Friday, September 9, 2011

Love Is...

Untuk kesekian kalinya aku menonton film Korea tahun 2001 ini, nggak ada bosen2nya. Film ini yang ngajarin untukku selalu belajar dan terus belajar tulus.

Love Is...
Melepaskannya pergi ketika ia bukan untukmu. Sekuat apapun tanganmu mencengkeram, mencoba menggenggamnya, ketika ia memilih untuk lepas maka ia akan menyelusup dari sela jemari.

Love Is...
Aku belum fasih merapal cinta. Masih terlalu banyak yang harus kukalahkan dalam diri untuk menjadi tulus tanpa logika ketika melakukan sesuatu untuk orang yang kau sayang. Gengsi itu masih sering membunuhku. Aku tak ingin terlihat bodoh padahal aku melakukan hal-hal bodoh.

Jika sadar ia bukan untukku, aku sedang belajar mengiring harinya tanpa meminta secelah pun untuknya mengiring hari, terlebih hatiku...

Thursday, September 8, 2011

Kita... Unik!

Aku menyebutnya unik, bagaimana tidak, kenal aja ga genap 50 hari, pacaran juga nggak, tapi berantemnya kayak udah berumahtangga dua tahun.

Kita unik. Kau perempuan kedua yang berlaku begini padaku. Ia, perempuan yang sebelumnya, dari bidang studi yang sama denganmu. Perjalanan waktu yang hampir sama. Pesan pendek bersambung hampir setiap hari. Canda. Tawa. Kisruh kecil. Alur yang sama.

Oleh karenanya, aku kini terhenyak, akankah berakhir sama? Perempuan sebelumnya, kian hari kian bertingkah karena ia tahu perasaanku. Nada smsnya kian tak mengenakkan, semaunya... Sekali, dua kali, berkali2 pemakluman, dan akhirnya batas yang dibangun logika lebih tinggi. Bukan soal ego, tapi ketika ia tak bisa menghargai perasaan orang lain maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Kini, aku sudah tak lagi punya cerita dengannya. Mati rasa, tapi aku berterima kasih diatas segala yang pernah ia remehkan, ia sendiri yang kini merasa tak enak hati.

Merasa bangga ketika dicintai, aku bisa memaklumi ketika orang yang berada diposisi tsb baik secara sadar atau bahkan pingsan, berlaku seenaknya tapi tak merasa.

Aku pun sadar mungkin hal tsb hanya subyektivitasku saja. Belajar dari perempuan sebelumnya, aku kini hanya mendiamkan. Bagaimana pun aku tak berhak -dan tak mau lagi- menghakimi. Setiap orang bebas bersikap dan merespon. Yang menjadi koridor wilayahku adalah membenahi diriku sendiri. Aku sedang belajar untuk tak lagi justifikasi. Subyektivitas itu hanya menjadi milikku.

Aku memang terlarut buaian emosi ketika merasa bagaimana bisa hal tsb berulang dua kali padaku. Bersyukur, kadar emosi tak setinggi lalu karena sekali lagi aku sedang belajar dan membiarkan subyektivitas hanya menjadi milikku semata.

Wednesday, September 7, 2011

BATAS

Kata orang, mencinta itu tak mengenal batas. Kalau ada batas berarti perasaan itu tak setulus yang mungkin pernah diikrar lisan. Tapi bagiku, mungkin hati memang tak berbatas, tapi kemudian logika membangunnya. Bukan ego, tetapi logika! Kalau hati bolehlah bak kerbau dicucuk hidungnya akan ikut apa kata hati, tapi ketika rasa itu terhenti, bukan hati yang mati tapi logika yang sedikit demi sedikit memupuk perih agar tak lagi terasa pedih.

Batas. Logika yang mencipta batas. Sekali lagi bukan ego! Kalau ego, kau tak mau hati direndahkan, tapi kalau logika adalah ketika semua telah sampai pada ambang batas saat semua upaya telah diusahakan. Bukan menyerah, batas adalah titik terakhir tapi tak menyerah apalagi kalah. Batas adalah ketika dengan legawa melepaskan disaat dirasa telah waktunya.

I believe everything and everyone has a limit. Bukan karena ego, apalagi menyerah tapi saat dimana aku tahu waktuku tuk memahamimu sudah lebih dari sekedar cukup. Berelasi dalam bentuk apapun adalah tentang menyerap dan menyepahamkan dua yang tak sama apalagi memaksakan salah satu mengikuti alur pikir lainnya. Tak ada mutlak benar, pasti betul dan maha tidak salah, relasi dua isi kepala hanya berisi pemahaman.

