir. Masih lekang dalam ingatanku ketika itu aku sibuk memperhatikan seorang pramusaji yang mengenakan bando kelinci ala Playboy.
“Pecicilan aja kalo liat jidat licin!” protesmu ketika itu yang membuatku tersenyum. Dan mungkin itu salah satu alasan kamu memberiku poin seorang player, meski jujur waktu itu aku hanya tertarik pada bando ala plaboy si pramusaji bukan si pemakai bando. Ahh, kenapa aku selalu teringat kamu! Padahal aku sedang bersama perempuan lain.
“Lingerie ini cocok nggak buat aku?” tanya perempuan itu sembari merapatkan lingerie transparan berwarna putih ke tubuh mungilnya.
“Cocok-cocok saja, body kamu kurus jadi cocok memakai apapun!” jawabku lugas atau lebih tepatnya terdengar blak-blakan. Jujur, pertanyaan perempuan itu mengagetkan aku dari benakku yang menerawang ketika setahun lalu kamu juga mengajukan pertanyaan yang sama, juga di tempat yang sama.
“Dari tadi aku perhatikan kamu kok dikit-dikit ngelamun sih?” selidik perempuan itu sambil tangannya dengan cekatan memilah-milah deretan lingerie meski ekor matanya sesekali melirikku.
“Kalau boleh jujur, sebenarnya aku benci ke tempat ini!”
“Kenapa?” Alis perempuan itu menukik tajam. Jari-jari lentiknya berhenti beraktivitas.
“Tempat ini menjadi kencan terakhirku dengan cinta pertamaku,”
“Maaf,” Perempuan itu merasa tak enak hati. “Habis kamu nggak bilang sih ...” imbuh perempuan itu. “Aku jadi nggak enak nih, kita ke tempat lain aja kalau gitu ...”
“Ahh, nggak usah. Justru dengan aku kemari, menyadarkanku satu hal...” Perempuan itu terlihat penasaran menanti kelanjutan kalimatku. “Semua hanya masa lalu dan aku tidak boleh terus menerus hidup di masa lalu. Kenangan itu memang akan selalu ada di hatiku, tapi hanya akan menjadi sebatas kenangan.”
Hening beberapa saat, lalu kemudian perempuan itu tersenyum dan merengkuh jemariku erat. “Ayoo kita lanjutin keliling tempat ini ....” Perempuan itu bergelanyut manja di lenganku.
Kamu ... meski sudah tak ada lagi aku di hatimu, tapi aku harap suatu saat akan ada kita lagi. Walau bukan seperti kita yang dulu, paling nggak tidak seburuk kta seperti saat ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)