Friday, July 18, 2008

This Is A Story ‘Bout You and Your Calls

Pagi. Jam enam teng –kadang kurang, kadang lebih- hape di sebelah bantalku mulai berkedip-kedip tanpa suara. Maklum, setiap malam hape memang sengaja aku silent guna menghindari hal-hal yang tidak kuinginkan semisal berdering di malam buta atau yang paling nggak ngenakin adalah membuatku terbangun dari tidurku yang lagi pe-we banget alias masih larut dalam kisah alam bawah sadar dan menciptakan pulau-pulau kecil di bantalku (baca: ngiler).

Kulirik hape yang masih menyala-padam menampakkan animasi dengan background biru bertuliskan “Aku sebel ama kamu, but I love you” itu. Masih setengah mengantuk aku kemudian memencet tombol hijau di hape sembari menyenandungkan kata “hallo” dengan suara khas orang bangun tidur.
“Hallo ...” Kudengar suaramu di ujung telepon.
“Ayoo... bangun ... molor aja!!” (Males, lagian masih ngantuk juga nelpon!)
“Darimana aja, kenapa dari tadi telponku nggak diangkat?” (Kalo sekarang telponmu udah kuangkat, kenapa sih masih nanya: “Kenapa nggak diangkat?”)
“Semalem tidur jam berapa?” (Masa’ tiap mau tidur kudu ngliat jam dulu?)
“Siapa aja yang hubungi kamu semalem?” (Interogasi polisi pamong praja dimulai ...)
“Sms-an ama femme-femme ya...” (Mulai juga deh acara nuduh-nuduhnya ...)
“Dasar tukang selingkuh!” (Nuduh lagi ...)
“Emangnya aku nggak tau apa?!?” (Yang ini terdengar seperti mbah dukun aja...)
“Ayo ngaku ...” (Ahh, capek deh!!)
Hmmm .... benar-benar sarapan pagi yang tidak ada duanya di dunia, bahkan jagat raya sekali pun.
* * * * *
Kau begitu sempurna ... di mataku kau begitu indah ... kau membuat diriku akan slalu memujamu ...

Aku tidak sedang mendengarkan radio atau nonton acara musik di televisi, apalagi nyanyiin lagu Sempurna-nya Andra and the Backbone itu live dari pita suaraku. Itu adalah lagu nada panggil hape yang aku pasang khusus buat kamu jika meneleponku. Kalau pun Andra bisa komentar, pasti deh aku jamin dia bakal komplain nggak mau dipasang sebagai lagu nada panggil, capek tau kalau semenit-semenit nyanyi, walau cuma sepenggal-sepenggal tapi kalau frekuensinya terlalu sering kan capek juga. Bayangkan, dari mulai jam tujuh pagi –sekitar kurang lebih setangah jam- dari jeda waktu kamu terakhir menelepon, hapeku berdering lagi. Itu pun tak cuma sekali dua kali, minimal tiga kali dan maksimal ... tak terhingga, paling tidak sampai hapeku panas atau paling parah batrenya nge-drop ... bayangkan?!?

Aku baru selesai mandi dengan masih selembar handuk dan kaos singlet membalut tubuhku, lantunan itu membahana kembali di kamarku. Di tengah keramaian lalu lintas pagi saat aku sedang OTW ke tempat kerja, samar kudengar bait lagu itu dari celah-celah saku celanaku. Pun ketika pantatku baru bisa menyentuh kursi untuk melepas lelah usai menyelesaikan “tugas rutin” pagiku, Andra bernyanyi kembali.
“Kok lama banget baru diangkat?” (Kelamaan diangkat pun kamu komplain, uggh!!)
“Kalo femme lain aja, pasti cepat-cepat kamu angkat!” (Uggghhh ...)
“Kamu lagi ngapain sih?” (Ini pertanyaan rutinmu)
“Sms-an ama femme-femme...” (Mulai nuduh-nuduh ...)
“Telpon-telponan ama femme-femme ...” (Again and again ...)
“Ayo ... crita ...”
Bla...bla...bla ... pertanyaan-pertanyaan seputar itu-ituuu aja sudah jadi makanan sehari-hariku. Nggak pagi, nggak siang, nggak sore, nggak malem ... samaaa semua pertanyaannya!!!

Sore hingga malam tampaknya menjadi waktu rehat buat Andra untuk mendendangkan lagu wajib orang lagi jatuh cinta itu di hapeku. Begitu juga denganku. Pasalnya di waktu-waktu itulah waktumu bukan lagi sepenuhnya milikku karena kehadiran kambing(baca: suami)mu. Hanya sesekali saja hapeku berdering tapi cuma sebatas miskol, diangkat lalu mati. Kalo segera kuangkat kamu akan menuduhku sedang sms-an dengan femme lain, jadi paling kubiarkan saja berdering. Hanya ketika kambing(baca: suami)mu sedang tak di rumah, kamu berani meneleponku.

Perempuanku memang telah bersuami, bahkan dari rahimnya telah lahir anak perempuan yang kini berusia hampir setahun yang wajahnya sangat mirip sekali dengan bapaknya.
“Ibuku pernah bilang, kalo anak perempuan lahir sangat mirip wajahnya dengan bapaknya, berarti sewaktu mengandung dulu si perempuan itu sangat-sangat mencintai suaminya sehingga perasaan tersebut dijelmakan dalam rupa anak yang dilahirkannya” ledekku yang membuat bibirmu manyun lima senti.
* * * * *

Kau begitu sempurna ... dimataku kau begitu indah ... kau membuat diriku akan slalu memujamu ...

Sayup-sayup diantara sadar dan tidak, aku merasakan lagu tersebut benar-benar sangat dekat. Aku tidak sedang bermimpi ....
“Damn!!” umpatku. Aku tadi ketiduran dan lupa memasang mode silent di hapeku. Kupicingkan sebelah mata sambil meraba-raba mencari benda elektronik sumber bunyi memekakkan telinga yang sukses membuatku sontak terjaga dari tidur barusan. Bahkan tengah malam buta begini kau masih meneleponku ... benar-benar sudah tidak bisa ditolerir lagi! Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Mengecekku seperti aku ini maling saja!

2 comments:

Anonymous said...

hahahaha...........
kayana itu sm yg ntuutuuu...kacian dhe,,,
wh pribahasa kambing sy d pke jg y...wh mlanggar UU nhe...mmkai hak cipta org tnpa izin,ayoo byr kau,,wkwkwkwkwkw......

Cosmic Soulmate said...

Bayarnya pake kambing juga ya, mau?