Friday, August 26, 2011

Merampungkan Cerita Hati

Sepanjang 2011, kalau diitung itung lebih dari 7 perempuan bersinggungan takdir dengan hati saya dan percaya atau tidak, selalu mempunyai ending yang sama...

Soulmate sebelah kamar adalah perempuan paling rajin yang hafal betul nama dan cerita cintaku, pun seorang sohib yang kini menetap di Jakarta. Dulu aku jatuh hati pada perempuan ini tapi kini kami bersaudara, kisah hati masing2 kami telah saling membagi. Dan kedua orang inilah yang mungkin cukup jengah dengan cerita hatiku, bukan pada banyaknya hatiku tertambat tapi penyelesaian yang tak pernah rampung!

Aku juga tak muna, di mata mereka aku memang terkenal menclak menclok, tapi sekali lagi aku tak mendefinisikannya sebagai player. Kata mereka aku hanya tak mempunyai kemampuan merampungkan cerita hati! Alur tetapnya adalah, aku jatuh hati, kemudian berhenti tengah jalan dan tak rampung, lalu memulai relasi baru dengan tidak nyelesain relasi lama.

Teringat beberapa hari lalu, si sohib sampai mencontohkan relasi hatiku dengan dirinya.
"Kau ingat saja dulu bagaimana kau naksir aku, belum selesai, ketika membentur sesuatu, kau mulai lagi naksir orang lain tapi tidak nyelesain yang sebelumnya!" ujarnya bukan yang pertama kali. "Masalahnya hanya kau tak pernah bisa nyelesain!"
Aku mengamini!
"Coba deh mulai sekarang jangan lagi begitu, selesaikan sampai perasaanmu benar-benar selesai baru mulailah relasi baru. Paling tidak kau tau, relasimu itu benar2 berakhir sudah tak bisa dilanjutkan lagi, jangan berhenti tengah jalan lalu mulai dengan cerita baru lagi! Kapan mau bener2 dapat kekasih kalau gitu caranya?" Meski terkekeh ia lumayan sewot. "Coba kuingat, dari mulai cerita ababil anak SMA itu sampai emak2, mana yg bisa kau selesaikan? Gak ada!"

Ya ya ya semua tak ada endingnya! Belum selesai anak SMA, ada si mata kucing, lalu bule satu hari, anak SMA yang suka curi2, hingga "emak2" yang Selasa lalu "kencan" aneh denganku sampai emak2 yang sehari berikutnya membebaskan pikiranku. Belum lagi sekitar empat cerita hati pendek tak nampak selama 3 kali aku ditugaskan ke Jakarta dalam tahun ini.

Untuk "kencan" aneh di bukber Selasa kemarin, aku baru tau perempuan putih semampai itu sudah tak lagi dalam relasi tetapi didekati orang yang katanya akan diakhiri. Lucunya, ini kali kedua kami makan bareng, tapi baru pertama berbagi hati. Meski kerap bercengkrama di hari-hari kerja dunia maya, kami tak pernah bahas hal serius.
"Aku hanya berbagi denganmu," tegasnya.
"Aku juga, orang diluar kantor dan diluar kost."
Cerita hati alur berbeda dengan benang merah sama; ending harus diakhiri.

Malamnya, ia mengirimiku pesan singkat bahwa ia membuatkan status untukku di status fb nya tanpa menjelaskan eksplisit itu ditujukan padaku. Saya mengerti alasannya! Kami hampir tiap hari berbalas komen, dan kini mulai berani pajang foto. Sama spt si emak satunya. Ah, lagi2 belum rampung semua!

Ya ya ya untuk kali ini aku akan memulai coba merampungkannya. Kini sudah terbentur tapi belum mentok, ketika mentok, aku akan menutup cerita hatiku denganmu sebelum memulai yang baru!

Tapi pertanyaan yang masih mengganjal saya, pentingkah merampungkan relasi? Kalau ditilik ulang, memang perasaanku pada mereka jadinya biasa aja, kcuali tiga terupdate dan dua yang tak tampak mata hehe. Aku beranggapan cerita tak perlu kurampungkan, khususon pada perempuan pengusik hati ini aku akan merampungkannya sampai titik final, janji! Untuk yang lain2nya, aku hanya akan menjaga untuk tak terjadi konflik seperti dgn anak SMA itu yg meski sekarang sudah lebih enak relasinya.

Jadi, rampungin cerita, hanya untuk si Gajah saja!

Obrolan Semalam



Obrolan semalam dengan Gajah! Ada titik terang hati akan dibawa kemana dalam koridor apa. Sudah cukup terwakili semua unek2 semalam. Dan bagaimana lantas aku akan mengambil sikap spt yang kukatakan subuh ini.

Gajah, aku mencernamu! Meski semalam ku gelontorkan semua isi pikiranku, ada koridor pemikiranku tentang karaktermu yang hanya akan jadi konsumsi pribadiku.

Dan suatu saat seiring waktu intuisiku tentangmu terbuktikan, bukan lagi akan tentang benar atau kah salah. Tetapi pembelajaran satu lagi karakter yang memperkayaku pemahaman karakter terhadap perempuan.

Thursday, August 25, 2011

Ketemu Anaknya Mantan


Pagi ini aku dikejutkan oleh sebuah pesan pendek dari mantanku. "Aku nanti mau ke Kota Gede, kalau kamu mau ketemu anakku datang aja aku mau belanja."
Pesan pendek yang menambah daftar penghilang kantukku meski sehabis subuh tak tidur bertemankan kantung penuh pesan pendek penghilang rindu bersama perempuan yang sedang asik mengusik hati itu. Ditambah hari ini emang agendanya adalah nganterin soulmate sebelah kamar ambil motor untuk pulang kampung.

Pesan pendek lagi muncul. Mereka sudah otw. Aku loncat dan mandi padahal masih malas2an juga, maklum pagi bo! Meski tetangga sebelah kamar sudah siap sedia berangkat.

Hal yang tercetus di otakku adalah apakah bocah itu masih akan ingat aku? Pasalnya, setahun lebih aku tak melihatnya lagi usai relasiku dengan ibunya berakhir. Meski aku dengan ibunya kadang bertemu, tapi dengan alasan tak mau si kecil nyeloteh ke bapaknya maka aku tak pernah dipertemukan dengan bocah pemanggilku Buyek ini. Ah, terakhir bertemu ia masih cadel, bgm ia kini? Itu yang bikin semangatku untuk segera bertemu.

Prosesnya ternyata tak mudah. Proses menemukan tempat yang dimaksud bgtu maksudnya. Aku belum hapal daerah tsb, yang ada aku muter2 dulu sebelum menemukan tempatnya. Kayaknya ada aja ya kalo menginginkan sesuatu...

Menyusuri ruang busana yang cukup besar, dimana ibu dan anak itu? Lalu kulihat mereka sedang asyik milih2 sendal. Bocah itu masih dengan potongan rambut yang sama, tapi wait a minute tubuhnya terlihat lebih cungkring hingga alur wajahnya sekarang kini lebih mirip ibunya.
"Kok jadi mirip kamu sekarang?" tanyaku. "Perasaan dulu mirip bapaknya deh!"
Perempuan itu diam aja. Tiap ketemu aku kayaknya aku bisa nangkep ada kegembiraan terselubung dalam pancaran matanya (kalau kamu baca ini, jangan muntah ya hehe). Dan satu lagi kebiasaan bibir si bocah pun mirip ibunya.

Aku ga pernah suka anak kecil, tetapi ketika dulu berelasi dengan ibu bocah ini, entah kenapa ada kedekatan diantara kami. Aku masih ingat dulu ketika kami bertiga menghabiskan waktu, bocah kecil ini selalu menengok ke belakang, memastikan aku membuntutnya. Begitu juga tadi, ketika sang ibu menuntunnya ke bagian etalase celana usai memilihkan sepatu yang diminatinya, ia menoleh ke belakang, apakah aku mengekornya atau tidak.

Bocah perempuan itu tetap pemalu seperti dulu. Ia hanya bicara dengan ibunya. Kalau kuajak bicara ia tak berani menatapku, menjawabku dengan menoleh ibunya.

Perjumpaan yang singkat memang, tapi bagiku melegakan. Dulu aku sampai termimpi untuk bertemu bocah itu. Dan yang tanpa diduga, aku bertemu teman kantor disana. Hmm, pasti ada gosip seusai liburan nanti. Pasalnya, orang2 kantor tau betul relasiku dengan ibu bocah itu. Bahkan di beberapa kesempatan seorang teman kantor yang juga baru melahirkan dan sedang menyusui meledek habis2an soal bgm perilaku seksualku ketika berelasi dengan perempuan yang sedang menyusui!

Hmm, menanti gosip berputar di kantor, tapi aku bersyukur bertemu bocah perempuan itu setelah sekian lama, dan ibu si bocah.. Ia nitip salam pada ibuku yang pastinya juga akan menanyakannya. Maklum ibuku mengira dulu ketika aku berelasi dengannya, yang ada di pikiran ibu adalah dia seorang lelaki dan akan menikahiku kelak. Andai ibu tahu... Hehe.

Wednesday, August 24, 2011

Membebaskan Pikiran


"Dah kemaleman nih," Begitu alasan yang kuketikkan dalam pesan pendek pada perempuan yang sudah janjian ngajak ketemuan dari jaman sekitar dua mingguan lalu itu sembari melihat jarum jam menunjuk pertengahan antara angka 7 dan 8.
"Ya udah, ketemu taun depan aja!" Balas perempuan itu singkat tapi menohok ketus.

Alasanku yang agak mengada-ada memang setelah sebelumnya aku berujar di telepon bahwa suasana hatiku sedang tak enak dan takut menjadi partner bicara yang kurang menyenangkan.
"Nanti kalau aku jadi teman bicara yang buruk, aku disuruh pulang saja ya," pintaku yang diiyakan perempuan ini sambil ngekek.

Jadilah kemudian aku melajukan motor ke rumahnya. Yah, dengan sisanya benak untuk perempuan lain. Feelingku mengatakan ketemuan dengan perempuan ini takut menambah ketidakenakanku, maklum ketika otakku sibuk, hal lain takkan masuk pikiran. Ditambah aku hapal model karakter perempuan ini yang bukan orang yang tepat untuk diajak bicara urusan hati model beginian.

Tapi karena ini record baru buat kami, hampir sebulan ga ketemu dan menjeda komunikasi. Biasanya kalau tak telpon, hampir tak pernah luput bercengkrama di komen fb nyerempet atau bersetubuh astrologi di twitter. Katanya, kami harus ketemuan sebelum aku mudik. Gak biasanya juga sih beberapa hari belakangan ia tiba2 nelpon setelah janjian karaoke bareng yang terulur2 kandas terlaksana gara2 crash timing. Menurutnya, malam ini adalah time limit karena mengira aku mudik esoknya. Btw, ini si perempuan 3 Bulanan yang pernah kutuliskan sebelumnya itu lho!

Rumahnya sepi. Tak ada celoteh kwak kwik kwek yang mungkin sudah tidur. Hanya bertemu si ganteng adik perempuan ini yang lumayan ndagel. Benak ini masih gak karuan, tubuh dimana pikiran kemana. Dan uniknya, feeling saya tak seperti biasanya. Tau sendiri, saya memandang bentuk relasi feeling saya dengannya cukup unik. Materi bahasan yang sering cukup nyerempet, perilaku juga cukup nyerempet, ah mungkin dia suka berperilaku begitu, dan saya aja yang suka panas dingin dibuatnya karena tak mau menabrak koridor yang dibangun otak hatiku sendiri.
"Trus kita mau kemana?" tanyaku sembari menunggunya makan. Agak aneh juga kalau mau keluar kok nih orang malah makan
"Ke Semesta aja, men-cokelat!" Aku ngiyain meski gak tau tempatnya, maklum kuper.

Cafe yang lumayan padat pengunjung. Dan jadilah kami duduk di meja kecil untuk dua orang di sisi gemericik air dan dedaunan dengan bising bunyi pesawat terbang baru take off. Gak tau kenapa kok aku suka banget liat pesawat baru take off atau mau landing keliatan dekat dan besar menggaris di langit. But aniwei forget it!

"Pesan Cokelat Couple aja ya? Itu cokelat udah untuk dua orang." ujarnya. Dan spt biasa ia mengabsurdkan apa maksudnya kok pake Couple2an gini.
"Panas atau dingin tuh?" tanyaku.
"Panas!"
Hmm, aku bukan penyuka minuman hangat. Tapi ide awal minum cokelat itu yang membuatku mengiyakan pesanan. Cokelat bantu recovery suasana hati, bukan? *sugestiku*

Ia mulai menyalakan sigaret. Mata kemana, pikiran mikir apa dan mulut bicara apa, itu yang kerap mewaspadakanku untuk mencerna alur ketiga inderanya tsb. Sebuah notes kecil yang ia bawa dari rumah, tak tersentuh.

Ada lelaki di ujung telepon sedang main biliard dan mulut perempuan ini juga membagi obrolan denganku. Menanyakan pada si lelaki di kotanya banyak kah L nya. Kalau banyak maukah aku dikenalkan pada salah satu atau salah dua diantaranya. Dan penutup obrolan di telepon yang lumayan unik; Ia berucap Love U kepada lelakinya tapi arah matanya padaku dengan senyuman. Sembari terkekeh aku pun menjawab Love U 2 plus seutas muach di bibir.

"Asik juga ya kalo gitu tadi, di telepon bilang Love U, ternyata bukan untuk dia yang di telepon tapi orang di depan kita, dia gak tau kan," jelasnya sembari tertawa usai menaruh gagang henpon. Oh ya, dia pernah berucap aku agak cemburu dengan lelaki ini tiap ia menyebut namanya aku selalu komplain, dan aku mengiyakan.

Dua cangkir cokelat panas kental tersaji mengiring obrolan tentang membebaskan pikiran. Awalnya ia mengungkap rahasia kehidupan rumah tangganya. Kita sudah cukup lama saling kenal, baru ini ia bercerita. Lalu tercetuslah kata Membebaskan Pikiran ini... Meski tak hampir seluruhnya sependapat dengannya, tapi sedari awal mayoritas ide dan pemikiranku tentang HAM selaras dengannya.
"Orang2 lain banyak yang tidak trima pola pikir dan pola hidupku yang spt ini, kata mereka kebarat2an lah dsb, tapi kalo saya merasa nyaman begitu kenapa harus mikiri apa kata orang, sedang kita sendiri tidak merasa nyaman."
Ibarat dunia LGBT, pemikirannya sama, diminoritaskan karena tidak sesuai kaidah mayoritas masyarakat kebanyakan.
"Makanya yang dilakukan adalah Membebaskan Pikiran, karena dgn begitu pikiran negatif akan hilang dan hanya menjadi milik orang2 lain yg resah dengan isi otak mereka sendiri, sedang kita akan bebas!"
Dasar otakku sedang lagi mikiri hatiku, langsung tercetus korelasi apa yang diucapkan perempuan itu dgn kondisi "dilema" hati malam itu. Dan baru kali ini kami sedikit membahas urusan "hatiku". Biasanya kami hanya bahas soal kami, tidak cerita hatiku, meski kadang ia bercerita ttg cerita hatinya.

Beralih pada topik seksualitas, ia berujar tak selamanya orang bilang ia hetero atau biseksual atau homo. Aku mengamin fleksibilitas tsb.
"Makanya sekarang kan aku sedang melesbikanmu," ujarku campur ngakak melihat ekspresinya. "Aku bercanda, ralatku.
"Eh, jangan salah, tau darimana kalo aku hanya tidur dengan lelaki, bukan dengan perempuan? Waktu itu aku pernah sudah hampir mencoba tapi sikon tempat tidak memungkinkan, masak mau bercinta di kantor!"

Tidak mengejutkanku, karena kalau ia tak begini maka hubungan kami ga akan berlangsung sampai sekarang. Jadi teringat sekitar sebulanan lalu ia pernah meminta foto pose gigit2an lidah di keramaian Alkid yang sumpah bikin aku panas dingin, sementara sohibku ngakak dan bersedia gantiin kalau aku nolak permintaannya.

Hmm perempuan ini meski agak gila tapi menyimpan kemisteriusan dengan kadar lumayan tinggi. Alur hatinya tak tertebak. Kalau aku terbiasa membuat alur hati dengan memberi lajur kontruksi dan koridor, maka ia menerapkan sistem tabrak. Meski begitu keunikan karakter bebasnya masih belum bisa kubaca.

Balik ke ruang di Semesta, setelah definisi Membebaskan Pikiran, hatiku masih terusik. Dan entah keputusan darimana aku tiba2 mengirimi perempuan yang mengusik pikiranku sejak beberapa hari ini sebuah pesan pendek. Efek pembebasan pikiran, memaknai apa yang kita rasakan secara positif. Ia membalas tak lama.

Satu hal lain yang ia sarankan padaku, kau memang harus membebaskan pikiranmu, tapi ingat tujuan awal konsekuensi pilihan orientasi seksualmu kemana... Kalau yang kau jalani sekarang spt ini, paling tidak meski kau terus jalani, ada kesiapanmu untuk konsekuensi yang sejak awal kau ketahui..

Perbincangan di tengah galau yang cukup unik malam ini. Menciptakan pola baru, membebaskan pikiran, membiarkan orang lain berasumsi, baik atau burukkah yang penting kita merasa nyaman dengan apa yang kita lakoni tanpa mengganggu hak orang lain.